
"Minta maaf? Gila kalian!! Aku enggak sudi minta maaf sama mereka. Aku enggak bersalah. Aku gak mau tahu. Kalian harus segera keluarkan aku dari sini. Jika perlu sogok polisi atau hakimnya nanti yang bertugas di persidanganku!" pekik Della memerintah.
Tentu saja seorang Della Wijaya pantang untuk meminta maaf. Gengsinya setinggi langit. Terlebih pada Bening Putri Prasetyo yang sejak SMA telah mendapat coretan hitam darinya yang ia kira bahwa Bening akan merebut Rendra darinya. Namun ternyata justru Rendra kini menjadi kekasih Luna, sahabatnya sendiri. Sangat ironi.
"Maaf, Nona Della. Kami sudah berupaya semaksimal mungkin. Namun celah hukum untuk kebebasan Anda sangat tidak mungkin. Dengan Anda meminta maaf pada keluarga korban dan pihak mereka mau memaafkan secara tertulis, itu akan membuat hukuman Anda, saya pastikan lebih ringan. Jika Anda tetap bersikukuh seperti ini dapat dipastikan hukuman yang diterima jauh lebih berat," tutur Pak Sandy.
"Saya mohon pikirkan hal ini dengan matang Non Della. Semua demi diri anda sendiri bukan untuk orang lain," ucap Pak Antok menasehati.
"Ini semua gara-gara Mas Doni. Laki-laki sialan!!" maki Della.
"Sudahlah, Non Della. Jangan mengurus orang lain. Pikirkan nasib Anda sendiri. Lagipula Aiptu Doni juga kabarnya sudah ditahan," ucap Pak Antok.
"Apa benar begitu? Bukankah Mas Doni seorang polisi. Kenapa dia sampai ditangkap?" tanya Della bingung mendadak otaknya susah berpikir dengan jernih.
"Hukum tidak pandang bulu, Nona Della. Benar yang dikatakan Pak Antok. Aiptu Doni juga sudah ditangkap atas dugaan pembunuhan seorang wanita malam alias P S K yang bernama Mia di rumah dinasnya dan juga banyak kasus lain yang menjeratnya. Namun kasus lain seperti apa, hal itu belum bisa saya ketahui dengan pasti. Karena sepertinya kasus tersebut bersifat tertutup. Sengaja tak dipublikasikan oleh pihak berwenang," tutur Pak Sandy.
"Mas Doni membunuh Mia? Dasar lelaki pembawa sial. Arrgh !!" batin Della menggerutu penuh amarah.
Tak lama polisi wanita memanggil Della untuk kembali ke dalam sel. Dikarenakan jam kunjungan telah habis. Akhirnya ia kembali berjalan dengan langkah gontai menuju biliknya. Dan Nayla menangkap sesuatu yang sudah ia duga sebelumnya dari raut wajah Della. Sangat kentara.
"Bagaimana Nona Della Wijaya? Kenapa Anda kembali secepat ini dengan wajah kusut bin lecek begitu? Mirip taplak meja yang berbulan-bulan enggak dicuci saja," sindir Nayla.
"Sial !!" batin Della mendengus sebal menatap Nayla yang seakan mengejeknya.
"Jangan ikut campur urusanku. Pikirkan saja nasibmu sendiri, Nay. Berapa lama nantinya kamu akan mendekam dalam sini," balas Della tak mau kalah. Masih dengan rasa jumawanya.
"Aku hanya figuran. Kamu kan tersangka utama. Jadi siapkan hatimu jika hukumanmu lebih lama dari aku nantinya," sindir Nayla membuat Della semakin mati kutu.
Della akhirnya tak membalas ucapan terakhir Nayla karena dirinya tengah pusing menghadapi kasus hukum yang menjeratnya.
โ๏ธโ๏ธ
__ADS_1
Rumah Sakit.
Seorang Ayah dan putra sulungnya tengah duduk berjauhan. Keduanya menangis dalam diam serta harap-harap cemas akan kondisi seorang wanita beserta jabang bayi yang ada di dalam kandungan wanita tersebut. Dokter tengah berupaya penuh menyelamatkan keduanya.
Ceklek...
Derit pintu terbuka menampilkan seorang dokter laki-laki yang bertugas sebagai ketua tim dokter yang menangani.
"Bagaimana kondisi istri dan anak saya, Dok?" tanya Doni yang langsung berdiri dan berjalan menuju ke arah sang dokter diikuti Dewa dari sisi yang lain.
"Saya minta maaf, Pak Doni. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi takdir berkata lain. Janin yang dikandung istri Anda mengalami keguguran. Usia janin yang masih di bawah empat bulan sekaligus syok hebat yang diterima oleh pasien menyebabkan hal ini terjadi. Silahkan menandatangani prosedur kuretase (kuret) agar kami segera melakukan tindakan penyelamatan yang tepat untuk kondisi istri Anda saat ini ," ucap sang dokter.
Doni yang mendengar penuturan sang dokter hanya bisa menghela nafas dalam. Air mata penyesalannya kian tumpah ruah. Sedangkan Dewa menjerit tak terima.
"Enggak!! Adek bayi enggak boleh pergi. Ayah saja yang mati. Kenapa harus Dimas dan adek yang pergi meninggalkan ibu sama Dewa? Ayah jahat! Dewa benci Ayah. Pergi. Ayah pergi. Dewa enggak mau lihat Ayah lagi. Buat Dewa, Ayah sudah mati. Pergi !!" teriak Dewa histeris seraya menangis dan memukul-mukul tubuh Ayahnya di hadapan dokter.
"Dewa. Tenang, Nak. Ayah sa_yang Dewa," ucap Doni terbata-bata seraya meneteskan air mata bahkan ia berlutut di hadapan putra sulungnya. Hatinya mencelos melihat penolakan putra sulungnya itu padanya.
Dan saat Doni berusaha menenangkan Dewa yang menjauh darinya, tiba-tiba ada beberapa orang petugas dari kepolisian datang menghampirinya.
"Permisi, Pak Doni. Saat ini juga silahkan ikut kami. Ini surat penangkapan Anda," ucap salah satu petugas berseragam coklat secara to the point seraya menyerahkan surat tugas untuk menangkap dirinya.
Dengan tangan bergetar Doni membacanya dan ia pun pasrah saat akan digelandang oleh petugas karena semua bukti sudah jelas bahwa banyak kesalahan yang sudah ia perbuat selama ini. Sebelumnya ia meminta waktu sejenak guna menandatangani prosedur kuretase yang akan dijalani oleh Titin, istrinya. Dan petugas mengizinkan.
"Tolong berikan pelayanan kesehatan yang terbaik dan semaksimal mungkin untuk istri saya, Dok. Sementara saya titip istri dan putra saya. Terima kasih," ucap Doni dengan nada memohon setelah selesai mengurus prosedur kuretase untuk Titin.
"Baik, Pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesehatan pasien hingga pulih," ucap sang dokter.
Saat Doni ingin berpamitan pada Dewa, dimana posisi putra sulungnya itu menjauh di pojokan seakan tak ingin menemuinya bahkan tak menatapnya sama sekali. Akhirnya ia hanya bisa berteriak dari jauh sebelum petugas membawanya pergi.
"Ayah sayang Dewa. Jaga ibu baik-baik ya, Nak. Maafin, Ayah. Dewa harus jadi anak yang sukses dan membuat ibu bangga!" teriak Doni dari kejauhan.
__ADS_1
"Hiks... hiks... ibu..." cicit Dewa yang tengah menangis di sudut lorong.
Tap... tap...tap...
Doni pun digelandang pergi dari rumah sakit oleh beberapa petugas dari pihak berwajib. Dewa pun mendengar langkah kaki mereka menjauh dari pendengarannya. Semakin lama semakin pelan. Lantas mendadak hatinya tergerak. Ia langsung menoleh dan berlari mengejar sang ayah yang dibawa oleh pihak kepolisian.
Dengan mata yang sembab dan tangisan yang tak berhenti menetes membasahi pipinya, kondisi baju yang terkena bercak darah mendiang Dimas, ia berlari mengejar ayahnya. Tak mempedulikan penampilannya yang menjadi tontonan banyak orang di rumah sakit tersebut.
"Ayah !!" teriak Dewa dari kejauhan seraya berusaha lari guna mengejar sang ayah yang sudah keluar dari pintu utama rumah sakit dan akan masuk ke mobil tahanan.
"Ayah jangan pergi !!" teriak Dewa kembali dengan bercucuran air mata sambil berlari.
Banyak pasang mata yang melihat kondisi bocah tujuh tahun ini sungguh memilukan.
Namun usaha Dewa sia-sia. Sebab mobil yang membawa sang ayah telah pergi dan menghilang membelah jalanan ibu kota.
"Dewa sayang Ayah," cicit Dewa sendu yang tengah berlutut di area parkir rumah sakit, menatap kepergian mobil yang membawa ayahnya pergi dengan tangisan yang tertahan di bibirnya.
Doni hanya bisa menatap putranya dari dalam mobil yang membawanya. Ia menatap di balik kaca bahwa putra sulungnya itu berlari mengejar mobil yang ditumpanginya. Namun ia tak bisa berbuat banyak. Dengan kondisi tangan terborgol, ia hanya menunduk meratapi nasibnya. Ia menyesali semua perbuatannya.
"Maafin Ayah, Dewa. Kelak di masa depan, kamu harus jadi orang hebat dan tidak seperti ayah."
"Bodohnya aku mengkhianati cintamu yang tulus hanya demi nafsuu dan ambisiku. Maafin aku, Tin. Semoga setelah ini kalian berdua hidup bahagia walau tanpa kehadiranku," batin Doni sendu.
Jangan pernah sia-siakan orang yang kamu sayangi. Karena penyesalan akan datang setelahnya. Dan mungkin saat kamu menyadarinya, sudah terlambat.
Bersambung...
๐๐๐
*Kuret atau kuretase adalah prosedur untuk mengeluarkan jaringan dari dalam rahim.
__ADS_1