
Arjuna tengah cuti dari kedinasannya selama tiga hari. Sehingga ia akan berada di kota Yogyakarta. Setelah dari cafe bersama Pak Tikno membahas tentang Bening, akhirnya Arjuna memutuskan pulang ke rumah orang tuanya.
Sebelumnya, ia sempat memakai jaket dan topi serta kaca mata hitam. Menatap Bening dari luar toko. Wanita yang ia cintai itu tengah sibuk berdiri di meja kasir melayani beberapa pelanggan yang sedang membayar.
Rindu dan cinta yang menggebu dalam dirinya membuat Arjuna tak henti menatap Bening dari kejauhan, tempat ia bersembunyi. Kebetulan toko tempat Bening bekerja, dindingnya terbuat dari kaca sehingga bisa tampak jelas jika dilihat dari luar.
Ketika tiba di rumahnya, ia langsung menemui ibunya. Dirinya langsung bersimpuh dan meminta maaf sepenuh hati pada sang ibu. Nyonya Lina sangat terkejut dan tak menyangka bahwa Arjuna akan datang ke rumahnya pada hari ini.
Sebab ia masih dalam mode irit bicara pada anaknya dan sejak Bening dinyatakan meninggal dunia, dirinya tak mengijinkan sang putranya itu menginjakkan kaki di rumahnya jika bukan dirinya yang memanggilnya untuk pulang.
Alhasil sekarang dirinya yang terkejut. Sebab melihat Arjuna datang ke rumah tanpa ia perintahkan. Ayu yang tengah berada di dapur dan sempat mendengar suara khas Arjuna, akhirnya memutuskan keluar menuju ruang keluarga.
Ayu yakin Arjuna berada di sana. Sebab sebelumnya ia tahu jika Bude Lina tengah membaca koran dan majalah yang ada di ruang keluarga. Mendadak kakinya berhenti dan mulutnya menganga lebar tatkala melihat Arjuna tengah bersimpuh di kaki Bude Lina.
Ya, Ayu selama dua bulan ini tinggal di rumah orang tua Arjuna atas permintaan Ny. Lina sendiri. Ia begitu sedih saat kepulangannya dari Belanda, mendengar kabar bahwa kerabatnya yakni Nenek Minah meninggal dunia dan rumah tempat tinggal Ayu di Solo ludes terbakar.
Dirinya yang dilanda kesepian sejak kecewa dengan Arjuna, akhirnya meminta Ayu tinggal bersamanya di Yogyakarta dan membantunya untuk mengurus usaha batik dan bakpia miliknya. Ayu dengan senang hati membantu sebagai ucapan terima kasih pada ibu Arjuna karena telah memberi penghidupan yang layak serta tempat tinggal nyaman untuknya yang sudah tak punya siapa-siapa di dunia ini.
"Maafkan Arjuna, Bu. Rasanya hidup Arjuna tak berarti tanpa senyum dari ibu," cicit Arjuna seraya bersimpuh di kaki ibunya.
"Ibu sudah maafin kamu, Jun. Kemarin-kemarin ibu hanya kecewa berat sama kamu. Lupakan kejadian yang lalu. Mari kita mulai sekarang dari nol lagi. Jangan sampai kamu mengecewakan ibu lagi," tutur Ny. Lina seraya mengelus kepala Arjuna yang tengah bersimpuh padanya. Dan dibalas anggukan oleh Arjuna.
Sebelum bangkit, Arjuna meminta ijin pada ibunya guna membasuh kaki sang Ibu. Sebelumnya, Arjuna sudah meminta Mbak Menik menyiapkan apa yang ia mau saat membuka pintu depan untuknya.
Dengan tulus dan baktinya sebagai seorang anak pada ibunya tatkala meminta maaf dan sudah dimaafkan oleh sang Ibu, Arjuna memasukkan kaki ibunya ke wadah besar yang berisi air hangat. Ia basuh perlahan dan memberi pijatan kecil pada kaki sang ibu.
Setelah itu ia keringkan kaki ibunya dengan handuk. Lalu mencium tangan serta pipi sang ibu.
Ny. Lina begitu terharu dengan perlakuan putra semata wayangnya itu. Bakti dan cinta sang putra untuknya tidak perlu diragukan lagi. Arjuna yang ia lihat saat ini telah banyak berubah. Tentu saja perubahan itu menuju ke arah kebaikan.
__ADS_1
Kemudian Arjuna berdiri membawa baskom tersebut ke arah taman samping rumah. Di sana ia basuh wajahnya dengan air bekas cucian kaki sang ibu. Setelah itu ia istirahat di kamarnya.
Ayu mengintip segala yang dilakukan Arjuna dari kejauhan sambil bersembunyi. Sebab ia belum ingin bertemu sepupunya itu yang suka merecoki dirinya. Tentu saja Ayu tertegun melihat tingkah Arjuna yang begitu berbeda dengan Arjuna yang dulu.
Malam harinya, barulah Ayu bertemu dengan Arjuna kala mereka semua tengah bersantap malam di meja makan. Arjuna juga turut mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Nenek Minah.
Arjuna juga meminta maaf pada Ayu belum sempat bertemu dan menghubunginya. Hal ini dikarenakan kesibukan Arjuna yang cukup padat di kesatuannya serta dirinya tak punya nomor ponsel Ayu.
Ayu pun tak mempermasalahkan hal tersebut. Ia sangat memahami kondisi Arjuna. Ayu pun memang tak memberi nomor ponselnya pada Arjuna sejak dulu sebab mereka seperti Tom-tom dan Jer-Jer di film kartun yang selalu bertengkar jika bertemu.
Akan tetapi tampaknya saat ini sudah banyak perubahan. Arjuna semakin dewasa dan tak jahil lagi padanya.
Selepas santap malam, Arjuna mengobrol santai bersama Ayu di ruang keluarga sembari menonton acara di televisi.
"Ehem... Juna."
"Juna..." panggil Ayu kembali.
*(Iya. Ada apa juragan Ayu yang paling cantik jelita satu kamar?)
Ayu yang mendengar jawaban Arjuna, langsung mengerucutkan bibirnya.
"Baru saja dipuji baik. Eh sekarang kumat lagi tengilnya. Kayak si bujang lapuk satu itu, huft!" batin Ayu geram.
"Aku mau nanya. Serius ini," ucap Ayu dengan nada ketus.
"Ojok nesu-nesu entar Ayune ilang digondol wewe gombel," cicit Arjuna iseng seraya cekikikan melihat reaksi Ayu yang langsung ketakutan.
*Ojok nesu-nesu : jangan marah-marah.
__ADS_1
*digondol : dicuri
*Wewe gombel : hantu atau roh jahat. Biasanya berwujud nenek-nenek seram yang suka menculik.
"Juna!"
"Jangan bahas begituan ih! Sekarang malam Jumat kliwon. Nanti aku enggak bisa tidur!" pekik Ayu seraya melempar Arjuna dengan bantal sofa.
Bugh...
"Wah pelanggaran berat nih. KDRT!" teriak Arjuna sambil tertawa lepas.
"Aku serius nih mau tanya sesuatu sama kamu," cicit Ayu yang terlihat serius dari mimik wajahnya.
Arjuna pun langsung bereaksi serius juga.
"Ada apa?" tanya Arjuna.
"Kamu bisa bantu enggak. Nyariin sahabatku yang hilang. Namanya Ningsih," ucap Ayu memohon pada Arjuna.
"Ningsih?" tanya Arjuna seraya memicingkan pandangannya sejenak pada Ayu.
"Iya, Ningsih. Dia seumuran denganku. Selama ini dia tinggal bersamaku dan nenek di Solo. Dia hamil di luar nikah makanya itu nenek menyuruh aku dan dia untuk kabur ke rumah ibumu ini."
"Kepala desa dan para warga ingin membawa paksa Ningsih untuk diasingkan dan dihukum adat karena dianggap pembawa sial dan mencoreng nama desa. Tapi sebenarnya dia bukan hamil karena pergaulan bebas. Dia diperkosa," tutur Ayu panjang lebar dengan serius.
Deg...
Mendengar kata diperkosa, dirinya jadi teringat kelakukan be-jatnya. Tatkala memperkosa Bening akibat jebakan seseorang padanya dengan obat laknat sehingga Bening harus kehilangan kesuciannya.
__ADS_1
"Kamu punya fotonya?" tanya Arjuna.
๐๐๐