
"Halo..."
"Halo, ini Kak Juna?" tanya Della.
"Iya, Del. Maaf, ini tas dan ponsel kakakmu ketinggalan di mobilku. Hari ini aku antarkan ke rumah sakit," ucap Arjuna.
"Oke, Kak. Makasih banyak sebelumnya. Kak Stella sudah siuman. Tadi nanyain ponselnya. Jadinya aku coba hubungi. Oh, ternyata ketinggalan di mobil Kak Juna," cicit Della seraya tersenyum sumringah.
"Sudah dulu ya Del, aku masih sibuk. Aku tutup teleponnya. Segera aku kembalikan barang milik kakakmu," ucap Arjuna dengan nada terburu-buru.
"Oke, Kak."
Bip...
Bunyi telepon keduanya pun terputus. Della tersenyum sumringah mengatakan bahwa Arjuna akan datang buat mengembalikan barang milik sang kakak.
"Aku yakin Arjuna masih punya cinta untukku di hatinya. Jika enggak ada, mana mungkin dia mau susah-susah antar barang milikku segala ke sini," batin Stella tersenyum sumringah kala mendengar penjelasan Della yakni Arjuna akan datang ke rumah sakit.
"Ya sudah, kamu pulang saja. Sebentar lagi Arjuna ke sini. Aku mau berduaan saja sama dia. Banyak hal yang perlu aku bicarakan dengannya," ucap Stella.
"Iya, Kak. Beres pokoknya. Sebentar lagi aku juga akan pulang kok. Oh ya, Kak Dave kok susah dihubungi. Aku telepon sejak kemarin nadanya tersambung tapi enggak diangkat.Terus, aku kirim pesan juga masih belum dibaca sampai sekarang. Padahal mau kasih tahu kalau kakak lagi dirawat di rumah sakit," cicit Della.
"Dave lagi pergi ke Bali untuk urusan bisnis selama seminggu. Sudah biarin saja. Jangan ganggu dia. Selama uangnya masih mengalir untuk keluarga kita, dia pergi berapa lama juga bukan jadi soal."
"Oh, begitu. Da... Kak Ste. Aku pulang dulu. Cepat pulih," ucap Della seraya memeluk sang kakak lalu berpamitan pergi.
"Hem," jawab Stella singkat.
Selepas kepergian sang adik, Stella bergegas meminta suster untuk membelikan beberapa peralatan make up. Stella ingin tampil cantik di hadapan Arjunanya.
Ia tak mau terlihat terlalu pucat. Khawatir Arjuna akan berpaling darinya. Sebab pria adalah makhluk visual yang dominan akan terpikat dengan pesona tampilan luar seorang wanita terlebih dahulu pada tatapan matanya secara langsung.
Ia ingin menyegarkan pandangan mata Arjunanya. Agar lelaki itu kembali ke dalam dekapannya.
"Jika kamu sudah mulai kembali padaku, maka tak lama kamu harus menikahiku, Juna. Jika menggunakan jalan kotor yang harus kutempuh untuk mendapatkanmu kembali, pasti aku lakukan, Arjuna."
__ADS_1
Stella menampilkan senyum devilnya. Otaknya sudah merencanakan sesuatu pada sosok Arjuna, sang mantan kekasih yang pernah dibuangnya. Kini berencana ia rebut kembali secara paksa.
Satu jam kemudian.
Stella yang sudah berdandan cantik namun tetap mengenakan baju pasien tengah terbaring di ranjangnya. Ia menunggu dengan cemas, Arjuna yang belum juga datang.
Stella menunggu dengan jantung berdegup kencang seakan anak abege yang akan dilamar sang pujaan hatinya.
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukan pintu kamar rawat inapnya.
Deg...
"Jangan-jangan itu Mas Arjuna. Ah..." cicit Stella seraya menampilkan senyum indahnya sekaligus merapikan rambutnya.
"Ehem..."
"Silahkan masuk, Mas."
Ceklek...
Derit pintu terbuka menampilkan sosok pria berseragam lengkap dinas kepolisian menenteng tas hitam kecil milik Stella yang berisi ponsel dan dompetnya.
Deg...
"Dengan Bu Stella?" tanya pria tersebut.
"Kamu siapa?" balas Stella bertanya dengan tatapan tajam nan sengit seakan mau menguliti pria di hadapannya sekarang yang ternyata bukan sosok Arjunanya yang telah dinanti sejak tadi.
Bahkan senyum Stella yang sudah menjulang tinggi kini raib seketika. Hilang entah ke mana. Seakan dirinya dihempas dari ketinggian gedung bertingkat lantai seratus hingga ke dasarnya.
"Maaf, Bu. Saya Aji, anak buah AKBP Arjuna Sabda Mahendra. Saya hanya diperintah komandan untuk mengantarkan ini pada Bu Stella," ucap Aji dengan sopan seraya menyerahkan tas milik Stella.
"Kenapa bukan Arjuna yang mengantarkan sendiri ke saya? Kenapa harus kamu yang antar?" tanya Stella bertubi-tubi mencecar Aji dengan nada yang sudah naik beroktaf-oktaf.
__ADS_1
Aji berusaha tersenyum dan sopan menghadapi Stella.
"Maaf, Bu. Jika mengenai hal itu saya kurang tahu. Jika ada sesuatu yang penting dengan komandan, langsung saja telepon ke ponsel pribadinya. Saya permisi dulu karena di Mabes masih banyak tugas," ucap Aji seraya berpamitan pada Stella dengan sopan.
"Hem," jawab Stella singkat seraya dirinya mendengus sebal ketika pintu kamarnya sudah ditutup Aji, salah satu anak buah Arjuna.
"Sial!" pekik Stella.
"Bagaimana aku bisa menghubungi Arjuna kalau nomor ponselku diblokir sama dia. Mau enggak mau, aku harus samperin dia langsung!" geram Stella.
Stella yang awalnya seakan sangat berharap bisa berjumpa kembali dengan Arjunanya itu, kini hanya bisa menggigit jari. Sebab lelaki yang ia damba saat ini ternyata tak datang ke rumah sakit dan hanya bertemu dengan anak buah Arjuna saja.
Dewi fortuna seakan masih belum berpihak padanya. Ia masih berusaha berpikir positif walaupun hatinya sangat dongkol saat ini. Sebab, misi pertamanya gagal untuk melakukan pendekatan dengan Arjuna di rumah sakit.
โ๏ธโ๏ธ
Sedangkan Arjuna sendiri saat ini tengah menuju perjalanan ke kota Bandung, Jawa Barat.
Setelah Della menghubunginya, Arjuna langsung menyuruh Aji, anak buahnya, untuk mengembalikan tas milik Stella ke rumah sakit. Arjuna memang tak ingin bertemu Stella kembali. Terlebih setelah mendengar Della mengatakan bahwa kakaknya itu telah siuman.
Ia berusaha menjaga perasaan Bening, calon istrinya. Cukup semalam ia berbuat khilaf tanpa sadar menyakiti Bening dengan bertemu kembali bersama wanita masa lalunya yakni Stella.
Setelah urusan Stella selesai dengan menyuruh Aji ke rumah sakit, ia bergegas mencari Bening atau pun Bayu ke tempat-tempat yang ia yakini mereka ada di sana.
Namun sayang, saat di tengah perjalanan menuju sebuah pusat perbelanjaan ternama yang memang ada Bayu dan Ayu di sana, Arjuna mendapat telepon dari Mabes bahwa dirinya diminta ke Bandung, segera.
Dikarenakan ada kasus penting yang butuh kedatangan Arjuna di sana. Alhasil dirinya terpaksa putar balik menuju kota Bandung sesuai instruksi Komandan kesatuannya.
Ia berharap urusan di Bandung segera selesai dan dirinya bisa kembali ke Jakarta secepatnya menemui Bening. Apalagi besok adalah hari pelantikan penting calon mertuanya menjadi Wakapolri.
Dirinya sudah berjanji untuk hadir di acara tersebut pada Komjen Pol Prasetyo Pambudi, calon mertuanya. Sedangkan Papa Bening tak pernah memaksa Arjuna untuk hadir.
Sebab sesama anggota kepolisian, dirinya sangat paham akan tugas-tugasnya. Di mana setiap saat harus selalu siap kapanpun jika negara dan kesatuannya tengah membutuhkannya. Bahkan di saat libur sekalipun. Jika tugas negara datang maka harus siap dan melaksanakan dengan baik sesuai perintah.
๐๐๐
__ADS_1