Bening

Bening
Bab 39 - Cintaku Menemukanmu


__ADS_3

Untuk mendukung feel dalam membaca chapter ini.


Othor sarankan sembari memutar lagu berjudul "Perahu Kertas" by Tulus.


Selamat MembacaπŸ’‹


🍁🍁🍁


Pelaksanaan tes masuk mahasiswa baru sudah dimulai. Bening telah bersiap di ruangannya. Hari ini dirinya masuk shift siang karena paginya akan tes.


Dokter Heni terus memberi semangat dan sangat yakin bahwa Bening mampu lolos tes tersebut dengan nilai yang akan memuaskan.


Setelah melewati tiga jam melakukan tes masuk mahasiswa baru, Bening pun siangnya langsung ke toko roti, tempatnya bekerja. Dalam hatinya terus berdoa semoga dirinya berhasil lolos.


Dua hari kemudian, Bening pun sumringah menatap ponselnya. Namanya menjadi tiga teratas dengan nilai terbaik.


Tentu saja dirinya berhasil masuk pada jurusan yang sudah ia pilih yakni Ilmu Hukum. Dokter Heni pun sangat bangga melihat pencapaian Bening yang sesuai dengan prediksinya. Bahkan nilainya melebihi ekspektasinya.


"Selamat ya, Bening. Semoga sukses perkuliahannya dan lancar hingga kelulusan tiba nantinya," ucap tulus Dokter Heni mendoakannya.


"Amin. Makasih, Dok."


Kemudian Bening berpamitan untuk mengurus administrasi ke kampusnya. Setelah itu dirinya akan pergi ke makam sang putra untuk pertama kalinya. Dokter Heni pun mengijinkannya.


Selang satu jam berkutat di kantor administrasi kampusnya, akhirnya Bening resmi menjadi mahasiswi fakultas Ilmu Hukum di UGM untuk ajaran baru yang dimana waktu perkuliahan akan dimulai secara serentak satu minggu lagi.


"Alhamdulillah..." ucap Bening sumringah seraya menatap kartu mahasiswa tertera atas namanya yang kini berada di tangannya.


Lalu ia masukkan kartu tersebut ke dalam tas selempangnya dan bergegas memanggil ojek untuk pergi ke tempat peristirahatan terakhir sang putra. Sebelumnya, ia sempatkan untuk mampir ke toko bunga. Bening membeli sebuket bunga mawar putih untuk putranya.


Kakinya perlahan melangkah, mendekati makam sang putra yang ia tahu letaknya setelah bertanya pada penjaga makam. Dirinya memakai baju terusan berwarna putih dengan motif bunga di tengahnya.


Lalu ia berjongkok di dekat batu nisan putranya itu. Tangannya dengan gemetar menyiram air lalu meletakkan buket bunga mawar putih di atas makam sang putra.


Tak lupa, Bening pun membuka tasnya lalu mengambil sebuah pigura kecil yang di dalamnya terdapat dua foto yakni foto USG miliknya dan satu lagi foto Bening menggendong jenazah bayinya setelah dilahirkan. Ia letakkan foto tersebut di dekat batu nisan putranya.


"Assalammualaikum put_ putra Ma_ma. Maaf Mama baru datang menemuimu, Nak. Kamu eng_gak marah sama Mama kan, sa_yang?" cicit Bening bertanya pada sang putra dengan terbata-bata. Terdengar sendu.


Mata lentik itu mulai berkaca-kaca membuat pandangannya sedikit buram. Air mata yang mulai menggenang dan menumpuk di pelupuk matanya, akhirnya menetes juga dengan sendirinya membanjiri pipi mulusnya.


"Mama yakin kamu anak baik. Pasti enggak marah sama Mama. Nanti Mama janji akan sering-sering datang ke sini. Sayang main sama nenek di sana baik-baik ya. Jangan nakal atau buat repot Nenek Embun di sana," cicit Bening semakin terisak pilu.


Tanpa sadar air matanya semakin deras dan sesenggukan. Matanya sembab dengan pipinya yang semakin basah dan tampak memerah. Tangannya sibuk mengelus-elus batu nisan dan tanah makam putranya.


"Maaf, sayang. Maafin Mama, Nak. Mama yang enggak becus jagain kamu sampai kamu pergi ninggalin Mama sendiri. Huhu... maafin Mamamu yang bo-doh ini. Hiks... hiks... hiks..." tangis dan jerit Bening semakin menyayat hati dan terisak pilu hingga kedua tangannya memeluk batu nisan putranya.

__ADS_1


"Mama... tolong jaga putraku dengan baik. Maafin Bening, Mah. Maafin Bening, Pah. Bening sudah gagal menjadi seorang ibu! Huhu..." teriak Bening seraya menangis tersedu-sedu.


Deg...


Suasana pemakaman yang cukup sepi, membuat jeritan dan tangis Bening terdengar cukup jelas. Terlebih jarak antara Bening dengan seorang laki-laki muda berseragam dinas lengkap kepolisian yang tengah berjongkok di makam mendiang Ayahnya tidak terlalu jauh.


Telinganya yang sangat tajam mendengar jeritan dan tangisan pilu dari suara seseorang yang pernah familiar itu, langsung mengusik jiwa dan hatinya. Hari ini dirinya sengaja datang dari Jakarta ke Yogyakarta sebab tepat hari ini adalah peringatan hari kematian mendiang Ayahnya yang meninggal beberapa tahun lalu.


Dirinya sengaja datang ke makam setelah ibunya. Sebab ibunya hingga kini masih irit bicara padanya. Setibanya di Yogyakarta, dirinya langsung menuju ke makam sang Ayah dan belum berkunjung ke rumah orang tuanya. Bahkan sang ibu belum mengetahui dirinya datang ke Yogyakarta.


Sontak, ia pun langsung menoleh dan melangkah perlahan menuju sumber suara tangisan tersebut yang terus terdengar semakin menyayat hatinya. Wajahnya mendadak pucat pasi saat ia sudah berada di dekat gadis yang tengah memejamkan mata dan memeluk sebuah batu nisan dengan air mata yang semakin berderai.


Bening pun tak fokus dengan sekitarnya. Sebab ia tengah menumpahkan rasa yang bercokol dalam hatinya. Sehingga saat ini lelaki di masa lalunya yang berusaha ia hindari mati-matian, Tuhan datangkan langsung di hadapannya sekarang.


Lelaki itu tengah berdiri dengan wajah yang sudah pucat pasi menatapnya. Ya, Arjuna tengah berada di area pemakaman yang sama dengan Bening saat ini. Bahkan Arjuna sudah berdiri di depan Bening sekarang.


Deg...


Mata Arjuna membulat sempurna menatap sosok yang ada di hadapannya. Lantas beberapa detik kemudian fokusnya terarah pada sebuah batu nisan yang tengah dipeluk Bening. Tertera nama Putra Arjuna dengan waktu meninggal dua bulan yang lalu.


Lalu matanya dengan cepat menatap perut Bening yang tidak membuncit pada umumnya wanita hamil. Seakan rohnya tengah dicabut secara paksa dari tubuhnya. Dan suaranya tercekat di kerongkongan. Keringat dingin pun langsung membanjirinya.


Hatinya seakan dihantam sebuah batu besar. Rasanya sungguh menyakitkan. Lebih menyakitkan daripada mengetahui kabar bahwa wanita yang mengandung buah hatinya beberapa bulan lalu dinyatakan meninggal dunia akibat sebuah tragedi kecelakaan pesawat.


Akan tetapi kenyataan pahit di hadapannya sekarang tengah menggerogoti jiwanya. Putranya meninggal dunia. Ingin rasanya menenggelamkan diri ke dalam tanah makam putra kandungnya sendiri. Akibat kebo-dohannya menyebabkan Bening menderita dan sekarang putra kandungnya meninggal dunia.


"Be_ning," panggil Arjuna dengan nada terbata-bata.


Pendengaran Bening seketika terkejut mendengar suara seseorang yang pernah familiar di telinganya, Bening pun langsung membuka mata.


Deg...


Kedua pasang mata itu bersirobok saling menatap dalam satu pandangan garis lurus. Keduanya sama-sama terkejut. Sudah pasti.


Bening pun langsung menghapus air matanya dan berdiri. Pandangan keduanya masih saling terpaut. Tak ada yang mau memutus kontak mata di antara keduanya.


Keheningan terjadi. Diam dan membisu. Perasaan keduanya tengah berkecamuk resah dan bertanya-bertanya dengan pertanyaan yang berbeda dalam benak masing-masing. Akhirnya Arjuna yang memutuskan bersuara terlebih dahulu.


"Apa dia, putraku?" tanya Arjuna lirih dengan nada sendu. Mata tegasnya mendadak menjadi sayu dan sudah berkaca-kaca menatap Bening.


"Benar."


Hati Arjuna semakin mencelos mendengar Bening bersuara menjawabnya. Ia langsung memejamkan mata dan air matanya tumpah seketika membasahi wajah tampannya. Seketika tulang belulang dalam tubuhnya lemas. Dirinya langsung berlutut di hadapan Bening dan makam putranya.


"Maaf jika tanpa ijin darimu. Aku menggunakan nama depanmu untuknya," jawab Bening datar.

__ADS_1


Tangis Arjuna pecah, rasa penyesalan mendalam itu kembali menghantui seorang Arjuna Sabda Mahendra.


"Maafkan Papa, Nak. Maafkan aku Bening. Maaf," ucap Arjuna dengan terisak pilu.


Bening hanya menatap datar atas apa yang dilakukan Arjuna di hadapannya. Namun tetesan air mata masih membasahi pipi putihnya.


"Tidak ada yang perlu meminta maaf atau dimaafkan. Semua sudah kehendak takdir. Aku permisi dulu," ucap Bening datar seraya melangkah pergi meninggalkan Arjuna yang masih berlutut.


Seketika Arjuna berdiri mengejar Bening. Dan langsung kedua tangan Arjuna memeluk erat tubuh Bening dari belakang. Kini wajah Arjuna bersembunyi di ceruk leher Bening. Lelaki itu masih menangis pilu.


"Maaf... maafkan aku Bening. Walaupun kamu melarangku sekalipun. Seumur hidupku tetap aku akan mengucap kata maaf itu padamu. Tolong izinkan aku bertanggung jawab padamu. Aku mohon," ucap Arjuna lirih seraya memohon.


"Tanggung jawabmu sudah lepas, Arjuna Sabda Mahendra. Anak itu sudah tiada. Kamu tak ada hutang apapun untuk bertanggung jawab padaku. Semua sudah lepas dari pundakmu sejak jantungnya berhenti berdetak ketika berada di dalam kandunganku," jawab Bening datar dan lugas seraya pandangannya tetap menatap lurus ke depan dan tak menoleh pada Arjuna yang tengah menangis memeluknya.


"Tapi Bening, aku_" ucapan Arjuna terpotong.


"Hiduplah dengan baik bersama wanita yang kamu cintai dan wanita itu lebih baik daripada aku. Tolong lepaskan aku. Taksiku sudah menunggu di depan," ucap Bening.


Lalu ia berusaha melepas paksa tangan Arjuna yang tengah memeluknya. Dan Arjuna pun melepaskan Bening pergi.


"Aku mencintaimu Bening. Aku pastikan kamu juga akan mencintaiku dan memiliki perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan padamu selama ini. Aku akan membuktikan padamu bahwa cintaku tulus bukan hanya sekedar rasa tanggung jawab semata. Dengan cintaku, aku pasti akan menemukanmu kembali walaupun ke lubang semut sekalipun," batin Arjuna menatap Bening yang tengah berlari menuju ke arah pintu keluar area pemakaman.


"Terima kasih ya Allah. Sudah membuat wanita yang aku cintai masih hidup. Dan Engkau mempertemukan kami hari ini."


Bersambung...


🍁🍁🍁


Tiada lagi yang mampu berdiri


Halangi rasaku, cintaku padamu


Ku bahagia


Kau telah terlahir di dunia


Dan kau ada


Di antara miliaran manusia


Dan ku bisa


Dengan radarku


Menemukanmu

__ADS_1


__ADS_2