
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali jam tujuh pagi, Komjen Pol Prasetyo Pambudi sudah duduk bersila di depan batu nisan besan sekaligus sahabatnya, yakni Kombes Pol Gatot Subekti Mahendra.
Ya, Papa Bening tengah duduk dan berdoa di depan makam mendiang Ayah Arjuna. Usai sebelumnya dirinya juga berkunjung dan berdoa di makam cucu pertamanya, yakni Putra Arjuna yang lokasinya tak jauh dari makam sang sahabatnya ini.
Taburan bunga memenuhi makam sang cucu dan saat ini juga pada makam mendiang Ayah Arjuna.
"Gatot, maaf lama tak berkunjung ke sini. Sekarang kita sudah jadi besan. Arjuna dan Bening sudah bersatu dan bahagia. Akhirnya hati kita lega bisa melepas bahagia untuk anak-anak kita mengarungi kehidupan rumah tangga. Tak lama lagi juga pasti Bening hamil cucu kedua untuk kita semua. Pasti nanti istrimu senang karena rumahmu ramai kembali dengan tangis bayi." Sebuah helaan nafas berat menyergap.
"Aku pamit dulu. Sudah kepalang rindu dengan Bening. Sampai jumpa lagi. Semoga aku masih ada waktu untuk berkunjung ke sini kembali," cicit Papa Bening.
Punggung pria tua yang masih sangat gagah walau usianya sudah setengah abad lebih itu pun berdiri dan meninggalkan area pemakaman menuju kampus Bening.
Sebelumnya, ia sudah mengetahui bahwa Bening tengah Ujian Akhir Semester (UAS). Sehingga jam sepuluh pagi, putrinya sudah selesai dengan ujiannya. Karena hari ini hanya ada satu mata kuliah saja yang sedang dikerjakan ujiannya.
Mobil Komjen Pol Prasetyo Pambudi sudah terparkir rapi di kampus Bening. Hari ini pun Bening secara kebetulan diantar ke kampus oleh Pak Tikno. Papa Bening sebelumnya sudah menyuruh Pak Tikno untuk pulang. Sebab Bening akan pulang bersamanya.
Saat langkah kaki Bening keluar dari gedung kampus, ia begitu terkejut melihat mobil Papanya sudah berada di depan lobby kampusnya. Menunggu dan menjemput dirinya.
"Papah," ucap Bening dalam jarak yang sudah cukup dekat.
Papa Bening hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Komjen Pol Prasetyo Pambudi hari ini memakai kaos polo warna putih polos dengan celana bahan warna hitam dan jaket kulit kesayangan pemberian kado dari putri tercintanya. Duduk depan pintu mobil bagian samping menatap sang putri yang berjalan semakin mendekat dengan tempatnya berdiri.
Dari tatapan putrinya itu, tentu saja Komjen Pol Prasetyo Pambudi tahu bahwa putrinya itu sangat terkejut melihat kehadirannya. Sebab, memang ia tidak menghubungi Bening ataupun Arjuna terlebih dahulu bahwa dirinya akan bertandang ke Jogjakarta. Sengaja ingin memberi kejutan.
"Papah," cicit Bening kembali saat sudah dekat.
"Surprise," ucap Papa Bening seraya tertawa kecil.
Senyum terus terpancar dalam rahang kokoh tersebut. Membuat Bening yang kaget melihat kedatangannya, pada akhirnya tersenyum bahagia.
"Papah bikin aku kaget saja. Kok ke sini enggak bilang-bilang dulu sih!" keluh Bening seraya memeluk erat Papanya.
"Sayang, ini masih di kampus loh. Enggak malu dilihatin sama teman-teman kamu itu di belakang," bisik Papa Bening seraya terkekeh.
"Biarin! Aku enggak peduli. Aku kangen Papah," cicit Bening lirih seraya matanya sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Papa juga rindu kamu sayang. Makanya Papa sengaja beri kejutan dengan datang ke sini, jemput kamu pulang kuliah. Gimana ujiannya? Lancar apa susah-susah soalnya?" tanya Papa Bening penuh perhatian.
Kasih sayang dan perhatian yang kini Bening terima dari sang Papa sungguh luar biasa. Setiap malam dirinya selalu mengucap syukur pada Allah SWT. Sebab hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati hambaNya.
Papanya yang dahulu sangat kaku, dingin dan tak pernah memberi perhatian padanya. Kini tak sungkan menunjukkan betapa Papanya ini begitu mencintai dirinya.
"Alhamdulillah lancar, Pah. Papah sehat?" tanya Bening melepaskan pelukannya lalu memicingkan tatapannya melihat raut wajah sang Papa yang tampak sedikit pucat namun terpancar sejuta kebahagiaan.
"Papa sehat sayang. Sangat sehat malahan. Ayo kita pergi ke suatu tempat terus makan siang. Pokoknya seharian ini kamu wajib temani Papa," ucap Papa Bening lalu membuka pintu dan menyuruh putrinya masuk ke dalam mobil.
Bening pun hanya mengiyakan sambil menatap aneh pada tingkah sang Papa yang tak biasa baginya. Riko pun sudah berada di samping supir. Lalu mobil mereka pun melaju meninggalkan area kampus UGM dan membelah kota Jogja untuk pergi ke suatu tempat.
☘️☘️
Untuk memecah keheningan di dalam mobil, Bening pun memutuskan bertanya sesuatu.
"Kita mau pergi ke mana, Pah?" tanya Bening.
"Suatu tempat. Pokoknya hari ini harinya Bening. Jadi Bening seharian ini milik Papa. Dan Papa milik Bening," ucap Papa Bening yang bersemangat seraya tersenyum menatap jalanan di depannya.
Sedangkan di sampingnya, Bening terus menatap wajah sang Papa penuh keheranan.
"Enggak. Kan surprise, sayang. Nanti setelah bermain, Papa anter kamu pulang ke rumah mertuamu sekalian Papa pamitan," ucap Papa Bening lugas.
"Papa pulang ke Jakarta besok?" tanya Bening kembali.
"Iya. Karena lusa pagi Papa ke Lampung tiga hari. Setelah itu baru pulang lagi ke Jakarta," jawab Papa Bening.
"Oh, begitu."
Bening pun tiba-tiba menyandarkan kepalanya pada pundak sang Papah. Komjen Pol Prasetyo Pambudi pun yang langsung tanggap, lantas memeluk sang putri dengan erat. Bahkan ia mencium kening Bening penuh cinta.
"Ngantuk?" tanya sang Papa.
"Iya, Pah. Gak tahu akhir-akhir ini Bening mudah capek terus ngantuk," jawab Bening lirih.
"Tidur saja kalau ngantuk. Nanti Papa bangunin kalau sudah sampai. Jangan terlalu diforsir kuliahnya. Banyak istirahat biar di sini segera jadi cucu Papah," ucap Papa Bening seraya tangan kirinya mengelus perut Bening.
__ADS_1
"Maaf, Bening sama Mas Arjuna belum bisa kasih cucu secepatnya sama Papa dan Ibu," cicit Bening terdengar sendu.
"Heii, anak Papa yang cantik ini kok jadi nangis. Sabar sayang. Papa yakin sebentar lagi juga kalian akan diberi anak-anak yang lucu sama Allah. Tak lama lagi pasti kabar bahagia itu akan datang. Percaya deh sama omongan Papa," hibur Papa Bening seraya menegakkan tubuh Bening lalu menghapus air mata putrinya itu.
"Amin..." ucap Bening lirih.
"Anak Papa kok sekarang jadi cengeng? Biasanya kuat setegar karang. Ibu Bhayangkari sekaligus istri calon Pak Kombes gak boleh cengeng dong. Tegakkan dagu dan tatap dunia. Lanjutkan hidup kalian penuh cinta dan jangan menoleh ke belakang. Walaupun di luar sana banyak sekali rintangan, hadapi dan jangan pernah menyerah. Karena kebenaran pasti akan selalu menang. Yakinlah, hem." Papa Bening menasehati.
"Bening sayang Papa banyak-banyak," cicit Bening seraya beringsut memeluk manja pada sang Papa kembali.
"Haha... calon Mama tumben manja begini sama Papahnya. Bukan manja sama suami. Kalau Arjuna tahu pasti cemburu berat sama Papa," kelakar Papa Bening seraya tertawa.
"Bening belum hamil, Pah." Bening menjawab dengan sendu.
"Sudah periksa?" tanya Papa Bening.
"Belum. Nanti nunggu Mas Juna pulang ke Jogja lagi. Semoga tamu bulananku enggak berkunjung," ucap Bening.
"Tamu bulanan enggak datang, nanti diganti tamu-tamu yang banyak datang ke rumah malah repot loh," seloroh Papa Bening sambil tertawa kecil.
"Oh iya, sebentar lagi Papa kan ulang tahun. Pasti rumah kita jadi rame. Banyak karangan bunga berdatangan dari rekan-rekan sejawat Papah. Ehm, Papa mau kado apa dari Bening?" tanya Bening seraya masih memeluk Papahnya.
"Papa gak pengin kado apapun tahun ini. Karena sudah banyak kado yang Papa dapatkan sebelum ulang tahun Papa. Tuhan sudah begitu baik sama Papa. Doa Papa, kalian semua sehat dan bahagia. Rukun selalu sampai akhir hayat. Jaga keutuhan rumah tanggamu bersama Arjuna. Itu sudah kado spesial buat Papa. Jangan lupa, jaga Ibu Arjuna dengan baik. Perlakukan beliau seperti Mama kandungmu sendiri. Mengerti, sayang?"
"Iya, Pah. Pokoknya Papa sehat-sehat terus biar nanti bisa nemenin anak Bening sama Mas Juna main bola," cicit Bening.
☘️☘️
Laju mobil mereka masih berjalan dan obrolan antara seorang Papa dan putrinya di dalam mobil pun masih berlangsung.
"Semalam Papah mimpi main boneka sama gadis kecil lucu imut. Wajahnya persis kayak kamu waktu kecil. Terus bonekanya hilang diambil bocah lelaki tampan yang datang padanya. Gadis kecil itu menangis manggil-manggil Mama Papahnya," ucap Papa Bening menjelaskan mimpi yang dialaminya semalam ketika tidur di hotel.
"Papa pengin cucu laki-laki apa perempuan?" tanya Bening seraya tersenyum.
"Baik laki-laki ataupun perempuan sama saja, sayang. Asal terlahir sehat dan sempurna. Hal itu sudah membuat Papah bahagia. Hanya saja, feeling Papah nanti anak kamu perempuan. Tapi kalau dikasihnya Allah laki-laki tetap wajib disyukuri," ucap Papa Bening.
Mobil mereka pun akhirnya tiba di sebuah rumah bergaya minimalis modern namun terlihat cukup besar nan mewah. Halaman yang sangat luas. Tampak asri dan nyaman yang terpancar dalam hunian tersebut.
__ADS_1
"Loh, ini rumah siapa Pah?" tanya Bening heran seraya melihat sebuah bangunan rumah cantik yang ada di depannya.
🍁🍁