Bening

Bening
Bab 105 - Pergi Belanja


__ADS_3

Sebelum meninggalkan Abhayagiri Restaurant, Papa Bening menyuruh Riko memfoto dirinya dengan Dokter Heni yang masih dalam posisi duduk di meja tempat mereka makan.


Dokter Heni cukup heran melihat permintaan aneh Papa Bening. Sebab lelaki ini paling susah jika diajak foto bersama maupun selfie. Walaupun begitu ia tetap menuruti permintaan Papa Bening tersebut.


Papa Bening sore itu mengenakan outfit kemeja hitam dibalut jaket kulit hitam kado pemberian dari Bening tempo lalu dengan bawahan celana bahan warna hitam.



Foto By Google.


Sedangkan Dokter Heni mengenakan gaun berlengan pendek warna ungu gelap.



Foto By Google.


Note :


*maaf othor enggak kasih visual wajah๐Ÿ™ hanya gambaran outfit mereka saja. Semoga suka dan dipahami ^^.


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


Kemudian mereka pergi menuju Plaza Ambarrukmo. Saat di dalam mall, Papa Bening mengajak Dokter Heni memasuki sebuah toko buku ternama. Langkah kakinya mendadak berhenti pada spot buku-buku tentang kehamilan.


Tentu hal itu membuat Dokter Heni cukup terkejut dan bersuara.


"Bening sudah hamil, Pras?" tanya Dokter Heni.


"Belum tahu. Mungkin bisa jadi sudah isi. Bisa juga belum," jawab Papa Bening apa adanya.


"Terus beli buku seputar kehamilan sebanyak ini buat Bening semua?" tanya Dokter Heni.


"Iya," jawab Papa Bening singkat seraya tangannya memasukkan beberapa buku ke dalam troli yang didorong oleh Dokter Heni.


"Kenapa sih orang-orangan sawah hari ini aneh banget?" batin Dokter Heni seraya menyaksikan Papa Bening yang tersenyum melihat kumpulan buku-buku seputar kehamilan dan buku nama bayi.


"Kamu ada mau beli sesuatu?" tanya Papa Bening.


"Ehm... aku mau pergi ke spot sana sebentar. Mau cari buku resep udang balado," jawab Dokter Heni seraya menunjuk rak buku masakan Indonesia.


"Wah, itu kan makanan favoritku Hen. Boleh dong buatin satu porsi untukku," pinta Papa Bening terdengar memohon.


"Belum juga beli buku resepnya. Sudah diperintah untuk membuatkan. Ehm, tapi masakanku ini enggak gratis loh," cicit Dokter Heni sengaja.


"Terus aku harus bayar berapa, Hen?" tanya Papa Bening.


"Aku enggak butuh uang karena kamu tahu uangku sekarang sudah banyak. Mau lakuin sesuatu enggak buat aku?" tanya Dokter Heni seraya tersenyum.

__ADS_1


"Apa?" tanya Papa Bening to the point.


"Rumput di halaman rumahku cukup tinggi. Mau bantu potongin, enggak?" pinta Dokter Heni.


"Oke, siap. Aku masih dua hari lagi di sini. Besok waktuku bersama Bening. Dan lusanya baru aku bantu pagi-pagi memotong rumput di rumahmu. Sorenya aku harus kembali ke Jakarta. Bagaimana?"


"Deal," jawab Dokter Heni mengulurkan tangannya yang dibalas jabat tangan oleh Papa Bening seraya tersenyum.


Setelah keduanya berbelanja di toko buku, Papa Bening melihat beberapa boneka dan mainan lucu. Mampirlah keduanya masuk ke dalam toko boneka yang juga menjual mainan.


Papa Bening membeli sebuah boneka beruang warna cokelat muda ada sedikit aksen warna putih dengan ukuran yang cukup besar serta beberapa boneka lainnya berukuran sedang. Mainan untuk bayi dan anak kecil pun, tak luput ia beli.


Dan sebuah gantungan kunci dalam bentuk mini boneka yang bergambar kartun seekor burung kenari kuning yang biasa disebut Twiito.


"Kamu beli sebanyak ini boneka dan mainan untuk siapa, Pras? Kan kamu sendiri belum tahu Bening sudah hamil atau belum. Terus jabang bayinya laki-laki atau perempuan kan juga belum tahu." Dokter Heni heran ketika mereka berdua di meja kasir membawa belanjaan yang cukup banyak.


"Mumpung ada waktu dan di sini ada yang nemenin. Jadi sekalian belanja," ucap Papa Bening seraya tersenyum.


"Fiuhh..."


Buku-buku yang sebelumnya mereka beli sudah dimasukkan Riko ke dalam bagasi mobil. Dan kini Riko pun melakukan hal yang sama juga dengan membawa belanjaan boneka dan mainan yang baru saja terbayar.


Ketika keluar dari toko boneka dan mainan, Dokter Heni pikir mereka sudah selesai berbelanja, namun ternyata masih belum. Sebab Papa Bening menarik tangannya dan memasuki area toko khusus perlengkapan bayi.


"Astaga, Pras! Kita mau beli kado untuk siapa, masuk ke sini? Memang ada temanmu yang istrinya mau melahirkan atau mau dapat cucu?" tanya Dokter Heni heran.


"Kan belum tahu laki-laki atau perempuan," cicit Dokter Heni.


"Ya sudah beli dua-duanya saja. Kalau anak Bening pertama laki-laki ya sepatu yang perempuan buat adiknya," ucap Komjen Pol Prasetyo Pambudi.


"Kalau adiknya ternyata laki-laki juga atau justru kembar, gimana?" tanya Dokter Heni.


"Oh, iya juga. Ya sudah beli sepatu buat bayi kembar laki-laki dan bayi kembar perempuan. Pas kan?" ujar Papa Bening antusias.


"Jangan beli sekarang. Kan belum jelas bayinya. Nanti saja kalau sudah jelas," ucap Dokter Heni sedikit melarang Papa Bening.


"Enggak apa-apa. Buat cucu sendiri. Enggak akan mubadzir kok. Percaya deh," ucap Papa Bening meyakinkan.


Alhasil Dokter Heni pun tak bisa menolak dan dua buah kantong belanjaan pun ia tenteng keluar dari toko bayi tersebut. Dan akhirnya ia bernafas lega karena Papa Bening tak mengajaknya lagi ke toko lain untuk berbelanja. Dan mereka pun menuju area parkir mobil untuk pulang.


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mereka pun telah tiba dan keduanya tengah berdiri di teras rumah Dokter Heni.


"Hen," panggil Papa Bening.


"Ya," jawab Dokter Heni.


"Aku titip belanjaan ini di rumahmu dulu ya. Susah kalau dibawa ke hotel," pinta Papa Bening.

__ADS_1


"Besok kan kamu ketemu Bening, biar taruh di rumah besanmu saja."


"Enggak enak sama besanku. Kan Bening belum periksa. Titip kamu dulu ya. Janji enggak lama kok," pinta Papa Bening kembali.


"Hem, ya sudah." Dokter Heni menyerah.


"Makasih, Hen."


"Sama-sama," jawab Dokter Heni lirih.


Lantas Riko pun membawa barang belanjaan yang diperintahkan sang Komandan untuk diletakkan di ruang tamu Dokter Heni.


"Boneka ini buat kamu," ucap Papa Bening secara tiba-tiba menyodorkan sebuah boneka beruang besar padanya.


"Hah, buat apa?" tanya Dokter Heni heran seraya tangannya menerima boneka tersebut.


"Biar ada yang dipeluk selain guling," ucap Papa Bening.


"Emang aku anak kecil !!" ujar Dokter Heni sewot.


"Dan satu lagi kado dari aku," ucap Papa Bening seraya menyerahkan sebuah kotak kecil bentuk persegi panjang berwarna hitam.


"Apa lagi ini? Dan kapan belinya?" tanya Dokter Heni heran.


"Buka saja. Tadi beli pas kamu ke toilet," jawab Papa Bening jujur.


Dokter Heni pun meletakkan bonekanya di kursi lalu membuka kotak tersebut yang ternyata berisi sebuah pena. Tentu saja tampilan pena yang elegan berwarna hitam dengan aksen garis-garis warna merah maroon di tengahnya membuatnya tampak berkelas.


"Pena," cicit Dokter Heni seraya menatap Papa Bening.


"Untuk menulis resep obat pasien-pasienmu," ujar Papa Bening.


"Hemm, hari ini kamu terlalu banyak memberiku kado dan kejutan Pras. Kamu enggak lagi sakit kan? Atau perlu aku periksa di klinikku siapa tahu ada kelainan."


"Haha..." tawa Papa Bening lepas.


"Hari ini kamu juga banyak tersenyum dan tertawa. Biasanya dingin, kaku_" ucapan Dokter Heni terpotong.


"Kayak orang-orangan sawah, kulkas dua belas pintu lalu apa lagi, Hen?" tanya Papa Bening yang memotong perkataan Dokter Heni.


"Hantu mungkin," jawab Dokter Heni asal.


"Mungkin," jawab Papa Bening.


Akhirnya Papa Bening pun berpamitan pulang dan menuju ke hotel. Menyisakan Dokter Heni yang duduk termenung melihat semua belanjaan Papa Bening di rumahnya yang tertumpuk beberapa kantong besar dengan tatapan dan perasaan yang gamang.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

__ADS_1


__ADS_2