
Bukannya menjawab pertanyaan Bening, Komjen Pol Prasetyo Pambudi justru menarik tangan Bening berjalan ke sebuah makam yang tak jauh dari makam Putra Arjuna.
Awalnya Bening yang masih marah pada sang Papa, enggan mengikuti langkah Papanya. Namun pada akhirnya Pak Komjen satu ini berhasil membawa Bening ke makam mendiang sahabatnya, yakni Ayah kandung Arjuna Sabda Mahendra.
Bening cukup terkejut membaca nama yang tertera di batu nisan yang ada di hadapannya sekarang. Batu nisan atas nama Kombes Pol Gatot Subekti Mahendra.
Deg...
"Kenapa nama belakangnya mirip seperti nama Arjuna?" batin Bening bertanya-tanya.
"Dia siapa, Pah?" tanya Bening.
"Dia sahabat Papa. Namanya Pak Gatot. Dia gugur saat tengah bertugas di daerah konflik. Dahulu ketika di Aceh tengah bergejolak, sahabat Papa ini pernah menolong Papa yang seharusnya kena tembak tetapi dia yang justru tertembak. Walaupun saat itu dirinya masih bisa tertolong."
"Saat kamu dalam kandungan Mama, kami berdua sudah mendeklarasikan keinginan untuk menjodohkan kamu dengan putra beliau. Namanya Arjuna Sabda Mahendra," ucap Papa Bening.
Hati Bening langsung tertegun mendengar nama pria yang saat ini menghiasi hatinya sekaligus Ayah kandung mendiang putranya itu disebut oleh bibir sang Papa. Terlebih Papanya bercerita bahwa ternyata ia dijodohkan dengan Arjuna, lelaki yang sama.
Sejak kecil Bening memang telah mengetahui bahwa dirinya akan dijodohkan sehingga menutup hatinya dan tak ingin berpacaran. Sebab ia tak mau ada hati yang patah karena dirinya sudah dijodohkan.
Namun ia tak menyangka bahwa Arjuna adalah lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Bening terus mendengarkan penuturan sang Papa mengenai sosok Arjuna dan keluarganya.
Bahkan Papanya sudah mengetahui bahwa Arjuna yang menghamili Bening tanpa sengaja. Komjen Pol Prasetyo Pambudi juga menceritakan hampir saja dirinya gelap mata karena emosi mendengar kejujuran Arjuna saat pertama kali datang ke rumah.
Arjuna hampir ditembak mati oleh pistolnya. Namun ia teringat kalimat Bening pada buku hariannya untuk memaafkan lelaki yang telah menodainya sehingga dirinya mengurungkan niatnya untuk membunuh Arjuna dengan tangannya sendiri.
Memilih berdamai dan menerima takdir hidup dari Sang Pencipta yang akhirnya ia pilih.
Keihklasan itu akhirnya berbuah hasil yang baik. Yakni putri kandungnya masih hidup. Walaupun Komjen Pol Prasetyo Pambudi harus bersedih hati karena sang cucu meninggal dunia sebelum dilahirkan oleh Bening, ia berusaha menerima garis takdir tersebut.
__ADS_1
"Arjuna sering menginap di kamarmu, sayang. Bahkan Papa sering memergoki dirinya tengah menangis memeluk fotomu. Bahkan ia selalu membersihkan sendiri kamarmu. Sebab kata Bik Ningsih, dirimu sangat mencintai kebersihan. Arjuna pasti senang jika melihatmu masih hidup."
"Sebagai sesama lelaki, Papa sangat tahu dia begitu menyesal terlambat bertanggung jawab padamu. Tetapi sorot matanya tidak bisa membohongi Papa bahwa dia sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kalian bertemu. Yang ternyata kalian memang sudah kami niatkan untuk melakukan perjodohan keluarga ini. Jika ditelaah lebih lanjut mungkin ini sudah takdir kalian berdua. Walaupun pertemuan kalian tidak diawali dengan kebaikan tapi Papa yakin akan berakhir dengan kebaikan dan kebahagiaan. Apa kamu tetap ingin melanjutkan rencana perjodohan Papa dengan mendiang Pak Gatot?" tanya Papa Bening dengan menggenggam erat tangan putrinya itu.
Keduanya masih dalam posisi berdiri menatap batu nisan mendiang Ayah Arjuna. Keheningan masih tercipta di sana.
"Bening bersedia Pah, untuk melanjutkan perjodohan ini."
"Yang benar, sayang. Coba ulangi sekali lagi di depan pusara Ayah Arjuna," pinta Papa Bening dengan nada terkejut bercampur bahagia.
"Bening bersedia menikah dengan Arjuna," ucap Bening lugas dan tersenyum sumringah membalas genggaman tangan sang Papa.
"Alhamdulillah..."
"Gatot, kamu pasti bahagia mendengar bahwa Bening bersedia menikah dengan putramu, Arjuna. Janjiku sudah lunas Gatot. Segera akan aku resmikan hubungan mereka. Semoga putra putri kita menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah," ucap Papa Bening dengan tulus dan sumringah.
"Amin..." ucap mereka serempak.
Papa Bening terlihat begitu semangat dan ia sempat menanyakan ulang beberapa kali pada Bening di mobil selama perjalanan menuju kediaman Ibu Arjuna.
Dirinya ingin memastikan apakah Bening tidak masalah untuk menikah di usia yang masih muda ?
Terlebih Bening saat ini sudah masuk perguruan tinggi dan pastinya akan sibuk kuliah. Karena pada umumnya di usia yang sangat muda, teman-teman seusia Bening tengah asyik-asyiknya kuliah sambil bermain atau masih tahap berpacaran.
Bening memutuskan tidak mau berpacaran. Khawatir lepas kendali dan tak ingin menambah dosa. Sehingga ia akan menerima pinangan jika memang Arjuna melamarnya kembali untuk menjadi istrinya.
Senyum terus terpancar di wajah gagah Komjen Pol Prasetyo Pambudi. Dirinya sengaja tak menghubungi dahulu ponsel Ibu Arjuna. Sebab ingin memberi kejutan pada calon besannya itu.
Sedangkan Bening, walaupun hatinya juga tengah bahagia tetapi ia masih terselip rasa tidak nyaman kala akan bertandang untuk pertama kali ke rumah orang tua Arjuna yang ia tahu masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Ayu dan Nenek Minah.
__ADS_1
Dirinya mendadak rindu pada Ayu dan Nenek Minah. Akan tetapi ia berharap malam ini ia tak bertemu kedua sosok tersebut terlebih dahulu agar dirinya tidak dilanda kegugupan dan rasa bersalah mendalam . Sebab yang lalu dengan tega meninggalkan Ayu sendirian di terminal bus.
Sebuah helaan nafas meluncur dari bibirnya. Dalam hati terus melafalkan doa agar malam ini berjalan lancar.
Mobil sedan hitam mewah yang membawa Bening dan Papanya sudah tiba di kediaman Ibunda Arjuna yang tampak mewah.
Pintu jati tinggi berpelitur mengkilap dengan ukiran khas kota Yogyakarta yang merupakan pintu utama kediaman Ibu Arjuna dibuka oleh Mbak Menik. Ia mempersilahkan tamunya untuk masuk dan membawanya ke ruang keluarga.
Mbak Menik sudah mengenal Papa Bening adalah sahabat dekat mendiang Kombes Pol Gatot Subekti Mahendra, Ayah Arjuna, sekaligus calon mertua Arjuna. Sehingga setiap kali Papa Bening bertandang ke rumah ini, selalu diterima oleh majikannya di ruang keluarga bukan ruang tamu.
Setelah mempersilahkan tamu majikannya untuk duduk, Mbak Menik pun berpamitan dengan sopan.
Sesampainya di dapur mendadak lengan Mbak Menik ditarik oleh seseorang yang tak lain adalah Ayu.
"Walah Mbak Ayu toh. Bikin kaget saya saja," ucap Mbak Menik.
"Hehe... maaf Mbak Menik. Di depan katanya ada tamu. Siapa toh, Mbak? Kok aku lihat di halaman, mobilnya mewah banget kayak punya pejabat platnya. Apa dari kepolisian juga kayak mendiang Pakde dan si Junet begitu? " tanya Ayu penasaran.
"Iya, bener Mbak Ayu. Beliau itu calon mertuanya Mas Arjuna," cicit Mbak Menik dengan tersenyum sumringah.
"Hah! Calon mertua?" ucap Ayu terkejut.
"Iya, Mbak."
"Saya permisi mau buatkan minum dulu ya Mbak," ucap Mbak Menik seraya berpamitan pada Ayu.
"Monggo, Mbak Menik."
Ayu pun mempersilahkan dengan senang hati. Ayu yang didera rasa penasaran, akhirnya melangkah menuju ruang keluarga.
__ADS_1
"Penasaran juga sama calon mertua si Junet. Pasti calon istri si Junet juga ikut. Kira-kira calon istri si Junet cantik apa enggak ya? Awas kalau masih cantikkan aku. Nanti aku ledekin si Junet kalau ke sini. Atau jangan-jangan wanita itu kaku juga kayak kanebo kering mirip si Junet. Hihi..." batin Ayu cekikikan.
๐๐๐