
"Itu dia. Semua karena ulah temenmu yang tengil itu jadi ponsel sejuta umatku hanyut di selokan, huh!" geram Ayu.
"Kok bisa?" tanya Arjuna terkejut.
"Ya bisa lah. Kan temenmu si bujang lapuk itu songong bin tengil. Habis ngajak aku makan terus waktu jalan ke parkiran mobil, kita berantem. Ujungnya ponsel aku jatuh ke selokan, hanyut kebawa air terus hilang deh. Nih sama Bayu si bujang lapuk, ponsel sejuta umatku diganti ponsel manja gambar buah apel yang sudah kena gigit ini," ujar Ayu gemas menceritakan pada Arjuna seraya menunjukkan ponselnya terbarunya.
"Wah kamu untung dong. Ponsel jadulmu diganti ponsel manja buah apel," ledek Arjuna seraya tersenyum.
"Untung apaan! Buntung iye. Ponsel ini pakainya susah banget, Juna. Emang temen kamu itu iseng banget ngerjain aku. Belikan ponsel susah begini. Pasti dia gak ikhlas ganti ponsel aku. Pasti murahan ponsel buah apel ini."
"Cuma memang sih kalau buat jepret gambar, wajahku yang lecek bin kusam ini jadi tampak berkilau putih kayak habis pakai bedak setoko. Haha..." tawa Ayu terbahak-bahak.
"Enak saja kamu bilang murahan. Kalau kamu tahu harga ponsel buah apel itu, pasti pingsan kamunya."
"Halah palingan harganya juga sejuta dua juta doang, Juna. Temen kamu itu pelitnya minta ampun. Masak traktir aku makan saja cuma di warung soto ayam pinggir jalan yang harganya cuma sepuluh ribu satu mangkuk. Sesekali ngajak cewek makan itu harusnya di depot Masakan Padang atau minimal ke resto ayam crispy yang terkenal seantero negeri itu. Yang namanya Mamaknya Chicken Dingdong yang logonya huruf M besar itu," cicit Ayu seraya menggerutu.
"Haha... romantis nih pinggir jalan makan soto ayam berdua," ledek Arjuna sambil cekikikan.
"Romantis apaan. Encum iya. Masak teman kamu bahas masalah pembibitan segala. Aku kan jadi grogi," ucap Ayu seraya bergidik ngeri.
"Ponsel yang kamu pegang itu harganya lima belas jutaan Ndoro Ayu," ujar Juna seraya tersenyum.
"Apa? Yang bener kamu, Juna!" pekik Ayu.
__ADS_1
"Kalau enggak percaya. Kamu cek saja langsung di internet. Tanya sama Mbah sejuta umat yang Maha Tahu segalanya "Mbah Gorgon". Tinggal kamu tanya berapa harga ponsel merk buah apelmu itu. Setelah itu siapkan jantungmu. Kalau perlu panggil ambulance dulu. Takut-takut kamu pingsan setelah baca jawaban dari Mbah Gorgon," ledek Arjuna.
"Waduh, kalau tahu mahal begini bakal aku elus-elus dan sayang-sayang ini ponsel. Enggak akan aku biarin lecet sedikitpun. Lumayan kalau enggak punya uang, bisa kujual nantinya."
Ayu tersenyum sumringah seraya mengelus-elus ponsel yang ia pegang. Bahkan seketika itu ia jaga hati-hati takut benda itu terjatuh.
"Sekalian saja Yu yang belikan ponsel itu ya disayang-sayang terus dielus-elus gitu," ucap Arjuna seraya tertawa.
"Dasar encum!"
Bugh...
Sebuah bantal sofa melayang kencang pada wajah Arjuna.
"Buahahaaa...."
"Masak ponselnya disayang eh yang ngasih dianggurin sih. Enggak adil dong namanya. Cewek matre dong kamu, Yu."
"Biarin. Kan aku enggak nyuruh dia buat belikan ponsel mahal. Dikasih secara cuma-cuma ya artinya rejeki aku dong. Awas kalau dia minta balik ini ponsel. Tak potong nanti senjata masa depannya sampai habis tak bersisa!" pekik Ayu dengan nada gemas.
"Serem juga Ndoro Ayu satu ini. Kasihan nanti kalau senjata dia kamu libas habis. Yang ada kamunya yang enggak enak bukan dia," ledek Arjuna tersenyum devil.
"Kok bisa aku?" tanya Ayu heran.
__ADS_1
"Ya bisa lah. Soalnya kamu yang bakal ketagihan nantinya bukan dia. Lihat saja kalau nanti kalian kawin. Pasti kujamin yang lebih garang minta main ular tangga itu kamu daripada Bayu si bujang lapuk itu," ledek Arjuna seraya tertawa terbahak-bahak lalu bergegas kabur sebelum Ayu memukulnya kembali.
"Arjuna Sabda Mahendra!" teriak Ayu.
Keduanya berlarian keliling rumah seperti Tom-tom dan Jer-jer. Mbak Menik hanya bisa tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Arjuna dan Ayu.
Arjuna akhirnya berhasil lolos dari kejaran Ayu dan masuk ke kamarnya. Ayu yang kesal pada Arjuna, akhirnya masuk ke kamarnya sendiri guna istirahat malam.
Di dalam kamar, Ayu sempat berpikir dengan keras segala ucapan Arjuna tadi.
Lalu matanya terbelalak secara sempurna setelah membaca hasil tanya jawab di Mbah Gorgon mengenai harga ponsel buah apel bekas gigitan itu. Sungguh terlalu.
"Apa maksudnya dia ngasih aku ponsel segini mahalnya?"
"Apa benar kata Arjuna tadi kalau si bujang lapuk itu ada menaruh hati padaku? Kayaknya enggak mungkin. Banyak wanita yang lebih cantik dan pintar di luar sana. Apa hebatnya aku?" cicit Ayu bertanya-tanya penasaran.
Saking penasarannya, Ayu sampai bangkit dari ranjangnya dan berdiri di depan kaca besar yang ada di dalam kamarnya. Ia melihat tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Model gadis desa lecek begini, enggak ada cantik-cantiknya kok. Apa yang dilihat dia dari aku?"
"Ah, ini pasti cuma akal-akalan Arjuna saja yang suka ledekin aku. Suka kasih harapan palsu saja, huft! Sadar Ayu, sadar. Dia siapa, kamu siapa."
๐๐๐
__ADS_1