
Arjuna saat ini sudah berada di Bogor. Setelah menyelesaikan laporan pada Kapolda. Dirinya segera bergabung untuk memimpin koordinasi lebih lanjut antara tim Mapolda dan Polrestabes.
Ada dua buah mayat pria dengan kondisi yang sudah tewas membusuk ditemukan di kawasan area hutan di Bogor. Diduga dua orang pria tersebut menjadi korban pembunuhan.
Tidak terdapat luka dalam tubuh keduanya. Baik dari benda tajam maupun benda tumpul. Namun diduga kuat keduanya dibunuh dengan racun mematikan.
Dua mayat tersebut ditemukan di tempat yang terpisah. Namun Bayu menduga kuat mereka saling berhubungan. Dan diperkirakan keduanya sudah meninggal sejak lima hari yang lalu.
Menurut identitas yang berhasil polisi kantongi, mereka berasal dari daerah yang sama.
Ada seorang wanita penjual warung kopi yang cukup syok melihat kedua mayat tersebut. Sebab salah satu korban adalah suaminya. Kabarnya wanita itu satu-satunya saksi terakhir yang bersama kedua pria yang diduga preman tersebut.
Namun pihak berwajib termasuk Bayu dan rekan anggota lainnya belum bisa meminta keterangan dari wanita tersebut. Wanita itu masih terlihat syok melihat suaminya terbujur kaku alias mati.
Wanita itu hanya bisa menerawang kosong. Dan belum bisa untuk diajak berkomunikasi secara normal. Menurut informasi dari saksi lainnya yakni kerabat yang membantu istri korban di warung kopi, suami korban datang satu minggu yang lalu bersama dua orang pria. Satu yang sama-sama ditemukan meninggal dan satunya lagi pihak saksi kurang tahu siapa.
Namun dari postur tubuh dan gerak-geriknya seperti pihak berwajib. Hanya saja saat itu pria ketiga tidak memakai pakaian dinas kepolisian. Sehingga saksi masih ragu-ragu apakah pria ketiga adalah warga sipil atau petugas polisi.
Arjuna pun memberi perintah khusus pada Aji dan juga salah satu polisi wanita yang bertugas di kediaman penjual warung kopi tersebut untuk menjaga saksi sekaligus memintai keterangan jika dirasa kondisi saksi sudah normal.
Dirinya pun segera meluncur ke TKP. Bergabung dengan tim identifikasi. Ia berusaha membantu mengumpulkan bukti sekecil apapun yang ditemukan di sana guna mengungkap benang merah dan pelakunya. Barangkali bisa membawanya ke sebuah titik terang yang sudah lama ia nantikan.
Sebab wajah kedua preman tersebut sempat tertangkap kamera jalan raya menuju komplek rumah dinas Arjuna dua bulan yang lalu. Semua masih menduga-duga memiliki keterkaitan.
Di sekelilingnya tampak beberapa petugas berompi dengan tulisan Bidlabfor Polda (Bidang Laboratorium Forensik Kepolisian Daerah) di bagian punggung, tengah mengamankan barang bukti dan juga sidik jari. Arjuna pun menyisir di area sekitar ditemukannya mayat-mayat tersebut.
Mendadak sebuah mobil kepolisian datang menghampiri TKP, tempat Arjuna berada. Doni pun keluar dari mobil tersebut dan berjalan menuju tempat Arjuna berada.
"Hai, Juna." Doni pun memanggil Arjuna.
"Doni, kamu ke sini?" tanya Arjuna sedikit heran.
"Iya, Bro. Aku dengar dari Mabes kamu sama Bayu lagi ke sini lihat penemuan mayat misterius. Aku penasaran saja, bukankah kasus fenomenal yang tengah kamu tangani banyak gembong narkoba isinya. Apa mereka itu yang kamu cari sebagai gembong kelas kakap atau bukan?" tanya Doni sengaja memancing dan mencari alibi kedatangannya ke TKP.
"Cukup kaget saja kamu ke sini. Apalagi sampai ikut tangkep gembong narkoba. Kamu kan bagian kasus korup," cicit Arjuna seraya masih menelisik TKP.
__ADS_1
"Lagi sepi job nih, Jun. Kelas teri mulu yang korup. Belum nemu yang kelas kakap. Oh ya ngomong-ngomong, Bayu ke mana? Bukankah aku dengar dari Mabes dia juga ikut ke sini sama kamu," ucap Doni seraya celingak-celinguk mencari Bayu.
"Ada di tempat lain sama saksi," jawab Arjuna.
Deg...
Hati Doni mendadak cemas mendengar kata saksi.
Apakah ada yang melihat rekannya menghabisi kedua preman tersebut ?
"Saksi? Di mana, Jun?" tanya Doni spontan karena terkejut mendengar ada saksi dari kejadian tersebut.
"Tumben kamu bersemangat sama kasus orang lain. Kamu kemarin pas aku minta bantuan enggak ada," ucap Arjuna sambil masih sibuk melihat TKP.
"Eh iya, Jun. Maaf, kemarin-kemarin aku pulang kampung. Rindu anak istri. Bening gimana? Apa sudah isi?" tanya Doni berbasa-basi.
"Belum. Doakan ya semoga secepatnya istriku hamil. Papa sama Ibu sudah ngidam pengin cepet dapat cucu. Ini lagi kejar setoran tapi diganggu Bayu," jawab Arjuna seraya terkekeh.
"Suruh temanmu satu itu cepet kawin biar tahu gimana rasanya punya bini. Jadi gak gangguin kalian terus. Haha..." balas Doni seraya tertawa.
Sontak Doni pun menoleh ke belakang yang ternyata Bayu datang. Arjuna hanya melirik sekilas dan membiarkan keduanya. Ia tengah fokus bersama Bidlabfor Polda menyisir TKP.
"Hai, Bay. Akhirnya datang juga kamu. Kata Juna, kamu lagi sibuk sama saksi. Cewek apa cowok saksinya?" tanya Doni memancing informasi.
"Cewek. Kenapa? Mau dijadikan istri kedua?" sindir Bayu yang mengenal Doni berwatak playboy dari beberapa informasi rekan mereka sesama anggota.
"Wah mantep Bay. Siapa tahu jodohmu," cicit Doni mencairkan suasana.
"Jodohku sudah ada, cuma SK nya belum terbit saja. Masih direbus biar matang dan mantap," ujar Bayu.
"Wohoo... keren nih. Ternyata diem-diem, kamu gercep juga Bay."
"Oh, jelas. Bayu gitu loh," jawab Bayu yang sangat over pede.
Arjuna yang mendengar keduanya berbicara hanya menggelengkan kepalanya saja dan tetap fokus dengan apa yang ia cari.
__ADS_1
"Jun, balik yuk. Sudah sore. Besok dilanjut lagi," ucap Bayu.
"Oke, Bay. Kalian pergi dulu saja, aku nyusul bentar lagi."
"Ya sudah, ayo Don kita pergi. Nanti biar Juna nyusul kita di resto," ucap Bayu mengajak Doni pergi dari TKP.
"Oke. Juna, kita tunggu di resto. Sambil makan nanti kita lanjut ngobrol lagi di sana," ucap Doni yang terpaksa berpamitan pergi.
"Ya, sepuluh menit lagi aku ke sana." Arjuna pun mengacungkan jempol pada Bayu dan Doni yang beranjak pergi dari TKP.
Mobil Doni dan Bayu tak lama sudah melaju meninggalkan TKP. Dan tak lama Arjuna memerintahkan tim untuk kembali istirahat. Besok penyisiran akan dilanjutkan kembali.
Akhirnya ketiganya bertemu kembali di sebuah restoran di kawasan puncak Bogor. Mereka bertiga santap malam bersama rekan anggota lainnya dan juga tim Bidlabfor.
"Sial! Jangan sampai mereka menemukan celah bukti apapun yang merujuk padaku," batin Doni mendengar obrolan semuanya.
Selepas makan malam, mereka masih berada di area restoran untuk meminum kopi dan teh sejenak sebelum kembali ke penginapan.
"Kalian kembali ke Jakarta apa masih di sini?" tanya Doni.
"Tetap di Bogor sementara ini. Kenapa, Don?" tanya Arjuna.
"Mungkin mau aku traktir minum di sekitar sini," tawar Doni.
"Aku enggak minum. Kan kalian kenal aku," jawab Bayu cepat.
"Aku sudah pensiun," jawab Arjuna singkat.
"Kalau kamu, pasti takut sama bini kan Jun? Haha... cupu deh kamu. Bening kan enggak ada di sini," kelakar Doni.
"Beningnya emang enggak di sini. Tapi mata-mata Bapaknya Bening banyak di sini," sahut Bayu tegas.
"Oh iya, maaf lupa. Sudah jadi menantu kesayangan Pak Waka..." jawab Doni seraya tertawa.
"Haisshh!! Bener-bener beruntung banget Juna dapetin Bening. Sial!" batin Doni menggerutu.
__ADS_1
๐๐๐