Bening

Bening
Bab 43 - Bertemu


__ADS_3

Keesokan harinya, Arjuna yang mendapat informasi biodata tentang Dokter Heni dari Pak Tikno, langsung bergegas pergi pagi-pagi sekali menuju rumah sakit tempat dokter tersebut bekerja.


Bahkan saking didera rasa penasaran mendalam atas apa yang terjadi pada Bening sampai tinggal bersama seorang psikiater, dia pergi terburu-buru dan menolak ajakan sarapan dari sang ibu dengan mengatakan ada panggilan darurat.


Ny. Lina sangat paham kesibukan Arjuna. Ia pikir putranya itu ada pertemuan penting di Yogyakarta ini. Jadi ia tidak terlalu ambil pusing.


Ayu yang melihat Arjuna terburu-buru pergi, cukup heran. Lalu ia memutuskan bertanya pada Bude Lina.


"Loh, Juna pergi ke mana Bude?" tanya Ayu.


"Bude juga enggak tahu pasti, cuma ada panggilan darurat katanya. Palingan ketemu sama teman sesama kesatuannya di sini."


Mendadak Bude Lina cukup heran melihat penampilan baru Ayu pagi ini.


"Ehem, kok Bude lihat-lihat hari ini tampilan kamu beda Yu. Tumben kamu pakai make up lengkap segala. Pagi-pagi mau ada kondangan di mana?" tanya Bude Lina seraya menyipitkan matanya menatap Ayu yang berdandan sedikit menor pagi-pagi sekali.


"Oh, ini Ayu lagi nyobain make up baru. Dulu sempat dikasih sama temenku Ningsih itu, Bude. Cuma belum aku cobain."


"Cantik enggak, Bude?" tanya Ayu seraya tersenyum menampilkan deretan giginya.


Ny. Lina tersenyum sumringah. Dirinya bukan anak kemarin sore yang mudah ditipu atau dikibulin alias dibohongi. Ia merasa Ayu sedang jatuh cinta. Hanya saja lelaki mana, ia masih belum tahu.


Sebab ia sangat mengenal Ayu yang paling malas berdandan. Tiba-tiba merubah penampilannya yang biasanya terkesan tomboy menjadi lebih girly.


"Cantik. Sangat cantik. Cuma sedikit saran dari Bude, jadi diri kamu apa adanya saja. Jika lelaki itu tulus cinta sama kamu. Pasti dia tetap sayang sama kamu walaupun enggak banyak gaya," tutur Bude Lina.


"Lelaki siapa Bude?" tanya Ayu melongo.


"Ya entah. Nanti juga pasti ada lelaki yang datang melamar kamu jika sudah waktunya kalian berjodoh untuk naik ke pelaminan," ucap Bude Lina seraya tersenyum.


Ayu yang tersipu malu hanya bisa menunduk dan pipinya sudah bersemu merah.


🍁🍁🍁


Rumah Sakit


Dokter Heni cukup terkejut melihat ada seorang anggota kepolisian datang menghampirinya. Kebetulan jam buka prakteknya masih satu jam lagi. Dirinya terbiasa datang lebih awal ke tempat kerjanya.

__ADS_1


"Perkenalkan saya Arjuna, calon suami Bening. Wanita yang tinggal di rumah Anda. Ada hal yang perlu saya tanyakan pada dokter tentang Bening," ucap Arjuna to the point.


Arjuna pun memberikan buku harian Bening dan juga test pack yang ia bingkai di pigura kecil tertera nama Bening. Setiap pergi ke manapun, ia selalu membawa kedua benda tersebut.


Ia sengaja menunjukkan benda itu pada Dokter Heni supaya sang dokter percaya padanya bahwa dirinya memang calon suami Bening.


Dokter Heni sempat terkejut bahwa calon suami Bening menemuinya. Sebab Bening tak pernah menceritakan bahwa dia punya calon suami. Bening hanya sempat menceritakan padanya bahwa ia hamil karena tidak sengaja diperkosa oleh seorang pria yang terindikasi kena obat perang-sang.


Alhasil one night stand terjadi dan menyebabkan dirinya hamil. Karena tak ingin membuat nama baik Papanya menjadi buruk dan juga tak ingin menggugurkan kandungannya maka ia memilih kabur dari rumah.


Cerita itu yang ia dengar dari hasil konseling dengan Bening. Dan sekarang ada lelaki yang mengaku sebagai calon suami Bening. Namun ia berusaha menghargai tamunya dan menanggapi Arjuna.


Dirinya pun sebagai dokter spesialis kejiwaan cukup mempercayai apa yang disampaikan oleh Arjuna. Selain bukti yang dibawa oleh Arjuna, dikarenakan sorot mata lelaki di hadapannya sekarang ini menyiratkan sebuah kejujuran dan cinta yang begitu besar pada sosok Bening.


"Apa yang bisa saya bantu Tuan Arjuna?" tanya Dokter Heni serius.


"Boleh saya meminta tolong pada Anda untuk menceritakan kronologi awal bagaimana Anda bisa mengenal calon istri saya sehingga dia tinggal di rumah Anda?" tanya Arjuna.


Akhirnya Dokter Heni menceritakan bahwa Bening dibawa oleh pegawai stasiun Lempuyangan. Bening pingsan di stasiun tersebut pagi-pagi.


Setelah diperiksa ternyata Bening mengalami keguguran saat usia kandungannya masuk bulan ke tujuh. Bayinya terlilit tali pusar. Dan meninggal dunia.


Namun karena tak tega, Dokter Gunawan pun membiayai terlebih dahulu biaya tersebut. Dan kalung milik Bening sebagai jaminan. Yang menurut informasi dari Dokter Gunawan, kalung itu pemberian Papa Bening saat masih kecil. Jika Bening nantinya memiliki cukup uang, kalung tersebut akan ditebusnya kembali.


Dokter Heni pun menceritakan juga tentang Post Traumatic Stress Disorder yang diderita Bening. Namun sudah dalam tahap penyembuhan akhir. Dan sudah mulai tampak berkurang gangguan kecemasan tersebut.


Deg...


Dada Arjuna serasa dihantam pukulan dengan batu besar. Tanpa sadar air matanya menetes. Sungguh perih menyayat hati kehidupan Bening akibat kesalahan dan kebodohannya.


Arjuna pun akhirnya meminta beberapa saran pada dokter Heni bagaimana langkah-langkah yang harus ia lakukan untuk membantu penyembuhan Bening secara cepat dan tepat terutama dirinya sebagai calon suaminya.


Dia pun meminta dipertemukan dengan Dokter Gunawan untuk menebus kembali kalung milik Bening. Dan satu permintaan Arjuna yang terpenting yakni jangan menyampaikan apapun pertemuannya hari ini pada Bening.


Akhirnya saat ini kalung milik Bening sudah berada di genggaman tangan Arjuna. Dia sudah menebusnya pada Dokter Gunawan. Tak lupa Arjuna mengucapkan banyak terima kasih pada Dokter Gunawan dan juga Dokter Heni.


"Bismillah semoga Allah meridhoi langkahku," batin Arjuna berdoa seraya menatap kalung milik Bening yang ada di genggamannya.

__ADS_1


Setelah urusannya di rumah sakit selesai, Arjuna pun bergegas pergi menemui Bening di tempat kerjanya.


Setibanya di sana, Arjuna yang memang sudah kepalang rindu, langsung masuk ke dalam toko roti tempat Bening bekerja.


Ceklek...


Pintu toko roti sekaligus mini cafe itu pun terbuka, menampilkan sosok Arjuna yang memakai seragam kepolisian lengkap melangkah masuk menghampiri meja kasir tempat Bening berada.


Bening yang tengah menunduk untuk menata uang, sontak terkejut mendengar suara seseorang yang cukup familiar di telinganya tengah memanggilnya.


"Bisa kita bicara sebentar, Bening."


Bening pun mendongak. Tentu saja dirinya cukup terkejut dan tak menyangka bahwa Arjuna kini berdiri di hadapannya. Bahkan di tempatnya bekerja.


"Jangan menghindar dari aku. Jika tidak, aku akan telepon Papa kamu sekarang juga untuk datang ke sini."


Deg...


Arjuna sengaja mengancam Bening agar tidak lagi menghindarinya. Dan hal ini terbukti cukup ampuh yang akhirnya Bening mau duduk bersamanya namun ia meminta Arjuna menunggu di depan.


Dengan terpaksa Bening pun meminta temannya untuk menggantikan dirinya sejenak sekitar satu jam ke depan. Bening pun berganti baju biasa, melepas seragamnya.


Lalu ke depan menemui Arjuna. Dan sekarang keduanya tengah duduk di sebuah bangku taman area kampus tak jauh dari tempat kerja Bening. Kondisi yang sedang sepi sebab perkuliahan belum dimulai, membuat keduanya cukup nyaman walaupun sedikit canggung.


"Waktumu tidak banyak. Aku masih jam kerja. Ada perlu apa? Dan bagaimana kamu bisa tahu aku kerja di sini?" tanya Bening secara lugas dengan nada datar sambil menatap lurus ke depan yang berupa hamparan pepohonan dan rerumputan yang sangat rapi dan bersih.


Arjuna yang berada di samping Bening pun sempat menoleh sekilas. Ia cukup sedih saat melihat Bening yang enggan menatapnya langsung.


Kemudian Arjuna mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang ternyata sebuah buku harian. Arjuna pun menyerahkan buku harian milik Bening.


Deg...


Sontak Bening pun sangat terkejut mendapati buku hariannya yang harusnya berada di kamarnya di rumah, tetapi kini ada bersama Arjuna.


"Bagaimana bisa?" batin Bening heran.


"Ini aku kembalikan punyamu. Maaf, jika aku membaca semua isinya. Mungkin ribuan kata maaf tak bisa mengembalikan apa yang sudah terjadi pada kita. Aku tak pernah beranggapan apa yang telah kita lakukan itu adalah sebuah kesalahan. Kamu bukanlah kesalahan. Justru karena malam itu aku beruntung bertemu wanita seperti kamu yang memang pantas menjadi ibu dari anak-anakku. Aku tak bisa membayangkan jika wanita yang bersamaku malam itu bukan kamu," ucap Arjuna tulus.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu bisa mendapatkan buku harianku? Lalu maksud kamu anak-anak?" tanya Bening menyipitkan matanya dan menatap pada Arjuna cukup tajam.


🍁🍁🍁


__ADS_2