
Beberapa hari kemudian.
Sore ini kebetulan Bening sedang libur kerja. Setelah pulang kuliah, ia pergi ke toko bakpia milik calon mertuanya yang tak jauh dari kawasan Malioboro. Selain bertemu dengan Ibu Arjuna, ia juga ingin berbicara dengan Ayu secara empat mata.
Bening mengendarai mobil sedan putih keluaran terbaru yang tampak begitu cantik dan elegan. Mobil tersebut pemberian Arjuna padanya saat acara lamaran tempo lalu sebagai salah satu barang seserahan.
Awalnya Bening menolak. Dikarenakan hadiah seserahan dari keluarga Arjuna sudah terlampau banyak dan bukan barang dengan harga murah. Hampir semua seserahan lamaran, barang-barang branded baik dari merek lokal maupun mancanegara.
Ny. Lina dan Arjuna sendiri yang menginginkan memberikan semua itu pada Bening saat lamaran. Selain Ny. Lina sudah sangat sayang pada Bening layaknya anak kandung sendiri, Arjuna juga adalah putra kandung satu-satunya.
Maka otomatis sebagai ibu, ingin memberikan yang terbaik untuk calon menantunya. Terlebih calon menantunya itu adalah pilihannya sekaligus dicintai oleh putranya.
Toh perayaaan lamaran serta nanti perhelatan akbar pernikahan antara Arjuna dan Bening adalah sekali seumur hidup bagi Ny. Lina. Papa Bening dan juga dirinya sudah tidak memiliki anak kandung yang lain.
Wajar sebagai orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi putra dan putrinya semampu mereka. Terlebih keduanya adalah seorang pengusaha yang cukup ternama di bidang masing-masing.
Terlepas dari jabatan Papa Bening yang sebagai calon Wakapolri. Dikarenakan sejak lahir sudah menjadi anak tunggal seorang pengusaha.
Otomatis kekayaan mendiang orang tua Komjen Pol Prasetyo Pambudi seluruhnya jatuh kepadanya. Yang nantinya tentu akan diwariskan pada Bening dan anak keturunannya kelak.
Setelah berhasil mendapatkan SIM ( Surat Ijin Mengemudi ), setelah lulus belajar mengemudi dengan baik, akhirnya mobil seserahan dari Arjuna pun digunakan Bening untuk ke kampus maupun ke tempat lain yang jaraknya cukup jauh seperti pusat perbelanjaan, rumah calon mertuanya dan sebagainya.
Mobil Bening sudah terparkir rapi di halaman toko bakpia Ny. Lina. Dari jauh, Ayu memandang penuh senyum karena mengetahui Bening datang. Sudah beberapa hari sejak acara pagelaran budaya tempo lalu, dirinya belum sempat bertemu Bening sama sekali.
Dikarenakan kesibukan keduanya dan juga Ayu cukup sungkan jika ingin bercerita mengenai hal pribadi. Dirinya sekarang ini merasa minder jika berhadapan dengan Bening hanya berdua saja.
Sebab ia tahu Bening anak orang kaya. Sedangkan dirinya hanya anak orang tak berpunya yang sudah yatim piatu. Hanya saja Bude Lina sangat baik mau menerima dirinya untuk ditampung di rumahnya dan diberi pekerjaan pula.
โ๏ธโ๏ธ
__ADS_1
Suasana toko bakpia sore ini cukup lengang. Hanya terlihat beberapa pengunjung tengah berbelanja.
Derap langkah Bening memasuki area toko. Seluruh pegawai bagian depan pun yang dominan para wanita, menyapa Bening penuh senyum. Mereka semua telah mengetahui dan mengenal Bening.
Wanita yang akan menjadi calon menantu juragan mereka yakni calon istri Arjuna Sabda Mahendra, sang putra mahkota.
"Assalammualaikum," sapa Bening dengan senyum sumringah.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.
"Mbak Ning makin cantik saja," puji salah seorang pegawai wanita.
"Calon manten gitu loh," celetuk pegawai lainnya.
"Pantas Mas Arjuna klepek-klepek. Sudah baik, cantik alami pula. Makin bersinar jadinya kalau melihat aura Mbak Bening," cicit karyawati lainnya seraya tertawa kecil.
"Haha... ada-ada saja kalian. Terima kasih. Ehm, ibu ada?" tanya Bening seraya celingak-celinguk.
"Oke. Makasih ya. Aku temuin Ayu dulu. Kalian kembali kerja lagi. Semangat!" ucap Bening seraya tersenyum kecil.
"Ashiapp..." jawab mereka kompak.
Bening hanya menggelengkan kepala seraya tertawa kecil melihat tingkah para pegawai di toko milik Ibu Arjuna itu yang sangat ceria dan kompak.
Bening pun melangkah menghampiri meja kasir tempat Ayu berada. Ia melihat Ayu tengah menunduk untuk menghitung uang di mesin kasir.
"Hai, Yu. Sibuk enggak?" sapa Bening.
"Tadi rame banget tapi sekarang sudah enggak sibuk. Kenapa Ning?" tanya Ayu lirih.
__ADS_1
"Aku mau ajak kamu jalan setelah toko tutup. Mau ya?" rengek Bening.
"Boleh. Ke mana?" tanya Ayu kembali.
"Mau ajak kamu makan di Ambarrukmo sekalian belanja. Ada juga yang mau aku omongin ke kamu, Yu."
"Soal apa?" tanya Ayu penasaran.
"Nanti kita bahas setelah makan di mall. Gak seru bahas sekarang. Aku mau buat kejutan untuk Papa dan Mas Arjuna intinya. Kamu bantuin aku ya," pinta Bening.
"Bantuan yang bagaimana nih?" tanya Ayu kembali semakin penasaran.
Bening pun melihat ke kanan dan ke kiri, suasana cukup sepi lalu ia membisikkan sesuatu ke telinga Ayu.
"Wah ide kamu oke juga, Ning. Aku saja yang sepupunya sampai enggak tahu. Jangan khawatir, aku pasti bantuin kamu. Junet pasti makin cinta sama kamu Ning. Calon Bu Kombes pinter banget sih," goda Ayu seraya tertawa kecil.
Bening pun tersipu malu mendengar pujian Ayu. Akhirnya tak lama toko milik Ibu Arjuna sudah waktunya tutup. Semua pegawai juga sudah pulang.
Ayu menutup toko tersebut. Lalu keduanya pun bergegas membelah jalanan kota Yogyakarta menuju Plaza Ambarrukmo.
Bening dan Ayu tak sabar menanti lusa. Memberikan kejutan untuk orang terkasih di Jakarta. Namun yang akan diberi kejutan benar-benar tak tahu sama sekali. Bening sudah mengetahui Pak Tikno adalah mata-mata Arjuna di sini.
Alhasil Bening berusaha akan menjalankan misinya dengan sangat rapi bersama Ayu. Hingga Pak Tikno dan Ny. Lina tak bisa mengendus rencana kejutan yang telah dirancangnya sedemikian rupa.
Bersambung...
๐๐๐
Akankah rencana surprise dari Bening untuk Papa dan Arjuna berjalan lancar?
__ADS_1
Arjuna yang terkejut atau justru Bening? Mungkin bisa juga othor yang terkejut.^^
Simak terus sobat...