Bening

Bening
Bab 114 - Hadiah Terindah


__ADS_3

Selang satu hari setelah kepergian Dokter Heni meninggalkan kota Jogjakarta, Arjuna sengaja mengambil cuti untuk datang ke kota kelahirannya itu karena ujian Bening telah selesai dan bertepatan besok adalah ulang tahun Papa mertuanya, yakni di hari Jumat.


"Hoek...hoek...hoek..."


Arjuna yang tengah tertidur pulas pun langsung terkejut mendengar suara seseorang mual-mual di kamar mandi. Alarm tubuhnya langsung bereaksi cepat baik pendengaran maupun tangannya meraba-raba di sebelahnya sebelum matanya terbuka sempurna.


Ternyata Beningnya sudah tidak ada di sampingnya. Ia pun langsung meloncat secara tangkas setelah matanya terbuka dengan lebar lantas membuka secara kasar pintu kamar mandi yang secara kebetulan tidak dikunci.


Sontak Arjuna pun terkejut melihat sang istri tengah berjongkok di depan closet dan muntah-muntah di sana.


"Yank, kamu kenapa?" tanya Arjuna yang kentara cemasnya sambil memijit tengkuk Bening dan menyibakkan rambut sang istri agar tak mengganggu.


Beningpun yang tengah memejamkan matanya lantas membuka mata dan kepalanya menoleh ke samping. Sontak mual yang menderanya langsung mendadak hilang. Kala melihat si megalodon yang membuatnya lemas-lemas semalam, secara terbuka berada tepat di depan wajahnya.


"Aaa... Mas Juna! Ih, jorok banget. Itu megalodonnya kenapa diumbar-umbar. Memangnya pajangan flash sale apa!!" pekik Bening seraya tangannya memukul pahaa suaminya.


"Aucchh... maaf yank, lupa. Hehe..." cicit Arjuna nyengir tanpa dosa.


"Dasar !! Buruan disarungin tuh megalodon. Kalau ada yang lihat gimana, coba. Minta aku potong jadi dadu kecil apa dicacah jadi perkedel !!" gerutu Bening.


"Astaga kejamnya, istriku. Padahal semalam minta dinina boboin sama megalodon sekarang malah nolak-nolak. Nanti kalau megalodonnya pulang ke Jakarta, kangen berat loh," ledek Arjuna.


"Tau ah, gelap !!" gerutu Bening yang masih menatapnya tajam.


"Oke-oke. Komandan menyerah. Siap calon Bu Kombesku sayang. Komandan siap laksanakan perintah Ibu negara. Jangan ngambek dong, yank. Toh di kamar sendiri. Siapa juga yang lihat. Palingan para pembaca othor tidak solehot yang penasaran," cicit Arjuna membela diri.


"Huss... ngawur kamu, Mas! Pembaca othor tidak solehot itu semuanya budiman. Cuma othornya saja yang perlu diajak ruqyah. Haha..." cicit Bening.


"Terserah kalian saja lah. Othor mode pasrah dan kibarkan bendera putih," cicit othor tidak solehot lagi duduk sambil makan kuaci di toko Abah.


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


Ketika sarapan pagi, Ny. Lina menyarankan Arjuna dan Bening untuk periksa ke dokter kandungan. Mertuanya ini berfirasat sang menantu tengah berbadan dua.

__ADS_1


"Kalian coba cek ke dokter. Ibu yakin kalau Bening hamil. Sudah satu minggu lebih, ibu lihat mual terus," tutur Ny. Lina.


"Iya, Bu. Setelah sarapan, Juna bawa Bening periksa. Doakan positif ya, Bu." Arjuna meminta doa pada sang ibu.


"Pasti ibu doakan. Toh Papa mertuamu dan ibu sudah mengharapkan kehadiran cucu dari kalian. Biar rumah tambah rame dengan tangis bayi," tutur Ny. Lina tersenyum sumringah.


Bening dan Arjuna pun membalas dengan senyum ceria dan berharap semoga hasilnya tidak mengecewakan para orang tua mereka.


Selepas sarapan, Arjuna dan Bening pun pergi ke rumah sakit. Kebetulan rumah sakit yang mereka datangi tersebut juga tempat Dokter Heni praktek.


"Selamat ya Pak Arjuna, istri Anda positif hamil. Usia kandungannya saat ini menginjak delapan minggu," ucap sang dokter wanita.


"Alhamdulillah. Jadi saya beneran akan jadi Ayah, Dok?" tanya Arjuna kembali guna meyakinkan.


"Benar, Pak Arjuna. Tolong dijaga kandungan istri Anda, karena masih trisemester pertama rentan keguguran. Tidak boleh stres dan selalu berhati-hati. Sementara tidak boleh membawa barang-barang yang terlalu berat bobotnya. Terlebih saya mengecek history sebelumnya di rumah sakit ini bukan kehamilan yang pertama untuk istri Anda. Sebab pernah mengalami keguguran sebelumnya. Jadi mohon lebih hati-hati dan dijaga dengan betul terutama ibu harus bahagia walaupun saya cek kondisi janin saat ini kuat dan sehat," ucap dokter wanita.


"Baik, Dok."


Keduanya berpelukan erat dan menangis bersama. Namun kali ini adalah tangis bahagia. Sang dokter pun yang memahami, membiarkan pasutri muda di depannya ini meluapkan kebahagiaannya.


"Baik-baik di perut Mama ya sayang. Jangan nakal di dalam sana. Jangan bikin Mama kesakitan ya. Cukup sakitnya pindah semua ke Papa saja. Enggak apa-apa. Dengan senang hati Papa terima. Harus nurut dan cinta Mama banyak-banyak ya sayang," cicit Arjuna seraya mengelus dan mencium perut sang istri, masih di hadapan dokter kandungan dan suster yang membantu pemeriksaan Bening.


"Mas, malu ih sama dokter dan suster." Beningpun menyenggol suaminya.


"Hehe...maaf ya Dok, Sus. Maklum saya terlalu bahagia karena mau jadi seorang Papa kembali," ucap Arjuna meminta maaf.


"Enggak apa-apa, Pak Arjuna. Saya paham betul. Ini saya resepkan obat anti mual dan juga penguat kandungan. Karena tadi istri Anda mengeluh mual-mual yang cukup sering. Hal itu masih wajar, yang penting jangan lupa tetap jaga asupan. Porsi sedikit enggak apa-apa asal sering. Karena jika terus keluar muntah tapi minim asupan, tentunya akan mempengaruhi janin dan daya tahan tubuh ibunya juga," tutur sang dokter menjelaskan.


"Baik, Dok. Saya paham. Kalau tentang hal krusial menyangkut hajat hidup saya bagaimana, Dok? Ehm, maksud saya tentang durasi bemandi keringat bersama istri serta gaya apa yang cocok dan aman?" tanya Arjuna tanpa dosa.


"Masshhh..." gerutu Bening seraya mencubit lengan sang suami. Dirinya sungguh malu. Di depan dokter wanita, Arjuna menanyakan hal seperti ini. Rasanya ia ingin menenggelamkan diri ke dalam kubangan lumpur saja.


"Nyonya Bening tidak perlu sungkan. Hal seperti ini biasa saya terima saat menangani pasien-pasien terutama yang mengalami kehamilan pertama atau pasangan muda yang masih jos-josnya. Hehe..." ucap sang dokter seraya tersenyum.

__ADS_1


"Maaf, Dok." Beningpun hanya bisa menunduk dan berkata lirih. Ia masih merasa sungkan jika membahas hal ta_bu dengan orang lain selain suaminya, walaupun dengan seorang dokter.


"Hal itu boleh dilakukan Pak Arjuna. Namun tidak boleh terlalu sering dan jangan dikeluarkan di dalam. Khawatir terjadi kontraksi palsu. Setelah saya melihat kondisi istri Anda, minimal jika ingin bercinta untuk trisemester pertama ini, dua minggu sekali. Nanti ketika sudah menginjak usia kandungan 5-6 bulan, durasi boleh ditingkatkan karena kandungan biasanya sudah cukup kuat. Namun tetap harus berhati-hati jika ingin melakukannya. Dan ketika menjelang Hari Perkiraan Lahir (HPL), baru disarankan sering berhubungan suami istri untuk memudahkan dedek bayi mencari jalan keluar yang bebas hambatan seperti jalan tol. Nah saat itu lah, tugas suami membuatkan jalannya agar dedek lancar keluar dan tidak tersesat," ucap sang dokter seraya tersenyum.


Dokter dan Arjuna pun masih sibuk membahas gaya yang cocok dan aman saat bercinta kala istri hamil. Hingga beberapa tips-tips yang lain. Bening pun hanya terdiam menyimak obrolan keduanya dan terus menunduk.


"Siap laksanakan, Dok." Arjuna pun menjawab dengan tegas dan lugas ala militer.


Sang dokter, suster dan Bening pun mengulum senyum melihat tingkah menggemaskan calon Papa yang satu ini.


Selepas menebus obat di apotik rumah sakit, Bening mendadak rindu dengan Dokter Heni dan ingin berjumpa sejenak. Arjuna pun mengizinkannya.


"Apa? Dokter Heni enggak kerja di sini lagi? Terus pindah ke mana, Sus?" tanya Bening terkejut dan terdengar sendu pada suster yang sedang bertugas jaga di ruangan Dokter Heni.


"Dokter Heni pindah ke Lombok. Kemarin berangkat ke sana bersama asistennya yang bernama Amel," jawab Suster tersebut yang memang mengenal kedekatan Bening dengan Dokter Heni sebelumnya.


"Fiuhh..."


"Baiklah, terima kasih banyak Sus."


"Sama-sama," jawab Suster.


Bening pun dengan langkah gontai meninggalkan rumah sakit. Arjuna pun ikut sedih mendengar Dokter Heni pindah. Namun dirinya tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menguatkan sang istri agar tidak terlalu bersedih.


Sebab kini di dalam rahimnya tengah bertumbuh calon jabang bayi mereka yang telah lama dinantikan sebagai pengganti putra pertama mereka yang telah meninggal dunia tempo lalu.


"Mama jangan sedih. Nanti Papa jadi ikutan sedih. Senyum dong, Ma. Nanti Papa janji deh kalau ada waktu yang tepat, kita berlibur ke Lombok ketemu Dokter Heni sekalian babymoon. Gimana, istriku?" tanya Arjuna.


"Makasih, Papa. Love you..." ucap Bening seraya memeluk erat Arjuna di mana keduanya masih berada di area rumah sakit. Mendadak Bening mengalami mood swing. Dari sedih karena Dokter Heni pindah ke Lombok, kini berubah ceria kembali dalam waktu singkat setelah sang suami menjanjikan mereka liburan ke Lombok.


"Dasar ibu hamil ! Tadi mewek sekarang ketawa-ketiwi denger babymoon ke Lombok. Bener kata Papa, aku harus banyak-banyak sabar menghadapi putrinya yang akan mendadak manja. Ibu hamil oh ibu hamil. Tujuh bulan lagi. Sabar, Jun." Arjuna pun membatin dengan menyemangati dirinya sendiri.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

__ADS_1


__ADS_2