
Untuk mendukung feel dalam membaca chapter ini.
Othor sarankan sembari memutar lagu yang berjudul " This Love " by Davichi [ Descendants of The Sun OST. ]
Selamat Membaca.π
πππ
Bening tengah berdiri menatap batu nisan putranya yang tengah diraba-raba dengan gemetaran oleh tangan pria paruh baya yang menjadi cinta pertamanya itu. Ya, Ayah dan anak itu tengah berada di makam Putra Arjuna, mendiang anak Bening dan Arjuna.
Papa Bening tengah menangis dibalik kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Tangan tuanya menatap nanar dengan rasa penyesalan yang begitu mendalam hingga tak bisa dijabarkan kala Bening terdiam sepanjang perjalanan dan hanya menyuruh sang sopir menuju jalan yang ia kenal sebagai area pemakaman yang cukup ternama di tengah kota Yogyakarta.
Dikarenakan sang sahabat juga dimakamkan di sana. Yakni mendiang Ayah Arjuna, calon besannya.
Punggung kokoh itu bergetar dan suara isak tangisnya cukup terdengar jelas di telinga Bening. Bahkan sayup-sayup tangisan tersebut juga terdengar oleh Riko, sang ajudan pribadi yang tengah berdiri beberapa meter dari makam Putra Arjuna.
Andai waktu bisa diputar kembali. Ia takkan tega menyuruh Bening menggugurkan kandungannya. Andai waktu bisa diputar kembali ia takkan sekeras itu pada putrinya.
Andai waktu bisa diputar kembali untuk segera menemukan Beningnya, pasti cucunya bisa selamat. Sungguh ia amat menyesal. Sebuah penyesalan yang menggerogoti sukmanya sekarang.
"Maafkan Papah, Bening. Ma_af... hiks... hiks..." ucap Papa Bening dengan nada terbata-bata menangis pilu dalam kondisi berjongkok di depan batu nisan cucunya.
Tangannya terus menggosok-gosokkan bunga yang sebelumnya ia taburkan untuk mendiang cucunya. Kini ia gosokkan pada batu nisan sang cucu.
__ADS_1
Bahkan saking kesal dengan dirinya sendiri sampai-sampai Komjen Pol Prasetyo Pambudi mer3mas tanah merah makam sang cucu dengan tangannya.
"Maafkan kakekmu ini yang tak becus mencari kalian. Maafkan kesalahan kakek. Kamu pasti sangat tampan dan gagah seperti Ayahmu. Kamu pasti hebat dan tangguh seperti ibumu hingga bertahan selama ini. Walaupun takdir harus memanggilmu. Kakek yakin kamu anak yang sholeh seperti Ayah dan ibumu," cicit Papa Bening.
Air mata terus menetes di wajah pria paruh baya yang masih saja tampan dan gagah di usia senjanya itu. Bening yang mendengar semua ucapan yang keluar dari bibir cinta pertamanya itu, hanya bisa terdiam dengan rasa yang entah.
Mata Bening hanya berkaca-kaca menatap hamparan area pemakaman di depannya yang sore ini tampak terasa sejuk. Walaupun belum ada tetesan air matanya yang jatuh, akan tetapi kini rindu itu pun perlahan menyergap sanubarinya. Rindu dan Penyesalan.
Rindu pada buah hatinya. Menyesal, andai dia bisa menjadi ibu yang lebih siaga demi kesehatan jabang bayinya. Pasti hal ini tak akan terjadi.
Namun tak lama, ia mengucap istighfar dalam hatinya. Sebab ia merasa berdosa seakan menolak kehendak takdir dari Sang Pencipta.
"Maafkan semua khilaf dan dosaku ya Allah," batin Bening.
Mata Bening pun berkedip. Alhasil air mata yang sudah menganak sungai sebelumnya di pelupuk matanya, menetes membanjiri wajah ayunya.
"Maafkan Papa, Bening. Papa banyak dosa pada kalian," cicit Papa Bening seraya terisak pilu memeluk putrinya.
"Sudahlah Pah, semua sudah berlalu. Apa yang sudah terjadi tidak akan bisa ditarik kembali. Bening sudah ikhlas merelakan dia pergi. Mungkin putra Bening ingin menemani neneknya di sana. Agar Mama enggak kesepian lagi di surga," cicit Bening sendu seraya membalas pelukan erat dari Papanya.
"Benarkah begitu?" tanya Papa Bening lirih dengan masih tersedu-sedu.
"Iya, Pah. Dia jagoan tangguh yang akan menjaga Mama di sana. Jadi Papa tak perlu cemas akan Mama dan juga dia. Pasti Mama sekarang sedang bahagia bermain ayunan sama Putra. Atau mungkin Putra sedang main bola sama Mama. Soalnya waktu dalam kandungan, Putra kalau nendang kenceng banget sampai Bening ngilu. Hehe..." cicit Bening berusaha menghibur sang Papa.
__ADS_1
Senyum itu pun terbit di wajah Komjen Pol Prasetyo Pambudi. Bening pun membuka kaca mata hitam Papanya dan ia dengan telaten menghapus air mata sang Papa.
"Sudah jangan menangis lagi, Pah. Nanti Mama sama Putra di sana pasti sedih. Lagipula calon Wakapolri masak mewek sih. Nanti gantengnya luntur. Gagal dilirik cewek cantik dong. Hihi..." cicit Bening sengaja menggoda sang Papa seraya tangannya masih menghapus jejak air mata itu dan merapikan seragam Papanya.
"Ada-ada saja kamu. Papa sudah tua. Yang melirik siapa juga. Lagipula gak ada yang bisa gantikan Mama kamu di hati Papa," ucap Komjen Pol Prasetyo Pambudi dengan lugas.
"Orang ganteng maksimal begini kok. Yang bilang tua, pasti matanya rabun. Sudah ganteng, gagah, jabatan oke, dan masih sanggup buat kasih adik untuk Bening juga kok ya bilang tua," ledek Bening.
"Dasar nakal," ucap Papa Bening seraya mencubit hidung mancung putrinya itu.
"Ih, Papa!"
"Takdir manusia mana ada yang tahu, Pah. Kalau pun Papa mau nikah lagi, Bening restui. Asal wanita itu tulus mencintai Papa dan menerima kondisi Bening. Papa sudah lama menduda. Mama di sana pasti sedih kalau lihat Papa kesepian terus," cicit Bening seraya tersenyum.
"Papa enggak kesepian. Kan ada kamu dan juga putra Papa yang setia menemani," jawab Papa Bening.
"Putra?"
"Anak siapa, Pah?"
"Apa selama Bening tidak di rumah, Papa diam-diam menikah lagi dan punya seorang putra? Atau selama ini Papa sudah menikah lagi dan punya anak tetapi merahasiakannya dari Bening?" tanya Bening dengan nada yang sudah naik satu oktaf.
Bening pun kesal melihat Papanya hanya mengulum senyum melihat tingkahnya yang kesal. Ia pun melipat kedua tangannya di depan seraya memajang wajah kesal pada Papanya.
__ADS_1
"Jawab, Pah!" ucap Bening dengan ketus.
πππ