Bening

Bening
Bab 126 - Sebelum Masuk Penjara


__ADS_3

Rumah Papa Bening.


Suasana rumah duka masih cukup ramai didatangi oleh para pelayat hingga perwakilan yayasan yang dinaungi oleh mendiang Papa Bening. Namun hanya Nyonya Lina dan para kerabat yang dituakan, yang menemui para tamu tersebut.


Selepas menyuapi Bening, walaupun hanya beberapa suap, sang istri pun berujung mual kembali. Kemudian Arjuna menemani istrinya itu berbaring di ranjang mendiang Papa Bening guna istirahat. Tak lama, Ayu mengetuk pintu kamar dan mengatakan pada Arjuna bahwa Dokter Heni datang.


Arjuna pun menitipkan Bening pada Dokter Heni sejenak. Sebab ada beberapa hal yang perlu ia lakukan di luar sana. Dokter Heni pun sangat paham dan tanpa banyak bertanya ia menyanggupi permintaan Arjuna.


"Pergilah. Bening akan aku jaga dengan baik sampai kamu kembali. Hati-hati di jalan," ucap Dokter Heni.


"Makasih, Dok. Saya permisi," ucap Arjuna yang diangguki oleh Dokter Heni.


Tak lama setelah kepergian Arjuna, dua wanita berbeda usia itu tengah saling memeluk dan menangis di dalam kamar mendiang Jenderal Polisi Prasetyo Pambudi. Mereka yakni Dokter Heni dan Bening.


Keduanya tengah duduk di sofa kamar dan saling menangis. Meluapkan segala rasa di hati guna melepas beban yang bergelayut pada sanubari mereka. Rasa kecewa, sedih, marah, rindu dan cinta bercampur menjadi satu.


Rindu mendalam pada sosok pria yang sama yakni Prasetyo Pambudi. Yang kini sosok tersebut telah pergi untuk selama-lamanya. Menuju tempat yang abadi.


"Papa...huhu..." isak tangis Bening memanggil mendiang Papanya seraya memeluk Dokter Heni.


"Keluarkan apa yang ada di sini. Cukup satu hari menangis selebihnya ibu hamil harus bahagia," bisik lembut Dokter Heni di telinganya seraya menunjuk da_danya.


Sebelum memasuki kamar guna menemui Bening, Arjuna telah memberitahunya bahwa Bening tengah hamil muda. Tangisan di pipinya semakin tak terbendung hingga ia berusaha menahan dengan kedua tangannya untuk menutup mulutnya.


Terlebih saat Arjuna menceritakan padanya bahwa niat hati ingin mengabarkan kabar kehamilan Bening saat hari ulang tahun Papa, namun suratan takdir tidak bisa dilawan oleh kekuatan manusia. Papa Bening meninggal sebelum mengetahui putri kandungnya hamil.


"Ya Tuhan, Pras. Apa semua itu pertanda pesanmu padaku ketika di Jogja tempo lalu? Aku sudah merasakan firasat tak menyenangkan itu namun tak jelas apa yang dikehendaki Tuhan. Ternyata kamu sudah menyiapkan sedemikian rupa untuk Bening dan Arjuna. Tenanglah di sana, Pras. Semua pesanmu dan keinginanmu akan ku usahakan untuk terwujud sebagai janjiku padamu yang lalu," batin Dokter Heni.


☘️☘️


"Kenapa Papa tega ninggalin aku, Dok? Padahal aku sudah hamil sesuai harapannya. Kenapa Tuhan mengambil Papa?" tanya Bening memilukan seraya memeluk Dokter Heni.


"Kamu ingat, saat yang lalu kamu belum bertemu Papamu maupun Arjuna setelah kamu pergi dari rumah? Sebagai sahabat, aku menyuruhmu membuat burung bangau dari kertas lipat sebanyak-banyaknya. Lalu berikan pada orang terkasih agar cinta tetap terpatri di hati walaupun orang tersebut pergi jauh. Bahkan pergi ke dunia yang berbeda alam sekalipun. Apa kamu masih ingat, sayang?" ujar Dokter Heni bertanya.


"Iya, Dok. Aku ingat. Waktu itu aku sudah membuat seribu bangau sesuai yang dokter sampaikan. Aku berikan bangau-bangau itu pada Papa, Dokter, Mas Juna, Ibunda Mas Juna dan juga Ayu. Masing-masing aku beri sepasang. Sisanya aku simpan. Aku letakkan dalam sebuah tabung kaca di kamarku. Nah, itu bangau pemberianku untuk Papa," ucap Bening seraya menunjuk sebuah kertas berbentuk bangau berwarna hitam yang menempel pada kaca bagian atas lemari pakaian sang Papa.


Dokter Heni pun langsung melihat ke arah yang Bening tunjukkan padanya. Ia pun langsung tertegun melihat bangau dari kertas lipat tersebut.


"Loh, kok bangau Papa cuma satu? Padahal waktu itu aku beri dua untuk Papa. Satu warna pink dan satu warna hitam. Yang pink ke mana ya, Dok? Apa mungkin terjatuh di lantai?" cicit Bening bertanya-tanya seraya menatap kertas bangau yang menempel tersebut.


"Ternyata itu kertas bangau dari Bening yang kamu beri untukku. Huft... aku pikir kamu sengaja melipatnya untuk diriku, Pras. Ternyata..." batin Dokter Heni.


"Dok, apa sekarang Papa sudah bahagia di sana sama Mama dan putraku?" tanya Bening sendu.


"Iya, sayang. Pasti mereka bahagia sekali di sana. Sekarang kamu harus ikhlas dan wujudkan mimpi mendiang Papamu. Jangan kecewakan beliau, hem. Dokter akan selalu mendukungmu," ucap Dokter Heni menguatkan Bening.

__ADS_1


"Apa Dokter sudah memaafkan Papa?" tanya Bening seraya menatap lurus pada mata Dokter Heni.


"Aku sudah memaafkan Papamu jauh sebelum dirinya meminta maaf padaku," jawab Dokter Heni dengan lugas.


"Terima kasih, Dok. Sudah mau maafin Papa. Bening sayang sama dokter," cicit Bening seraya memeluk Dokter Heni.


Dan keduanya berbincang kembali sejenak. Tak lama, akhirnya mereka tertidur pulas di atas ranjang pria yang dua-duanya cintai. Berharap dipertemukan dalam mimpi yang indah bersama sosok tersebut.


☘️☘️


Part setelah ini pada chapter yang sama, hanya kehaluan othor untuk mendukung alur cerita. Mohon dipahami dan bijak dalam menyikapinya jika dikondisikan pada realita yang ada.


⏬⏬⏬⏬⏬


Doni yang melihat arah mobilnya tak menuju Mabes Polri langsung menatap curiga.


"Kalian mau bawa aku ke mana?" tanya Doni dengan sedikit membentak.


"Sudah diam! Jangan banyak ba cot!" pekik salah satu petugas.


Bugh...


"Aaa..." jerit Doni.


Tap... tap... tap...


Derap langkah sol sepatu menggema dengan cepat memasuki area gudang tersebut yang dijaga ketat oleh beberapa petugas.


"Di mana ba ji ngan itu?" tanya Arjuna dengan sorot mata tajam bak elang yang siap membunuh mangsanya.


"Di dalam. Sudah diikat sama anak-anak. Sudah disterilkan juga tubuhnya. Aman..." jawab Bayu.


"Thanks, Bay."


Arjuna pun bergegas masuk ke ruangan yang terdapat Doni di dalamnya. Namun sebelum itu, Bayu sedikit memperingatkannya.


"Ingat, jangan kebablasan. Biar sisanya hukum dan karma dari Tuhan yang mengadilinya," tutur Bayu seraya menepuk pundak Arjuna.


"Hem," jawab Arjuna singkat.


Ceklek...


Derit pintu terbuka, Doni tengah duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat. Lelaki itu masih dalam kondisi pingsan.


"Lepaskan ikatannya dan bangunkan," titah Arjuna dengan tegas.

__ADS_1


Sontak beberapa anggota kepercayaannya pun langsung melepaskan ikatan pada tubuh Doni dan mengguyur wajah lelaki itu dengan air dingin yang berisi es batu.


Byurr...


Byurr...


Byurr...


"Hah...hah... dingin."


"Dingin!" teriak Doni seraya menggigil dan otomatis terbangun.


"Akhirnya kamu bangun juga bedebah!" teriak Arjuna.


"Juna. Jadi kamu yang culik aku?" tanya Doni cukup heran.


"Hem. Memang aku yang menculikmu. Aku mau bermain sebentar dengan teman yang tega menusukku dari belakang. Aku rasa kamu tak pantas disebut sebagai teman," ucap Arjuna.


"Haha... kalau kamu menculikku hanya untuk menyuruhku agar aku meminta maaf padamu atau berlutut di kakimu, jangan harap aku melakukannya. Karena menjebakmu di hotel waktu itu, aku sama sekali tidak menyesal. Hanya saja aku menyesal kenapa kamu harus tidur dengan Bening saat itu. Yang ternyata Bening anak orang kaya sekaligus putri tunggal Wakapolri. Kamu selalu beruntung di kelilingi wanita cantik yang kaya raya. Dahulu Stella dan sekarang Bening. Pangkatpun kamu raih dengan begitu cepat naik secara drastis. Beda sama aku yang harus merangkak tertatih-tatih hanya untuk naik pangkat. Cuihh..." ucap Doni seraya meludah di depan Arjuna.


"Kamu tentu sangat tahu kalau aku meraih itu semua dengan jalan lurus. Menempuh diklat tambahan, pendidikan dan tes yang sangat ketat tanpa ada melakukan hal di luar prosedur. Jadi hanya karena itu kamu tega melakukan ini semua padaku, Don?" tanya Arjuna dengan geram.


"Ya, aku iri padamu Juna. Kamu sangat beruntung. Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya terpuruk," jawab Doni.


"Dasar bedebah! Gara-gara otakmu yang tak waras itu, istriku sekarang bersedih karena kehilangan papanya. Kamu memang pantas dihukum berat Don. Dasar brengsek !!" teriak Arjuna.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Pukulan bertubi-tubi dilayangkan Arjuna pada Doni.


"Ayo bangun ban ci !! Lawan aku langsung. Jangan libatkan orang lain yang tak berdosa. Jangan jadi pengecut !!" bentak Arjuna seraya menghajar Doni yang sudah babak belur.


Doni hanya sesekali melawan Arjuna. Secara kekuatan tentu ia kalah jauh dari suami Bening jika urusan bela diri. Sebab Arjuna termasuk salah satu pemegang sabuk hitam. Alhasil urusan adu otot seperti ini, Doni kalah telak dari Arjuna.


"Sial !!" umpat Arjuna dalam hati saat menatap Doni yang sepertinya pingsan kembali setelah menerima beberapa bogeman mentah darinya.


"Seret dia ke penjara. Dan bersihkan tempat ini!" titah Arjuna pada anak buahnya.


"Siap, Ndan."


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2