
Beberapa minggu berlalu,
Kini usia kehamilan Bening memasuki bulan keenam. Tentu saja perutnya semakin buncit. Nenek Minah belum mengetahui kehamilan Bening. Sebab selama satu bulan terakhir ini, Nenek Minah pergi ke Yogyakarta menemui kerabatnya dan menginap di sana.
Ayu pun dengan setia menemani Bening pergi ke Bidan desa sebelah untuk check up rutin. Supaya tidak ada yang memergoki mereka berdua. Dikarenakan jika periksa di Bidan desa tempat mereka tinggal, Ayu khawatir Bening akan diusir.
Sebab Bening adalah pendatang bukan warga asli di sana. Terlebih sejak pergantian kepala desa satu bulan yang lalu. Aturan desa semakin ketat. Para gadis dan janda dilarang keluar malam. Dan jika kedapatan mencoreng nama baik desa, maka siap-siap menerima hukuman adat hingga pengusiran secara paksa.
Dua minggu lalu ada salah satu warga desa yang tengah mojok bersama kekasihnya di area ladang jagung, yang sekitarnya terdapat rimbunan pohon pisang. Kedua sejoli tersebut tepergok sedang berbuat asusila di balik rimbunan pohon pisang tadi.
Alhasil keduanya digelandang ke Balai Desa oleh para warga. Keduanya dihukum cambuk sebanyak seratus kali. Setelah itu, keduanya diasingkan di desa lain yang berbeda.
Dengan minim fasilitas dan kondisi desa yang sepi dan jauh dari hiruk pikuk selama tiga bulan. Untuk bertahan hidup, mereka akan berladang sendiri atau berjalan ke hutan untuk mengambil buah atau bahan makanan yang disediakan oleh alam.
Membayangkan hal itu, Bening seketika bergidik ngeri. Terlebih saat pemuda-pemudi itu digelandang, keduanya melewati rumah nenek Minah. Dari jendela, Bening melihat keduanya menjerit dan menangis meminta ampun. Namun sayang hukuman tersebut tetap dilaksanakan tanpa peduli atau belas kasihan.
Desa Ayu berada cukup jauh dari perkotaan, sehingga tak ada aparat kepolisian yang melarang hukum adat tersebut. Dikarenakan menurut kepala desa yang baru, jika ada tindakan asusila atau warga yang hamil di luar nikah maka dipercaya desa mereka akan terkena malapetaka atau sial hingga tujuh turunan.
Ayu sudah menyuruh Bening untuk berhenti bekerja di warung. Sebab akhir-akhir ini, mendadak Bening selalu mual berlebihan dan nafsu makan menurun. Padahal saat awal kehamilan, Bening tak mengalami mual sama sekali.
Kini Bening sering lemah. Bahkan yang lalu sempat pingsan saat Ayu pergi membeli makan untuk Bening.
__ADS_1
Setelah diperiksa Bidan, dinyatakan Bening mengalami hiperemesis gravidarum.
Kondisi mual muntah yang berlebihan (lebih dari tiga kali sehari) pada kehamilan dapat mengakibatkan penurunan berat badan. Kondisi ini dapat memicu terjadi dehidrasi atau kondisi kekurangan cairan.
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti, tetapi kondisi ini sering kali dikaitkan dengan tingginya kadar hormon human chorionic gonadotropin (HCG) dalam darah. Hormon ini dihasilkan oleh ari-ari (plasenta) sejak trimester pertama kehamilan dan kadarnya terus meningkat sepanjang masa kehamilan.
"Kalau aku enggak kerja, nanti uang persalinan gimana Yu?" tanya Bening dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sudah kamu enggak perlu banyak berpikir hal yang gak penting. Aku masih ada tabungan dikit-dikit buat bantu kamu lahiran. Aku takut Ning, kamu kenapa-napa di warung. Apalagi kalau sampai ketahuan. Perutmu yang sekarang sudah buncit ini."
"Kemarin kamu ingat kan si Onah curiga kalau kamu lagi hamil. Bahkan dia buat gosip yang enggak-enggak sama kamu ke teman-teman kerja di warung. Beruntung aku cepat datang waktu itu. Jadi aku sumpel mulutnya yang pedas itu. Fiuhh... " ujar Ayu gemas.
"Makasih ya Yu. Maaf kalau aku sering ngrepotin kamu," ucap Bening yang sedang tiduran.
Keesokan harinya, nenek Minah kembali ke desanya. Ia sudah rindu dengan Ayu dan Ningsih.
Ceklek...
Derit pintu terbuka, nenek Minah lalu mengunci pintu rumahnya kembali dan berjalan menuju dapur. Sebab ia mendengar ada suara di dapurnya. Sepertinya Ayu atau Ningsih tengah memasak, pikirnya.
"Assalamualaikum..." ucap salam dari Nenek Minah seraya menenteng tas oleh-oleh untuk Ayu dan Ningsih.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..."
Bening pun menjawab salam dan langsung menoleh ke belakang. Nenek Minah terkejut bukan main melihat Bening yang tengah memakai daster atau baju rumahan yang tidak terlalu longgar, sehingga perut buncitnya tampak dengan jelas.
Sedangkan Bening belum menyadari bahwa dirinya salah memakai baju. Ia sama sekali tak berpikir jika Nenek Minah akan pulang hari ini. Ayu belum pulang bekerja. Sehingga ia memutuskan memasak untuk makan malam bersama Ayu.
Saat ini sudah sore, jam menunjukkan pukul lima petang.
"Ning_sih... kamu ha_ mil?" tanya Nenek Minah terbata-bata.
Syok melihat sebuah kenyataan yang tidak ia duga ada di hadapannya sekarang ini.
Wanita yang ia kira gadis baik-baik dengan status masih single atau belum menikah sesuai informasi dari KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan keterangan dari bibir Bening sendiri bahwa dirinya belum menikah. Lalu mendadak gadis itu hamil sekarang.
Brukkk...
Tas yang dibawa Nenek Minah terjatuh di lantai. Nenek Minah tengah memegang d@danya yang tiba-tiba sesak. Dan ia berjalan perlahan mencari sebuah pegangan kursi di meja makan untuk duduk.
"Nek..." teriak Bening terkejut melihat kondisi Nenek Minah.
"Diam di tempatmu!" pekik Nenek Minah dengan tenaga yang terbatas.
__ADS_1
Deg...
๐๐๐