
Akhirnya Arjuna pasrah dengan posisi tidur telentang dan pencahayaan kamar pengantin mereka yang awalnya temaram dari lampu tidur berubah menjadi terang benderang. Sebab Bening meminta dinyalakan lampu utama.
Seperti seorang dokter yang tengah memeriksa pasiennya. Bening menjadi dokter dan Arjuna sebagai pasien.
"Alhamdulillah enggak ada tahi lalat satu pun di sana," batin Bening setelah memeriksa secara detail dari ujung hingga ke ujung ular megalodon yang masih dalam kondisi setengah tegang.
Arjuna dengan terpaksa memukul mundur keddut rasa yang membuncah di ular megalodon miliknya sehingga menjadi layu saat akan diperiksa oleh Bening. Namun berubah menjadi setengah teegaang dan ia menarik nafas dalam kala tangan lembut Bening mulai menyeentuuhnya.
Tentu saja sebagai pria normal gerakan manuver tangan istrinya yang memegang, membolak balikkan benda tersebut seperti tussuk sate kambing membuat sang empunya mengeeraam menahaan sejuta rasa yang berkecamuk di bawah sana.
"Yankkk akk kkhh..." geram Arjuna dengan suara paraunya yang sudah hampir tak bisa rasa manis asem asin bak permen nana ninu.
Gaaiirah yang tadi sudah dipukul mundur menjadi bangkit kembali dan rasanya ingin sekali Bening ia hajar menjerit tanpa ampun di bawah kungkuungannya segera.
Senyum terbit di wajah istrinya, Arjuna yang melihat hal itu memicingkan tatapannya.
"Kenapa kamu senyum-senyum yank?" tanya Arjuna.
"Aku bahagia banget soalnya enggak ada," cicit Bening dengan polosnya tanpa dosa.
"Enggak ada apanya?" tanya Arjuna heran.
"Tahi lalat," jawab Bening seraya tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih bersih.
"Astaga inspeksi mendadak tadi itu mau cari tahi lalat di situ. Enggak sekalian nyari di tempat lain yank," kelakar Arjuna seraya terkekeh.
"Let's go, cintaku. Kita lanjutkan pesta yang belum usai. Maaf ya Mas terjeda sejenak," ucap Bening tulus meminta maaf seraya mencium sekilas bibir Arjuna yang masih posisi telentang.
"Au ah... gelap," sewot Arjuna yang sengaja merajuk memejamkan matanya dan memunggungi sang istri.
Bening pun tak ingin kehilangan akal melihat suaminya yang tengah merajuk.
Blamm...
Lampu kamar pengantin mereka langsung berubah menjadi temaram redup kembali hanya dari lampu tidur. Sedangkan lampu utama, sudah Bening matikan dengan remote.
"Auchh..." jerit Arjuna kaget saat istrinya mendadak sudah berada di atas tubuhnya.
"Aku mau coba jadi joki malam ini. Semoga Mas suka," bisik mesra Bening di telinga Arjuna seraya mengeecuupnya.
__ADS_1
"Hemm," jawab Arjuna singkat yang masih dalam mode merajuk.
Ia sengaja membiarkan sang istri menunjukkan cara merayunya dan menyenangkannya malam ini setelah drama pengecekan tahi lalat tak berperikesolehotan yang baru saja usai.
Bening pun menjadi joki amatir pada pacuuaan kuda malam ini untuk menikmati malam berbintang bersama suaminya. Ternyata Bening mampu belajar dengan cepat. Hal itu terbukti dengan ular megalodonnya yang sudah tegak siap untuk bermanuver menyerang kembali pertahanan Bening.
Akhirnya setelah penantian panjang, keduanya pun meleebuur kembali. Walaupun ini bukan yang pertama kali bagi keduanya, tetapi rasa yang dirasakan oleh pasutri ini terutama Arjuna sungguh tak bisa ia gambarkan.
Lapis legit Bening masih sangat menjeepit dan menggiigit ular megalodonnya. Rasa yang sama seperti setahun yang lalu di tempat yang sama namun dengan kenangan yang berbeda 360 derajat. Sebab keduanya sekarang telah halal.
"Akkhh... Mas," deessah Bening kala ular megalodon berhasil ia ajak masuk untuk bertamu ke dalam rumahnya dan terbenam sempurna.
"Oohhh... yank," geram Arjuna menggila kala merasakan deesir bintang-bintang penuh cinta di sekujur daksanya.
Denyuut keniikmaatan tiada tara membungkus Arjuna tampa ampun. Sungguh melambungkannya ke awang-awang.
Bening sedikit meringis, mencengkeeram kuat pundak Arjuna. Terasa perih dan peenuh di bawah sana. Hanya saja perbedaannya, saat ini penyatuan yang mereka lakukan dalam kondisi seratus persen sadar bukan dalam pengaruh obat ataupun keterpaksaan.
Ada deesiir berbeda yang dirasakan keduanya. Memang sesuatu yang halal itu sungguh niikmaat tiada tara dan tak bisa dijabarkan. Hanya bisa dirasakan.
Bening mempersembahkan kaayuuhan suurgaa dunia. Joki cantik hanya untuk sang Arjunanya tercinta.
Selang setengah jam, Bening mulai tampak kelelahan menjadi joki peleebuuran. Arjuna tahu yang mengayuuh di atasnya mulai kelelahan, Arjuna langsung mengguuliingkan Bening di bawah kunngkuungannya. Di mana ular megalodon masih bersemayam sempurna di dalam rumah yang hanya miliknya.
Piinggul Arjuna bergerak naik turun seirama. Awalnya konstan, lama-lama mendorong lebih kuat dan cepat. Meenghuujam lebih liiarr. Hingga akhirnya Bening mengeejjang dengan tubuh terseenntak-seentak mendapat peleeppasaan.
Nafas Bening tereengah tak beraturan. Rasanya kesadarannya terbang dalam sekejap entah ke mana. Seakan dibawa oleh suaminya ke tempat yang penuh dengan keindahan dan keniikkmatan tak terkatakan.
Arjuna membungkam dees aahan niikmat Bening yang terdengar merdu baginya, meeluumat bibir merah delima itu kian bernaaf ssuu. Arjuna juga menghentikan sejenak heeentaakan piinnggulnya.
Arjuna ingin memberi kesempatan pada Bening untuk meniikkmati oorrga ssmenya. Karena prinsipnya sebagai suami, wajib memberi keniikmaatan dahulu pada istrinya baru mengejar keepuaassan untuk dirinya.
Loloonngan panjang keduanya menandakan akhir dari penyaatuan perdana mereka setelah sah menyandang status sebagai suami istri. Arjuna ambruk di sisi tubuh Bening. Setelah berhasil mendapatkan peleeppasan yang diinginkan.
Peelluuh membanjiri tubuh keduanya. Seiring beenih megalodonnya memenuhi raahiim sang istri. Hangat, penuh hingga tumpah.
Keduanya sama-sama mengatur nafas. Dan sebuah kecuuppan lembut mendarat di keningnya yang disertai gumaman maskulin terdengar di telinganya.
"Makasih istriku," ucap Arjuna lirih, menarik tubuh Bening untuk didekkap dan menenggelamkan wajah di cerruk leheerrnya.
__ADS_1
Seulas senyum hangat tersungging di paras cantik Bening.
Malam ini hatinya berbunga-bunga dan sangat bahagia bisa mempersembahkan malam penuh cinta untuk suaminya tanpa ada gangguan dan ketakutan.
"Apa Mas puuass?" tanya Bening lirih dengan nafas yang masih tak beraturan.
"Banget yank," jawab Arjuna seraya mengeratkan pelukannya pada sang istri.
"Alhamdulillah," ucap Bening singkat.
"Boleh nambah enggak?" tanya Arjuna berbisik mesra.
"As you wish honey," jawab Bening seraya mengecup sekilas bibir Arjuna.
"Okayyy, Deal. Kita begadang sampai pagi. Tapi sekarang istirahat dulu sebentar. Mas takut kamu pingsan kalau enggak istirahat sambil tarik nafas sambil minum. Jangan sampai besok muncul berita, istri AKBP Arjuna Sabda Mahendra pingsan keenaakan karena dimakan ular megalodon. Haha... bisa-bisa nanti Mas ditembak Papa," ucap Arjuna seraya terkekeh.
"Biarin! Habis ini naakkal jadi ditembak saja," cicit Bening bercanda seraya memukul pelan ular megalodon yang tengah layu dengan tangan mungilnya, karena sedang beristirahat di bawah sana.
"Ah_hhh sayang, jangan dipukul. Dielus sama itu," pinta Arjuna seraya menunjuk sesuatu berwarna merah delima.
"Iya, nanti Mas. Sabar dong," cicit Bening.
"Siap 69 yank. Nunggu readers setia pada tidur dulu saja. Baru kita bergerak diam-diam," cicit Arjuna seraya cekikikan.
๐๐๐
Coretan Othor Tidak Solehot.
Mohon jarinya dijaga Sobat. Jika tidak suka pada karya saya. Cukup di skip saja. Saya berusaha tidak hengkang menulis di sini, hanya karena saya menyayangi pembaca setia saya. Walaupun sedikit tak mengapa. Karena saya bukan author famous yang punya level tinggi dan pembaca yang bejibun.
Contoh seperti ini sering saya dapati hingga komen yang tidak jelas dan tidak sesuai cerita. Bila tak suka, cukup skip saja. Jangan meninggalkan jejak negatif. Itu bisa merusak mood authornya.๐๐
Terima kasih banyak Sobat Safira yang selalu setia mendukung karya-karya saya sejak dahulu hingga sekarang. Semoga diberi kesehatan dan keluasan rezeki yang melimpah. AMIN...
Haturnuhun๐
__ADS_1