
"NINGSIH!" pekik Ayu tanpa sadar.
Sontak Ibu Arjuna yang saat ini tengah menangis tersedu-sedu sembari memeluk Bening segera melepaskan pelukannya.
Beberapa waktu lalu Nyonya Lina, Ibunda Arjuna, sempat terkejut karena melihat Bening masih hidup. Bahkan dirinya nyaris pingsan. Kini dirinya kembali terkejut akibat teriakan Ayu.
Komjen Pol Prasetyo Pambudi pun heran mengapa wanita muda di rumah Ibunda Arjuna ini memanggil putrinya dengan nama Ningsih bukan Bening. Dirinya pun tak mengenal wanita muda itu yang ia yakini usianya tak jauh beda dengan putrinya, Bening.
"Ya ampun Ningsih. Huhu... akhirnya aku ketemu kamu juga. Tega kamu ninggalin aku sendirian di terminal bus malam-malam. Aku cemas banget sama kamu waktu itu. Kamu pergi ke mana? Terus... loh... loh... perut kamu kok sudah kempes. Apa kamu sudah lahiran? Terus anakmu di mana? Tantenya yang cantik ini kan pengin gendong. Mana dia Ning?" tanya Ayu panjang lebar tanpa jeda.
Sebuah helaan nafas meluncur dari diri Bening. Berharap tak bertemu Ayu dahulu. Namun sepertinya semesta tak merestui keinginannya.
"Loh kamu kenal Bening toh, Yu?" tanya Ny. Lina heran seraya menghapus jejak air mata di wajahnya.
"Bening itu siapa, Bude?" tanya Ayu bingung.
"Lah ini Bening, calon istrinya Arjuna."
Ibu Arjuna pun memperkenalkan Bening pada Ayu. Sontak Ayu pun kaget setengah mati.
"Bagaimana ceritanya Ningsih berubah nama jadi Bening ?" batin Ayu bingung.
Lalu sekarang Bening yang ia kenal dengan nama Ningsih akan menjadi calon istri Arjuna, sepupunya. Otaknya masih tengah berpikir keras menemukan jawaban dari benang merah kusut ini.
Bening pun yang mengetahui kebingungan Ayu, akhirnya ia menggenggam tangan Ayu. Lalu ia bercerita pada Ayu, Papanya dan juga Ibu Arjuna. Bahwa selama ini dirinya ada di kota Solo dan tinggal di rumah Nenek Minah bersama Ayu.
Dia sengaja mengubah namanya menjadi Ningsih serta penampilannya agar tidak ada orang yang mengenalinya. Saat dirinya pergi dengan Ayu ke Yogyakarta atas perintah Nenek Minah, di perjalanan ia baru mengetahui ternyata Ayu adalah kerabat Arjuna, lelaki yang menodainya, setelah melihat foto Arjuna di ponsel Ayu.
Alhasil dirinya memutuskan pergi meninggalkan Ayu di terminal bus waktu itu. Bening pun menceritakan pada Ayu bahwa bayinya meninggal dunia keesokan harinya.
__ADS_1
Dirinya pingsan di stasiun Lempuyangan lantas dibawa ke rumah sakit. Setelah tersadar ternyata jabang bayinya telah meninggal di dalam kandungan. Dan sekarang bayinya sudah tenang di surga.
Tanpa sengaja dimakamkan di area pemakaman yang sama dengan mendiang Ayah Arjuna.
Mendengar penuturan Bening, sontak Papa Bening berkaca-kaca. Ia tak menyangka hidup putrinya yang terbiasa hidup berkecukupan harus memikul beban mencari nafkah saat tengah mengandung cucunya. Bahkan diusir dan terancam diasingkan oleh kepala desa dan para warga di sana.
Dirinya tak bisa membayangkan bagaimana ketakutan putrinya saat itu. Melarikan diri dari kejaran para warga yang akan menangkapnya bersama Ayu. Sungguh ia tak dapat membayangkan. Perasaan bersalah semakin menusuk sukmanya.
Ibu Arjuna pun semakin merasa bersalah pada Bening dan mendiang cucunya. Ia hanya mampu meminta maaf atas nama Arjuna dan menangis tersedu-sedu.
"Maafkan putra Ibu ya Bening. Maafkan Arjuna. Dia betul-betul menyesal. Dia juga sangat mencintaimu. Bahkan Ibu sering mendengar dari Papamu bahwa putra ibu itu sering menginap di kamarmu dan bersedih kehilangan dirimu," cicit Ny. Lina seraya menangis pilu dan memeluk Bening.
"Iya, Bu. Bening sudah memaafkan Mas Arjuna. Semua sudah suratan takdir. Bening sudah ikhlas," cicit Bening membalas pelukan Ibunda Arjuna.
"Huaaaaaa... Ningsih. Eh, maaf. Bening maksudku. Jadi bayimu meninggal?" tanya Ayu dengan sesenggukan yang dibalas anggukkan oleh Bening.
"Bukan hanya karena faktor itu juga, Yu. Mungkin aku yang kurang menjaga kandunganku sendiri dan banyak belajar tentang wanita hamil. Tapi ya sudahlah semua sudah takdir," ucap Bening.
"Nenek Ning... huhu... Nenek_" ucapan Ayu terpotong.
"Nenek kenapa, Yu?" tanya Bening cemas langsung memotong ucapan Ayu.
"Nenek Minah sudah meninggal. Huhu..." tangis Ayu pun pecah mengingat sang nenek.
"Astaga, Nenek Minah. Kapan nenek meninggal, Yu? Sakit apa?" tanya Bening dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Akhirnya Ayu pun menceritakan bahwa Nenek Minah meninggal terkena serangan jantung sebab melihat rumahnya mulai dibakar warga.
Para warga tersebut tak menemukan Ayu dan juga Ningsih di dalam rumah Nenek Minah. Sehingga dengan kalap membakar rumah sang nenek hingga hangus tak bersisa.
__ADS_1
Bening pun menangis tersedu-sedu. Ia merasa bersalah pada Nenek Minah. Karena dirinya sehingga Nenek Minah dan rumahnya jadi korban.
"Maafkan aku, Yu. Maafkan Bening, Nek. Huhu..." tangis Bening meluncur deras.
Ny. Lina memeluk calon menantunya itu untuk meredam tangisnya. Dirinya sama sekali tak menyalahkan Bening atas kematian Nenek Minah. Semua memang sudah kehendak takdir dari Sang Pencipta.
"Sudah, Bening. Nenek Minah sudah tenang di sana. Kita semua tidak ada yang menyalahkanmu atas kejadian itu. Semua sudah musibah. Kita berusaha ikhlas menerima kepergian Nenek Minah untuk selama-lamanya," ucap Ny. Lina seraya mengelus punggung Bening yang masih menangis.
"Iya, Ning. Benar kata Bude. Semua sudah takdir. Nenek sudah tenang di sana. Pasti nenek sekarang lagi asyik main bola sama putramu," ucap Ayu berusaha menghibur Bening.
"Iya, Yu. Maafkan aku sudah banyak merepotkanmu dan nenek," cicit Bening sendu seraya menghapus air matanya.
"Astaga! Ternyata si Junet sialan itu yang sudah menghamilimu dan lari dari tanggung jawab. Awas nanti kalau dia ke sini. Aku akan buat perhitungan dengan dia. Kamu tenang saja Ning. Biar aku jadikan dia samsak!" geram Ayu saat mengingat bahwa Arjuna yang menodai Bening.
"Sudah. Jangan, Yu. Mas Arjuna sudah meminta maaf langsung padaku kok," ucap Bening tanpa sadar.
"Hah!"
"Kapan?" tanya ketiganya serempak pada Bening.
Sontak Bening terkejut mendengar pertanyaan Papanya, Ibunda Arjuna dan Ayu yang begitu kompak.
"Aduh, Bening. Dasar bibir tipis. Malah keceplosan," batin Bening cemas melihat mimik wajah ketiganya yang menatap tajam pada dirinya.
Tentunya mereka bertiga tengah tidak sabar menunggu jawaban dari Bening.
"Mas Arjuna. Tolongin aku," batin Bening menjerit galau dan semakin terpojok.
๐๐๐
__ADS_1