
Bening dan Ayu pun berbelanja sekaligus melepas penat dari kesibukan yang ada dengan jalan-jalan di Plaza Ambarrukmo. Mereka berdua telah membeli beberapa perlengkapan untuk dibawa ke Jakarta.
Ya, Bening akan membawa serta Ayu ke Jakarta untuk menjalankan misi kejutannya. Sepulang dari mall, Ayu diantar Bening untuk berpamitan pada Ibu Arjuna.
Bening beralasan tengah rindu dengan Ayu jadi ingin ditemani di kosan untuk beberapa hari ke depan. Ny. Lina yang tak menaruh curiga maka ia mengijinkan dengan senang hati untuk Ayu menginap di kosan calon menantunya itu.
Keduanya menyalami Ny. Lina dengan takzim. Lalu mobil yang dikendarai Bening tak lama meninggalkan kediaman Ibunda Arjuna.
Hari Sabtu.
Secara kebetulan Pak Tikno pun Sabtu pagi super sibuk dengan urusan toko. Dikarenakan Ayu yang tengah libur bekerja di toko bakpia selama beberapa hari ke depan, maka Ibu Arjuna yang menghandle semuanya untuk urusan krusial terlebih keuangan.
Akhir pekan toko pun yang cukup ramai sejak pagi saat dibuka, membuat fokus Pak Tikno terpecah. Sehingga ia membiarkan Bening dan membantu Ny. Lina di toko terlebih dahulu.
Biasanya sejak pagi dirinya sudah mengawasi Bening di luar kosan. Mengintai dari jauh guna menjaga keamanan Bening sekaligus melaporkan segala kegiatan Bening pada sang majikan yakni Arjuna.
Terpaksa ia berencana datang agak siang untuk mengawasi Bening. Karena sopir cadangan di keluarga Ny. Lina tengah sakit.
Kini Bening dan Ayu sudah berada di bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Dan lima belas menit lagi, pesawat mereka akan lepas landas menuju bandara Soekarno Hatta, Tangerang.
Ketika keduanya akan mengudara, Ayu sempat dilanda gugup. Sebab ini merupakan pertama kali dirinya naik pesawat.
Ia banyak membaca berita kecelakaan pesawat. Sehingga saat di dalam pesawat dan sudah duduk di kursi miliknya, ia langsung memejamkan mata. Bening hanya tersenyum maklum.
Sebelumnya saat memesan tiket, Ayu sudah meminta pada Bening agar dirinya dicarikan tempat duduk jangan dekat jendela. Sebab dirinya pasti akan takut jika sampai melihat ketinggian dari jendela pesawat.
__ADS_1
Bening pun memaklumi dan menuruti segala permintaan Ayu. Dengan telaten Bening pun membantu Ayu memakai sabuk pengaman atau seat belt. Dikarenakan Ayu tak tahu cara memakai benda tersebut.
Keringat dingin mulai mengucur kala Ayu mendengar suara pilot mengatakan bahwa pesawat akan lepas landas. Namun ada sedikit perasaan lega kala pesawat sudah mengudara dengan aman tanpa goncangan seperti awal terbang.
Setelah satu jam lebih sepuluh menit, akhirnya Bening dan Ayu tiba di bandara Soekarno Hatta, Tangerang.
"Wah, akhirnya aku menginjakkan kaki di Jakarta juga Ning," cicit Ayu seraya tersenyum sumringah saat berjalan menuju pintu keluar bandara.
"Alhamdulillah..." jawab Bening yang juga ikut tersenyum.
Bening pun membatin, "Selamat datang kembali Jakartaku, cintaku."
Di saat Bening dan Ayu sudah tiba di Jakarta, Pak Tikno pun baru saja tiba di warung kopi tak jauh dari kosan Bening. Dirinya menunggu di tempat biasa ia mengintai Bening.
Pak Tikno melihat mobil Bening masih terparkir di halaman kosan, maka dirinya beranggapan bahwa Bening ada di dalam. Tentu dibenak Pak Tikno hari Sabtu seperti ini, Bening tengah libur kuliah.
Jakarta, kota penuh kenangan dan cinta.
Bening pun meminta waktu sejenak untuk menghubungi seseorang. Ayu pun setia berada di dekat Bening dengan melihat beberapa barang yang tengah dipajang di sebuah etalase toko di area bandara.
"Oke. Aku tunggu. Kita mau makan siang dulu di restoran Solabahagia. Nanti kamu langsung temui kita di sana ya," ucap Bening pada seseorang di telepon.
Bip...
Telepon pun terputus dan percakapan usai. Bening dan Ayu pun berjalan menuju restoran Solabahagia yang masih ada di area bandara Soekarno Hatta untuk mengisi perut mereka. Sebab saat berangkat, keduanya terlupa untuk makan karena keasyikan melepas kangen sehingga bangun kesiangan.
__ADS_1
Beruntung keduanya tidak ketinggalan pesawat. Jika terjadi, maka bisa membuat rencana kejutan akan berantakan.
Tak lama setelah makan siang, keduanya masih menunggu kehadiran seseorang di restoran tersebut guna menjemput mereka. Ayu pun tidak tahu siapa yang akan bertugas menjemputnya di bandara.
"Orang yang jemput kita masih lama Ning?" tanya Ayu sedikit cemas dengan celingak-celinguk di area sekitarnya.
"Ini barusan kirim pesan sudah di parkiran bandara kok. Biasa, di Jakarta macet Yu. Jadi agak telat jemputnya," jawab Bening seraya memandang ponselnya.
"Oh, begitu. Kalau sudah tahu Jakarta langganan macet ya harusnya yang jemput kita bisa lebih awal berangkat. Biar kita enggak nunggu terlalu lama di bandara. Enggak profesional banget," keluh Ayu yang tak sabaran.
"Hehe... sudah jangan marah-marah. Nanti cantiknya hilang," cicit Bening seraya tersenyum.
"Hem..." jawab Ayu singkat.
Bening pun masih terlihat memegang ponselnya. Sebab ia tengah bertukar pesan pada Arjuna hanya untuk berbasa-basi menanyakan kegiatan yang dilakukan calon suaminya itu hari ini.
Arjuna mengabarkan bahwa sekarang dirinya tengah sibuk rapat di Mabes. Ada kasus peredaran obat-obatan terlarang yang tengah diusut oleh kesatuannya. Arjuna mengatakan nanti malam sekitar jam sepuluh, dirinya sudah tiba di rumah dinas dan berjanji akan menghubungi Bening.
Tentu saja lelaki itu tengah rindu yang membuncah pada Bening, calon istrinya. Sebab beberapa hari belakangan, Bening susah dihubungi karena sedang sibuk kuliah. Arjuna pun memaklumi hal itu.
Bening pun mengiyakan jika nanti malam sang pangeran hatinya itu untuk meneleponnya. Tetapi ia yakin sebelum Arjuna meneleponnya, pasti lelaki itu sudah bahagia memeluknya karena mendapat kejutan darinya.
"Maaf ya, aku terlambat jemput. Tadi ada beberapa urusan di kantor terus kejebak macet," ucap seorang lelaki yang baru saja bergabung di meja mereka.
Ayu yang tengah menunduk untuk meminum jus jeruk miliknya otomatis langsung mendongak saat mendengar suara seseorang yang cukup familiar di telinganya.
__ADS_1
"Hah, kamu!" pekik Ayu terkejut melihatnya.
๐๐๐