Bening

Bening
Bab 53 - Push Up


__ADS_3

"Sebenarnya, Mas Ar_juna... itu_" ucapan Bening terpotong.


Ceklek...


Derit pintu ruang keluarga dibuka kasar oleh dua orang yang tengah ngos-ngosan.


"Mas Arjuna," cicit Bening lirih.


"Arjuna," panggil Papa dan Ibu.


"Junet!" pekik Ayu terkejut melihat kedatangan Arjuna.


"Eh, bujang lapuk ikut ke sini juga. Kalian berdua ngapain ngos-ngosan begitu? Enggak mungkin dari Jakarta ke Yogyakarta kalian lari maraton kan?" tanya Ayu heran melihat keduanya tengah mengatur nafas dan cukup berkeringat.


"Ya enggak mungkin kita berdua lari maraton dari Jakarta ke Yogyakarta. Aneh-aneh saja kamu. Bisa pingsan duluan sebelum bertemu pujaan hati," ucap Bayu tanpa tedheng aling-aling seraya mengatur nafasnya.


"Pujaan hati Arjuna?" tanya Ayu bingung.


"Ya pujaan hati Arjuna sendiri. Pujaan hatiku juga beda lah. Masak Arjuna saja yang mau bertemu pujaan hatinya. Aku kan juga pengin," cicit Bayu seraya tersenyum kecil.


"Jangan buat bocah bingung Bay. Pengin apa? Yang jelas kalau ngomong. Entar dikira kamu pengin bikin PHP anak orang saja," ucap Arjuna seraya terkekeh.


"PHP apaan sih?" tanya Ayu mendadak lemot.


"Penjamin Hidupmu Pasti," ucap Bayu mengulum senyum.


"Uhuk-uhuk," Bayu berpura-pura terbatuk dan tersenyum kecil.


"Dasar bujang lapuk menebarkan rayuan maut," kekeh Arjuna seraya menoyor kepala Bayu.


Ayu tersipu malu mendengar ucapan Bayu barusan.


Keduanya pun berjalan menuju Papa Bening dan Ny. Lina berada. Arjuna dan Bayu tak lupa menyalami keduanya penuh dengan hormat. Setelah itu Arjuna dan Bayu pun memberi hormat ala militer pada Papa Bening lalu keduanya pun duduk.

__ADS_1


Ya, Arjuna langsung bertolak dari Jakarta menuju Yogyakarta dengan memesan tiket pesawat sore hari setelah urusan kedinasannya selesai. Sebelumnya, Arjuna dikabarkan oleh Pak Tikno bahwa Bening tanpa sengaja berjumpa dengan Ayahnya di acara kampus.


Lalu Arjuna menyuruh Pak Tikno mengawasi dari jauh kegiatan Bening dengan Papanya. Kebetulan hari ini adalah Jumat dan akhir pekan Arjuna tengah libur dinas.


Bayu pun yang dalam kondisi libur dinas, langsung menerima ajakan Arjuna untuk bertandang ke Yogyakarta. Bayu pun tak menolak sebab dirinya juga tengah rindu dengan seseorang di sana.


Bayu sudah mengetahui bahwa Bening masih hidup dan bayi sahabatnya ini meninggal dunia sebelum dilahirkan. Arjuna telah mengabari Bayu tentang Bening yang masih hidup dan ditemukan di Yogyakarta, sejak Arjuna kembali ke Jakarta setelah bertemu Bening di pemakaman.


Alhasil saat Arjuna mendadak darurat harus pulang kampung ke Yogyakarta maka Bayu pun menerima ajakan sahabatnya itu dengan senang hati.


"Maafin Juna Pah, Bu. Bukan maksud Arjuna menyembunyikan Bening. Kami juga baru bertemu beberapa waktu lalu saat peringatan hari kematian Ayah. Tanpa sengaja Arjuna bertemu Bening menangis di pusara bayi kami. Sekali lagi maafkan kami Pah, Bu."


Arjuna memohon maaf pada Papa Bening dan ibunya dengan tulus.


"Itu semua permintaan Bening, Pah. Bening masih belum siap bertemu dengan Papa. Bening masih butuh waktu. Jadi memaksa Mas Arjuna untuk tutup mulut," ucap Bening.


"Dasar anak nakal. Tega-teganya sembunyikan Bening dari kami!" ucap Ny. Lina dengan nada ketus seraya menjewer telinga Arjuna.


"Aduh... duh... sakit Bu."


"Rasain! Haha... " batin Bayu senang menatap Arjuna dimarahin ibunya.


"Maafin Juna, Pah."


"Kalian berdua push up di depan 300 kali. Papa tunggu sekarang!" perintah Komjen Pol Prasetyo Pambudi pada Arjuna dan Bayu dengan penuh ketegasan dan mimik wajah datar tanpa senyum sama sekali.


"Astaga! Nasib-nasib. Kenapa aku selalu sial begini kalau sama kulkas delapan pintu ini sih! Ayu tolongin aku dong," batin Bayu menjerit.


Senyum meledek pada Arjuna yang ia lakukan sebelumnya seketika surut. Sebab dirinya terkena imbas turut serta menyembunyikan fakta bahwa Bening masih hidup. Alhasil dirinya ikut dihukum push up oleh sang Komandan alias Papa Bening.


Arjuna yang memang tidak masalah dengan hukuman dari Papa Bening, maka ia terima dengan senang hati. Selama ia masih diperbolehkan bersama putrinya. Sebab cintanya sudah terpatri hanya untuk Bening seorang.


"Siap laksanakan, Ndan."

__ADS_1


"Ayo, Bay. Jangan lemes gitu. Kan tadi sudah isi tenaga," ujar Arjuna tersenyum seraya mengajak Bayu ke depan.


"Tenaga apaan? Cuma minum air putih sama roti kecil satu buat ganjel perut. Mana cukup!" ucap Bayu dengan nada sewot pada Arjuna.


"Sudah. Ayo ke depan segera. Sebelum ditambah hukuman jadi 500. Mau kamu?" ledek Arjuna.


Papa Bening sudah berdiri dan melangkah pergi menuju halaman depan rumah Arjuna yang tidak jauh dari parkir mobilnya.


Bening dan Ayu serta Ny. Lina hanya tertawa kecil melihat Papa Bening menghukum Arjuna dan Bayu. Ayu justru tertawa terbahak-bahak meledek Bayu dan Arjuna.


"Tambahin saja hukumannya, Ndan. Kalau perlu push up sampai pagi. Haha..." kelakar Ayu seraya tertawa.


"Jangan dong, Yu. Kasihan entar mereka berdua bisa encok. Emang kamu mau mijetin kalau mereka encok nantinya gara-gara dihukum Papa sampai pagi?" tanya Bening seraya terkekeh.


"Idih... males banget. Apalagi sama si bujang lapuk teman si Junet. Pasti punggungnya kudisan penuh kurap. Ih..." ucap Ayu bergidik ngeri.


Akhirnya hukuman keduanya selesai dan mereka pun berkumpul kembali ke ruang keluarga guna membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.


"Apa? Lamaran, Pah?" tanya Bening cukup kaget.


"Iya. Lusa kalian lamaran di kota ini. Nanti biar Papa dan Ibunya Arjuna dibantu calon suamimu yang menyiapkan semuanya. Papa ingin lusa kalian berdua sudah melangsungkan lamaran. Dan bulan depan kalian sudah resmi menikah," ucap Komjen Pol Prasetyo Pambudi dengan tegas dan penuh wibawa.


"Siap laksanakan, Ndan."


Arjuna pun mantap menjawab. Bening yang masih terkejut kemudian menatap Arjuna. Sontak Arjuna pun mengedipkan mata padanya. Sengaja menggoda.


Bayu yang melihat hal itu pun meledeknya.


"Tahan pandangan kalian. Belum muhrim. Nanti takutnya yang ketiga setan," cicit Bayu.


Bayu yang duduk tak jauh dari tempat Ayu berada, sontak terkejut. Sebab sebuah bantal tiba-tiba melayang ke wajah gantengnya dari sang pujaan hati yang diam-diam namanya sudah tersemat di relung hatinya.


"Iya. Setannya kamu," bisik Ayu dengan nada ketus.

__ADS_1


"Astaga. Sabar Bay. Jinakkin merpati satu ini memang susah-susah gampang. Butuh perjuangan ekstra sabar. Semoga Pak Sabar masih bisa sabar," batin Bayu menatap Ayu yang membalas tatapannya dengan sengit dan sorot mata tajam.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2