
"Kamu.. " cicit Stella sedikit ragu bahwa wanita muda di hadapannya ini adalah tunangan Arjuna, mantan kekasihnya.
"Maaf, tadi saya enggak sengaja. Apa Anda, Kak Stella?" tanya Bening dengan sopan dan tersenyum.
Stella pun cukup terkejut karena wanita muda di depannya ini ternyata mengenalnya. Ia berusaha mengubah kembali mimik wajahnya dari yang datar menjadi tersenyum penuh arti.
"Kok kamu tahu namaku Stella? Atau jangan-jangan kamu fans aku dahulu ya saat aku jadi model," ucap Stella seraya kedua tangannya bersedekap di d@da.
Bening pun tetap tersenyum biasa melihat Stella berbicara panjang lebar menjelaskan dirinya sendiri.
"Aku sekarang sudah enggak jadi model lagi karena memang sedang sibuk di dunia bisnis. Maklum dunia bisnis lebih menguntungkan daripada jadi model," ucap Stella dengan nada pongahnya.
"Maaf kak, aku enggak tahu kalau Kak Stella mantan model," jawab Bening apa adanya.
"Lantas kamu kenal dan tahu aku dari mana?" tanya Stella dengan nada sedikit membentak seakan tak terima.
Ia merasa dahulu dirinya adalah model terkenal. Padahal faktanya Stella memang seorang mantan model tetapi bukan yang kategori famous. Sehingga tak salah jika Bening tak mengenalnya sebagai mantan model ternama.
Mimik wajah Stella pun berubah menjadi tatapan tajam pada sosok Bening yang ia yakini calon istrinya Arjuna.
"Aku tahu dari Mas Arjuna, calon suamiku."
"Arjuna siapa?" tanya Stella bermaksud pura-pura tidak kenal atau lupa dengan Arjuna yang dimaksud Bening.
__ADS_1
"Mantan pacar Kak Stella, Mas Arjuna Sabda Mahendra. Apa Kak Stella punya mantan pacar yang bernama depan Arjuna lebih dari satu orang?" tanya Bening dengan tetap tenang.
Skakmat !!
"Sial! Pintar juga berbicara wanita lugu ini," batin Stella meradang.
"Ehem... "
Stella pun berdehem dan berusaha menormalkan kembali kemarahannya pada Bening yang sudah berada di puncak ubun-ubunnya. Sebab Bening berhasil menyindir dan memojokkan dirinya.
"Oh, Arjuna. Mantan kekasihku yang sangat memujaku itu. Bahkan hubungan asmara kami ditentang oleh ibunya. Tetapi karena cinta Arjuna yang menggebu padaku, maka ibunya pun dilawan. Kamu tahu Arjuna sangat memuji kecantikanku serta rasa tubuhku yang pastinya candu baginya. Kamu tahulah pergaulan jaman sekarang. Jadi bukan hal tabu lagi jika kita melakukan hubungan seperti itu sebelum pernikahan," ucap Stella sengaja memanas-manasi Bening.
Padahal faktanya Arjuna tak pernah berhubungan badan dengan Stella. Jika sekedar ciuman tentu saja pernah mereka berdua lakukan. Dan tak lebih dari itu.
Stella tersenyum devil melihat ekspresi Bening. Dirinya semakin yakin wanita muda di hadapannya sekarang telah mati kutu. Dan cemburu mendengar kemesraan dirinya dengan Arjuna yang sengaja ia buat-buat alias fiktif belaka.
Stella seakan melambung tinggi berada di atas awan. Merasa memenangkan pertarungan sengit antara calon istri dan mantan kekasih Arjuna. Yang pastinya dirinya yakin akan keluar sebagai pemenangnya.
"Dasar sok jadi suhu tadi. Banyak bicara eh sekarang diam membisu! Kalau cupu ngaku saja cupu!" batin Stella mengolok-olok Bening yang masih terdiam.
"Apa Kak Stella tahu jumlah tahi lalat di ular megalodon Mas Juna?" tanya Bening seraya menatap Stella dalam kondisi tenang.
"Hah! Maksudmu?" tanya Stella yang terkejut.
__ADS_1
"Aku tak marah Kak Stella pernah melakukan hal itu dengan Mas Juna. Karena memang Mas Juna sendiri pun melakukan hal yang sama padaku. Bahkan kami saling menghitung tahi lalat di tubuh masing-masing setiap sebelum melakukannya. Siapa tahu ada penambahan," cicit Bening tersenyum tipis.
"Brengsek!" maki Stella dalam hati.
Bening pun mengulum senyum melihat tingkah dan tatapan mata Stella yang berbohong tentang kisah masa lalu Arjuna. Bening bukan wanita bo-doh yang tak bisa membaca situasi.
Sang Papa sudah menyekolahkan dirinya dahulu sejak remaja di sekolah kepribadian yang sangat mahal dan bonafit di Jakarta. Mempersiapkan menjadi istri seorang perwira polisi.
Sehingga membaca gelagat Stella dan kebohongan mantan kekasih Arjuna yang ada di depannya sekarang ini, tidak sulit bagi seorang Bening.
Maka suatu kebohongan seperti yang Stella lakukan padanya sekarang, pantas dibalas dengan kebohongan yang lebih elegan. Memukul mundur lawan hingga tak berkutik. Itu yang dipelajari Bening.
"Tentu saja aku tahu. Tahi lalat Arjuna di sana ada dua buah. Justru aku pernah bilang padanya cocok ada dua. Satu milikku dan satu lagi miliknya. Pas kan sepasang. Sungguh romantis sekali saat kita berpacaran dulu. Apapun yang Arjuna minta pasti aku turutin dengan senang hati."
"Ternyata calon istri Arjuna termasuk wanita murah an! Aku pikir kamu wanita baik-baik ternyata sama saja," cicit Stella menyindir Bening.
"Tentu saja saya berbeda dengan Kak Stella yang mau melakukan hal itu tanpa adanya sebuah ikatan yang sah. Jika Mas Arjuna yang meminta saya melakukan hal itu padanya tentu saya wajib melakukannya. Berdosa bila saya menolaknya. Karena yang memintanya suami saya sendiri."
"Maaf jika harus saya buka di sini. Bahwa saya dan Mas Arjuna bukanlah calon suami istri. Melainkan kita berdua sudah sah menjadi suami istri. Acara lamaran kami yang berlangsung privat di Yogyakarta tempo lalu, itu sekaligus acara pernikahan siri kami. Jadi perayaan pernikahan kami di Jakarta setelah ini hanya formalitas semata untuk sah secara negara dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan sahabat serta kolega kami di sini," ucap Bening dengan tegas dan tenang.
"Satu hal lagi yang perlu Kak Stella tahu bahwa jumlah tahi lalat ular megalodon Mas Juna cuma ada satu. Yakni milik Bening Putri Prasetyo seorang. Semoga Kak Stella selalu mengingat hal itu dengan baik! Saya permisi dulu," ucap Bening seraya berpamitan dan masuk ke dalam butik.
"Sialan! Lihat saja Arjuna pasti bisa aku rebut kembali," batin Stella menggerutu.
__ADS_1