Bening

Bening
Bab 111 - Teman Makan Teman Lagi Hits


__ADS_3

Di sebuah restoran yang berkonsep cafe mewah, Rendra tengah berkencan bersama Luna yang sudah resmi menjadi kekasihnya sejak empat bulan lalu. Tentu Rendra sangat bahagia. Sebab ia sudah lama melakukan pendekatan cinta dengan Luna. Namun wanita ini sangat susah didekati.


Sebagai lelaki, ia sangat tahu Luna juga punya rasa untuknya. Namun seperti terhalang sesuatu. Padahal keluarga Luna sangat welcome padanya. Bahkan dirinya sudah mendapat lampu hijau dari orang tua Luna yang notabene Mama Luna dan ibunya ternyata saling mengenal dan berteman baik.


Akhirnya ia tahu bahwa Luna terganjal menerima cintanya karena Della juga suka padanya sehingga Luna menjauhinya. Dengan kegigihan dan cinta yang tulus membuat Luna akhirnya bertekuk lutut pada cintanya.


Sebagai lelaki, dirinya sangat tahu sejak masih SMA, Della suka padanya. Sehingga Della selalu berusaha mendekatinya. Namun hati tetaplah jadi penentu terakhir.


Cinta, hati dan kenyamanan itu hal terpenting yang akhirnya menentukan sikap Rendra untuk memilih bahwa Luna wanita yang baik untuknya dan terpilih. Love at the first sight.


Langkah kaki jenjang Della melangkah masuk secara kasar ke area cafe, tempat kencan Rendra dan Luna. Matanya menatap tajam pada dua sosok yang tengah duduk di pojokan. Keduanya sedang menikmati makan. Namun senyum ceria dan bahagia terpancar jelas dari raut wajah keduanya.


Tap...tap...tap...


Derap langkah sol sepatu Della perlahan mendekati meja mereka. Dan seketika...


BRAKK !!


Tangan Della menggebrak meja Rendra dan Luna yang membuat keduanya terkejut bukan main. Seakan kepergok hansip tengah mojok berdua di pengkolan gelap.


"Oh, ternyata sekarang teman makan teman lagi ngehitss ya. Emang bener. Dan aku enggak nyangka banget lho Lun, kalau kamu tega nusuuk aku dari belakang. Teman apaan itu. Teman bullshit !" pekik Della


"Jaga bicaramu, Del !" bentak Rendra yang langsung berdiri menatap tajam pada Della. Namun tangan Rendra digenggam Luna guna memberi kode agar tidak terpancing emosi menghadapi Della.


"Aku enggak bicara sama kamu, Ren. Aku bicara sama sahabatku yang sangat baik yang duduk di sebelahmu itu. Kamu kan tahu kalau aku suka sama Rendra sejak SMA. Kenapa kamu tega Lun, rebut dia dari aku? Teman gak tahu diri banget sih, kamu itu. Huft... dasar pelakor !!" maki Della.


"Eh, Del. Aku lurusin ya. Bukan Luna yang rebut aku dari kamu. Kita hanya berteman sejak SMA dan aku enggak pernah menerima kamu sebagai pacar aku dari dulu hingga sekarang bahkan hingga nanti di masa depan. Aku cuma cinta sama Luna. Terus salah kita berdua di mana? Aku cinta sama dia dan dia cinta sama aku," ucap Rendra dengan tegas.


"Dasar muna-fik lo, Lun !!" hardik Della.


"Berhenti ngehina pacar aku begitu, Del! Kalau kamu marah, maki saja aku. Itu terserah kamu. Tapi jangan sekali-kali kamu ngejelekin Luna. Aku sebagai pacarnya, enggak terima !" bentak Rendra.


"Wow selamat. Akhirnya kamu punya pahlawan juga, Lun. Pahlawan kesiangan. Ternyata diam-diam kamu menghanyutkan juga ya, Lun. Aku pikir sainganku buat dapetin Rendra sejak dulu itu si Bening. Enggak tahunya, sahabatku sendiri yang makan dagingku. Semoga hubungan kalian gak awet. Kalau bisa besok putus saja deh. Kalian berdua enggak cocok. Dan mulai detik ini persahabatan kita putus !" pekik Della.

__ADS_1


"Terima kasih, Del. Semoga hidupmu juga bahagia setelah kita sudah tidak bersahabat lagi," balas Luna seraya menatap Della.


Byurr...


Pyarr...


Mendadak wajah Luna disiram orange jus oleh Della. Gerakan cepat tangan Della mengambil gelas minuman Luna dan langsung menyiram ke wajah Luna, sempat terlambat dibaca oleh Rendra.


Namun beruntung tidak semua isi minuman tersiram ke wajah kekasihnya itu. Sebab Rendra segera menangkis gelas tersebut dengan tangan kanannya. Dan berakhir jatuh ke lantai hingga pecah. Sehingga hanya setengahnya saja yang mengenai wajah Luna.


Della pun bergegas pergi meninggalkan area cafe tersebut dengan perasaan marah dan kecewa.


"Brengsek !!" maki Rendra.


"Kamu enggak apa-apa yank?" tanya Rendra pada Luna dan mengambil tisu untuk mengelap wajah kekasihnya yang basah.


"Enggak apa-apa kok. Udah tenang saja. Aku masih cantik kan walau basah kuyup begini? Hehe..." cengir Luna seraya tertawa kecil.


"Aduh langsung mele leh dan lumer hati adik, Bang. Dasar gombal!" ledek Luna seraya terkekeh.


"Haha..."


Rendra dan Luna tetap ceria dan bahagia walaupun kencan mereka sempat terganggu dengan kedatangan Della.


Sedangkan di dalam mobil, Della memaki Luna dan Rendra terus-menerus sampai dirinya tak fokus menyetir. Yang akhirnya ia menabrak seorang pengendara motor hingga mengalami luka dan dibawa ke rumah sakit.


Yang berujung dirinya harus bertanggung jawab pada korban. Karena keluarga korban menuntut ganti rugi atas motor yang mengalami kerusakan dan biaya berobat korban.


"Sial !! Beneran sial banget sih aku hari ini. Sudah kena teman makan teman eh pakai nabrak orang segala. Untung orang itu masih hidup. Tapi buang-buang duit saja. Fiuhh... tujuh puluh lima juta melayang buat ganti rugi. Semoga Mama enggak ngomel," keluh Della.


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


Di tempat lain Arjuna sudah menemukan titik terang bahwa pria ketiga adalah mantan anggota. Dan saat ini orang tersebut sudah masuk DPO ( Daftar Pencarian Orang ). Statusnya masih buron.

__ADS_1


Pihak berwajib masih berusaha mengetahui persembunyian pria ketiga tersebut yang diduga memasukkan sianida ke dalam kopi kedua preman tersebut. Lalu membuang mayatnya ke hutan.


Tiba-tiba Bening menelpon. Dan Arjuna pun dengan sigap mengangkat telepon istrinya itu.


"Halo, yank. Ada apa? Kangen ya?" tanya Arjuna to the point dan sengaja menggoda.


"Iya, Mas."


"Kangennya berat apa enteng?" ledek Arjuna membuat Bayu yang ada di sebelahnya hanya bisa memutar bola matanya jengah melihat tingkat pasutri bucin.


Akhirnya ia memutuskan pergi dan memberi ruang bagi pasutri bucin ini untuk meluapkan kerinduan yang sudah menggunung setinggi gunung Salak, Bogor.


"Kangen banget," cicit Bening manja.


"Tumben ngalem. Biasanya aku yang ngalem. Kan semalam sudah video call sama megalodon. Katanya pengin lihat ada tahi lalat yang tumbuh apa enggak di sana. Apa masih kurang pengin nyobain langsung? By the way, sekarang kangen apa sih istriku ini?"


"Kangen Papa," jawab Bening singkat membuat suaminya di seberang sana heran.


"Kalau kangen Papa, kok teleponnya ke sini? Kalau yang ini masih calon Papa dalam proses pembuatan adonan, belum jadi Papa. Calon Bu Kombes lagi pusing ya? Kok mendadak amnesia," ledek Arjuna menggoda.


"Mas, ih. Ngeledekin terus. Huft !!" gerutu Bening mendadak kesal.


Bip...


Tiba-tiba telepon diputus secara sepihak oleh Bening. Membuat si suami langsung melongo dan mendadak terbengong.


"Astaga, calon Bu Kombes minta dihukum tujuh ronde ini. Berani-beraninya mutusin telepon Komandan. Belum tahu dia kalau sudah lemes-lemes minta ampun," gerutu Arjuna gantian memarahi ponselnya tidak jelas.


Sedangkan di Jogja, Bening tengah menangis sambil memakai jaket milik Papanya yang belum juga ia cuci.


"Huhu... Mas Arjuna jahat. Jahaattt !!" teriak Bening seraya terisak pilu.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

__ADS_1


__ADS_2