
Berita kematian Wakapolri Komjen Pol Prasetyo Pambudi begitu menggemparkan seantero negeri. Tak terkecuali bagi seorang wanita yang saat ini tengah sibuk mondar-mandir di depan counter pembelian tiket di Bandar Udara Internasional Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Wajah yang kusut, sayu dan sembab akibat berderai air mata tak membuat pesona dan kharismatiknya hilang. Dirinya begitu tercengang dan syok setelah tanpa sengaja menonton berita di televisi salah satu rumah warga, saat dirinya menangani pasien di Dusun Sukamulia, Desa Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur.
Berita duka untuk sebuah nama pria yang yang sejak dulu hingga saat ini masih sangat dicintai dalam hatinya. Komjen Pol Prasetyo Pambudi.
Setelah menangani pasien di salah satu desa pelosok di Lombok Timur tersebut, ia pun meminta bantuan Pak Lurah di sana untuk membantunya bergegas ke bandara. Cuaca di Lombok saat ini tengah hujan deras sejak pagi tadi. Alhasil waktu tempuh yang biasanya hanya sekitar dua jam perjalanan, menjadi empat jam perjalanan.
Banyak pohon tumbang di tengah jalan serta kemacetan saat sudah mencapai kota. Sebab sekarang ini masih momen libur panjang anak sekolah dan perkuliahan, bertepatan pula dengan akhir pekan. Sehingga banyak wisatawan baik domestik maupun turis asing yang tengah menikmati liburan di sana. Ada pula yang kembali ke kota masing-masing usai berlibur.
Sepanjang perjalanan ia terus menangis. Entah sudah berapa banyak lembar tisu yang ia habiskan. Sebab ia tak menduga pria yang masih bersemayam di hatinya, kini pergi meninggalkan dunia ini begitu cepat.
"Dasar orang-orangan sawah. Kamu belum melihat Bening hamil dan melahirkan. Kenapa pergi secepat ini! Tak apa tak membalas cintaku. Karena aku tahu di hatimu hanya akan ada nama Embun. Tidak ada tempat untuk wanita lain. Apalagi aku. Tapi jangan pergi seperti ini. Aku membencimu, Pras. Aku benci. Huhu..." batin Dokter Heni menangis tersedu-sedu.
Derap langkahnya langsung berlari menuju counter tiket. Namun naas seluruh tiket hari ini tak ada yang tersisa baik ke Bandung, Jogjakarta, Semarang maupun Jakarta.
"Maaf, Bu. Semua tiket yang ibu cari sudah ludes terjual sejak satu minggu yang lalu. Hanya bisa menunggu jika ada pihak calon penumpang lainnya yang membatalkan tiketnya. Maka ibu bisa membelinya," ucap petugas counter tiket
"Apa saya bisa pesan privat jet ke Jakarta?" tanya Dokter Heni.
"Maaf, Bu. Privat jet hanya bisa dipesan minimal dua hari sebelum keberangkatan. Namun saat ini berada di peak season. Slot pemesanan privat jet juga tengah full untuk satu minggu ini," ucap petugas dengan sopan.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Mbak? Kakak saya meninggal di Jakarta dan apa saya hanya harus duduk diam di sini tanpa melakukan sesuatu!" bentak Dokter Heni tanpa sadar.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Kami juga tidak bisa berbuat banyak dengan segala keterbatasan yang ada. Kami cek baru ada slot tiket kosong besok siang jam satu, kelas bisnis. Dan itu hanya tersisa satu buah saja. Apa ibu ingin mengambilnya ?" tanya petugas.
"Kakak saya dimakamkan besok pagi jam sepuluh. Kalau saya dari sini jam satu siang lalu sampai Jakarta jam tiga sore. Sudah terlambat, Mbak. Tolonglah," pinta Dokter Heni memohon dengan beberapa tetesan air mata masih membasahi pipinya.
"Maaf, Bu. Hanya itu yang bisa kami usahakan. Jika ibu ingin menunggu ada pembatalan tiket dari penumpang lain. Ibu bisa tunggu di bandara. Tetapi kami juga belum bisa memastikan hal tersebut," ucap petugas.
"Terima kasih, Mbak. Saya duduk di sana saja," ucap Dokter Heni lesu dan berjalan gontai ke tempat duduk yang tak jauh dari counter tiket.
Sudah selama hampir tiga jam dirinya berada di bandara seperti orang tidak jelas. Hanya untuk meminta belas kasihan pada penumpang lain agar memberikan tiket yang mereka miliki untuk ia beli. Bahkan Dokter Heni rela membayar tiga kali lipat dari harga tiket tersebut.
Akan tetapi tidak ada yang mau mengiyakan permintaannya. Dikarenakan mereka juga memang telah memiliki jadwal tersendiri dan ada juga yang rombongan sehingga tak mau terpisah dari rombongannya.
"Tolong, Mbak. Saya harus ke Jakarta hari ini juga. Karena kakak saya meninggal," ucap Dokter Heni terpaksa berbohong kepada salah satu calon penumpang tujuan Jakarta. Sebab ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Dirinya terus memelas asih pada calon penumpang yang terbang menuju Jakarta dan sekitarnya hari ini.
Namun sepertinya nestapa mengabulkan ucapannya tempo lalu saat dirinya berbincang dengan Papa Bening tatkala acara lamaran Bening dan Arjuna di Jogjakarta beberapa bulan lalu. (bisa flashback baca pada chapter 56 : Lamaran)
"Pras, maafkan aku. Aku menyesal. Aku ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Aku mohon ya Allah, beri keajaiban untukku. Aku ingin memeluk Bening dan menguatkannya. Dia pasti sekarang butuh aku," batin Dokter Heni sendu.
โ๏ธโ๏ธ
Sedangkan usai siuman dari pingsannya beberapa waktu lalu di bandara Soekarno Hatta, Bening menjerit hebat di dekapan suaminya.
"Papah !! Huhu... Papa, Mas. Kenapa Papa tega ninggalin kita? Aku enggak mau Papa pergi. Mama sudah pergi. Kenapa Papa sekarang pergi? Aku membawa kado untuknya yang belum disapanya. Kenapa harus pergi, Pah. Huhu..." jerit pilu Bening histeris di pelukan Arjuna.
__ADS_1
"Ikhlas, yank. Insha Allah sekarang Papa sudah bahagia sama Mama sama putra kita di sana. Putra kita pasti bahagia karena sedang bermain sama kakek neneknya di sana. Kamu harus kuat yank," bisik Arjuna lirih di telinga Bening.
Calon Kombes Pol satu ini berusaha tegar di depan sang istri. Padahal sebelum istrinya siuman, ia bersimpuh di atas sajadah di sebelah ranjang pasien Bening. Punggung kokohnya bergetar dan terisak pilu, tanpa ada yang tahu.
Akhirnya, keduanya pun segera meluncur ke rumah sakit tempat Papa Bening berada.
Ceklek...
Derit pintu dibuka, Bening langsung ambruk memeluk jenazah Komjen Pol Prasetyo Pambudi yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dalam kondisi mata sudah terpejam. Masih mengenakan baju koko putih dan juga sarung hitam sama persis seperti saat Riko, sang ajudan, menemukan sang komandan tergeletak di lantai kamar rumahnya.
"Papah... Ya Allah. Huhu... jangan tinggalkan Bening, Pah. Hari ini kan ulang tahun Papa. Bening bawa kado buat Papa. Kado yang sangat spesial," jerit tangis Bening menyayat hati bagi yang melihatnya.
Dokter, suster, Riko, Arjuna serta Kapolri dan rekan sejawat yang berada di sana, tak tega melihat kepiluan Bening memeluk jenazah papanya.
"Bening hamil, Pah. Selamat, Papa akan menjadi seorang kakek. Bening sayang sama Papa," bisik Bening di telinga Papanya seraya terisak pilu.
Arjuna pun berjalan mendekat lalu mendekap erat tubuh istrinya. Tak lama tubuh Bening roboh kembali. Pingsan.
"Bening !!" jerit Arjuna berusaha menahan tubuh sang istri yang pingsan untuk kedua kalinya.
Dokter dan suster pun bergegas menolong ibu hamil muda yang satu ini. Sungguh pilu. Disaat hamil muda namun gelayut mendung berbalut luka pedih menyayat hati tengah menghampirinya. Mengujinya kembali.
Akankah Bening tetap tegar layaknya batu karang di lautan?
__ADS_1
Seperti julukan dari sang papa untuknya. Karang yang kuat dan tak mudah rapuh walau badai serta ombak besar datang menghantamnya.
๐๐๐