
"Re_ndra," ucap Bening terbata-bata.
"Be_ning. Ini beneran kamu, Bening?" tanya Rendra dan tanpa sengaja tangan Rendra memegang bahu Bening guna meyakinkan wajah cantik di depannya ini adalah Bening teman SMAnya tempo lalu yang dinyatakan meninggal dunia akibat tragedi kecelakaan pesawat.
Bening pun menganggukkan kepalanya dan berusaha tersenyum di depan Rendra.
Tanpa disadari keduanya, ada sepasang mata elang menatap tajam di luar toko. Tangannya yang tengah membawa bungkusan makanan, mengepal erat. Tanda tengah tidak suka dengan apa yang dilihat matanya kini.
Ya, sosok lelaki yang menatap tajam interaksi Bening dengan Rendra dari luar toko yakni Arjuna. Maksud hati datang ke tempat kerja Bening dengan membawakan makanan kesukaan Bening yakni nasi gudeg telor lengkap dengan tempe bacem dan sambal goreng krecek.
Informasi ini didapatkan Arjuna dari Bik Ningsih, art di rumah orang tua Bening. Dikarenakan Papa Bening lahir dan besar di Yogyakarta. Bik Ningsih sering masak makanan khas Yogyakarta di rumah.
Alhasil lidah Bening mengikuti kesukaan sang Papa yang sangat menggemari masakan tradisional khas Yogyakarta.
Datang tersenyum sumringah membawa sesuatu yang disukai oleh wanitanya, berharap Bening semakin cinta padanya sekaligus ingin berpamitan. Sebab masa cutinya telah habis. Arjuna mau tak mau harus segera kembali ke Jakarta.
Senyum itu surut seketika. Berubah menjadi cemburu yang membara di dalam jiwa. Sebab nama Bening sudah bertahta di hatinya. Mendadak tak suka dengan kehadiran kumbang-kumbang jantan yang mendekati wanitanya.
Rasanya ingin sekali memberondongnya dengan peluru di pistolnya. Seperti di film-film mafia yang dilihatnya. Tetapi seorang Arjuna berusaha untuk profesional dengan instansinya serta sumpah jabatan yang telah ia ucapkan.
Arjuna berusaha menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Meredam rasa cemburu yang tengah bergejolak di hatinya. Ia bersembunyi kala melihat Bening dan seorang lelaki yang sepertinya telah selesai bercakap-cakap.
Bening pun mengantar Rendra ke depan. Dan tak lama Rendra pun bergegas pergi dari sana. Sebab pesawat Rendra akan berangkat dua jam lagi untuk kembali ke Jakarta.
Rendra kebetulan mengantarkan sepupunya yang akan berkuliah di UGM sekaligus mencarikan kos yang mumpuni, tak jauh dari area kampus. Rendra sangat mengenal daerah Yogyakarta karena sang nenek berasal dari kota gudeg ini.
Ketika melihat Rendra sudah pergi, Arjuna pun langsung menarik lengan Bening yang akan masuk ke toko. Sontak Bening pun terkejut ada seseorang yang menariknya.
Lalu ia bernafas lega ternyata Arjuna. Dia sempat berpikir ada orang yang akan berbuat jahat padanya.
"Astaga, Juna. Kamu bikin aku kaget saja!" pekik Bening.
"Maaf," cicit Juna dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Ini buatmu. Jangan lupa di makan. Aku ke sini mau pamitan sama kamu. Aku harus segera kembali ke Jakarta. Cutiku tiga hari sudah habis. Nanti saat libur, aku ke sini lagi. Jaga kesehatan ya. Jangan terlalu capek," ucap Arjuna dengan nada yang perhatian namun mimik wajah cemberut seraya memberikan nasi gudeg yang sudah ia belikan untuk Bening.
Bening pun menerima bungkusan yang diserahkan Arjuna padanya. Bening adalah wanita yang cukup pintar. Terlebih ia langsung merasakan dengan cepat ada perubahan gestur dari Arjuna. Sontak saja ia cukup heran.
Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk bertanya. Sebab setiap hari Bening masih menjalani terapi dengan Dokter Heni.
Bening disarankan untuk lebih banyak bicara dan berinteraksi. Jika ada sesuatu yang janggal atau membuat hati cemas, lebih baik diutarakan. Tidak untuk dipendam sendirian.
Bertanya dan berbagi. Agar kondisi kesehatan mentalnya cepat pulih. Bahkan bisa membuat rasa percaya dirinya lebih meningkat.
"Mukamu kenapa ditekuk begitu? Apa aku ada salah?" tanya Bening seraya menatap Arjuna.
Arjuna yang tengah cemburu tak balik menatap Bening. Ia justru melihat ke arah yang lain.
"Iya. Kamu banyak salah sama aku," jawab Arjuna ketus.
"Salahku di mana?" tanya Bening kembali sengaja menggoda dengan nada sendu.
"Banyak. Nanti kalau aku sebutkan, bisa dua puluh lima jam enggak kelar-kelar. Huft!" ujar Arjuna mendengus kesal.
"Eh, nakal ya. Minta dipercepat nih ke penghulunya. Aku sudah ready nih kalau misal detik ini juga ke penghulu. Tinggal aku telepon Papa sama Ibu buat bawa saksi dari keluarga kita," jawab Arjuna penuh semangat 45.
"Semangat bener, Pak Pol. Kebelet nikah apa kawin?" ledek Bening seraya tertawa kecil.
"Sudah berani ledekin calon suami ya. Awas nanti kalau sudah sah jadi Nyonya Arjuna Sabda Mahendra. Aku buat kamu gak bisa tidur nyenyak," tutur Arjuna ikut tertawa.
"Siapa takut," jawab Bening cekikikan.
"Beneran nantangin, nih! Tunggu tanggal mainnya. Sebelum hari H pokoknya enggak boleh kayak tadi. Siapa cowok yang sama kamu tadi?" tanya Arjuna ketus.
"Oh jadi ceritanya AKBP Arjuna Sabda Mahendra tengah cemburu nih sama lelaki yang tadi bicara sama aku," ledek Bening.
"Kalau iya, kenapa? Dasar lelaki buaya darat. Sukanya godain calon bini orang. Kayak enggak ada cewek lain saja!" gerutu Arjuna.
__ADS_1
"Dia cuma teman kok. Teman sekolahku dulu waktu SMA. Lagipula dia itu cowok populer di sekolah. Yang aku tahu, dia sudah punya pacar waktu sekolah dulu. Jadi enggak mungkin Rendra suka sama aku. Ada-ada saja kamu," ucap Bening seraya tersenyum kecil.
"Jangan sebut nama lelaki lain di depanku! Aku sesama lelaki tahu banget sorot mata dia yang menatapmu penuh kagum. Nanti dari rasa kagum bisa berujung suka. Dari suka berubah jadi cinta. Pokoknya aku enggak suka kamu deket-deket sama dia atau pria manapun. Bening cuma milik Arjuna Sabda Mahendra. Titik!" ucap Arjuna posesif.
"Siap, Ndan! Laksanakan," jawab Bening seraya memberi hormat pada Arjuna ala-ala kepolisian dan tersenyum kecil.
Arjuna pun ikut tersenyum lega. Akhirnya Arjuna pun pamit karena jadwal pesawat yang akan membawanya pulang ke Jakarta segera tiba.
"I love you, Beningku."
"Hem," jawab Bening.
"Kok ham hem ham hem sih. Kamu sakit gigi?" tanya Arjuna dengan sewot.
"Enggak. Ya sudah sana berangkat. Nanti ketinggalan pesawat. Makasih sudah dibelikan makan siang. Hati-hati di jalan," ucap Bening seraya melambaikan tangan dan akan berbalik pergi untuk masuk ke toko.
Arjuna pun berusaha sabar menanti cinta dari Bening. Saat Bening sudah pergi dan baru beberapa langkah, Arjuna pun berteriak memanggil namanya.
"Bening!" teriak Arjuna.
Sontak Bening pun langsung menoleh mendengar Arjuna memanggil namanya. Ia pikir ada sesuatu yang terlupa.
"Ya?" tanya Bening dengan suara yang agak keras karena jarak keduanya sekitar satu hingga dua meter.
"Aku cinta kamu. Jangan lupa makan. Jaga kesehatan calon Nyonya Arjuna," teriak Arjuna .
Sontak pipi Bening merah padam mendengarnya. Terlebih area sekitar tempatnya bekerja cukup ramai pengunjung yang akan makan siang. Mereka pun yang berada di sana sontak bertepuk tangan.
Arjuna pun melambaikan tangan dan bergegas pergi. Bening pun segera melangkah dengan cepat dan masuk ke toko.
Bening masuk ke pantry dan melihat jam makan siang sudah tiba. Lalu ia pun membuka bungkusan yang diberikan Arjuna padanya.
Melihat nasi gudeg, dirinya teringat dengan sang Papa yang juga menyukai makanan yang sama.
__ADS_1
"Bening rindu Papa," batin Bening sendu.
๐๐๐