
Bening berduka. Ayu pun mengalami hal yang sama. Ayu begitu terkejut mendengar kabar dari tetangga dekat rumah Nenek Minah di Solo.
Ketika kepala desa dan para warga yang tak menemukan Bening di rumah Nenek Minah, mereka langsung naik pitam hendak membakar rumah tersebut. Ada beberapa warga lain yang coba menghalangi agar konflik yang tengah memanas tidak melebar. Namun nihil, rumah Nenek Minah tetap terbakar.
Nenek Minah berusaha mempertahankan rumahnya. Namun salah satu warga ada yang nekad melemparkan obornya ke atap rumah sang nenek, tentu saja hal tersebut membuat api cepat berkobar.
Nenek Minah yang terkejut melihat rumahnya sudah menyala karena dilahap si jago merah, mendadak terkena serangan jantung dan dinyatakan meninggal dunia. Paginya sang tetangga segera menghubungi Ayu. Mengabarkan bahwa Nenek Minah meninggal dunia.
Ayu tentu saja langsung menangis histeris di rumah Bude Lina. Mbak Menik berusaha menenangkan Ayu. Kemudian Mbak Menik mencoba menghubungi Arjuna.
Namun karena Arjuna tengah berada di Batam untuk urusan kedinasan dari kesatuannya yang tidak bisa ditinggalkan, maka ia menyuruh Bayu untuk membantu menyelesaikan urusan Ayu dan Nenek Minah di Solo.
Arjuna menyuruh Bayu untuk datang ke rumah ibunya yang ada di Yogyakarta terlebih dahulu guna menjemput Ayu dan berangkat bersama ke Solo.
Awalnya Ayu terkejut melihat teman Arjuna yang ia juluki si bujang lapuk yang ternyata menemaninya mengurus jenazah Nenek Minah. Ayu pikir sepupunya yakni Arjuna yang menemaninya.
Akan tetapi Ayu tidak ada pilihan lain. Akhirnya ia bersedia ditemani Bayu ke Solo. Sepanjang perjalanan dari Yogyakarta ke Solo, awalnya keduanya lebih banyak diam. Bicara hanya seperlunya saja.
Akan tetapi untuk mengusir keheningan di dalam mobil, Ayu mencoba berbicara kembali pada Bayu yang tengah menyetir.
"Aku tak mau punya hutang budi sama kamu. Nanti kalau kamu misal ada buat acara mungkin ulang tahun, tunangan atau menikah, aku siap jadi bagian dapur dan membantu urusan lainnya yang bisa aku lakukan. Tak perlu dibayar alias gratis. Sebagai balas budi yang telah kamu lakukan buat aku dan nenek," cicit Ayu tegas seraya membuang muka ke arah jendela mobil di sampingnya tanpa melihat Bayu.
"Budi saja enggak mau dibalas," sindir Bayu seraya menatap lurus jalanan di depannya dengan tangan pada kemudi mobilnya.
"Aku serius!" pekik Ayu.
__ADS_1
"Aku dua rius malah," balas Bayu datar.
"Emang susah ngomong sama bujang lapuk kayak kamu. Heran deh. Nanti pendamping hidupmu modelnya gimana ya? Pasti tiap hari makan ati," ledek Ayu dengan nada ketus.
"Makan ati bergizi tinggi dong. Lebih bagus kan aku kasih makan ati daripada aku kasih makan garam. Pilih mana?" tanya Bayu seraya tersenyum tipis lalu mimik wajahnya kembali datar.
"Ya Tuhan tolong luaskan hati dan kesabaran istrinya si bujang lapuk ini nanti. Jangan sampai mendadak masuk rumah sakit padahal masih pengantin baru," balas Ayu seraya melirik Bayu.
"Nanti istriku masuk rumah sakit pastinya karena lagi memeriksakan Bayu junior di dalam perutnya. Namanya pengantin baru kan ada pepatah gaspol rem blong. Habis sah ya hajar saja, kan sudah halal. Punya istri kok dianggurin. Kalau istri masuk rumah sakit karena cepat jadi hasil pembibitan adonan, artinya bibitku tokcer kan. Maklum bibit kualitas premium nomor wahid dari muara asalnya. Jadi sekali nebar dijamin berhasil. Sudah teruji secara klinis. Orang tuaku sudah mengujinya saat mereka menikah dan langsung jadi aku dengan siraman doa bukan siraman air kembang tujuh rupa," ledek Bayu seraya tersenyum dan melirik Ayu sekilas.
"Dasar bujang lapuk!" teriak Ayu.
"Jangan bahas pembibitan sama aku. Ngeri tau! Bikin merinding saja," ketus Ayu.
"Lah salahku di mana? Kamu sudah punya Kartu Tanda Penduduk dan usiamu juga sudah lebih dari delapan belas tahun. Wajar kan?" tanya Bayu pura-pura heran.
"Nyambung-nyambung saja kok. Buktinya saling merespon. Ini yang aneh aku atau kamu sih?" tanya Bayu heran.
"Kamu!" pekik Ayu.
"Oke. Pria tampan memang lebih baik mengalah. Biar ketampananku enggak luntur tersapu ombak," ucap Bayu dengan pedenya.
Ayu hanya diam dan semakin kesal dengan reaksi Bayu. Sedangkan si bujang lapuk hanya mengulum senyum sembari melirik Ayu yang tak menatapnya. Dan bibir wanita itu masih mengerucut mirip iteuk lagi ngambek.
Setibanya di Solo, ia sudah meminta teman sesama anggota di sana untuk meluncur ke rumah Nenek Minah guna membantunya. Dengan setia, Bayu menemani Ayu hingga urusan pemakaman Nenek Minah selesai.
__ADS_1
Bahkan urusan main hakim sendiri sudah diserahkan oleh Bayu pada kesatuan di sana. Bayu berharap kejadian seperti di rumah Nenek Minah tidak terulang kembali.
Bayu sebelumnya sudah mendengar cerita dari Ayu tentang masalah yang menimpa Nenek Minah, dirinya dan juga sahabatnya yang bernama Ningsih yang kini menghilang entah ke mana.
Bayu melihat Ayu sangat menyayangi Ningsih. Dirinya juga cukup penasaran dengan sosok yang diceritakan Ayu tersebut.
"Ningsih?" tanya Bayu pada Ayu usai pemakaman Nenek Minah.
"Iya, dia tengah hamil. Kasihan Ningsih. Orangnya baik kok. Cantik lagi. Kamu pasti kesengsem sama dia kalau ketemu orangnya," ledek Ayu.
*kesengsem\=terpesona/suka.
"Oh, seorang Bayu pantang menyukai wanita hamil milik orang lain. Lebih baik menghamili istri sendiri daripada punya orang lain. Di sebelahku ada yang masih gadis kenapa suka sama yang berbadan dua," balas Bayu dengan nada tegas.
"Cantik loh Ningsih itu," cicit Ayu.
"Aku enggak lihat wanita dari cantiknya kok. Soal cantik, nanti istriku bisa aku bawa ke salon kecantikan buat perawatan. Tapi nanti istriku tidak boleh dandan terlalu cantik di luar rumah. Khusus berdandan cantik hanya untuk aku seorang, suaminya."
"Huh, dasar sok tampan!" ledek Ayu.
"Memang tampan kok kata ibuku. Kok kamu sih yang protes!" balas Bayu dengan nada yang naik satu oktaf.
"Aku lapar. Makan dulu yuk," ajak Ayu.
"Ayo. Daripada entar aku yang makan kamu malah repot," jawab Bayu asal. Dan langsung dibalas pukulan oleh Ayu pada pundaknya.
__ADS_1
Bayu hanya bisa cengar-cengir tanpa dosa.
๐๐๐