Bening

Bening
Bab 130 - Sakit


__ADS_3

"Apa, Dok? Kanker?" tanya Della terkejut bukan main mendengar vonis dokter usai dirinya siuman dari pingsannya.


Sebelumnya, beruntung ada salah satu rekan narapidana lain yang melihat Della tergeletak di dekat parit, saat orang tersebut mengambil alat kebersihan yang tertinggal di belakang lapas. Ia pun segera memanggil petugas lapas dan akhirnya Della dibawa ke klinik lapas.


Namun karena melihat kondisi Della yang cukup memprihatinkan dan masih belum siuman juga setelah satu jam lebih, akhirnya Della dibawa ke rumah sakit besar yang terintegrasi dengan lapas tempat Della menjalani hukuman. Tetap dengan pengawalan ketat oleh beberapa petugas lapas wanita.


"Iya, Nona Della. Anda terkena kanker serviks stadium 3. Biasanya ditandai dengan nyeri pada perut, keputihan yang tidak normal, tubuh mudah lelah dan saya cek bobot tubuh Anda sangat kurus. Namun perut Anda sedikit membuncit dan terasa cukup keras tetapi tidak hamil. Itu beberapa gejala kanker serviks. Dan boleh dibilang Anda terlambat menyadari sehingga saat mengetahui sudah pada taraf stadium 3 dan jika terus dibiarkan, maka bisa pada stadium akhir. Kanker yang Anda alami cukup ganas. Maaf saya sampaikan apa adanya. Agar sebagai pasien, Anda bisa segera melakukan tindak lanjut guna pencegahan penyebaran sel-sel kanker dalam tubuh Anda. Kalau boleh saya bertanya sesuatu mengenai hal pribadi, apa Nona sudah menikah?" tanya dokter spesialis kandungan tersebut secara hati-hati.


"Belum, Dok. Kenapa ya?" tanya Della lirih.


"Maaf, Nona Della. Penyebab utama biasanya kanker serviks ketika menyerang usia muda atau belia seperti Anda saat ini yang masih dua puluh tahunan, kemungkinan dari aktifnya berhubungan intim. Akan semakin cepat terkena penyakit ini jika pasangan kita, mohon maaf dalam artian sering jajan di luar sana. Hal ini semakin mempercepat penularan atau kontaminasinya. Walaupun ada beberapa faktor lain juga yang bisa mempengaruhi. Bukan hanya penyakit H I V yang mengancam saat melakukan hubungan se ks bebas, tetapi kanker serviks juga. Untuk kondisi Anda saat ini masih dalam kondisi negatif H I V. Namun kita tetap harus melakukan pengecekan secara berkala untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan demi kesehatan Anda sendiri," tutur sang dokter.


Deg...


Seketika puzzle-puzzle ingatannya bagaimana dirinya begitu liar di atas ranjang bersama Doni yang ternyata seorang player, memenuhi otaknya. Sebelum mendekam di penjara, ia baru mengetahui fakta mencengangkan bahwa Doni sudah beristri dan memiliki dua orang anak di kampung. Di kota ternyata lelaki itu selingkuh dengan Mia, si kupu-kupu malam.


Itu yang ia tahu. Selebihnya jika ada wanita lain atau bunga malam lainnya yang pernah digunakan lelaki itu, sungguh semakin membuat dirinya nelangsa.


Begitu bodohnya ia terperdaya dalam rayuan melenakan sesaat dari Doni. Akibat tergerus nikmat dunia sesaat berujung penyesalan tiada tara yang ia rasakan saat ini.


"Brengsek Mas Doni. Semoga kamu mati membusuk di penjara, Mas. Lelaki pembawa sial !!" maki Della dalam hati.


☘️☘️


"Hiks... hiks... hiks..." tangis Della tiba-tiba keluar di depan sang dokter.


Sebuah helaan nafas berat dari sang dokter. Rasa tak tega melihat seorang narapida muda di depannya kini tengah menangis tersedu-sedu meratapi nasib dan takdirnya yang pilu.


"Apa yang harus saya lakukan, Dok? Saya enggak mau mati. Saya masih ingin hidup, Dok. Huhu..." tangis Della semakin pecah.

__ADS_1


"Untuk saat ini, Anda bisa melakukan kemoterapi. Namun tidak menutup kemungkinan jika harus melakukan prosedur kesehatan lainnya seperti operasi pengangkatan rahim," ucap sang dokter.


"Apa? Pengangkatan rahim?" cicit Della terkejut.


"Betul, Nona."


"Jika rahim saya diangkat maka otomatis selamanya saya tak akan bisa hamil atau punya keturunan, Dok?" tanya Della sendu.


"Maaf Nona Della, memang begitu faktanya."


"Apa saya bisa sembuh total dengan melakukan hal itu?" tanya Della kembali lirih dengan linangan air mata yang setia menetes di pipinya yang semakin cekung.


"Pengobatan tadi untuk mencegah rasa sakit yang dialami pasien sekaligus menahan laju sel kanker agar tidak menyebar luas ke jaringan organ lainnya. Namun hal itu bukan berarti sembuh secara total karena kita harus tetap memantau secara berkala, melakukan antisipasi serta pengobatan yang cepat dan tepat. Terlebih jenis kanker Anda cukup ganas dan diketahui sudah berada di stadium yang kritis. Tetapi apapun yang terjadi, Anda harus tetap optimis Nona. Karena takdir ada di tangan Tuhan bukan di tangan dokter. Saya hanya menyampaikan segala kemungkinan secara medis," tutur sang dokter.


"Huhu...huhu... tolong saya, Dok. Saya mohon," cicit Della seraya menangis.


Sepanjang perjalanan dari rumah sakit kembali ke lapas, Della hanya termenung dengan tatapan kosong. Air matanya seakan sudah mengering. Ia masih ingin melanjutkan hidup normal setelah keluar dari lapas. Namun cobaan kembali menderanya. Dirinya divonis kanker serviks stadium 3.


☘️☘️


Saat malam hari di lapas, Della pun tampak menggigil kedinginan. Tiba-tiba tubuhnya demam dan terdengar mengigau.


"Mama... Papa..." cicit Della.


"Mah, Della rindu. Huhu... dingin...sakit," racau Della dalam kondisi mata terpejam.


Sontak racauan dan tangisan Della membuat si preman narapidana merasa terganggu.


"Woi, diam. Berisik !!" teriak si preman narapidana.

__ADS_1


"Huhu, Mama... Papa... Della sendirian. Sakit...eughh..." keluh Della yang masih memejamkan mata seraya menangis dan tangannya memegang perutnya yang terasa nyeri. Bahkan nyeri yang ia rasakan lebih sakit daripada sebelumnya. Seketika...


PLAK !!


Sebuah tamparan panas melesat di pipi Della.


"Kalau mau berisik di luar woii! Jangan di sini. Ini sudah jam dua belas malam. Tidur !!" pekik si preman narapidana.


Sontak Della pun langsung terjaga akibat tamparan panas di pipinya. Ia pun langsung terbangun dan duduk dengan menekuk kedua lututnya di alas tidurnya. Della tampak ketakutan.


"Maaf, Mbak. Saya sedang sakit," cicit Della lirih seraya tangannya menyentuh pipinya yang terkena cap lima jari.


"Mau kamu sakit atau mati, emang gue pikirin! Sekali lagi kamu bikin ulah, hemm !!" ancam si preman narapidana dengan mereemat tangannya seakan memberi kode akan menghancurkan hidup Della lebih mengenaskan lagi jika tak menggubris perintahnya.


Della pun hanya mengangguk dalam diam. Mulutnya seakan kelu menjawab. Lalu si preman narapidana pun kembali ke tempat tidurnya.


Akhirnya Della yang sudah terbangun, kini ia justru tidak bisa tidur kembali. Ia tengah memikirkan dari mana biaya kemoterapi hingga operasi yang harus ia dapatkan untuk pengobatan dirinya.


Kabarnya sang kakak yakni Stella, terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa dalam kondisi hamil. Dan rumah utama keluarganya telah disita oleh negara.


Tak ada yang tersisa satupun. Ia bingung harus meminta bantuan kepada siapa. Pada Rendra, Luna maupun Stevi rasanya enggak mungkin. Karena terakhir bertemu mereka di pemakaman ibunya, justru ia menghina teman-temannya itu. Bahkan melukai Luna. Sungguh ia sangat menyesal. Padahal teman-temannya saat itu bermaksud baik padanya, walaupun kondisi dirinya tengah terpuruk.


Setelah itu, tak ada satupun temannya yang datang menjenguknya. Dia seakan hidup sendirian di dunia ini sekarang.


"Ya, Tuhan. Panjangkan umurku dan ampuni segala dosaku," batin Della sendu tengah berdoa seraya meratapi kehidupannya di masa lalu yang penuh dengan dosa.


Bersambung...


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2