Bening

Bening
Bab 60 - Kencan Perdana


__ADS_3

Sepulang dari konser, Rendra pun mengantarkan Luna pulang. Hingga acara konser band "Main Adem" pun usai, Della tak kunjung bisa dihubungi juga.


Awalnya Luna menolak ajakan Rendra untuk mengantarnya pulang. Sebab Luna sangat tahu bahwa Della menyukai Rendra. Ia tak mau dijuluki teman makan teman. Seperti jargon yang lagi tren di media sosial jaman now.


Namun karena sudah larut malam dan Luna susah mendapatkan taksi, akhirnya Luna pun menerima ajakan Rendra tersebut.


Hati Rendra mendadak bahagia karena seakan baru menyadari bahwa ada bidadari cantik dan baik hati yang menggoda hatinya. Ternyata sang bidadari itu sudah ada di sekitarnya sejak lama. Namun hati tak kunjung tergugah dan luput dari pandangan matanya.


Lain halnya di Jakarta, Rendra yang tengah berbahagia menonton konser berdua dengan Luna, di Yogyakarta Arjuna dan Bening pun tengah berbahagia.


Sebab malam ini Arjuna datang berkunjung ke Yogyakarta. Lelaki yang sudah resmi menjadi tunangannya satu minggu yang lalu itu, mengajaknya berkencan perdana.


Mereka menonton pagelaran budaya di pelataran Candi Borobudur, Magelang. Ayu dan Bayu pun tak luput untuk ikut bergabung. Jadilah kencan perdana mereka berbeda dengan kencan pada umumnya. Bukan berdua saja melainkan double date.


"Senang gak?" bisik Arjuna ke telinga Bening.


"Senang," cicit Bening singkat seraya tengah asyik menonton pagelaran yang tersaji di depannya.


"Bahagia enggak?" bisik Arjuna kembali penuh senyum.


"Bahagia," jawab Bening lirih seraya tersenyum memandang pentas tari yang begitu memukau.


"Jawabnya singkat amat!" cicit Arjuna dengan nada kesal.


Bening pun sontak melirik ke arah samping kanannya tempat Arjuna duduk. Ia pun hanya bisa tersenyum memandang wajah Arjuna yang ditekuk seperti baju lecek alias kusut.

__ADS_1


"Kok cemberut sih. Kan aku sudah jawab senang dan bahagia. Mau dijawab yang bagaimana lagi, Mas?" tanya Bening seraya tersenyum geli melihat wajah masam Arjuna.


"Kan kita lagi kencan. Jawabnya yang mesra dan panjang juga gitu yank. Jangan pendek. Aku suka yang panjang-panjang seperti cintaku padamu yang sepanjang waktu dan seumur hidup," cicit Arjuna.


"Hehe... malu sama sebelah. Takut mereka kepengin cepet-cepet kawin seperti kita," bisik Bening terkikik geli.


"Biarin saja. Asal mereka kawin enggak numpang biaya nikah sama kita. Masak kita nikah massal sama mereka berdua? Aku enggak mau!" ketus Arjuna.


"Mas apa enggak bisa bayangin? Lihat saja, mereka di mobil dari tadi berdebat terus sampai telingaku panas. Eh, sekarang bukannya nonton pagelaran malah sibuk bertengkar di pojokan sana. Lihat tuh," ucap Bening seraya menunjuk ke arah Ayu dan Bayu yang berada di sudut area, tengah berdebat sengit akan sesuatu hal.


Arjuna pun ikut melihat ke arah yang ditunjuk Bening. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ayu dan Bayu. Bak Tom-tom dan Jer-jer di film kartun yang selalu bertengkar di mana pun berada.


"Mereka memang cocok. Sedetik enggak berantem maka nama mereka bukan Ayu dan Bayu lagi," ucap Arjuna datar.


"Terus nama mereka jadi apa dong, Mas?" tanya Bening heran.


"Ishh... ada-ada saja kamu, Mas! Huft... dasar pikirannya encum. Nanti aku laporkan ke Papa sama ibu. Biar kena hukum!" ucap Bening dengan nada yang sudah naik satu oktaf.


Bening sengaja ketus pada Arjuna. Entah kenapa dia senang melihat lelaki yang ia cintai ini memasang wajah cemberut. Terlihat lebih lucu karena jarang-jarang Pak Pol satu ini cemberut di depan orang lain.


Dominan jika bertemu orang, Arjuna akan bersikap dingin dan tegas. Sangat mirip dengan Papanya. Akan tetapi jika sudah bersama keluarga akan menjadi dirinya sendiri yang lebih hangat, ceria dan apa adanya.


Kalau kata anak jaman sekarang. No jaim-jaim.


Arjuna dan Bening pun sibuk melanjutkan menonton acara pagelaran budaya serta tari yang belum usai. Sedangkan Ayu dan Bayu masih bertengkar hebat.

__ADS_1


Dikarenakan, Bayu menghilangkan gantungan kunci kesayangan Ayu yang bergambar love. Di mana gantungan tersebut adalah hadiah dari teman sekolah Ayu dahulu sewaktu di Solo.


Teman yang memberikan benda itu yakni seorang lelaki. Saat itu orang tua teman sekolah Ayu akan pindah rumah ke luar Jawa, otomatis sekolahnya pun ikut pindah.


Gantungan kunci itu adalah kenang-kenangan agar Ayu selalu mengingatnya. Alhasil Bayu tak suka. Lalu dengan sengaja menghilangkannya saat Ayu berpamitan ke toilet dan menitipkan tas selempang milik Ayu padanya.


Bayu pun sengaja mengambil gantungan kunci tersebut lalu bergegas membuangnya jauh-jauh. Saat Ayu kembali dari toilet, sontak menyadari ada yang hilang dari tas selempangnya.


Ayu langsung naik pitam saat menyadari ternyata yang hilang adalah gantungan kunci yang cukup berharga dari teman sekolahnya.


"Pokoknya cepat cari! Aku enggak mau tahu!" pekik Ayu menatap tajam Bayu.


"Enggak mau tahu jadi maunya tempe?" tanya Bayu sengaja menggoda.


"Bayu!" pekik Ayu.


"Iya Ndoro Ayu," jawab Bayu lemah lembut seraya tersenyum.


"Haisssh... memang susah ngomong sama bujang lapuk! Aku benci kamu! Jangan pernah bicara sama aku jika kamu belum dapatkan juga gantungan kunci itu," ucap Ayu dengan nada ketus.


"Aku bisa belikan seribu gantungan kunci yang lebih baik, lebih mahal dari itu," ucap Bayu yang kesal dan terpancing dengan kemarahan Ayu padanya.


"Buat apa? Toh kamu bukan siapa-siapa aku juga," jawab Ayu.


"Bukan tidak, tapi belum. Sebentar lagi juga akan jadi siapa-siapa," cicit Bayu yang tersenyum penuh makna.

__ADS_1


"Hah... ?"


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2