Bening

Bening
Bab 37 - Langkah Awal


__ADS_3

Satu bulan berlalu,


Kondisi Bening secara fisik sudah cukup pulih pasca melahirkan. Namun tidak dengan mentalnya. Kesedihan dan keterpurukan hingga kesendirian membuat mentalnya cukup down.


Hingga kini ia belum juga mengunjungi makam putranya. Bukan karena tak ingin, tetapi kondisi mentalnya yang tak memungkinkan serta larangan dari sang dokter.


Dokter Gunawan yang menangani Bening sewaktu melahirkan sekaligus orang yang membiayai terlebih dahulu biaya persalinan Bening, menyarankan pada Bening untuk berkonsultasi pada seorang psikiater kenalannya. Ia pun merekomendasikan seorang psikiater wanita bernama Dokter Heni.


Bening pun tinggal di rumah dokter spesialis kejiwaan tersebut untuk sementara waktu. Dikarenakan rasa tak tega pada Bening sehingga Dokter Heni mau menampungnya.


Dokter Heni (45 tahun) seorang janda tanpa anak. Suaminya meninggal tiga tahun lalu akibat kecelakaan. Selain menjadi seorang psikiater, Heni juga bekerja sebagai dosen di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.


"Minggu depan ada penerimaan mahasiswa baru di UGM melalu tes dari jalur prestasi. Bukankah sepintas aku lihat nilai akademikmu cukup bagus dan pernah juara satu lomba karya ilmiah juga. Ada beberapa jurusan yang sepertinya cocok untukmu. Apa mau coba?" tanya dokter Heni dengan lembut.


"Apa orang sakit jiwa seperti saya masih bisa kuliah, Dok?" tanya Bening lirih.

__ADS_1


"Hei, siapa bilang orang yang pernah mengalami gangguan mental lalu dia sembuh lantas tidak boleh bersekolah. Tentu saja boleh-boleh saja. Selama ada keinginan kuat dari dirinya sendiri untuk melawan rasa insecure tersebut sekaligus memberitahukan pada dunia bahwa dirinya mampu menjadi yang terbaik. Sah-sah saja," tutur Dokter Heni meyakinkan Bening.


*insecure\=rasa tidak percaya diri


"Saya belum sembuh benar, Dok."


"Kesembuhan akan datang dengan sendirinya jika kita mau dan yakin bahwa kita pasti sembuh. Jika kamu banyak bersosialisasi dengan banyak teman di kampus pasti nanti kamu akan hidup menjadi Bening yang tegar dan lebih maju," saran Dokter Heni.


"Tapi Dok_ "ucapan Bening terpotong.


"Jangan terlalu sering melihat masa lalu. Yang ada kita tidak maju-maju. Lepaskan beban di hatimu. Berdamailah Bening. Minimal berdamai dengan dirimu sendiri sebelum pada orang lain," tutur Dokter Heni.


"Berdoalah pada Sang Pencipta agar aib kita ditutup serapat mungkin dari manusia-manusia yang berniat jahat pada diri kita. Kamu harus percaya akan kekuatan doa. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini asal kita mau terus berusaha dan berdoa. Selebihnya, pasrahkan pada takdir dari Allah."


"Banyak di luar sana orang yang sukses tetapi punya masa lalu yang sangat buruk. Bahkan lebih buruk dari takdirmu, Bening. Tetapi mereka mampu bangkit dari keterpurukannya. Ikhlaskan kepergian bayimu. Dia sudah mendapat tempat terbaik di sisiNya. Aku letakkan brosurnya di meja makan. Jika kamu mau, maka bacalah dan segera tentukan pilihanmu. Namun jika memang kamu tidak mau, buang saja ke tempat sampah!" ucap Dokter Heni dengan nada tegas seraya berjalan pergi kembali ke kamarnya guna istirahat.

__ADS_1


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


Satu jam berlalu,


Bening yang tidak bisa tidur di dalam kamarnya, terus membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang. Ia terngiang-ngiang dengan segala nasehat dari Dokter Heni padanya. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar dan menuju ruang makan.


Sebuah brosur penerimaan mahasiswa baru UGM pun terpampang nyata di atas meja makan. Ia pun duduk lalu membacanya. Sebuah helaan nafas panjang keluar dari bibir Bening.


"Aku pasrahkan takdirku padamu ya Allah. Semoga engkau mudahkan segala urusan hamba. Amin..." batin Bening berdoa.


Setelah itu, ia kembali ke kamar membawa brosur tersebut dan mempersiapkan segala dokumen yang diperlukan untuk mendaftar kuliah esok hari.


Sedangkan di sudut ruangan, Dokter Heni yang mendengar suara pintu kamar Bening terbuka, maka ia memutuskan membuka sedikit pintu kamarnya. Dari celah tersebut ia bisa melihat segala hal yang dilakukan Bening di meja makan.


Sebuah senyuman terbit tatkala melihat Bening membawa brosur yang ia letakkan sebelumnya di sana. Dokter Heni yakin akan kemampuan Bening. Sehingga ia terus berusaha meyakinkan gadis belia itu untuk bangkit dan menata masa depannya yang masih panjang.

__ADS_1


"Good luck, cantik. Aku pasti bantu kamu," batin Dokter Heni seraya tersenyum bahagia menatap Bening dari kejauhan.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2