
"Pras," cicit Dokter Heni.
"Ka_mu Heni?" tanya Papa Bening sedikit terbata-bata.
"Jadi... Bening ini putri kamu sama Embun?" tanya Dokter Heni meminta jawaban untuk meyakinkan sesuatu.
"Iya," jawab Komjen Pol Prasetyo Pambudi singkat.
Sedangkan Bening hanya terbengong melihat interaksi keduanya yang seperti sudah saling mengenal sebelumnya.
"Papa sudah kenal dengan Dokter Heni?" tanya Bening lirih.
"Oh, iya sayang. Dia teman Papa waktu kecil. Dulu rumah orang tuanya Dokter Heni satu kampung di Sleman dengan rumah eyang kamu," jawab Papa Bening.
"Oh begitu. Wah ternyata dunia ini sempit ya, Dok. Ternyata Papaku teman kecil dokter. Walaupun usia Papa sama dokter beda beberapa tahun. Dulu waktu kecil, Papa bandel enggak Dok?" tanya Bening seraya terkekeh.
"Sangat bandel. Sampai-sampai bikin seorang cewek nangis," cicit Dokter Heni sengaja.
"Apa? Wah, Papa dulu sudah dingin kayak kulkas ya Dok?" tanya Bening sengaja meledek Papanya.
"Banget dinginnya. Seperti menyelam ke dasar lautan Atlantik yang sangat dingin seperti es hanya untuk mencari kapal Titanic," ledek Dokter Heni.
"Haha... bener begitu, Pah?" tanya Bening seraya tertawa kecil.
"Hem..." jawab Papa Bening singkat sambil menatap Dokter Heni dengan tatapan datar namun tersembunyi sesuatu.
"Sayang, segera bereskan barang-barang kamu. Jangan terlalu malam, kamu harus banyak istirahat."
"Siap laksanakan, Ndan."
Bening pun berpamitan pada Dokter Heni tanpa rasa curiga apapun terhadap keduanya. Dan kini di ruang tamu hanya tersisa Papa Bening dan Dokter Heni.
__ADS_1
Dua orang yang pernah berteman baik. Bahkan ada cinta di dalamnya walaupun hanya bertepuk sebelah tangan.
Namun hubungan itu harus kandas karena terbelenggu akan sesuatu yang terjadi di masa lalu yang cukup pahit.
Suasana yang sempat ramai tawa kecil dan ledekan, kini berubah menjadi hening. Sunyi tercipta diantara keduanya. Dan mimik wajahnya pun keduanya berubah drastis.
"Terima kasih," ucap Komjen Pol Prasetyo Pambudi.
"Untuk?" tanya Dokter Heni dengan datar tanpa melihat wajah Papa Bening.
"Semuanya," jawab Papa Bening dengan lugas dan menatap Dokter Heni. Namun sosok yang ditatap, tidak membalas tatapannya.
"Sudah tanggung jawabku sebagai seorang psikiater menolong siapapun yang membutuhkan terutama pasienku. Kamu tak punya hutang budi apapun padaku hanya karena putrimu aku tolong" ucap Dokter Heni tegas.
"Aku turut berduka atas meninggalnya suamimu. Maaf aku tidak tahu. Lama kita enggak berjumpa," ucap Papa Bening tulus.
"Aku rasa kamu enggak perlu melakukan hal itu. Karena kita enggak sedekat itu juga. Lagipula suamiku juga enggak kenal kamu. Toh kamu juga tidak aku undang di pernikahanku!" jawab Dokter Heni datar terkesan ketus.
"Maaf. Sekali lagi aku minta maaf atas apa yang terjadi," cicit Papa Bening dengan sebuah helaan nafas keluar dari bibirnya.
"Dengan senang hati," jawab Papa Bening singkat.
"Kamu adalah manusia yang paling bodoh!"
"Di luar sana kamu tidak tahu bagaimana rasanya orang lain yang memperjuangkan bersama pasangannya untuk mendapatkan buah hati. Sampai-sampai mendapat sakitnya banyak gunjingan, hinaan, sindiran hingga caci maki karena dianggap mandul. Tetapi kamu manusia yang beruntung diantara jutaan manusia yang tidak beruntung itu. Kamu masih memiliki buah hati bersama Embun, wanita yang sangat kamu cintai. Tetapi harta yang ditinggalkan Embun padamu justru kamu sia-siakan. Suatu harta yang di luar sana banyak diharapkan dan diimpikan oleh orang lain."
"Kuharap kamu bisa menjaga dan menyayangi Bening hingga sisa umur hidupmu sebagai penebus dosamu selama ini padanya. Kamu tidak tahu kan bahwa putrimu itu menderita trauma mendalam dan gangguan kecemasan yang cukup berat. Bukan karena kejadian dirinya hamil di luar nikah. Tetapi pemicunya adalah hal yang selama ini kamu lakukan padanya menumpuk dalam dirinya seperti sebuah gunung yang menyimpan lahar panas dalam jumlah yang sangat banyak lalu mengendap hendak meletus seperti bom waktu. Dan saat gunung itu meletus, akhirnya kejiwaan putrimu yang menjadi korban."
"Jangan pernah menyesal karena itu percuma. Semua sudah terjadi. Itu saja yang perlu aku sampaikan padamu," tutur Dokter Heni dengan tegas.
"Apa kamu masih menyimpan dendam atas apa yang terjadi di waktu lampau antara kita?" tanya Papa Bening lirih.
__ADS_1
"Untuk apa hidup menyimpan dendam. Lebih tepatnya kecewa. Jika saat itu kamu memang ingin menolak perjodohan antara kita yang digaungkan Ayahmu atas dasar balas budi pada Bapakku yang rela mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Ayahmu, seharusnya kamu mengatakannya sejak awal pada orang tuamu. Yang otomatis tidak membuat orang tuaku malu, jatuh sakit yang berujung Bapakku meninggal."
"Kamu pergi begitu saja tanpa pamit saat pesta lamaran kita berlangsung. Kalau kamu tanya apa aku malu? Oh sudah pasti Komjen Pol Prasetyo Pambudi yang terhormat, saya Heni Widyastuti dan keluargaku saat itu sangat malu. Rasanya kami ingin menenggelamkan wajah kami ke dalam kubangan lumpur sehingga orang di luar sana tidak mengenal rupa kami. Aku dan keluargaku memang bukan orang kaya seperti keluargamu. Yang mana orang kampung di sana tidak akan pernah berani menggunjing keluargamu karena takut. Tapi kami, yang hanya orang kecil. Untuk keluar rumah sekedar membeli makan saja, kami tidak berani. Suara-suara sumbang para tetangga memojokkan aku dan keluargaku atas penolakanmu. Mereka beranggapan keluargaku hanya ingin menguasai harta keluargamu. Sehingga kami mendapatkan karma. Padahal faktanya anak lelaki semata wayang juragan terpandang di kampung justru pergi karena dia hanya seorang pengecut!" pekik Dokter Heni.
"Ternyata di seberang sana sudah ada gadis yang kau cinta tetapi gadis itu belum menerima cintamu. Ayah dan ibumu sampai datang ke rumah kami untuk meminta maaf. Tetapi hingga satu bulan anak lelaki itu tak kunjung pulang kampung karena kabarnya sedang dikirim ke daerah konflik. Bahkan tak lama setelah kejadian memalukan itu Bapakku jatuh sakit hingga meninggal, anak lelaki itu tak juga datang ke rumah kami walaupun hanya sekedar untuk minta maaf."
"Kau tahu apa doaku saat itu pada Tuhan?" tanya Dokter Heni dengan menggebu dan sorot mata yang menatap tajam.
"Tidak," jawab Papa Bening lirih dengan tatapan sendu melihat Dokter Heni yang sudah berkaca-kaca.
"Kamu akan menyakiti orang yang kamu cintai hingga kamu merasakan sebuah penyesalan dalam hidup. Suatu hari nanti kamu sendiri yang akan datang padaku untuk meminta maaf. Aku tak menyangka ucapan sepintas atas rasa kecewaku padamu waktu itu justru didengar Tuhan. Aku menyesal kata-kata itu keluar dari bibirku saat hatiku kecewa. Dan Bening menjadi korban. Ma_af... huhu..." ucap Dokter Heni seraya menangis hingga menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Bukan salahmu. Aku pantas mendapatkan hal itu. Maaf, aku tak bisa membalas cintamu. Maaf, membuat keluargamu malu waktu itu. Maaf untuk semuanya, Hen."
Papa Bening pun meneteskan air matanya. Dia benar-benar menyesal atas tindakannya di masa lalu yang pergi tanpa pamit.
Kedua manusia yang duduk di ruang tamu itu pun menangis dalam keheningan malam. Mengingat masa lalu yang sungguh menyayat hati.
Setelah kepergian Bapaknya, Heni dan ibunya langsung pergi merantau ke luar Jawa setelah rumahnya laku terjual. Ia melanjutkan kuliahnya yang sempat terbengkalai dan bertemu jodoh yakni mendiang suaminya yang bernama Wisnu.
Ibunda Dokter Heni tak lama meninggal dunia setelah putrinya menikah. Dan hingga akhir hayat Wisnu berpulang karena kecelakaan beberapa tahun silam, Dokter Heni belum memiliki anak dengannya.
Setelah keluarga Dokter Heni merantau, orang tua Komjen Pol Prasetyo Pambudi merestui pernikahan putranya dengan Embun. Setahun setelah menikah, Komjen Pol Prasetyo Pambudi mengalami musibah yakni orang tuanya mengalami kecelakaan saat bersamanya.
Dirinya selamat namun kedua orang tuanya meninggal dunia.
๐๐๐
Papa Bening dan Dokter Heni keduanya masih sama-sama terdiam. Hanya saling menghapus air mata masing-masing yang masih membekas di wajah keduanya.
Tanpa disadari oleh keduanya, Bening mendengar percakapan antara Papanya dengan Dokter Heni sejak awal hingga akhir.
__ADS_1
Bening pun tanpa sadar meneteskan air matanya mendengar tabir masa lalu pahit antara Dokter Heni dengan sang Papa. Suara tangisnya tercekat di kerongkongan. Ia sengaja membungkam mulutnya dengan kedua tangannya sendiri agar tidak mengeluarkan suara apapun.
Bersambung...