Bening

Bening
Bab 59 - Main Adem


__ADS_3

Kedua sejoli tengah tertidur pulas. Setelah saling melepas dahaga yang tidak pada tempat semestinya yakni bukan dengan pasangan yang seharusnya. Kini keduanya tengah terlelap di alam mimpi. Suasana kamar apartemen Doni bak kapal pecah.


Jejak percintaan keduanya terekam dengan jelas berceceran di mana-mana. Baju, lingerie hingga d@laman sudah tak jelas tempatnya. Teronggok berserakan. Seakan tak ternilai harganya lagi. Bahkan bentuknya tak karuan. Tentu saja ada yang masih utuh dan ada yang sudah compang-camping alias sobek.


Menandakan pertempuran maha dahsyat baru saja terjadi di berbagai sudut kamar yang terbilang tidak terlalu mewah. Akan tetapi jika ditilik secara harfiah begitu nista.


Melakukan hal yang begitu !ntim, namun bukan dengan pasangan yang halal baginya. Terlebih Della yang masih belia berstatus seorang mahasiswi di universitas swasta ternama di ibukota. Tak sadar melakukan percintaan dengan suami orang.


Bahkan terkadang Della membayarkan uang cicilan apartemen milik Doni. Padahal apartemen Doni yang minimalis bertipe studio ini sebenarnya sudah lunas.


Hanya saja Doni beralasan pada Della bahwa apartemennya masih menyicil. Supaya dirinya mendapat pundi-pundi uang dari wanita muda ini yang ia tahu anak seorang pengusaha.


Della pun tidak sadar sering mentransfer uangnya untuk Doni. Lelaki ini sangat pintar merayu dan memelas. Julukan buaya darat sangat cocok bila tersemat pada dirinya.


Padahal pekerjaannya bertugas mengayomi masyarakat. Oknum yang sungguh miris bila orang lain melihat kelakukannya yang sesungguhnya.


Della pun tak tega. Terlebih lelaki ini yang memuaskan h@sratnya di atas ranjang jika dia ingin. Akhirnya apa yang diminta Doni berupa materi, Della akan memberikannya dengan senang hati tanpa curiga.


Della tak pernah melakukan hubungan percintaan layaknya suami istri dengan lelaki lain selain Doni. Bahkan kesuciannya, Doni juga yang mengambilnya.


Keduanya pertama kali bertemu dua tahun lalu di bar salah satu hotel yang cukup ternama di kota Bandung. Della yang dalam kondisi frustasi karena masih belum bisa menaklukkan Rendra sekaligus kurang perhatian serta kasih sayang dari kedua orang tuanya, membuat Della menjadi liar di luar rumah.


Della yang saat itu dalam kondisi mabuk berat, dimanfaatkan oleh Doni yang akhirnya keduanya menghabiskan one night stand di hotel tersebut. Malam itu akhirnya Della kehilangan kesuciannya.


Doni yang pintar merayu sehingga Della tak menuntutnya. Justru Della semakin terbuai dengan hal terlarang tersebut. Semakin terperosok dan tak bisa terlepas dengan nikmatnya hubungan terlarang di luar pernikahan.


Della pun selalu minum pil anti kehamilan setiap selesai berhubungan dengan Doni. Begitulah sesuatu yang haram dan dosa.

__ADS_1


Semakin kita memulai dan terjerumus ke dasarnya, maka rasanya tak akan bisa naik ke permukaan hingga lepas dari hal itu kecuali diri kita segera menjauhinya dan bertaubat.


Hampir setiap dua minggu sekali Della dan Doni melakukan percintaan. Bisa di hotel, apartemen bahkan pernah di dalam mobil saat terparkir di pinggir jalan yang cukup sepi.


"Eugh..."


"Heumm... sudah bangun yank?" tanya Doni yang baru saja bangun terlebih dahulu daripada Della.


"Honey, sudah jam berapa sekarang?" tanya Della yang matanya masih terpejam.


"Jam tujuh malam yank," bisik Doni mesra seraya mengecup punggung Della yang masih dalam keadaan polos.


"Hah!" pekik Della terkejut.


Mata yang awalnya terpejam langsung otomatis terbuka. Dirinya langsung terbangun dan duduk di atas ranjang. Sontak selimut yang menutupi tubuhnya yang polos tentu saja merosot.


"Ah... oh... ho_ney," cicit Della dengan suara yang m3ndesah.


"Honey, aku sudah ada janji dengan temanku. Eugh..." lenguh Della.


Doni yang sengaja menulikan telinganya, langsung melahap hidangan santap malam yang begitu nikmat tiada tara. Tentu sayang jika dilewatkan begitu saja.


Della pun akhirnya pasrah dan tak bisa menolak saat Doni membawanya kembali ke arus percintaan terlarang mereka. Hingga suara er@ngan dan d3sahan keduanya menggema memenuhi seluruh isi kamar tersebut.


Rahim Della semakin penuh terisi l@har panas berwarna vanila kental yang keluar dari senjata Doni ke dalam intinya. Hingga meluber melebihi cawan miliknya.


Padahal malam ini Della sudah ada janji bertemu Rendra dan teman-temannya yakni Luna dan Stevi untuk menonton konser musik dari band yang cukup fenomenal bernama "Main Adem". Bahkan tiket konser yang mereka beli adalah kelas Ultimate Experience seharga 10 juta rupiah.

__ADS_1


Di tempat konser,


"Della kok enggak bisa dihubungi ponselnya?" tanya Luna dengan nada cemas seraya masih terus menelepon nomor kontak Della.


"Sama, Lun. Sejak sore tadi aku hubungi enggak bisa. Aku jemput di rumahnya, kata pembantunya sudah keluar sejak siang. Tapi pembantunya enggak tahu pergi ke mana Della," ucap Rendra.


"Terus gimana ini? Sudah waktunya masuk ke dalam. Sebentar lagi konsernya mulai," cicit Luna semakin gelisah.


"Kita masuk saja. Sudah, biarin saja Della. Mungkin dia enggak jadi ke sini ada urusan lain yang lebih penting," ujar Rendra mengajak Luna memasuki tempat konser berlangsung.


"Tapi aku_" ucapan Luna terpotong.


"Yuk masuk. Kita sudah bayar mahal masak enggak nonton sih! Apalagi kamu sudah nunggu konser ini dari jauh-jauh hari kan," ucap Rendra penuh senyum.


"Tapi masak kita nonton berdua saja. Aku enggak enak sama Della. Kalau Stevi kan memang batal datang karena kakaknya mau melahirkan," cicit Luna tengah galau.


"Sudahlah, yuk masuk. Toh kita nonton berdua enggak ada cowok lain yang marah juga ke aku," ucap Rendra seraya langsung menggandeng tangan Luna memasuki area konser.


Luna pun akhirnya tak bisa menolak ajakan Rendra. Dirinya sangat ingin menonton konser band ini sejak lama. Terlebih harga tiket fantastis sengaja ia beli dari uang tabungannya pribadi.


Keduanya pun menyaksikan konser band "Main Adem" dengan begitu antusias. Melupakan Della yang tak bisa hadir.


Bahkan sepanjang konser, tanpa disadari oleh Luna, lelaki yang duduk di sebelahnya itu terus saja memandanginya. Sehingga bukan grup bandnya yang dilihat melainkan wajah cantik Luna yang mengalihkan dunianya.


"Cantik," batin Rendra memandang Luna yang tertawa riang penuh semangat tengah menatap vokalis "Main Adem" yang begitu mempesona sedang menyanyikan lagu favoritnya berjudul "Langit Penuh Bintang".


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

__ADS_1


__ADS_2