Bening

Bening
Bab 113 - Selamat Tinggal Jogjaku


__ADS_3

Mia terkejut bukan main. Dirinya langsung membeli test pack di apotik dekat kosannya. Dan seketika lututnya melemas seakan kakinya berubah seperti jelly alias agar-agar. Lemas seketika dan tak bertulang.


Saat melihat dua buah test pack yang baru saja ia beli, menunjukkan hasil garis dua yang artinya positif hamil. Tubuhnya merosot di lantai kamar mandinya. Memegang kepalanya yang semakin pusing.


Dirinya sudah hidup selama sepuluh tahun lebih menjadi bunga malam di Ibukota. Baru kali ini dirinya kecolongan. Saking enak dan manisnya mereguk madu dan kantong tebal dari para lelaki hidung belang hingga lupa daratan.


Dia selalu rutin minum pil pencegah kehamilan. Namun selalu ingatlah bahwa Tuhan tak pernah tidur. Kini nasi sudah menjadi bubur. Dirinya teringat bahwa memang terlupa minum pil tersebut.


Akibat hubungan percintaannya dengan Doni yang selalu digantung, juga karena di club tempatnya bekerja banyak bunga-bunga muda yang masih ranum dan belia baru datang. Pastinya mengancam posisinya sebagai pemain lama di sana.


Alhasil saat dirinya terlupa, Tuhan menitipkan benih pada rahimnya. Benih yang ia tak tahu milik siapa. Saat ia butuh uang mendesak maka ia pun terpaksa membuka kaki. Namun hanya pada lelaki hidung belang yang membayarnya cukup mahal saja.


Jika hanya mengandalkan dari penghasilan menari plus-plus dan uang dari Doni. Tentu tidak akan cukup. Terlebih akhir-akhir ini Doni juga hanya sedikit memberinya uang.


Akhirnya pekerjaan bunga malam dilakoninya kembali secara sembunyi-sembunyi dari Doni, kekasihnya. Sebab sejak dirinya resmi pacaran dengan Doni, kekasihnya ini melarang untuk membuka kaki pada lelaki lain. Dan Doni menjanjikan menjamin hidupnya dengan materi dan cinta.


Akan tetapi buaya tetaplah seorang buaya. Mia juga tetap tak diberi kejelasan tentang status hubungan mereka untuk ke jenjang pernikahan. Alhasil Mia juga melanggar perintah Doni. Demi keberlangsungan hidupnya sendiri.


"Ya Tuhan, jadi ini benih siapa? Mas Doni atau bukan?" cicit Mia dilanda kebingungan.


Dia melihat kalender yang ada di atas nakas. Ia sedang bingung dan kalut memikirkan pemilik benih di rahimnya. Sebab seingat dirinya satu bulan terakhir ini, ia hanya melayani Doni, satu orang pria tua yang usianya sekitar enam puluh tahun dan satu lagi anak abege usia tujuh belas tahun. Sungguh miris.


Terlebih saat melakukan hubungan, ketiga lelaki itu tak mau menggunakan pengaman. Sebab mereka membayarnya cukup mahal. Dan mereka menyuruhnya yang memakai alat pengaman pencegah kehamilan. Tetapi naas dirinya terlupa meminum pil sakti yang selalu menemaninya bertahun-tahun.


"Aku pergi ke dokter dulu saja. Baru setelah itu aku mau menemui Mas Doni meminta tanggung jawabnya. Ya, Mas Doni saja yang aku suruh tanggung jawab. Biar aku jadi istrinya karena kehadiran bayi ini. Walaupun aku tak tahu ini benihnya apa bukan," cicit Mia yang tersenyum menyeringai setelah menemukan ide untuk jalan keluar atas masalah kehamilannya ini.


Bergegas Mia segera pergi ke dokter kandungan guna memeriksanya lebih lanjut. Dan memang faktanya sesuai praduganya. Dokter menyatakan dirinya positif hamil dengan usia kandungan lima minggu.


Sebuah helaan nafas kasar menyergapnya kala dirinya keluar dari ruangan sang dokter.


"Aku coba hubungi Mas Doni saja. Dia lagi libur apa enggak ya?" cicit Mia mengambil ponselnya dan coba mengontak Doni.

__ADS_1


Namun sayang beberapa kali panggilan ternyata tak diangkat oleh Doni. Lantas Mia pun bergegas mengirim pesan singkat pada Doni.


[Mas, aku ingin bertemu. Penting sekali. Mohon hubungi aku jika membaca pesanku ya. Love you].


Begitulah bunyi pesan singkat Mia pada ponsel Doni. Sedangkan sang empunya ponsel tengah sibuk mengantar temannya ke pulau seberang. Agar tidak terciduk pihak berwajib.


Sebab tempat persembunyian awal rekannya tersebut yang bernama Romi sudah didatangi polisi. Beruntung Romi sudah tak di sana. Ia sudah berpindah tempat. Doni menyarankan untuk pergi sementara waktu ke luar Jawa.


"Nanti jika situasi sudah aman terkendali baru kamu kembali ke Jawa," ucap Doni pada Romi saat akan menaiki kapal.


"Oke, Don. Makasih uangnya. Semoga aku berhasil sembunyi di sana. Kabari aku segera jika ada apa-apa," ucap Romi yang diangguki oleh Doni.


Lantas Doni pun bergegas kembali ke Jakarta setelah mengantarkan Romi ke pelabuhan kecil guna menaiki kapal dengan identitas palsu supaya lolos di pulau seberang.


☘️☘️


Sedangkan di sisi lain tepatnya di Bandara Adisutjipto, Dokter Heni memandang kaca-kaca besar dan tengah melihat lalu lalang pesawat.


"Oke, makasih ya Mel."


"Sama-sama, Dok. Tapi apa dokter yakin akan betah di sana? Padahal di sini banyak pasien dan teman dekat. Kenapa buru-buru mutasi ke tempat jauh?" tanya Amel terdengar sendu.


"Bantu-bantu yang di daerah, Mel. Biar dokter di sana nanti lebih maju daripada dokter di kota besar," jawab Dokter Heni seraya berjalan menuju boarding gate.


"Ah, dokter kalau ngeles memang paling jago deh. Terus Pak Komandan gimana?" celetuk Amel.


"Komandan yang mana?" balas Dokter Heni pura-pura tak tahu.


"Aduh ya Pak Komjen yang gantengnya ngepoll banget itu loh, Dok. Duren," cicit Amel.


"Duren apa? Duren montong, monyong apa Bangkok?" ledek Dokter Heni seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Duren alias duda keren, Dok. Haissh..." gerutu Amel.


"Emang dia siapa sih? Sok kegantengan banget sampai kamu bilang duda keren," ledek Dokter Heni kembali.


"Astaga, Dok. Kalau saya enggak punya suami. Sudah saya pepet itu Pak Komjen yang duren manis pakai banget itu. Umur sudah setengah abad lebih tapi gantengnya enggak luntur ditelan zaman. Masih gagah number one. Mirip aktor hollywood yang main film kurir mafia tembak-tembakan pakai pistol itu. Filmnya yang judul Transparan sampai beberapa seri. Keren banget pokoknya penampilan Pak Komjen persis banget sama dia," tutur Amel menggebu dan antusias sekali.


"Haha... jauh banget kamu bandingin dia sama aktor Hollywood," ucap Dokter Heni seraya tertawa lebar.


"Nah gitu dong, Dok. Tertawa dan tersenyum. Jangan datar terus diem mulu dari tadi. Muka lecek kayak papan kayu kering kerontang saja. Seperti banyak yang dipikirin. Kalau masih ragu berangkat, batalin saja Dok. Masih bisa kok," cicit Amel mencoba menggoyahkan niat Dokter Heni untuk mutasi ke Lombok.


"Enggak apa-apa, Mel. Aku sudah mantap buat pindah kok. Lagipula aku sama dia juga hanya berteman. Tak lebih," ucap Dokter Heni seraya tersenyum.


"Fiuhh... ya sudah. Semoga dokter cepat dapat jodoh yang baru di sana," ucap Amel pasrah dan tak mendapat respon apapun dari Dokter Heni.


Keduanya pun berangkat menuju Lombok, NTB. Pesawat yang membawa mereka pun lepas landas meninggalkan Kota Jogjakarta, kota yang penuh dengan kenangan.


"Selamat tinggal, Pras. Selamat tinggal Jogjaku. Maaf, aku pergi ke Lombok enggak pamit. Semoga kamu selalu sehat dan bahagia. Kita jalani hidup masing-masing," batin Dokter Heni kala menatap daratan melalui jendela kaca pesawat kala sudah mengudara di atas ketinggian 20.000 kaki.


🍁🍁🍁


1 orang untuk jawaban tercepat dan benar dapat pulsa 10K.


Siapa nama Aktor Hollywood yang dimaksud othor dalam chapter ini?


Dia juga termasuk salah satu aktor favorit othor di dunia barat.


Tulis di komen chapter ini.


Pemenangnya, othor umumkan besok☺️


Semoga Beruntung💋

__ADS_1


__ADS_2