
Hari ini hari Jumat, bertepatan hari ulang tahun Papa Bening yang ke-53 tahun. Pagi ini Arjuna dan Bening akan bertolak dari Jogjakarta menuju Jakarta. Bening pun telah mengantongi surat izin dari dokter untuk naik pesawat.
Kondisi kandungan dan ibunya sangat sehat sehingga surat sakti pun terbit dari dokter spesialis kandungan yang memeriksa Bening di Jogjakarta. Bening pun begitu antusias. Sebab rindu yang menumpuk di hati akan segera terobati. Terlebih dirinya membawa kabar bahagia yang telah dinanti sejak lama oleh sang Papa.
"Mas, jaket Papa yang kemarin sudah selesai aku setrika di mana ya?" tanya Bening yang sudah tampil cantik pagi ini.
"Bukankah kamu kapstok di dalam lemari baju yang khusus baju dinasku. Semalam sempat aku lihat di situ sih, yank. Coba kamu lihat," jawab Arjuna yang tengah memeriksa isi tas ranselnya.
"Oh iya ya. Haha... lupa," cicit Bening seraya tertawa kecil.
"Asal bumilku yang cantik jelita ini tak lupa dengan suaminya yang gagah nan tampan ini saja," celetuk Arjuna seraya tersenyum.
"Enggak lupa lah, Mas. Nanti kalau aku kangen megalodon pasti nyariin kamu," ucap Bening tersenyum menampilkan sederet gigi putihnya bersikap lucu ala anak kecil di depan suaminya.
"Istri siapa sih ini? Gemesin banget. Rasanya pengin aku kurung di kamar saja," ucap Arjuna seraya memeluk Bening dari belakang dengan mesra.
"Istri Kombes Pol Arjuna Sabda Mahendra yang punya megolodon kesukaan aku," cicit Bening lucu.
"Haha... belum resmi diangkat jadi Kombes eh Bu Komandan main panggil saja. Wajib dihukum nih Bu Komandan," ucap Arjuna seraya tertawa.
"Siap terima hukuman, Ndan. Hukumannya main sama megalodon kan?"
"Bhuahaha... Bu Komandan seneng banget kalau udah main sama megalodon. Yang punya megalodon kegeser nih kedudukannya. Fiuhh..." keluh Arjuna sengaja menggoda.
"Tetep nomor satu di hati kok. Gak ada tandingannya," cicit Bening seraya berbalik dan mencium sekilas bibir sang suami yang dibalas lebih dalam oleh Arjuna yang tak mau kehilangan momen indah seperti ini bersama sang istri.
Tok...tok...tok...
Tiba-tiba pintu kamar mereka pun diketuk. Alhasil ciuman keduanya mendadak berhenti seketika.
"Bening, Juna. Ayo keluar. Pak Tikno sudah nunggu kalian di depan. Buruan! Nanti terlambat loh," teriak Ny. Lina di depan kamar Arjuna dan Bening.
"Siap laksanakan, Ibu Suri." Arjuna dengan lantang menjawab dari dalam kamar yang langsung dapat cubitan di pinggangnya dari sang istri.
__ADS_1
"Masshh..." ketus Bening seraya mencubit Arjuna.
"Auchh... iya-iya Bu Komandan. Jangan ngambek nanti cantiknya ilang. Ayo kita berangkat. Bener kata ibu, nanti bisa telat." Arjuna pun mengajak sang istri bergegas.
Bening langsung menyambar jaket milik Papanya lalu ia kenakan. Entah mengapa ia selalu ingin memakai jaket tersebut. Padahal jaket hitam tersebut kadonya sendiri untuk sang Papa beberapa bulan lalu saat diangkat menjadi Wakapolri.
Keduanya pun sudah berada di depan pintu mobil yang akan dikemudikan Pak Tikno ke bandara. Ibu Arjuna tak ikut ke Jakarta karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Lagipula ia ingin memberi kesempatan sang besan untuk berkumpul bersama Arjuna dan Bening terlebih dahulu.
"Juna sama Bening pergi dulu ya, Bu. Sehat-sehat di rumah," tutur Arjuna seraya mencium tangan Ny. Lina penuh takzim yang disusul oleh Bening juga melakukan hal yang sama.
"Hati-hati di jalan. Sampaikan salam buat Papa mertuamu ya, Jun. Maaf ibu belum ke sana hari ini. Nanti kalau sudah selesai pekerjaan di sini, Insha Allah ibu nyusul ke Jakarta. Kabari Ibu kalau ada apa-apa di sana. Jaga Bening dan kandungannya. Jangan sering ditengokin si utun. Nanti bisa-bisa dedek utun pusing kena gempa terus," tutur Ny. Lina panjang lebar memberi wejangan dan doa.
"Haha... siap laksanakan Ibu Suriku yang cantiknya sepanjang masa," jawab Arjuna tertawa lebar dan langsung mendapat cubitan dari sang ibu dan istrinya.
Kini keduanya telah pergi meninggalkan kediaman Ny. Lina menuju Bandara Adisutjipto. Setelah satu setengah jam perjalanan, keduanya telah tiba di bandara. Pak Tikno pun kembali pulang setelah mengantarkan majikannya ke pintu masuk.
Sambil menunggu boarding time, Bening pun menghubungi sang Papa.
"Halo juga sa_yang. Uhuk... uhuk..." jawab Komjen Pol Prasetyo Pambudi di seberang sana yang terbatuk.
"Papa sakit? Ganti video call, Pah. Bening mau lihat Papah langsung," tanya Bening mendadak cemas mendengar sang Papa terbatuk di telepon.
"Papa enggak kenapa-napa. Telepon begini saja sudah cukup buat Papa. Tak perlu video call. Nanti juga ketemu di Jakarta. Cuma sedikit lelah dan flu saja kok. Enggak perlu cemas. Kebetulan Papa baru pulang dari safari ke Papua, Ternate dan lanjut ke Manado. Kemarin sore baru sampai di rumah. Dengar kamu mau datang ke sini hari ini dan tugas di Jakarta juga sudah rampung, jadinya sengaja cuti mendadak hari ini spesial demi menyambut kedatangan putri kesayangan Papa dan menantu Papa yang tampan. Apa kabar sayang? Kalian sudah sampai di mana sekarang?" tanya Papa Bening penuh semangat walaupun sempat terbatuk kembali.
"Ulang tahun kok sakit sih, Pah. Makanya Papa jangan terlalu capek. Ya sudah, sekarang Papa bobo saja. Bening sama Mas Juna sudah mau boarding. Tunggu kami di Jakarta ya Pah. Ada kado spesial dari kami untuk ulang tahun Papa hari ini," cicit Bening tersenyum sumringah.
"Iya, sayang. Nanti habis salat Jumat, Papa mau bobo dengan nyenyak. Apalagi dapat kado spesial dari putri dan menantu Papa pasti bobo Papa kali ini bakalan puless banget. Hehe... jadi penasaran nih kadonya apaan. Boleh kepo enggak?" tanya Papa Bening seraya terkekeh.
"Rahasia pokoknya. Nanti tunggu Bening sampai rumah. Pasti Bening bisikin ke Papa kadonya. Dah... dulu ya, Pah. Bening dan Mas Juna sudah harus naik pesawat. Bening cinta Papa banyak-banyak. Mmuachh..." ucap Bening tersenyum bahagia seraya mencium ponselnya yang masih tersambung telepon dengan sang Papa.
"Papa sayang kalian juga," jawab Papa Bening seraya tersenyum.
Tak lama pesawat Bening dan Arjuna take off meninggalkan Jogjakarta menuju Ibukota Jakarta.
__ADS_1
Satu jam lebih sepuluh menit waktu yang ditempuh Bening dan Arjuna di udara. Akhirnya mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Jam menunjukkan pukul 10.30 WIB.
"Yank, aku ke toilet sebentar ya. Kamu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana," ucap Arjuna yang diangguki dengan cepat oleh Bening.
Akhirnya Bening pun duduk di sebuah kursi yang berada di dalam mini cafe. Sambil menunggu sang suami, ia pun memesan coklat hangat kesukaannya.
Kondisi bandara sangat padat dalam beberapa hari terakhir ini. Sebab ini adalah momen liburan anak sekolah dan perkuliahan. Sehingga cukup crowded. Beruntung mereka telah memesan tiket jauh-jauh hari. Jika tidak, maka otomatis kehabisan tiket.
Saat menikmati coklat hangatnya yang baru saja datang di mejanya, mendadak sebuah siaran langsung dari stasiun televisi nasional ternama menjadi pusat perhatian banyak orang. Terutama penghuni di dalam mini cafe tersebut tak terkecuali Bening.
Breaking News.
Dikabarkan langsung dari rumah sakit xxx di kawasan Jakarta Selatan. Beredar kabar bahwa Wakapolri Komjen Pol Prasetyo Pambudi telah meninggal dunia. Tepatnya setengah jam yang lalu beliau dilarikan di rumah sakit xxx dari kediamannya di wilayah Melawai, Jakarta Selatan. Dugaan sementara ini serangan jantung. Namun penyebab kematian masih simpang siur. Hingga berita ini diturunkan belum dilakukan pers rilis oleh pihak Mabes Polri.
Sekian yang dapat kami sampaikan langsung di depan rumah sakit xxx, Jakarta Selatan. Ikuti terus Breaking News untuk mendapatkan update kabar selanjutnya. Terima kasih.
Deg...
"Papa," cicit Bening yang dalam kondisi berdiri dan mematung menatap layar televisi yang baru saja mengabarkan kabar duka tentang Papanya.
Sontak matanya pun langsung berkaca-kaca. Baru saja ia mengecap kebahagiaan.
Dan dalam sekejap gegap gempita serta suka cita di hidupnya haruskah terenggut dalam waktu yang singkat?
Tidak. Tidak untuk saat ini. Berharap ini hanya sebuah berita hoax. Logikanya menolak namun hatinya bersedih mengiyakan bahwa berita tersebut benar adanya. Air matanya mendadak luruh tanpa disuruh.
Pandangannya tiba-tiba menggelap seketika. Tubuhnya mendadak lemas seakan tak bertulang dan roboh. Pingsan.
"Bening !!" teriak Arjuna.
Bersambung...
๐๐๐
__ADS_1