Bening

Bening
Bab 123 - Melepas Kepergianmu


__ADS_3

Untuk mendukung feel dalam membaca pada part awal chapter ini.


Othor sarankan sembari memutar lagu berjudul "Love Me" by Punch (Ost. Do You Like Brahms).


Lebih cocok yang INDO-SUB dengan lirik. Jadi Sobat Safira bisa lebih menghayati.


Selamat MembacaπŸ’‹


🍁🍁🍁


Seorang wanita bergegas keluar setelah pintu pesawat TNI AU yang membawanya dari Lombok ke Jakarta hari ini telah mendarat sempurna di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.


Awalnya ia sudah pasrah untuk terbang ke Jakarta dengan tiket yang sudah dibelinya. Jadwal keberangkatannya pukul 13.00 WITA. Sebab tak ada penumpang yang mau membatalkan tiketnya.


Namun saat pukul sembilan pagi, ia mendapat secercah harapan saat ada rombongan petugas TNI AU menyapa dirinya akan pergi ke Jakarta. Terlebih dalam rombongan tersebut terdapat satu orang prajurit yang tengah terluka usai latihan gabungan dan tak ada dokter yang berada dalam pesawat tersebut.


"Saya bersedia, Pak. Saya akan coba membantu jika di udara, tenaga saya sebagai dokter dibutuhkan. Terima kasih banyak atas tumpangannya," ucap Dokter Heni seraya tersenyum sumringah. Seolah dirinya tengah mendapatkan secercah harapan atau oase di padang pasir tandus yang tengah mengelilinginya.


"Baik. Silahkan ikuti saya," ucap komandan rombongan TNI AU tersebut.


"Terima kasih ya Allah," batin Dokter Heni mengucap syukur. Walaupun ia nantinya dipastikan tetap datang terlambat. Setidaknya berangkat dari Lombok lebih awal lebih baik daripada menunggu keberangkatan jam satu siang yang nanti dikhawatirkan delay karena cuaca atau hal yang lain di luar kuasanya.


Sepanjang di udara, ia terus berdoa dan menggumamkan shalawat. Dirinya juga mengenang kebersamaan terakhir saat Papa Bening datang ke Jogjakarta yang ternyata itu adalah pertemuan mereka yang terakhir kalinya.


"Semoga kamu bisa menungguku walau hanya satu detik, Pras. Jika pun tak bisa, minimal aku bisa memeluk Bening di dekat pusaramu," batin Dokter Heni memanjatkan doa.


Setelah hampir dua jam perjalanan, pesawat TNI AU yang membawanya ke Jakarta pun mendarat dengan selamat. Setelah mengucapkan banyak terima kasih pada rombongan TNI AU tersebut, ia pun berlari dengan segera menuju pintu keluar.


Tanpa sengaja dirinya menabrak petugas kebersihan yang sedang bertugas.


Bugh...


"Maaf. Saya enggak sengaja. Anda tidak apa-apa kan?" tanya Dokter Heni dengan tulus meminta maaf.


"Oh tidak apa-apa," ucap office girl tersebut.


"Sekali lagi saya minta maaf. Saya sedang tidak fokus. Saya mohon izin pergi karena harus segera ke pemakaman kakak saya," ucap Dokter Heni dengan sopan.


"Oke, hati-hati di jalan Bu. Saya turut berduka cita," ucap petugas kebersihan tersebut.


"Terima kasih," jawab Dokter Heni seraya bergegas berlari kembali untuk mencari taksi.


Dirinya sudah tak memikirkan penampilannya yang kusut. Sejak semalam ia menunggu di Bandar Udara Internasional Lombok, NTB. Berharap ada keajaiban untuknya. Namun semesta berkehendak lain yang pada akhirnya ia harus membeli tiket yang sejak awal disodorkan oleh petugas sebagai sisa tiket yang ada. Tetapi keajaiban muncul saat dirinya sudah pasrah.


☘️☘️

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, ia pun langsung mendapatkan taksi.


Ceklek...


Brakkk...


Suara pintu taksi terbuka dan menutup secara cepat.


"Taman makam pahlawan Kalibata, Pak. Tolong cari jalan yang tidak macet ya, Pak. Sehingga cepat sampai di sana karena kakak saya hari ini dimakamkan," ucap Dokter Heni memohon dengan tergesa-gesa.


"Hari ini orderan saya semuanya pada ke sana. Katanya mau melihat prosesi pemakaman Pak Wakapolri yang meninggal dunia kemarin. Kabarnya karena serangan jantung atas berita hoax tentang putri dan menantunya. Sungguh hoax yang mengerikan sampai membuat orang meninggal dunia. Loh tadi Anda bilang kakaknya meninggal terus dimakamkan di sana sekarang. Jadi kakak Anda itu Pak Wakapolri yang meninggal itu?" tanya sang driver dengan terkejut.


"Iya betul, Pak. Tolong bantu saya agar cepat sampai di sana. Saya baru mendarat dari Lombok," ucap Dokter Heni seraya memohon.


"Oke, Bu. Saya usahakan. Soalnya penumpang saya sebelumnya enggak bisa turun dekat sana karena sudah sangat rame imbas parkir mobil para pejabat. Terus antusias masyarakat membludak untuk melihat langsung ke sana. Apa enggak apa-apa nanti ibu turunnya agak jauh? Soalnya mobil ini bukan undangan jadi gak boleh terlalu dekat dengan zona terlarang karena kabarnya RI 1 juga hadir di sana," tutur sang driver apa adanya.


"Enggak apa-apa, Pak. Nanti saya bisa jalan kaki ke area pemakaman," ucap Dokter Heni.


"Oke," jawab supir taksi dengan singkat.


☘️☘️


Saat baru berjalan lima belas menit, mendadak ban mobil taksi yang ditumpangi Dokter Heni mengalami pecah ban. Otomatis ia segera mengambil angkutan lain agar segera tiba di Kalibata. Karena tidak mungkin menunggu sang supir mencari ban cadangan. Di mana saat ini jam sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Akhirnya ia memutuskan naik ojek motor.


Kemacetan yang panjang dan gerimis yang datang secara tiba-tiba membuatnya semakin lama di jalanan. Ia sudah tak peduli dengan bajunya yang basah kuyup. Walaupun dirinya memakai jas hujan milik tukang ojek, tetap basah karena hujan mendadak cukup deras.


"Lanjut, Bang. Enggak masalah kok. Kan hujan cuma air jadi basah-basahan enggak apa-apa kok," jawab Dokter Heni tetap kekeh.


"Siap," ujar si tukang ojek bersemangat.


Akhirnya dirinya tiba pukul satu siang. Perjalanan dari Lanud Halim Perdanakusuma ke Kalibata yang harusnya ditempuh satu jam, akhirnya memakan waktu hingga dua jam. Dan kini ia pun tengah berlari di antara kerumunan masyarakat.


Ada masyarakat yang memutuskan untuk pulang dan ada yang masih tinggal. Alhasil dirinya berdesak-desakan dengan masyarakat yang berada di sana.


Cuaca tengah menguji dirinya dengan sangat hari ini. Di saat di perjalanan dari bandara menuju ke pemakaman mendadak hujan, tetapi sekarang justru kering dan panas saat ia sudah dekat pemakaman.


Sedangkan di dalam area pemakaman, Arjuna tengah duduk mendekap erat sang istri. Ia selalu ada di samping Bening sejak kemarin. Tak mau jauh-jauh dari sang istri yang sangat membutuhkan dirinya.


"Ayo, Mama pulang. Kasihan babynya sudah lapar. Besok kita bisa ke sini lagi kalau kangen kakek jenderal," bisik Arjuna lembut di telinga Bening.


"Masih kangen Papa," cicit Bening lirih nan sendu.


"Iya, besok Mama bisa ke sini lagi ditemani Papa Juna. Mama enggak kasihan sama kesayangan kakek jenderal yang ada di dalam sini?" cicit Arjuna seraya mengelus lembut perut sang istri.


"Ya sudah ayo pulang. Besok ke sini lagi. Janji ya," cicit Bening terdengar manja dan seraya merengek sendu.

__ADS_1


"Siap laksanakan Bu Kombes," jawab Arjuna menghibur Bening.


Bening pun menunduk lalu mencium batu nisan yang tertera nama Papanya itu dan mengelusnya.


"Bening pulang dulu, Pah. Bening cinta Papa banyak-banyak. Nanti malam jangan lupa hadir di mimpi Bening ya, Pah. Bening tunggu," batin Bening.


Keduanya pun berjalan melangkah perlahan memasuki mobil bersama para ajudan dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisian.


Dokter Heni yang sudah mendekati, sempat berteriak memanggil Bening dan Arjuna. Namun sepertinya mereka tidak dengar karena masyarakat masih sangat ramai memadati area tersebut.


"Juna, Bening!!"


"Bening, tunggu!!" teriak Dokter Heni kembali namun mobil yang membawa Arjuna dan Bening pun tetap pergi meninggalkan taman makam pahlawan, Kalibata.


Sebuah helaan nafas kasar keluar dari bibir Dokter Heni. "Fiuhh...."


☘️☘️


Kakinya pun perlahan melangkah menuju makam Papa Bening. Kondisi di dalamnya sudah sangat sepi untuk saat ini.


Punggung cantiknya bergetar, tangannya menghapus air mata yang membanjiri pipinya. Kepingan-kepingan ingatan terus menggelayutinya. Terlebih saat terakhir Papa Bening mengajak dirinya makan romantis di Abhayagiri Restaurant. Sungguh kenangan indah yang tak terlupakan baginya.


"Pras, aku datang. Terima kasih karena berkat doamu, akhirnya aku terlambat juga untuk hadir di pemakamanmu. Padahal aku sudah ngebut tadi naik ojek ke sini. Baju dan rambut basah kuyup. Mukaku lecek. Badanku bau belum mandi sejak kemarin. Tapi semoga aku tetapi jadi temanmu yang tercantik," cicit Dokter Heni terdengar sendu.


"Aku harus bagaimana?"


Kau tahu kan kalau aku mencintaimu sangat banyak. Akan tetapi...


Takdir tak pernah berpihak padanya. Dahulu keduanya dipisahkan karena memang tak berjodoh. Dan kini pun takdir memisahkannya kembali dengan pria yang ia cintai itu untuk selama-lamanya. Kematian.


"Apa kini kau bahagia di sana, Pras?"


"Kenapa sesakit ini, Pras?"


Lebih sakit daripada ketika ditinggalkanmu saat acara lamaran kita dulu.


"Pras...


Aku memaafkanmu...


"Pras...


Aku mencintaimu...


Sangat mencintaimu," sambung Dokter Heni dengan suara lirih seraya mengusap air matanya yang masih setia berjatuhan di pipinya.

__ADS_1


"Selamat jalan Jenderal. Selamat berkumpul kembali bersama Embun dan cucumu di sana. Sampaikan salamku untuk Embun. Aku turut bahagia cinta kalian berdua bersatu di dunia dan akhirat. Akan aku jaga Bening semampuku. Doakan semoga aku juga bisa mengikhlaskanmu dan membuang cinta ini dari hatiku," batin Dokter Heni sendu.


🍁🍁🍁


__ADS_2