Bening

Bening
Bab 128 - Vonis Hukuman


__ADS_3

Satu bulan berlalu.


Persidangan dengan tersangka Della, Nayla dan juga rekan Nayla dari pihak stasiun televisi akhirnya di gelar. Publik sudah tak sabar menantikan momen ini.


Sejak awal memasuki gedung pengadilan, semua tersangka hanya bisa menundukkan kepalanya. Tak terkecuali Della. Selama satu bulan ini dia hidup penuh dengan tekanan di dalam tahanan.


Baik tekanan dari Nayla dan juga hal-hal mengenai kasusnya. Dirinya teringat pesan dari pengacaranya beberapa hari sebelumnya.


"Jika Nona ingin hukuman Anda tidak ingin bertambah dan semakin melebar jauh, maka jangan pernah mengungkit perihal kejadian di Bandung. Saat Anda ingin menjebak Nyonya Bening sewaktu acara kelulusan sekolah kalian agar melakukan malam pannas bersama pria bayaran yang Anda sewa waktu itu yang bekerjasama dengan Aiptu Doni. Dan pada akhirnya rencana itu meleset terkena Pak Arjuna akibat ulah Aiptu Doni yang menipu Anda. Urusan flashdisk serta perihal AKBP. Arjuna Sabda Mahendra merudapaksa Nyonya Bening kala itu jangan pernah Anda ungkit sedikitpun. Jika tak ingin hidup Anda menjadi sulit. Cukup fokus perihal kasus ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) dan juga perihal kelalaian Anda pada bocah yang bernama Dimas. Anda harus mengaku bersalah dan minta maaf dalam persidangan penuh dengan penyesalan. Hal itu bisa mempermudah semuanya agar cepat tuntas tanpa perlu penambahan hukuman lainnya. Anda mengerti," ucap Pak Sandy yang diangguki Della dengan lesu dan pasrah.


Persidangan Della dan beberapa tersangka lainnya hari ini sempat dilanda kericuhan usai sidang. Dan akan dilanjutkan pekan depan untuk sidang berikutnya. Saat Della keluar dari ruang sidang menuju mobil tahanan, seketika...


Plok...


Plok...


Plok...


Tiba-tiba lemparan telur busuk mendarat sempurna pada wajah, leher dan tubuhnya. Sontak badannya menjadi bau anyir serta terlihat menyedihkan. Terutama banyak hujatan serta cacian tertuju padanya. Jepretan kamera dari berbagai media berhasil mengabadikan momen tersebut dan langsung menjadi viral alias buah bibir di jagad maya.


"Dasar tukang fitnah !!" maki seorang wanita.


"Dasar keluarga korup! Makan uang rakyat. Keluarga maling woiii !!" hardik yang lainnya.


"Dasar pembunuh !!" caci maki seseorang.


Dan masih banyak umpatan buruk lainnya yang ia dengar mengenai dirinya dan juga keluarganya. Polisi tak bisa berbuat banyak. Dikarenakan jumlah massa yang membludak di persidangan sehingga membuat petugas kecolongan yang berujung tubuh tersangka menjadi kotor akibat lemparan telur busuk terutama Della.


Sedangkan di tempat berbeda, Doni juga melakukan persidangan atas kasus pembakaran rumah dinas Arjuna dan pembunuhan berencana pada kedua preman di Bogor. Dirinya sebagai otak kasus tersebut. Dan mengenai kasus yang menimpanya tentang Mia, masuk dalam pembunuhan tidak terencana. Doni menyampaikan bahwa kasus kematian Mia, dia hanya ingin membela diri.


Hal ini terbukti karena pengakuan Doni didukung cukup kuat oleh bukti cctv di rumahnya. Namun dalam persidangan Doni yang berlangsung secara tertutup tersebut, tidak tampak Titin maupun Dewa hadir di sana.


Konon kabarnya ibu dan anak tersebut bak hilang ditelan bumi dari rumah sakit. Doni pun berpikir jika istri dan anaknya pulang ke kampung halamannya di Garut. Namun menurut tetangga di sana, keduanya tidak ada jejak di desa tersebut. Di duga mereka belum menginjakkan kakinya kembali, karena rumah Titin tampak sepi dan kosong.


Tetangga tersebut hanya mengurus pemakaman Dimas sesuai perintah Doni saat lelaki itu digelandang ke kantor polisi. Dewa sedang menjaga ibunya kala itu. Akhirnya beberapa warga mengurus pemakaman Dimas yang sangat sederhana di Garut.

__ADS_1


"Istri dan anak saya pergi ke mana ya, Pak?" tanya Doni saat mendapat kunjungan dari Pak RT kampungnya di Garut.


"Nah itu dia Pak Doni, kami pun para warga kurang tahu. Setelah pemakaman Dimas, kata dokter, istri Anda boleh pulang beberapa hari lagi. Saat kami berencana mau jemput, Bu Titin dan Dewa katanya sudah pulang. Tapi di kampung kok enggak ada?" gumam Pak RT.


"Ya Tuhan, semoga mereka baik-baik saja." Doni menghela nafas dalam seraya meraup kasar wajahnya dengan kedua tangannya.


"Sabar Pak Doni. Saya turut prihatin. Semoga Bu Titin dan Dewa sehat-sehat di manapun berada," ucap Pak RT seraya menepuk pundak Doni.


"Amin..." jawab Doni pasrah.


☘️☘️


Kini Arjuna telah diangkat menjadi Kapolres Jakarta Selatan sekaligus naik pangkat menjadi Kombes Pol (Komisaris Besar Polisi), golongan IV Perwira Menengah (Pamen) dengan lambang 3 melati.


Bening berusaha memberikan senyum bangganya untuk sang suami saat menerima hal itu. Walaupun gelayut mendung masih melingkupi hatinya.


Arjuna sengaja tak menggelar acara meriah terkait kenaikan pangkat dan jabatan yang ia terima. Sebab suasana berkabung masih mendominasi keluarganya.


"Selamat ya Pak Kombes. Akhirnya jadi juga Pak Oyes tampan kita sedunia nih. Jangan lirik-lirik bunga lainnya nanti dicolok sama Bu Oyes yang galak itu. Haha..." kelakar Bayu seraya menunjuk Bening yang tengah sibuk berbincang dengan para Ibu Kemala lainnya yang satu naungan bersamanya.


"Oh ya, kabarnya istri dan anak Doni menghilang setelah pulang dari rumah sakit. Kamu tahu hal itu belum?" tanya Bayu pada Arjuna.


"Belum tahu. Biarkan saja, kan itu urusan keluarga Doni. Aku juga gak seberapa ingat wajah istri dan anaknya di kampung. Dia kan orangnya memang tertutup soal keluarganya," ujar Arjuna.


"Aku cuma kasih informasi itu saja sih ke kamu. Semoga ke depan keluargamu sama Bening bahagia selalu dan punya banyak anak biar rumah kalian makin rame. Hehe..." ucap Bayu turut bahagia.


"Makasih, Bay. Jangan lupa undang-undang aku pokoknya nanti kalau misal kamu dapat jodoh. Mau Ayu atau yang lainnya, aku selalu dukung kamu. Aku doain pokoknya yang terbaik buat teman terbaikku ini yang bakal jadi calon jenderal ke depan," ucap Arjuna seraya merangkul pundak Bayu.


"Masih jauh, Jun. Aneh-aneh saja kamu," balas Bayu.


"Rezeki orang ke depan kan enggak ada yang tahu Bro," ucap Arjuna.


"Iya juga sih," cicit Bayu seraya tersenyum kecil.


Akhirnya kedua sahabat itu saling bertukar kata. Dan mereka menikmati acara santai bersama dengan anggota yang lain beserta para istri yang tergabung dalam Ibu Kemala. Yakni organisasi yang menaungi istri-istri polisi.

__ADS_1


☘️☘️


Setelah menjalani persidangan beberapa kali, akhirnya telah diputuskan vonis untuk para tersangka.


Della Wijaya. Vonis hukuman kurungan penjara selama dua puluh tahun dan denda xxx miliar.


Nayla dan rekan. Vonis hukuman kurungan penjara dua tahun dan denda xxx juta rupiah.


Aiptu Doni. Vonis hukuman kurungan penjara seumur hidup. Dipecat secara tidak terhormat dari institusi.


Selama persidangan, Della tertunduk lesu. Tak ada teman maupun keluarga yang hadir. Bahkan nona cantik penuh jumawa sudah tak melekat pada dirinya. Wajah yang lebih tirus dan cekung tampak menghiasi rupanya. Tubuhnya lebih kurus sebab beberapa hari ini dirinya sedang kurang enak badan.


Tanpa sengaja mantan teman kuliah ini yang sama-sama baru saja mendapatkan vonis hukuman, berpapasan usai persidangan.


"Aku ucapkan selamat untukmu Nona Della Wijaya yang terhormat. Selamat menikmati indahnya hotel prodeo lebih lama dari aku. Satu hal lagi, semoga di dalam rutan, kamu menemukan banyak teman bukan musuh. Sampai jumpa lagi kawan," sindir Nayla seraya berjalan pergi dibawa petugas.


Della tak menggubris ucapan Nayla, ia sudah lelah menanggapi sindiran dan bullyan yang tertuju padanya. Ia pun akhirnya pasrah saat dibawa oleh petugas menuju Rutan (rumah tahanan) kelas II A di Duren Sawit, Jakarta Timur.


Sedangkan di kediaman mendiang Jenderal Polisi Prasetyo Pambudi, Arjuna menemani sang istri menyaksikan persidangan Della dari laptop miliknya. Arjuna sudah menceritakan detail pada istrinya bahwa ternyata Della memiliki hubungan khusus dengan temannya yakni Aiptu Doni. Sehingga semua benang merah ini saling terhubung dan akhirnya terbuka.


Bahkan berita kehancuran keluarga Della dan Stella hingga meninggalnya kedua orang tua mereka, Bening dan Arjuna juga sudah mengetahuinya. Sebab berita tersebut menyebar begitu cepat, secepat jari para detergen membuatnya menjadi viral.


"Yang batil pantas mendapatkan ganjarannya," ucap Arjuna merangkul Bening.


"Iya, Mas. Akhirnya aku tahu teman seperti apa dirinya. Semoga setelah ini dirinya sadar dan bertaubat sebelum ajal menjemputnya," ucap Bening.


"Mama jangan sedih lagi nanti Papa sedih kalau ninggal Mama tugas. Setelah ini kita buat syukuran kecil-kecilan dengan anak-anak yatim piatu. Dedek sudah masuk empat bulan," ucap Arjuna lembut seraya mengelus perut Bening yang sudah membuncit.


"Iya, Pah. Sekalian syukuran Papa jadi Pak Oyes belum. Kita jadikan satu saja ya," cicit Bening.


"Siap laksanakan, Bu Komandan." Arjuna mantap menjawabnya seraya berdiri dari duduknya dan menghadap Bening memberi hormat ala militer yang sengaja ia lakukan untuk menghibur Bening. Akhirnya hal itu berhasil membuat sang istri tersenyum kembali.


"Tersenyumlah sayang. Seumur hidup akan aku buat kamu melupakan kesedihan ini. Ya Allah, semoga senyum ini selalu menghiasi wajah istri hamba. Amin..." batin Arjuna seraya berdoa.


Bersambung..

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2