
Untuk mendukung feel dalam membaca chapter ini.
Othor sarankan sembari memutar lagu berjudul "Kota" by Dere.
Selamat Membaca💋
🍁🍁🍁
Semalam setelah mengambil brosur, Bening sempat dilanda keraguan ingin pergi dari kota Yogyakarta. Dikarenakan kota ini adalah kota kelahiran Papanya sekaligus Arjuna.
Walaupun kerabat Papanya banyak yang menetap di daerah lain, tetap saja ada terselip rasa khawatir suatu hari dirinya akan bertemu dengan sang ayah atau Arjuna. Terlebih lagi ternyata Ayu masih kerabat Arjuna dan orang tua Arjuna juga menetap di kota ini.
Akan tetapi, di kota ini tempat dimakamkan putranya. Ia menjadi tak tega meninggalkan kuburan putranya itu. Walaupun dirinya belum juga menginjakkan kaki di makam sang putra hingga saat ini.
Jika dirinya menetap ke kota lain, pasti akan jarang berziarah ke makam putranya bila rindu. Sungguh dilema.
Namun pada akhirnya ia menyerah. Sebab hatinya lebih memilih untuk tinggal di kota Yogyakarta. Kota yang membawa kenangan indah sekaligus kenangan pahit.
Ikhlas. Enam huruf yang mudah diucapkan, namun cukup sulit diterapkan. Bening berusaha bangkit dari keterpurukan. Walaupun jalannya harus tertatih-tatih.
Dirinya yakin bahwa masa depannya masih panjang seperti kata Dokter Heni. Tinggal dirinya sendiri berkeinginan menulis masa depan itu dengan tinta putih bersinar atau tinta hitam yang tetap suram dan jalan di tempat.
Bening memutuskan akan mendaftar pada program studi ilmu hukum jenjang pendidikan Strata-1 atau Sarjana (S1). Awalnya, ia ingin memilih jurusan kedokteran umum. Namun karena biaya kuliah di jurusan kedokteran cukup tinggi, sedangkan dirinya belum ada pekerjaan tetap maka ia memutuskan kuliah di jurusan yang sesuai dengan jumlah tabungannya.
Terlebih Dokter Heni sedikit menyarankan padanya untuk mengambil jurusan yang membuat dirinya lebih banyak berbaur serta bertemu banyak orang. Apalagi banyak mengeluarkan sebuah pendapat itu lebih bagus.
__ADS_1
Hal itu nantinya akan membuat Bening mudah memiliki banyak teman, bersosialisasi, dan bersuara untuk mengeluarkan unek-unek atau pendapatnya.
Gangguan kecemasan dan stres pasca trauma atau yang biasa disebut Post Traumatic Stress Disorder yang dialami Bening bisa segera hilang dan sembuh secara total.
Akan tetapi Dokter Heni tetap memberi hak penuh pilihan ada pada Bening untuk menentukan jurusan belajarnya. Akhirnya Bening mantap memilih ilmu hukum.
Dokter Heni pun tersenyum bangga dengan pilihan Bening yang berbeda dengan apa yang ia ceritakan sebelumnya bahwa sang Papa menginginkan dirinya menjadi seorang dokter.
Namun kini Bening ingin menentukan apa yang menjadi pilihan hatinya dan juga demi kesehatan mental dirinya sendiri. Dokter Heni sangat mengapresiasi langkah Bening tersebut.
Satu minggu kemudian, Bening pun akhirnya ditemani Dokter Heni untuk mendaftar sebagai calon mahasiswi baru di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Tiga hari lagi tes penilaian akan dilakukan secara serentak.
Bening pun saat ini juga sudah bekerja sebagai kasir di sebuah toko roti atau bakery shop tak jauh dari kampus UGM. Ia sengaja mengambil kerja model shift agar nantinya bisa tetap kuliah sambil bekerja.
Walaupun sang dokter melarangnya tetapi Bening tetap melakukannya. Dokter Heni sebenarnya memiliki satu pembantu yang akan datang pagi lalu pulang sore setiap dua hari sekali untuk membersihkan rumahnya.
Akhirnya Dokter Heni membiarkan Bening melakukan apa yang dia mau dan suka. Ia tersenyum bangga melihat semangat yang muncul dari dalam diri seorang Bening saat ini.
"Sepertinya wajah Bening mirip seseorang. Tapi siapa ya?" batin Dokter Heni melihat Bening dari jauh yang tengah sibuk di dapur rumahnya.
"Ah... enggak mungkin Bening yang ini ada hubungan sama dia. Astaga Heni... Heni... kenapa juga aku masih mikirin orang-orangan sawah itu lagi sih. Lupakan Heni. Dia sudah milik orang lain."
Dokter Heni merutuki dirinya sendiri yang masih mengingat seseorang di masa lalunya. Melihat Bening secara seksama membuat kenangan masa lalunya tiba-tiba hadir kembali dalam ingatannya.
Ia pun segera menepis hal itu dan ia kembali meminta maaf pada mendiang suaminya. Apapun yang terjadi, mendiang suaminya tetap nomor satu. Walaupun mereka menikah karena sebuah perjodohan.
__ADS_1
☘️☘️
Suasana sore hari ini tengah dilanda hujan. Walaupun intensitasnya tak begitu deras. Di jalanan kota Yogyakarta banyak orang sengaja menepikan motornya guna berteduh. Lalu lalang kendaraan pun melambat karena hujan turun secara merata.
Bening tengah terdiam menatap hujan turun di balik jendela kamarnya. Ia sengaja membuka gorden dan melihat rintik hujan jatuh membasahi tanah.
Sedangkan di Jakarta, Papa Bening pun melihat hujan turun cukup deras membasahi Ibu Kota Jakarta di balik jendela kamarnya. Sore ini dirinya sengaja pulang lebih awal. Dikarenakan Arjuna pun datang ke rumahnya dan ingin menginap.
Arjuna tengah duduk di sofa kamar Bening yang berada dekat di jendela. Ia pun menatap hujan turun membasahi bumi sore ini cukup lebat dari kaca jendela kamar milik Bening.
Entah mengapa hari ini dirinya sangat rindu dengan Bening sehingga meminta izin untuk menginap di rumah Ayah Bening. Kini, ketiga orang ini tengah menatap hujan yang sama-sama tengah turun membuat hawa sekitarnya menjadi lebih sejuk dan dingin walaupun di kota yang berbeda.
Rindu itu kian membuncah seiring hujan yang turun semakin deras.
"Bening, Papa rindu. Apa kamu baik-baik saja di sana dengan Mama?" batin Komjen Pol Prasetyo Pambudi bertanya-tanya.
"Aku rindu kamu, Bening. I love you. Titip salam rindu dan cintaku untuk anak kita," batin Arjuna.
"Papa, Bening kangen. Apa Papa di sana kangen Bening juga?"
"Apa dia masih ingat padaku ya Tuhan atau justru sudah melupakan aku dan anaknya?" batin Bening sendu.
🍁🍁🍁
Rindu tentangmu tak pernah pergi .
__ADS_1