
Pelukan hangat itu pun terlepas setelah sepasang Ayah dan anak itu pun telah menyampaikan bisikan cinta dan rasa yang bercokol di hati masing-masing. Sang pembawa acara pun datang mendekat.
"Maaf sebelumnya Bapak Komjen yang terhormat. Boleh saya bertanya sedikit pada putri Anda?" tanya sang pembawa acara wanita tersebut dengan sopan.
"Silahkan saja. Yang lebih berhak menjawab bersedia atau tidak itu adalah Bening, putri saya. Bukan saya," jawab Papa Bening dengan penuh wibawa dan lugas.
"Terima kasih, Pak."
Papa Bening pun membalasnya dengan sebuah anggukkan, tanda mempersilahkan.
"Ananda Bening, boleh singkat cerita berbagi pengalaman saudari. Tentu khalayak umum sangat tahu berita kecelakaan EC Airlines yang begitu menggemparkan dunia penerbangan sekaligus sebuah kedukaan yang mendalam. Terlebih saat Ayah kandung Anda menabur bunga dalam acara penutupan waktu pencarian para korban. Bahkan saya melihat acara tersebut secara live di televisi, saya pun ikut menangis. Walaupun saya pribadi tidak mengenal dekat dengan keluarga para korban tersebut. Bagaimana Anda bisa selamat dari tragedi tersebut?" tanya sang pembawa acara penuh semangat sebab didera rasa penasaran.
Salah satu penata acara pun memberikan sebuah mikrofon pada Bening. Sebuah helaan nafas meluncur dan tangan Bening telah menggenggam erat mikrofon tersebut.
"Saat itu, saya memang pergi dari rumah tanpa pamit pada Papa. Karena saya sedang kesal. Saya tidak ingin masuk jurusan kedokteran tetapi Papa ingin saya menjadi seorang dokter. Sedangkan cita-cita saya ingin menjadi seperti Papa yang ahli hukum. Walaupun saya tidak menyukai untuk menjadi seorang polisi wanita, hehe..."
"Akhirnya saya berniat pergi berlibur saja untuk menenangkan pikiran. Sekaligus menguji apa Papa nanti akan merindukan saya atau tidak jika jauh darinya. Saya memang waktu itu sudah melakukan boarding dan tinggal beberapa langkah kaki saja masuk ke dalam pesawat. Namun, hati saya mendadak rindu dengan mendiang kakek dan nenek saya yang dimakamkan di kota ini. Akhirnya saya bergegas keluar dari kerumunan penumpang yang memang hari itu cukup membludak. Saat perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta, tas selempang saya dicuri orang. Otomatis ponsel dan dompet yang berisi uang tunai raib semua. Namun untuk dokumen dan baju masih aman dalam koper. Akhirnya saya memutuskan tinggal sementara di Yogyakarta hingga Papa menemukan saya beberapa waktu lalu. Hehe... maafin Bening ya, Pah. Bening sayang sama Papa," ucap Bening seraya tertawa kecil.
Bening terpaksa berbohong dan berusaha menjelaskan secara gamblang alasan yang tepat agar kredibilitas Papanya masih terjaga. Namun dalam untaian kata Bening tadi pun sebagian adalah kejujuran hatinya.
Dirinya juga ingin tahu apakah sang Papa akan merindukannya kala dia jauh. Atau tetap akan cuek seolah Bening tak dianggap kehadirannya selama ini dalam hidupnya.
Ternyata praduga negatif itu sirna seketika dari benak seorang Bening. Papanya sangat mencintai dan menyayanginya. Hanya saja selama ini Papanya masih terbelenggu rasa kecewa dan kesedihan mendalam atas kepergian Mamanya.
Bening pun sangat memahami. Kejadian dan pengalaman hidup yang sudah dilaluinya, membuat dirinya semakin dewasa dan berpikir dengan bijak dalam memandang sesuatu hal dari sudut pandang yang berbeda.
Sorak sorai dan tangis haru masih menyelimuti suasana aula utama fakultas Hukum, UGM.
__ADS_1
"Luar biasa. Sungguh kita tak menyangka bahwa Bening yang selama ini dikira oleh orang terdekatnya sudah meninggal, ternyata masih hidup dan dalam kondisi yang sehat. Saya tertarik bertanya sedikit pada Pak Komjen Pol Prasetyo Pambudi. Boleh kan ya, Pak?" tanya pembawa acara yang tersenyum tersebut dengan sopan.
"Boleh saja. Silahkan, Mbak Anggi."
"Wah, Bapak Komjen kita satu ini bisa tahu juga nama saya. Hehe..." kelakar Anggi, sang pembawa acara.
"Iya tahu. Tadi sempat dibisikin Mas ganteng yang di belakang," cicit Papa Bening seraya tertawa kecil.
Otomatis obrolan ringan tersebut yang cukup lucu menarik minat para penonton. Baik yang menyaksikan langsung maupun lewat media sosial di internet. Dikarenakan acara ini disiarkan secara live di akun sosial media fakultas hukum kampus Bening tersebut.
Ribuan pesan dan komentar membanjiri akun sosial media fakultas hukum, UGM. Banyak yang mengucapkan keharuan dan rasa bahagia serta selamat pada ketiga juara terutama sosok Bening dan Ayahnya.
Papa Bening sangat jarang tersenyum pada orang lain. Terkesan dingin dan tegas. Bahkan terlihat menakutkan.
Namun siang ini suasana begitu hangat dan mencair. Sehingga para mahasiswa pun tertawa melihat tingkah Papa Bening dengan pembawa acara wanita di atas panggung.
"Bagaimana pendapat Bapak tentang keputusan Bening yang tidak jadi berkuliah di jurusan kedokteran pada akhirnya? Padahal keinginan Bapak, Bening menjadi seorang dokter. Apa Anda kecewa atau bagaimana?" tanya Anggi.
"Awalnya cukup terkejut, itu sudah pasti. Kecewa awalnya memang iya. Dan saya tidak munafik akan hal itu. Karena memang keinginan saya, sangat berharap Bening menjadi seorang dokter. Namun saya berusaha menghargai apapun keputusan putri saya. Selaku Ayah, saya yakin Bening sudah mengambil langkah ini dengan pemikiran yang sangat matang. Dan hal ini tentunya pilihan hatinya serta cita-citanya."
"Saya mengaku salah. Sebagai orang tua, saya terlalu memaksakan kehendak pada anak saya. Mungkin ini bisa dijadikan suatu pembelajaran penting pada orang tua di luar sana agar tidak mengalami hal seperti yang saya alami. Bahwa setiap anak berhak menentukan pilihan hidupnya baik itu tentang pendidikan, pekerjaan maupun calon pasangan hidupnya kelak. Kita sebagai orang tua cukup memberi nasehat dan mengarahkan tanpa adanya paksaan. Semoga bermanfaat. Terima kasih," ucap Komjen Pol Prasetyo Pambudi dengan lugas dan tegas.
Tepuk tangan meriah langsung meramaikan acara penutupan tersebut. Mereka semua begitu terkesima dengan penuturan Papa Bening yang begitu mengena di hati semua pihak.
Akhirnya juara ketiga pun dipanggil untuk naik ke atas panggung. Kemudian Papa Bening menyerahkan semua hadiah dan beasiswa yang diterima oleh ketiga juara tersebut. Lalu mereka semua berfoto bersama di atas panggung.
Acara pun ditutup dengan baik dan sempurna oleh Anggi, selaku pembawa acara.
__ADS_1
Ospek pun usai.
Papa Bening meminta ijin untuk berbicara berdua pada putrinya itu. Bening pun yang memahami situasi, akhirnya meminta ijin pada bosnya via telepon bahwa hari ini dirinya ijin tidak masuk kerja.
Bosnya pun tak masalah sebab ia tengah senggang hari ini. Jadi ia bisa membantu untuk menjaga tokonya sendiri hingga tutup bersama karyawan yang lain. Bening pun bernafas lega.
Pukul empat sore, ketiganya bergegas menaiki mobil meninggalkan area kampus.
Riko yang duduk di kursi depan sebelah sopir. Sedangkan di belakangnya, Bening duduk bersebelahan dengan sang Papa. Mobil sedan hitam mewah itu melaju membelah kota Yogyakarta.
Senja mulai tampak di balik kaca mobil yang berwana hitam pekat dan tak tembus pandang dari luar.
Papa Bening memeluk putrinya yang tengah bersandar di dadanya. Satu tangannya yang lain pun tengah menggenggam erat tangan Bening.
"Cucu Papa di mana, sayang? Apa sedang tidur di rumah? Kalau kamu kuliah, siapa yang menjaganya?" tanya Papa Bening tersenyum sumringah tak sabaran ingin bertemu sang cucu.
Deg...
Tentu saja pertanyaan tersebut terlontar dari bibir Papa Bening saat melihat perut putrinya sudah tidak buncit lagi. Yang artinya, menurut perhitungannya memang cucunya itu sudah lahir.
Sontak mendengar hal itu, Bening langsung melepaskan pelukan Papanya dan duduk tegap sembari memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil.
Dirinya menatap senja yang sudah tampak dan akan meredup sesaat lagi seiring dengan tenggelamnya matahari. Mendadak kerinduan hatinya pada mendiang jabang bayinya tengah berkecamuk di dalamnya.
Keheningan menyelimuti suasana di dalam mobil yang tengah melaju. Sendu pun tiba-tiba datang menyergap sukma.
๐๐๐
__ADS_1