Bening

Bening
Bab 56 - Lamaran


__ADS_3

Akhirnya Bening dan Papanya berpamitan pada Dokter Heni. Keduanya mengucapkan banyak terima kasih. Dokter Heni pun memberikan senyum renjananya saat melihat lambaian tangan pria, cinta pertamanya yang masih tersemat di hatinya.


Beribu kali mencoba menghapus nama lelaki itu dari hatinya tetap tak bisa. Hingga takdir mempertemukan kembali keduanya dengan status duda dan janda yang sama-sama ditinggal pergi selama-lamanya oleh pasangan masing-masing.


"Maafkan aku Mas Wisnu," batin Dokter Heni menangis menatap foto pernikahannya dengan mendiang suaminya.


"Oh hati, berdamailah. Tolong hapus nama dia dari hatiku untuk selamanya," doa Dokter Heni.


Sepanjang malam Komjen Pol Prasetyo Pambudi sama sekali tak bisa tidur. Pertemuan antara dirinya dengan Dokter Heni sungguh di luar dugaannya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan putrinya tanpa bantuan teman masa kecilnya itu yang pernah ia sakiti.


Sebuah helaan nafas berat meluncur dari dirinya. Ia menatap langit-langit kamarnya berusaha menyelami sesuatu.


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


Akhirnya hari Minggu pun tiba. Hari ini tepat akan diadakan acara lamaran antara AKBP Arjuna Sabda Mahendra dengan Bening Putri Prasetyo. Acara lamaran yang akan mengusung perpaduan adat khas Yogyakarta dan Jawa Timur menghiasi pesta tersebut.


Sebab Embun berasal dari Jawa Timur tepatnya kota Malang. Sehingga Bening ingin mengusung tema kedua daerah tersebut dalam acara lamarannya kali ini. Arjuna pun mengikuti apa yang diinginkan oleh calon istrinya itu tanpa banyak debat.


Ballroom mewah hotel bintang lima yakni di Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, disulap sedemikian rupa menjadi tempat bersejarah acara lamaran Arjuna Sabda Mahendra untuk wanita yang ia cintai yakni Bening.


Lamaran dadakan ini berlangsung lancar dan sakral. Satu minggu setelah pelantikan Papa Bening bulan depan menjadi Wakapolri, maka Arjuna dan Bening akan melangsungkan perhelatan akbar pernikahan mereka di Jakarta.


Bening tersenyum sumringah menatap cincin tunangan yang tersemat di jarinya. Cincin pemberian dari Arjuna. Dirinya berdoa semoga kelak cinta Arjuna selalu tercurah untuknya. Tak akan ada hati yang lain di dalam rumah tangganya nanti.


Ayu dan Bayu pun turut bahagia melihat dua orang yang mereka sayangi pada akhirnya disatukan dalam langkah yang baik. Tinggal satu langkah lagi keduanya akan menjadi pasangan halal dalam sebuah pernikahan sakral.


Pesta lamaran pun usai. Para tamu yang hadir sudah kembali pulang dan hanya tersisa beberapa kerabat dekat saja di sana.


Dokter Heni pun datang pada pesta tersebut. Komjen Pol Prasetyo Pambudi sangat senang melihat teman kecilnya itu sudi hadir di acara lamaran Arjuna dan Bening.

__ADS_1


"Selamat ya sayang. Semoga lancar hingga hari H pernikahan kalian. Yang sabar jika ada kerikil yang datang. Sudah lumrahnya begitu jika mau menikah banyak godaan menerpa," tutur Dokter Heni mengucapkan selamat dan tersenyum sumringah memeluk Bening.


"Makasih banyak, Dok. Kehadiran dokter sangat aku nanti. Wajib hadir ke Jakarta ya saat pesta pernikahan kami nanti. Benar kan Mas Arjuna?" tanya Bening melirik pada Arjuna.


"Tentu saja calon Bu Kombes tak perlu khawatir soal itu. Nanti Dokter Heni pasti hadir di pernikahan kita. Kalau perlu Mas bawa ajudan untuk mengawal beliau dari Yogyakarta ke Jakarta," cicit Arjuna seraya tersenyum kecil.


"Cie... calon Bu Kombes nih," ledek Ayu yang mendadak nimbrung.


"Apaan sih, Yu!" cicit Bening tersipu malu.


Dokter Heni pun berpamitan menuju ke area lain di ballroom tersebut. Kini tinggal Arjuna, Bening, Ayu dan Bayu yang duduk di meja VIP.


Papa Bening yang melihat Dokter Heni, segera menghampirinya.


"Hen, tunggu."


"Iya, ada apa?" tanya Dokter Heni dengan tersenyum.


"Terima kasih banyak sudah hadir. Nanti jangan lupa untuk datang ke Jakarta bulan depan saat Bening menikah. Aku sudah menyiapkan tiket pesawat dan hotel untukmu menginap di Jakarta nantinya," ucap Papa Bening dengan semangat.


"Sogokan nih. Enggak sekalian nyediakan ajudan buat ngawal aku dari Yogyakarta ke Jakarta," ledek Dokter Heni.


"Begitu ya. Maaf, aku enggak kepikiran menyuruh ajudan menjemputmu. Aku akan persiapkan kalau begitu sesuai permintaanmu," jawab Papa Bening.


"Haha... Pras... Pras... aku bercanda. Jangan dianggap serius. Nanti aku minta seluruh isi brankasmu bisa-bisa kamu transfer. Emang dasar kulkas dua belas pintu. Kalau diajak ngomong susah diajak bercanda. Dari dulu enggak berubah kakunya," ucap Dokter Heni seraya tertawa.


Sebuah senyuman tipis terbit di wajah Komjen Pol Prasetyo Pambudi. Sangat langka.


"Siapa yang menjuluki aku orang-orangan sawah? Ya jadinya kaku begini kan," ujar Papa Bening sengaja menyindir.

__ADS_1


"Ya, emang itu aku sih. Habisnya kamu itu dingin, datar, kaku kayak prasasti. Tapi ya walaupun ganteng sih," ledek Dokter Heni.


"Kalau ganteng jangan ditanya. Sudah dari lahir. Sampai ada cewek yang terpikat sama pesona gantengku walaupun aku dikatain kayak prasasti, kayak orang-orangan sawah," ledek Papa Bening.


"Hem, nyindir nih. Mau bales nih," ucap Dokter Heni seraya bersedekap.


"Enggak berani. Takut disuntik sama Dokter Heni yang galak," ucap Papa Bening seraya tertawa kecil.


"Haha... iya aku suntik mati saja sekalian. Mau?" balas Dokter Heni.


"Jangan dong! Nanti kalau aku mati, kamu pasti mewek-mewek sampai berhari-hari. Mata kamu bisa bengkak seperti mata panda karena nangis terus," cicit Papa Bening.


"Idih... pede amat calon Pak Wakapolri satu ini, hem. Kalau kamu mati, aku enggak mau hadir di acara pemakamanmu pokoknya!" jawab Dokter Heni ketus.


"Loh kenapa, Hen? Kamu masih benci sama aku ya?" tanya Komjen Pol Prasetyo Pambudi lesu.


"Malas saja buat datang. Soalnya hujan lebat. Nanti becek enggak ada ojek. Bajuku lepek kena air hujan dan banjir. Jadi aku mendeklarasikan untuk enggak hadir saja. Sesekali aku bolos lah. Kan kamu tahu dulu aku jarang bolos waktu sekolah," ucap Dokter Heni seraya tertawa kecil sambil memperagakan adegan terkena hujan lebat hingga basah kuyup ala-ala.


"Haha... murid teladan tapi takut sama kecoa," ledek Komjen Pol Prasetyo Pambudi.


"Biarin! Haha..." jawab Dokter Heni seraya tertawa.


Tanpa sadar Bening melihat dari kejauhan kedua orang yang ia sayangi tengah berbincang sangat akrab. Terlihat jelas senyum di wajah sang Papa dan juga Dokter Heni.


Ia beranggapan bahwa keduanya telah saling memaafkan dan berdamai dengan apa yang telah terjadi di masa lalu.


"Terima kasih Tuhan, semoga mereka berdua terus tertawa seperti ini. Jika memang keduanya berjodoh, Bening rela. Mama pasti juga rela kan, Ma?" batin Bening bertanya seraya menatap langit-langit Ballroom hotel, tempatnya berada saat ini.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

__ADS_1


__ADS_2