Bening

Bening
Bab 119 - Semua Muncul ke Permukaan Bertubi-tubi


__ADS_3

Deg...


Della tertegun melihat lelaki yang tengah ia cari sedang memeluk anak kecil yang tidak sengaja tertabrak mobilnya.


Beberapa waktu sebelumnya.


Ia tengah menyusuri komplek rumah dinas sederhana guna mencari kediaman Doni. Namun naas, saat ia tengah sibuk berbicara dengan salah satu penghuni di kawasan tersebut menanyakan alamat, dirinya terlupa mengaktifkan hand rem (rem tangan) mobilnya.


Sontak mobilnya berjalan mundur dengan laju yang cukup cepat terlebih jalanan di kawasan tersebut cukup landai. Seketika...


Brakk...


Mobil Della menabrak Dimas yang tengah berlari-larian riang gembira membawa flashdisk milik Ayahnya. Tubuh bocah mungil yang berkebutuhan khusus itu pun akhirnya terlindas mobil Della bersama flashdisk yang ia bawa.


Flashdisk yang berisi video Arjuna merudapaksa Bening seketika remuk menjadi serpihan-serpihan. Namun naas tubuh bocah mungil itu ikut menjadi korban seperti flashdisk yang ia bawa. Tubuhnya bersimbah darah akibat keteledoran Della.


Walaupun Della dan beberapa orang yang melihatnya dari kejauhan berusaha berlari menolong Dimas. Tetapi malang tak dapat ditolak. Musibah tersebut terjadi begitu cepat.


"Dimas !!" teriak Titin dan Doni menangis tersedu-sedu dan Dewa pun di sebelah orang tuanya hanya bisa memeluk ibunya dan menangis bersama.


"Mas Doni," cicit Della yang terkejut melihat Doni.


Sontak Doni pun mengangkat pandangannya. Mendadak kilat mata amarah menyeruak pada wajah Doni. Lantas Doni melepaskan gendongan Dimas pada Titin. Doni pun berdiri.


"Kamu Del yang nabrak putraku? Tega kamu!" pekik Doni menatap tajam Della.


Tanpa sadar Doni membuka jati dirinya yang asli di depan Della, selingkuhannya sendiri. Semua keluar dari bibir Doni sendiri di hadapan Titin, Della dan Dewa serta beberapa orang saksi di sana.


Deg....


"Putra?" cicit Della semakin terkejut.

__ADS_1


"Kamu sudah menikah Mas? Kamu bohongin aku? Jadi, ini istri dan anak kamu Mas? Kamu cuma morotin uangku doang, Mas? Ngaku!" teriak Della bertubi-tubi yang justru berbalik menyerang Doni. Dirinya sangat marah dan kecewa karena ternyata Doni hanya seorang pembohong besar alias penipu.


Semua sudah ia serahkan pada Doni. Tubuh dan uangnya. Dan kini matanya terbuka lebar bahwa Doni hanyalah seorang playboy kelas kakap sekaligus penipu ulung yang berkedok oknum berseragam.


Seketika Doni tersadar atas ucapannya sendiri yang dengan bodohnya ia membuka kebohongannya di depan Della sekaligus perselingkuhannya secara otomatis terbuka di hadapan Titin dan Dewa.


"Diam !!" teriak Titin yang langsung berdiri diantara Della dan suaminya.


PLAKK !!


Sebuah tamparan panas melesat pada pipi kiri Della. Bukan dari Doni melainkan dari Titin, wanita desa yang lugu dan hanya bermodal pendidikan rendah serta dengan tampilan yang apa adanya.


Tetapi kini semua tampak berubah. Ibarat kata seperti semut yang berhati baik jika diinjak pun pasti dia akan marah dan bisa membalas. Itulah yang terjadi pada Titin saat ini.


"Itu tamparan dari saya. Sebagai wanita yang melahirkan putra kebanggaannya yang baru saja Anda lukai!" pekik Titin dengan kilat mata amarah.


PLAKK !!


"Dan yang itu, tamparan luka hati seorang istri yang suaminya kamu rebut hanya dengan godaan murahan Anda."


"Dan untuk kamu, Mas. Sungguh aku wanita desa yang bodoh. Ya Tuhan, apa dosaku? Sampai engkau berikan aku suami seperti dia. Dengan teganya kamu berselingkuh di belakangku, Mas. Bukan hanya dengan wanita murahan ini saja tetapi wanita di dalam tadi yang bernama Mia juga sama saja jadi selingkuhan kamu. Entah nanti ada wanita mana lagi yang mengaku di depanku sebagai selingkuhan kamu. Aku sudah muak Mas. Lebih baik kita berpisah. Aku enggak sudi melihatmu!! teriak Titin.


"Apa? Jadi Mia itu selingkuhan kamu Mas. Bukan adik kamu? Wow... hebat kamu, Mas. Hebat !!" teriak Della menatap tajam Doni seakan ingin menguliti lelaki yang telah mentah-mentah membohonginya luar dalam tersebut.


Tiba-tiba...


"Buk, dedek Buk. Nafas dedek sekarang kok enggak ada. Tadi Dewa masih ngerasa Dimas ada nafasnya. Sekarang kok hilang. Huhu..." cicit Dewa seraya gemetaran dan menangis pilu memangku Dimas.


Seketika Titin berbalik badan mengambil putra bungsunya dari pangkuan si sulung. Ia dengan gemetaran memeriksa nafas dan denyut nadi milik Dimas bersama sang suami.


Namun mereka berdua tak merasakan denyut nadi Dimas dan juga nafas bocah mungil lima tahun itu.

__ADS_1


"Dimas !! Tidak. Tidak. Tidaakkk !!" teriak Titin lebih histeris dari sebelumnya dan seketika ia pingsan.


Doni yang kebingungan pun semakin terhenyak kala melihat darah mengalir keluar di sela-sela kaki sang istri. Dewa pun melihatnya.


Deg...


"Adek bayi? Huhu ... Ayah... adek bayi. Huhu... aku enggak mau adek bayi meninggal. Ibuukk !!" teriak Dewa memeluk sang ibu yang juga pingsan dengan kondisi kaki bersimbah darah segar yang terus mengalir.


Sirine ambulance membawa Dimas dan Titin menuju sebuah rumah sakit terdekat dengan kediaman Doni. Selama perjalanan, Dewa dan Doni terus menangis. Dewa tak mau dipeluk sang Ayah. Seketika ia membenci ayahnya.


Ia terus menciumi wajah ibunya sambil menangis tersedu-sedu. Sedangkan ketika di dalam ambulance, dokter dan perawat yang bertugas menyatakan bahwa nyawa Dimas dinyatakan tidak tertolong.


"Maaf Pak, mohon diikhlaskan. Nyawa putra Bapak sudah kembali pada Sang Penciptanya," ucap sang dokter lirih yang hanya diangguki oleh Doni dengan air mata mengalir deras di pipinya.


Dewa semakin menangis histeris mendengar dokter mengatakan bahwa Dimas meninggal dunia. Dunianya seketika runtuh. Padahal kemarin dia masih asyik bermain dengan adiknya. Tertawa bersama. Dan sekarang kebahagiaan serta keceriaan itu hilang seketika. Membuat dunianya seakan menjadi gelap gulita.


Kini dirinya hanya bisa berdoa, berharap sang ibu dan juga adik bayi dalam kandungan baik-baik saja. Ia tidak mau kehilangan lagi. Jika harus memilih, lebih baik ia kehilangan ayahnya daripada ibu dan adik bayinya.


Setibanya di rumah sakit, dokter langsung menangani Titin sekaligus mengurus pemulasaraan jenazah Dimas. Doni begitu tercengang mengetahui bahwa istrinya tengah hamil anak ketiga yang belum ia ketahui.


Ia teringat dengan kata-katanya pada Titin beberapa tahun silam setelah kelahiran Dimas. Bahwa dirinya tak ingin memiliki anak lagi. Cukup Dewa dan Dimas.


Namun kini, Tuhan memberi calon jabang bayi dalam rahim Titin. Seketika ia berubah pikiran dan berdoa pada Tuhan agar istri dan calon bayinya baik-baik saja. Terlebih saat ini dirinya sudah kehilangan Dimas, putra spesialnya. Ia tak mau kehilangan sang istri dan calon buah hati ketiganya yang ia perkirakan usianya masih muda. Sebab perut Titin belum terlihat membuncit.


Di saat Doni sibuk membawa istri dan anaknya ke rumah sakit, Della seketika dilanda kegugupan yang menjadi-jadi. Ia segera mengambil langkah seribu dan memutuskan pulang ke rumahnya. Seketika bayangan gelap jeruji penjara muncul di benaknya. Seakan menghantuinya dan mengolok-oloknya.


"Aku bukan pembunuh. Aku tak mau di penjara. Salah sendiri anak itu tidak menghindar dari mobilku," gumam Della yang meracau tak jelas sepanjang perjalanan.


Mobil sport hitam miliknya terparkir secara serampangan di halaman orang tuanya. Ia pun segera melangkah masuk ke dalam rumah dan membuka pintu secara kasar.


Saat pintu terbuka, seketika tubuhnya mematung...

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2