
Empat tahun setelah kelahiran si kembar.
Di atas pusara Jenderal Polisi Prasetyo Pambudi duduk seorang wanita berperut sedikit buncit. Wanita itu tengah hamil empat bulan, buah hatinya yang ke-4.
Wanita yang cantik itu tengah memakai baju gamis berwarna sage green dengan hijab warna putih tulang. Di sebelahnya, ada suami tercinta yang memakai seragam dinas kepolisiannya secara lengkap.
Diikuti ketiga bocah lucu nan menggemaskan yang memakai baju bernuansa sama seperti ibunya yakni warna yang sedang tren, sage green. Ketiganya tengah asyik berlarian memutari pusara kakek mereka sambil tertawa riang tanpa beban. Yang tetap terawasi oleh Bik Ningsih dan Bik Siti serta beberapa ajudan yang bersama mereka.
Dalam genggaman tangan wanita itu terdapat sepucuk surat.
"Pah, apa kabar?" tanya Bening lembut.
"Apa di atas sana Papa sudah melihat Bening dan Mas Juna bahagia? Apa Papa sudah berbahagia di sana setiap hari, setiap saat karena telah berkumpul bersama Mama tanpa harus terpisah kembali? Bahkan ditemani oleh cucu pertama Papa, Putra Arjuna," cicit Bening.
Arjuna terdiam mendekap pundak sang istri yang mulai bergetar. Tanda bahwa istrinya itu tampak berkaca-kaca terharu bercampur rindu. Ia berusaha menguatkan istrinya.
Sebab bagaimanapun juga sebagai anak, pastinya kita akan tetap rindu dan cinta pada sosok orang tua yang telah meninggalkan kita untuk menghadap Sang Pencipta. Pasti rasa itu akan selalu hidup di hati kita. Dan tak akan pernah mati. Apapun yang terjadi.
"Aku yakin kalian bertiga pasti bahagia bersama-sama di sana dengan Papa Mas Juna juga. Bening sudah bahagia, Pah. Sangat bahagia. Terima kasih selepas kepergian Mama, Papa tidak membuang Bening. Terima kasih sudah memberi kasih sayang dan kenangan indah untuk Bening walaupun kehangatan kita singkat. Tapi semua itu sangat berkesan di hati Bening dan tak akan terlupakan untuk selama-lamanya. Terima kasih atas semua kado yang Papa berikan untuk cucu-cucu Papa. Bening sama sekali enggak nyangka. Sebelum pergi, ternyata Papa sudah menitipkan itu semua pada Dokter Heni," cicit Bening semakin terdengar lirih dan sendu. Air matanya luruh tanpa disuruh. Membasahi pipi cantiknya.
Kala ia mengingat saat kehamilan si kembar menginjak usia lima bulan, Dokter Heni datang padanya dan memberikan seluruh kado bayi beserta perlengkapannya dalam jumlah yang sangat banyak. Semua itu, Papanya beli saat di Jogja terkahir kalinya. Dan semua benda itu dititipkan kepada Dokter Heni untuk diberikan padanya di waktu yang tepat.
Keheningan terjadi beberapa saat karena Bening yang masih sesenggukan tengah menghapus air matanya.
"Semoga Papa tenang di sana. Ini Bening hantarkan surat dari seseorang yang mungkin sejak lama Papa menantikan permohonan maaf darinya. Karena telah membuat sedih keluarga kita. Membuat Papa tertidur untuk selama-lamanya meninggalkan Bening di saat Bening masih membutuhkan Papa. Tapi Bening menyadari semua itu sudah suratan takdir dari Allah. Bening dan Mas Juna sudah memaafkannya. Dan Bening yakin, Papa juga akan memaafkannya. Mungkin juga saat ini dirinya tengah meminta maaf langsung di sana pada Papa dan Mama," ucap Bening terisak pilu seraya memasukkan surat tersebut ke dalam sebuah kendi kecil berwarna hitam yang terbuat dari tanah liat. Kendil itu mereka letakkan di atas gundukan tanah mendiang Jenderal Polisi Prasetyo Pambudi.
Kendil yang sengaja dibawa Bening dan Arjuna ke makam sang papa guna membakar surat permintaan maaf dari mendiang Della Wijaya.
Ya, Della telah meninggal dunia tepatnya dua hari yang lalu setelah berjuang melawan penyakit kanker serviks yang dideritanya beberapa tahun terakhir selama di dalam penjara. Perjuangannya telah berakhir karena kanker tersebut telah menyebar hampir ke seluruh organ perut bagian dalam. Hingga akhirnya merenggut nyawanya.
Della menyusul kepergian Doni untuk selama-lamanya. Sebulan sebelum Della meninggal dunia, Doni telah lebih dahulu berpulang. Lelaki itu meninggal akibat menderita H I V. Dan dimakamkan di Garut di samping makam Dimas.
__ADS_1
Bening, rasanya aku tak patut untuk dimaafkan. Terlalu banyak kesalahanku padamu, Kak Arjuna dan keluarga kalian. Aku betul-betul ingin meminta maaf pada kalian semua terutama kamu, Bening. Namun aku tak berani bertatap langsung denganmu. Aku terlalu malu. Rasanya manusia hina seperti diriku ini tak pantas jika aku memberanikan diri bertemu denganmu secara langsung. Jika kamu membaca suratku ini, artinya Tuhan sudah memanggilku. Semoga di akhirat, kalian semua sudi memaafkanku. Sampaikan maafku juga pada mendiang Papamu. Kelak jika di alam sana aku bertemu dengannya, aku akan bersujud di kakinya guna meminta maaf atas semua kesalahanku. Aku sangat menyesal. Terima kasih Bening, Kak Juna. Maafkan aku.
Dari orang hina yang tak pantas kalian maafkan.
Della.
☘️☘️
Kini api telah dinyalakan Arjuna dan Bening. Keduanya bersama-sama membakar surat tersebut.
"Hiks...hiks...hiks..." Bening semakin terisak. Tangisannya tak dapat ia bendung. Walaupun sejak di rumah, ia sudah berusaha menguatkan hatinya agar tidak menangis namun tetap tidak bisa.
"You are The Best Papa ever. Love you, Kakek Jenderal. Terima kasih Papa dan Mama telah memberi nama putrimu ini Bening. Walaupun diri ini penuh dosa. Namun hingga akhir, nama Bening tetaplah Bening yang jernih tanpa noda. Semua karena Allah SWT dan doa Papa. Tetap hadir di mimpi Bening ya, Pah. Bening akan selalu rindu dan cinta Papa sampai jantung ini berhenti berdetak," cicit Bening lirih yang masih meneteskan air mata seraya bergerak maju untuk mencium pusara papanya.
"Hiks...Hiks...Hiks..." tangis Bening tak dapat tertahan kembali dan akhirnya semakin tumpah ruah seraya memeluk suaminya.
Sontak tangisan Bening membuat ketiga bocah yang sebelumnya asyik berlarian di sekitar pusara kakeknya, seketika menghentikan langkah. Lalu mereka menoleh pada ibunya.
"Huaaaaa, Mama. Kenapa nangis?" tanya Berliana, si sulung, yang akhirnya ikut menangis seraya melangkah mendekati kedua orang tuanya yang saling memeluk dalam tangisan.
"Hiks...hiks...huaaaa....huaaaa..." tangis Brahma Satria Mahendra, anak ketiga Bening dan Arjuna yang masih berumur dua tahun pun ikut menangis seraya mengekori langkah kedua kakaknya.
"Huaaaaa..." ketiganya kompak menangis dengan kencang. Membuat Bening seketika menghentikan tangisnya dan tersenyum tipis menatap ketiga buah hatinya itu.
"Ayo sudah-sudah nangisnya. Sekarang kita beri salam dulu sama Kakek Jenderal. Lalu kita pergi ke Bandung ke makam nenek. Nanti yang pinter, Papa ajakin jalan-jalan lihat bintang ke Bosscha." Arjuna berusaha membujuk ketiga anaknya agar berhenti menangis.
"Adek pintell, Pah." Brahma yang lebih dahulu berceloteh dan menghentikan tangisannya kala mendengar kata jalan-jalan keluar dari bibir Papanya. Anak ketiga Bening dan Arjuna ini sangat cerdas. Walaupun usianya masih dua tahun.
"Aku, Pah. Pinter juga dong," jawab Berliana yang tak mau kalah dari Brahma.
"Ah... aku selalu ketinggalan. Binar juga ya, Pah." Rengek salah satu anak kembar mereka yang biasa dipanggil Binar.
__ADS_1
"Good. Anak Papah dan Mamah pokoknya keren semua. Hebat," ucap Arjuna memberi tanda jempol guna memberikan apresiasi positif pada ketiga buah hatinya.
Perwujudan orang tua yang baik selalu memberikan sebuah apresiasi pada anak kita. Walaupun apresiasi yang kita berikan pada anak bukanlah dalam bentuk hadiah fisik.
Hanya berupa pujian dalam bentuk ucapan satu atau dua kata positif seperti anakku hebat, anakku pintar dan sebagainya. Hal itu sangat menunjang dalam otak anak kita bahwa mereka merasa disayang sepenuh hati oleh orang tuanya.
Karena sejatinya orang tua adalah role model terbaik yang akan dicontoh oleh anaknya sendiri. Jadi seyogyanya berilah panutan yang baik untuk anak kita. Agar kelak menjadi anak-anak yang hebat dan membanggakan.
☘️☘️
Dari jauh tampak seorang wanita memandang keluarga kecil Arjuna dan Bening. Wanita itu tersenyum bahagia melihat itu semua.
"Pras, semua pesanmu sudah kulakukan sesuai janjiku. Semoga kamu dan Embun selalu berbahagia di sana. Setelah ini, izinkan aku pergi. Karena diri ini telah menemukan cinta sejatinya dan rasanya dicintai. Bukan cinta bertepuk sebelah tangan. Selamanya kamu tetap cinta pertamaku. Tetapi dia adalah sinar terang yang didatangkan Tuhan di hidupku saat hatiku tak percaya dengan yang namanya cinta. Dia membawa begitu banyak cinta untukku. Cinta yang mampu meruntuhkan jiwaku dan menggoyahkan hatiku yang selama ini beku karena cintaku padamu. Hanya dia yang mampu membuat seorang Heni Widyastuti yang keras kepala ini menjadi tersipu malu kala cinta itu datang dan aku rasakan. Selamat tinggal Pras," batin Dokter Heni seraya menatap sekilas kertas lipat yang berbentuk bangau warna pink dalam genggaman tangannya. Pemberian dari Papa Bening untuknya, beberapa tahun silam.
Tiba-tiba sosok lelaki yang masih terlihat sangat gagah dan tampan di usianya yang terbilang sudah mencapai setengah abad lebih itu pun memanggil sekaligus menghampirinya dari belakang.
"Sayang," panggil pria itu dengan nada tegas namun terdengar lembut.
Sontak Dokter Heni pun menoleh dan senyum pun terpancar di wajahnya. Melihat sang suami berjalan ke arahnya.
🍁🍁🍁
Terima kasih banyak NovelToon.💋
Tak menyangka karya receh author yang tidak famous seperti saya bisa muncul di feed IG platform. Apalagi lencana saya masih kategori bawah yakni Silver. Pertama kalinya karya saya bisa muncul di IG NovelToon.
Terima kasih pada semua Sobat Safira yang mendukung karya-karyaku. Tak menyangka judul "Bening" akan menyentuh angka popularitas 2M. Walaupun seringkali mendapat rate bintang satu yang entah datangnya dari mana dan siapa. Tapi berkat dukungan kalian akhirnya aku bisa terus melaju dan menulis hingga chapter menjelang tamat kisah Bening dan Arjuna.💋
Berilah bintang lima jika suka. Dan jangan beri bintang lainnya baik itu bintang 4,3,2 apalagi satu. Karena hal itu akan menjatuhkan mood dan juga karya author tersebut. Jika tidak suka cukup skip dan jangan berikan bintang apapun. Itu jauh lebih baik. Haturnuhun.
Big Hug💋
__ADS_1