Bening

Bening
Bab 131 - Unforgettable Moments


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu.


"Eughh... Pah. Bangun, Pah. Papah, bangun!!" pekik Bening seraya mencengkeram lengan suaminya yang tengah tertidur pulas di sampingnya.


"Auchh... Mamah." Arjuna sedikit meringis namun matanya masih terpejam. "Jangan pegang itu. Kalau masih pengin, megalodon saja yang dipegang-pegang," cicitnya dan dengkuran halus pun kembali terdengar.


"Astaga, Papah !! Kalau enggak bangun juga, megalodonmu aku sembelih sekarang juga!" teriak Bening.


Beruntung kamar tidur mereka termasuk kedap suara sehingga tak perlu membuat penghuni lainnya di luar sana terbangun mendadak akibat jeritan di dalam kamar utama.


Sontak Arjuna pun langsung terbangun dan mengucek matanya. Kemudian ia bersandar di headboard ranjangnya. Kamar tidurnya masih dalam kondisi redup berhiaskan lampu tidur saja yang menyala. Sedangkan lampu utama masih posisi off (mati).


"Ada apa sih, Mah? Ini masih jam tiga pagi," cicit Arjuna bertanya seraya melirik jam weker di atas nakas. Matanya masih membuka sedikit lalu menutup kembali begitu seterusnya karena masih dalam mode mengantuk.


"Perutku mules banget, Pah. Terus aku ngerasa kayak ngompol," keluh Bening seraya menahan rasa nyeri di perutnya.


"Hah, ngompol? Yang bener saja, Mah. Emangnya Mamah bayi, pakai ngompol segala. Jangan ngadi-ngadi deh, Mah." Arjuna tak percaya.


"Beneran, Pah." Bening kekeh meyakinkan suaminya dengan apa yang ia rasakan.


"Apa tadi es krim megalodonku kebanyakan keluar? Jadi Mamah terasa kayak ngompol. Mungkin tuh es krim keluar sendiri karena di dalam penuh sesak. Gak dapat tempat duduk jadi kebagiannya tiket berdiri. Nah, daripada capek berdiri jadinya dia keluar sendiri mau hirup udara segar kali, Mah. Itung-itung refreshing," gumam Arjuna tanpa tedheng aling-aling. (Harap maklum nyawa Pak Oyes belum genap abis ninu-ninu jadi ya begini).


"Kombes Pol Arjuna Sabda Mahendraaaaa !! Anda minta dihukum ringan atau berat? Aku serius, Papah!!" pekik Bening yang sudah geregetan di ubun-ubun bercampur rasa nyeri di perutnya.


"Papah masih ngantuk, Mah. Bobo lagi yuk. Atau mau dininaboboin lagi sama megalodon satu ronde lagi, gimana?" tanya Arjuna seraya menguap. Dan saat akan masuk kembali ke dalam selimut, mendadak Bening semakin menjerit padanya.


"Papah, sepertinya aku mau melahirkan !!" pekik Bening sambil berusaha mengatur nafasnya.


"What? Melahirkan? Astaga Bening Putri Prasetyo, bilang dong dari tadi. Mamah gimana sih! Hemmm... untung cinta. Kalau enggak, sudah aku cubit ginjalnya. Dari tadi bicara muter terus. Kayak ngajakin pergi ke Tanah Abang padahal mau ke Grogol. Eh salah, maksudnya mau mbrojol. Huft..." keluh Juna mendadak panik dan frustasi.


Arjuna pun sontak langsung berdiri. Calon Papa yang satu ini tampak mondar-mandir seraya mengacak-acak rambutnya. Kepanikan menghinggapinya.


"Astaga, Pak Oyesku !! Tolong itu dikondisikan tubuh Papah dan megalodonnya. Apa nanti mau pamer di depan dokter dan suster? Sebeelll !" ketus Bening yang memutar bola matanya jengah melihat kepanikan suaminya sampai lupa memakai baju dan masih dalam kondisi polos saat beranjak dari tempat tidur.


Bahkan lampu utama kamarnya sontak dinyalakan sang suami saat bangun dari ranjang karena dilanda kepanikan. Alhasil terang benderang Bening melihat suaminya yang polos tengah mondar-mandir tak karuan. Mirip setrikaan.


"Hehe... panik, Mah. Maaf sayangku, cintaku, ratuku, belahan jiwaku. Jangan cemberut gitu. Oke-oke, Papah segera ganti baju." Arjuna merayu dan meminta maaf pada sang istri yang tengah mengerucutkan bibirnya.


Akhirnya keduanya pun membuat heboh satu rumah saat menjelang Subuh. Terutama kelakuan Arjuna yang super panik langsung menggedor pintu kamar sang ibu, Ayu dan juga Pak Tikno.

__ADS_1


Kebetulan Ibunya, Ayu dan Pak Tikno kemarin telah tiba di Jakarta. Nyonya Lina jauh-jauh hari sudah mengatakan pada Bening dan Arjuna, bahwa ia akan tinggal di Jakarta saat usia kehamilan Bening sudah menginjak delapan bulan hingga nanti cucunya lahir ke dunia. Dan Bening mampu mandiri mengasuh keduanya, baru ia akan kembali ke Jogjakarta.


Selama dirinya pergi ke Jakarta, semua urusan bisnis di Jogja sudah ia serahkan pada orang kepercayaannya.


"Huh... hah... sakit, Pah." Bening mengeluh seraya berusaha mengatur nafasnya. Ia tengah bersandar pada pundak suaminya.


"Pak Tikno agak cepetan. Istri saya kesakitan, Pak." Arjuna memberi perintah dengan nada suara yang sudah naik satu oktaf.


"Sabar, Juna. Semua wanita yang mau melahirkan memang akan sakit. Itu wajar. Kamu jangan panik," cicit Ny. Lina seraya menasehati.


"Kasihan Bening, Buk. Lihat nih, keringat dinginnya keluar terus. Wajah istriku juga sudah pucat begini," ucap Arjuna sendu seraya menghapus buliran keringat di dahi Bening.


"Bukankah prediksi dokter, bayi kalian lahir satu bulan lagi? Kok ini sudah keluar?" tanya Ny. Lina.


Glug...


Arjuna menelan salivanya dalam-dalam.


"Apa tadi karena es krim megalodonnya terlalu over?" batin Arjuna bertanya-tanya.


"Mas Juna tuh, Buk. Sudah dibilangin buat jalan si kembar jangan overlapping. Ujungnya malah kebablasan. Ibarat kata, niatnya dari Kemang cuma mau pergi ke Tugu Monas sebentar terus balik pulang. Eh justru Mas Juna bablas sampai ke Marina Ancol. Huft !" keluh Bening seraya menggambarkan perjalanan ninu-ninu yang baru saja beberapa jam lalu dilakukan bersama sang suami dalam bentuk kiasan yang tak biasa.


"Sambil nyelem minum air, Mah. Toh Mamah juga menikmatinya kan. Bener enggak," ledek Arjuna sengaja menggoda istrinya.


"Au ah... sebel !!" jawab Bening ketus.


"Ya sudah, nanti tinggal kamu tilang saja suamimu setelah melahirkan. Kalau bisa enggak empat puluh hari puasanya. Tapi sampai setahun puasa juga boleh. Sah-sah saja kok," ucap Nyonya Lina seraya tertawa kecil.


"Bener juga, Buk. Haha... patut dicoba," cicit Bening seraya tersenyum sumringah.


"Berani-beraninya memangkas jatah Komandan. Minta dihukum nih Bu Komandan," ucap Arjuna dengan nada tak terima namun tak lama bibirnya mengerucut tanda Pak Oyes tengah merajuk.


"Siapa takut. Wleekk..." jawab Bening sengaja menggoda suaminya dengan menjulurkan lidahnya.


"Ah... Mamah." Arjuna semakin merajuk.


"Haha..." tawa Bening dan Nyonya Lina serempak. Sementara Pak Tikno yang tengah menyetir, hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya.


"Kalian ini ngomongin apaan sih? Puasa apa? Bulan Ramadhan kan sudah kelar empat bulan yang lalu. Hooaam..." cicit Ayu bertanya dengan polosnya seraya menguap sebab dirinya masih dalam mode mengantuk.

__ADS_1


"Udah molor saja. Enggak perlu ikut-ikutan. Masih anak kecil. Belum punya buku halal juga buat main ular tangga. Nyamber saja kayak bensin," ketus Arjuna pada Ayu.


"Dasar aneh. Bangunin aku ya Junet, kalau kalian udah sampai." Ayu memintanya seraya kembali mendengkur melanjutkan tidurnya.


"Hem," jawab Arjuna singkat.


Setibanya di rumah sakit, dokter yang melihat kondisi Bening akhirnya memutuskan mengambil jalan oeprasi cesar untuk mengeluarkan si kembar. Beningpun hanya bisa pasrah.


Walaupun niat awalnya, ia sangat ingin melahirkan secara normal. Namun apapun jalannya, ia pasrahkan pada Allah SWT. Yang terpenting ia dan kedua jabang bayinya sehat serta tak kurang suatu apapun.


Arjuna sempat merasa bersalah pada sang istri. Karena dirinya kurang berhati-hati saat merayakan cinta di atas peraduan, sehingga istrinya tidak jadi lahiran secara jalur normal.


"Maafin Papah ya, Mah. Papah sayang Mamah," cicit Arjuna meminta maaf seraya mencium kening istrinya saat berada di dalam ruang operasi.


"Enggak apa-apa, Pah. Love you, love you and love you," ucap Bening berusaha menenangkan suaminya yang sudah berkaca-kaca.


"Love you more Mah," bisik Arjuna lembut seraya mencium bibir istrinya sekilas.


Para dokter dan suster yang membantu persalinan si kembar tampak terharu dan bahagia melihat cinta sepasang suami istri di depannya ini.


Tak lama suara tangisan bayi menggema dan saling bersahut-sahutan di ruang operasi.


Oek...oek...oek...


Oek...oek...oek...


Keduanya lahir dengan selamat. Berjenis kela min perempuan.


☘️Berliana Cahaya Mahendra dan Binar Mentari Mahendra☘️


Lengkap sudah kebahagiaan Arjuna dan Bening menanti kelahiran sang buah hati yang telah lama dinanti.


"Alhamdulillah," batin keduanya mengucap syukur dan tersenyum bahagia seraya menatap kedua buah hatinya yang kelak menjadi ladang pahala bagi mereka.


"Kakek Jenderal, cucumu telah lahir. Semoga Papa bahagia selalu di sana," batin Bening.


Bersambung...


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2