Bening

Bening
Bab 118 - Bersimbah Darah dan Tangis


__ADS_3

Satu hari sebelum hari kematian Papa Bening.


"Buk," panggil Dewa.


"Iya, Aa. Ada apa?" tanya Titin.


"Ibu tahu flashdisk punya Bu Guru yang aku pinjam kapan hari?" tanya Dewa seraya kebingungan mencari sesuatu.


"Flashdisk yang isinya video dan foto kamu juara satu lomba di sekolah itu?" tanya Titin seraya mengingat-ingat.


"Betul, Buk. Kok enggak ada ya. Sudah Dewa cari di kamar ibu tapi enggak ketemu. Terakhir seingat Dewa, ada di kamar ibu. Kalau enggak salah waktu ada Ayah ke sini. Kan Dewa mau pamerin video dan foto saat Dewa terima piala dan sertifikat di sekolah," ujar Dewa.


"Oh iya, Ibu ingat. Yang kita sempat nonton rame-rame di laptop Ayah waktu itu kan?" tanya Titin kembali.


"Iya, betul Buk. Dewa sengaja pinjam ke Bu Guru buat tunjukin ke Ayah. Terus Dewa lupa kembalikan. Tadi di sekolah Bu Guru tanyakan. Tapi Dewa cari-cari kok enggak ketemu," cicit Dewa lesu.


"Ayo ibu bantu cari di kamar," ajak Titin menggandeng Dewa.


Keduanya mencari ke seluruh penjuru kamarnya maupun rumah tapi tak menemukan juga. Saat Titin beranjak ke teras rumah berniat melihat Dimas, putra keduanya yang tengah asyik bermain sendiri dengan dunianya ditemani kotak kardus yang berisi beberapa mainan sederhana yang harganya hanya seribu hingga dua ribu perak, ia terkejut kala Dimas membawa sebuah flashdisk berwarna hitam dalam genggaman tangannya.


"Aa... Aa... coba sini," panggil Titin setengah berteriak.


"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Dewa yang bergegas ke depan.


"Coba Aa lihat yang dipegang Dedek. Apa itu flashdisk punya Bu guru Aa?" tanya Titin seraya menunjuk pada Dimas.


Dewa pun menatap sang adik tengah memegang sebuah flashdisk. Akhirnya ia berjalan mendekati adiknya, lalu ia rayu sedemikan rupa. Sebab Dimas tetap kekeh memainkan flashdisk itu dan tak mau melepasnya.


Lantas Titin membawakan biskuit coklat favorit Dimas untuk merayu putra keduanya yang memiliki kebutuhan khusus tersebut. Dan berhasil. Namun saat flashdisk sudah ada di genggaman tangannya. Seketika...


"Bukan flashdisk punya Bu guru, Buk. Soalnya punya Bu guru, Dewa ingat ada garis putihnya di sini. Tapi ini enggak ada. Walaupun warnanya sama-sama hitam," tutur Dewa.


"Terus itu punya siapa, Aa?" tanya Titin yang dilanda kebingungan.


"Enggak tahu, Buk. Ehm, coba kita lihat dulu. Aa pinjam laptop Kang Sobri sebentar," cicit Dewa seraya berpamitan.


"Hati-hati Aa," ucap Titin yang diangguki oleh Dewa.


Setengah jam kemudian, Dewa kembali ke rumah membawa laptop milik Kang Sobri, tetangga baik mereka yang jarak tempat tinggalnya lumayan dari rumah mereka. Lantas ia langsung memasang flashdisk yang dimainkan oleh adiknya tadi.


Bersama sang ibu ia melihat isi video tersebut. Sedangkan Dimas sudah tertidur pulas di atas ranjang dengan botol susu berada dalam mulutnya.


Saat video tersebut dibuka, keduanya tertegun melihat isi video. Terdapat seorang wanita muda dengan seorang laki-laki muda nan gagah memakai seragam cokelat sama persis seperti yang Ayahnya juga pakai saat dinas kerja.


Hanya berbeda lencananya saja. Jika lelaki dalam video tersebut memiliki lencana 3 persegi panjang emas. Sedangkan sang Ayah 2 zigzag perak yang menyerupai huruf M yang lebar. Yang menandakan bahwa lelaki dalam video tersebut memiliki pangkat lebih tinggi daripada sang Ayah. Walaupun sepintas terlihat usianya tak jauh beda dari Ayahnya.

__ADS_1


Saat lelaki muda itu mulai melakukan adegan ciuman paksa pada wanita belia di hadapannya, sontak kedua tangan Titin langsung menutup mata putra sulungnya.


"Jangan dilihat Aa. Belum boleh," ujar Titin yang diangguki oleh putra sulungnya itu.


Titin pun menyaksikan seluruh isi video dalam flashdisk tersebut. Menurut kesimpulannya, bahwa wanita muda itu dirudapkasa oleh lelaki berseragam coklat yang ada di dalam video. Tetapi siapa mereka, Titin tak mengenalnya.


"Apa flashdisk ini milik Akang? Mungkin saja Akang lagi menangani kasus besar tindakan asusila. Terus flashdisknya ketinggalan. Aku harus hubungi Akang segera. Akang pasti kebingungan mencari flashdisknya," batin Titin.


Setelah video itu usai, ia pun menjelaskan pada Dewa bahwa flashdisk tersebut milik Ayahnya. Kemungkinan flashdisk milik guru Dewa ikut terbawa bersama Ayahnya ke Jakarta secara tak sengaja tertukar. Sepertinya karena warna dan bentuk flashdisk yang hampir sama. Dewa pun paham akan penjelasan ibunya.


"Kenapa dari tadi ponsel Akang enggak aktif? Apa sedang sibuk?" cicit Titin yang bertanya-tanya dan dilanda cemas. Sebab mulai dari siang hingga malam menghubungi suaminya, namun ponsel Doni dalam kondisi tidak aktif.


Doni memang sengaja ketika berada di Jakarta, ia akan jarang mengaktifkan ponsel khusus keluarganya karena ia tak mau diganggu oleh Titin. Dan berganti mengaktifkan ponsel lainnya yang tidak diketahui oleh Titin.


"Ya sudah kalau begitu besok pagi aku berangkat ke Jakarta saja. Kasihan Akang kalau bingung nyari flashdisk ini," cicit Titin.


Keesokan harinya tepat di hari Jumat setelah salat Subuh, Titin dan kedua putranya pergi ke Jakarta dengan naik bus. Ia tak mungkin meninggalkan kedua putranya di rumah. Sebab tak ada yang menjaganya.


Setibanya di Jakarta, ia mencoba menghubungi ponsel suaminya. Tetap hasilnya nihil. Dan ia mencoba telepon ke nomor kantor kesatuan dinas suaminya. Disampaikan bahwa sang suami tengah libur dinas hari ini.


Titin dan kedua putranya langsung menuju rumah dinas suaminya. Setibanya di sana, ia dan putranya begitu terkejut mendengar teriakan seorang wanita yang tengah bertengkar hebat dengan sang suami.


Titin melepas Dimas yang sebelumnya berada dalam gendongannya. Ia melangkah perlahan mendekat ke arah pintu rumah dinas suaminya yang belum tertutup sempurna. Dewa pun mengekori sang ibu dan keduanya mendengar pertengkaran yang akhirnya membuka kedok Doni yang tersimpan rapat selama ini dari anak dan istrinya.


"Enggak !! Itu pasti bukan anakku. Kita sudah pacaran lama, Mia. Dan selama ini kamu enggak pernah hamil karena pakai pencegah kehamilan kan. Lagipula kita sudah lama enggak tidur bareng. Kamu pasti melakukan itu dengan orang lain terus minta tanggung jawab ke aku. Huh, enak saja!" ucap Doni tak terima.


"Ini buktinya, Mas. Usia kandunganku sama dengan terkahir kamu menyentuhku. Ini anak kamu. Nikahin aku atau aku bongkar perselingkuhan kita di depan anak istrimu di Garut. Bahkan di depan khalayak umum sekalian. Biar kamu malu dan dicopot dari institusimu!" ancam Mia.


"Sialan kamu, Mia! Dasar wanita murahan! Aku tetap gak akan tanggung jawab sama kamu!" bentak Doni seraya akan melangkah pergi.


Namun baru satu langkah, mendadak Mia mengambil pisau buah yang ada di dekat meja dan akan menusuk Doni.


"Laki-laki brengsek !! Kamu harus mati, Mas!" pekik Mia seraya akan menusuk Doni. Namun Doni yang sigap dan terlatih, akhirnya pisau yang akan menusuk Doni berbalik arah pada Mia tanpa sengaja dalam upaya melindungi diri dari serangan Mia terhadapnya.


Jlebb...


Pisau tersebut akhirnya mengenai perut Mia sendiri dan bersimbah darah. Tubuh Mia roboh seketika dan matanya terpejam. Doni terkejut bukan main. Sesungguhnya ia tidak berniat membunuh Mia. Dirinya hanya ingin melindungi diri. Namun pisau tersebut justru tanpa sengaja menusuk tubuh Mia.


Kini tangan Doni masih berada di pisau yang tertancap di perut Mia.


Kriettt...


Derit pintu rumahnya dibuka oleh seseorang secara perlahan. Secara otomatis dirinya langsung menoleh dan langsung terhenyak. Saat menatap di depan pintu berdiri sosok istri dan putra sulungnya yang berdiri mematung.


Saat tersadar, ia pun segera melepas pisau itu dan berlari ke arah Titin yang diam membisu dengan kondisi pipi yang sudah basah dengan air mata.

__ADS_1


"Akang enggak bunuh dia, Tin. Sumpah. Dia ketusuk sendiri. Akang hanya membela diri. Kamu harus denger dan percaya dengan omongan Akang," ucap Doni menjelaskan pada Titin kejadian yang terjadi antara dirinya dengan Mia.


Beberapa detik keheningan terjadi dan Titin pun akhirnya bersuara.


"Aku ke sini cuma mau kasih flashdisk punya Akang yang ketinggalan di rumah. Aku lihat isi flashdisk itu tetang lelaki yang berseragam seperti Akang merudapaksa seorang wanita muda. Aku pikir itu kasus besar yang sedang Akang tangani sampai sibuk di Jakarta. Lama tak pulang kampung. Ternyata justru aku yang terkejut di sini. Aku bela-belain datang sama anak-anak. Apa yang aku dapat di sini sungguh di luar dugaan. Akang selingkuh di belakang aku," ucap Titin dengan air mata yang setia menetes di pipinya.


Dewa hanya terdiam mematung tak jauh dari posisi Ayah dan Ibunya. Mendengar seluruh pembicaraan kedua orang tuanya. Bahkan kejadian bersimbah darah yang terjadi di rumah dinas Ayahnya pun tak luput dari pandangannya. Semua terjadi di depan mata kepalanya sendiri.


Anak usia tujuh tahun itu hanya diam dan memendam segalanya dalam hati. Sebagai anak, ia sangat kecewa karena sang Ayah ternyata berselingkuh di belakang ibunya. Hingga membuat ibunya menangis.


"Enggak, Tin. Aku cinta sama kamu dan anak-anak," ucap Doni seraya berlutut di kaki istrinya.


"Bohong! Aku udah enggak percaya lagi sama Akang."


"Dewa, berikan flashdisk itu ke Ayahmu. Lalu kita langsung pulang ke Garut!" perintah Titin dengan tegas pada putranya.


Tiba-tiba...


"Buk, flashdisknya enggak ada di tas." Dewa menjawab dengan kebingungan sebab tak menemukan flashdisk tersebut.


"Hah, kok bisa."


Titin dan Dewa langsung mencari di sekitar mereka dan seketika Titin teringat dengan putranya bungsunya, Dimas, yang tak terlihat di sekitarnya.


"Dimas ke mana, Aa?" tanya Titin mendadak cemas.


"Tadi Dedek di sebelah Aa. Kok sekarang enggak ada, Buk. Apa mungkin main di jalan?" cicit Dewa seraya bertanya-tanya.


Sontak ketiganya mendadak gelisah tak karuan dan langsung berlari keluar pagar guna mencari Dimas. Tiba-tiba tak jauh dari rumah dinasnya, ada kerumunan orang-orang yang berada di sekitar sebuah mobil sport hitam yang sepertinya ia kenali.


"Kok kayak mobil Della," batin Doni.


"Itu ada apa ya Kang, orang-orang pada bergerombol di sana?" tanya Titin semakin dihinggapi perasaan yang tak karuan.


"Enggak tahu, Tin. Ayok kita lihat," ujar Doni mendadak cemas namun ia juga penasaran yang terjadi di sana. Akhirnya ia mengajak istri dan putra sulungnya mendekati kerumunan warga tersebut.


Deg...


"Ya Allah. Dimas !!" teriak Titin histeris.


"Dedek !!" teriak Dewa.


"Dimas !!" teriak Doni tak kalah histerisnya kala melihat putra bungsunya yang sangat spesial di matanya dan ia sayangi sepenuh hati, bersimbah darah tergeletak di dekat ban mobil.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

__ADS_1


__ADS_2