
Untuk mendukung feel dalam membaca pada part awal chapter ini.
Othor sarankan sembari memutar lagu "Gugur Bunga".
Selamat Membaca๐
๐๐๐
Trending topik pagi ini baik di media cetak maupun media elektronik masih mengenai berita kematian dan acara pemakaman almarhum Komjen Pol Prasetyo Pambudi yang menjabat sebagai Wakapolri.
Rencananya upacara akan dipimpin oleh inspektur upacara yakni Presiden RI. Dan Kapolri bertindak sebagai komandan upacara.
Kemarin hampir di beberapa kota besar baik Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Denpasar hingga Lombok diguyur hujan deras saat meninggalnya Papa Bening. Tetapi hari Sabtu ini saat detik-detik menjelang pemakaman, jutsru langit Jakarta dan sekitarnya tampak cerah.
Semua telah hadir di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan. Baik Presiden RI, Kapolri, Gubernur DKI Jakarta, keluarga besar, para tamu VIP dari kalangan militer maupun pengusaha. Serta ribuan masyarakat yang turut hadir di sana.
Dikarenakan berita duka ini begitu viral seantero negeri sehingga banyak masyarakat yang antusias ingin mengikuti dan melihat secara langsung prosesi pemakaman Papa Bening. Mereka seakan ikut tenggelam dan merasakan kesedihan mendalam yang dialami oleh Bening dan Arjuna.
Bening sungguh tak menyangka disaat ia mengalami kesedihan mendalam, banyak masyarakat yang turut hadir dan mendoakan di acara pemakaman sang papa mulai keluar dari rumah sakit hingga di jalanan menuju area pemakaman.
Seperti kata pepatah, kita bisa mengetahui orang itu baik yakni saat orang tersebut meninggal dunia. Hal itu terlihat sekali kala Papa Bening telah meninggal dunia. Kebaikan-kebaikan itu pun muncul dengan sendirinya ke permukaan. Hingga membuat Bening semakin terharu.
Ia tak tahu bahwa Papanya memiliki banyak yayasan yatim piatu yang setiap bulan rutin mendapatkan santunan. Hingga rumah singgah untuk anak-anak jalanan di Jakarta. Bahkan nama sang papa, mendiang mamanya serta namanya sendiri tercantum sebagai donatur terbesar pembangunan sebuah masjid cukup ternama di kota Bandung sejak sepuluh tahun yang lalu.
โ๏ธโ๏ธ
Upacara Pemakaman Wakapolri
Almarhum Komjen Pol. Prasetyo Pambudi
Jakarta, 26 Agustus xxx.
Pidato :
Saya Presiden RI.
Atas nama negara, bangsa, dan Kepolisian Republik Indonesia dengan ini mempersembahkan ke persada ibu pertiwi, jiwa raga, dan jasa-jasa almarhum. Nama Komjen Pol. Prasetyo Pambudi jabatan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia tahun xxx. Putra tunggal dari Bapak Ardiyanta Suprapto Pambudi almarhum. Yang telah meninggal dunia demi kepentingan serta keluhuran bangsa dan negara pada hari Jumat tanggal 25 Agustus tahun xxx pukul 10.30 WIB di rumah sakit xxx Jakarta Selatan karena sakit.
Beliau adalah seorang perwira tinggi polisi yang jujur, penuh integritas, loyalitas tanpa batas serta memiliki dedikasi serta tanggung jawab penuh pada institusi, bangsa dan negara. Beliau juga seorang Ayah yang baik sekaligus inspirator bagi rekan sejawatnya dan anggota lainnya di kepolisian serta orang-orang di sekitarnya yang menyakini bahwa tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya.
Beliau sosok figur pemimpin yang tegas, cerdas, menginspirasi, berwibawa dan selalu menegakkan keadilan on the track. Seperti kata beliau yang pernah saya ingat bahwa iman, ilmu pengetahuan dan takwa itu harus bersatu. Beliau adalah suri tauladan bagi kita semua. Sungguh bangsa dan negara telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Dari jasa-jasa almarhum yang penuh integritas dan dedikasinya maka dengan ini izinkan saya menaikkan pangkat almarhum dari seorang Komjen menjadi Jenderal Polisi.
Selamat jalan Jenderal. Jasamu akan selalu kami kenang.
โ๏ธโ๏ธ
__ADS_1
Penghormatan pada jenazah dipimpin oleh komandan upacara.
"Kepada jenazah hormat senjataaaa, grakk !!" ucap Kapolri.
Dor...
Suara tembakan senjata ke udara yang dilakukan oleh para anggota kepolisian mengiringi prosesi pemakaman Jenderal Polisi Prasetyo Pambudi ke peristirahatannya yang terakhir.
Isak tangis mengiringi saat sang menantu AKBP. Arjuna Sabda Mahendra, beberapa kerabat laki-laki dan juga anak buah sang jenderal, turun dan memasuki liang lahat.
Bening terisak pilu menyaksikan prosesi pemakaman sang papa di tempat duduknya dalam dekapan sang ibu mertua. Nyonya Lina langsung berangkat ke Jakarta usai mendengar kabar besannya meninggal dunia.
Ia tak menyangka sang besan dengan cepat meninggalkan mereka sebelum mengetahui bahwa Bening telah hamil. Terlebih sang besan meninggal tepat di hari ulang tahunnya. Padahal beberapa waktu lalu keduanya sempat berbincang di Jogjakarta. Terlihat begitu antusias dan tak sabar kala nantinya membayangkan akan menimang cucu dari Bening dan Arjuna saat Tuhan sudah menganugerahkannya.
Namun takdir berkata lain. Bahwa kini dirinya pergi meninggalkan semua kenangan indah yang tak akan terlupakan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Kemarin bersama Pak Tikno, Ayu, dan ajudan lainnya dengan pengawalan ketat dari patwal kepolisian, mereka melewati jalur darat dengan mengendarai mobil dari Jogjakarta ke Jakarta. Alhasil dalam tempo cepat hanya beberapa jam saja, rombongan keluarga Arjuna tiba di Jakarta.
"Papa. Huhu..." cicit Bening dengan mata yang sembab karena sejak kemarin terus menangis.
"Ikhlas, Ning. Papamu sudah bahagia sama Mama di sana. Sekarang ada ibu sama Juna yang dampingi kamu di sini. Jangan nangis terus ya sayang. Kalau kamu sakit, kasihan yang di sini kalau diajak Mamanya nangis terus," ucap Ny. Lina berusaha menguatkan sang menantu padahal sesungguhnya ia pun berusaha menahan kesedihan. Dirinya jadi teringat mendiang suaminya yang telah meninggal dunia. Ia terus mendekap erat Bening seraya mengelus lembut perut sang menantu.
"Huhu... sabar Ning. Jangan nangis terus. Bener kata Bude. Nanti kamu bisa sakit. Terus kalau kamu sakit, bayi dalam kandunganmu pasti ikutan sakit. Papamu di sana pasti sedih melihatmu. Jangan nangis ya. Ikhlas," cicit Ayu yang juga sama-sama memeluk Bening berusaha saling menguatkan.
Sepanjang perjalanan kemarin dari Jogjakarta ke Jakarta, Ayu pun di dalam mobil tak berhenti menangis. Ia tak menyangka Bening akan mengalami nasib yang sama sepertinya menjadi seorang anak yatim piatu.
"Selamat jalan, Pah. Semoga kita bisa dipertemukan kembali dalam kondisi yang jauh lebih bahagia di sana kelak," batin Bening.
"Selamat jalan, Jenderal. Juna janji akan selalu jaga dan bahagiain mutiara hati Papa tercinta, Bening Putri Prasetyo. Semoga kelak keluarga kita bisa berkumpul kembali di akhirat bahagia bersama-sama," batin Arjuna saat memberi penghormatan terakhir pada Jenderal Polisi Prasetyo Pambudi, papa mertuanya.
Acara pemakaman pun usai. Semua berjalan dengan lancar. Para tamu VVIP dan pejabat lainnya sudah meninggalkan area pemakaman, menyisakan Arjuna dan Bening serta Riko, Bayu dan beberapa ajudan yang masih berada di sana. Sedangkan Ny. Lina dan Ayu sudah kembali ke kediaman Papa Bening.
"Mas, malam ini aku tidur di kamar Papa. Boleh?" tanya Bening lirih seraya kepalanya bersandar di pundak Arjuna. Keduanya masih duduk di depan pusara Papa Bening.
"Boleh. Mas temani ya?" pinta Arjuna.
"Iya, Mas. Maunya tidur sama jaket papa yang aku pakai sekarang," cicit Bening.
"Iya. Jangan lupa nanti di rumah, makan ya. Tadi pagi kan muntah-muntah terus. Kasihan kalau yang di sini enggak di kasih asupan yang banyak. Biar kuat jagoannya di sini kayak mendiang kakeknya," ucap Arjuna.
"Huum. Tapi mas suapi aku. Terus tolong buang semua televisi di rumah Papa. Gara-gara itu Papa meninggal. Jahat !! Dia jahat ! Kenapa dia tega sama aku. Apa salahku sama dia, Mas. Bukankah kita teman satu sekolah. Dia juga perempuan. Kenapa tega? Jahat !! Huhu... Papaaa," jerit Bening yang menangis kembali.
"Sabar ya sayang. Kita pasti bisa ngelewatin ini semua. Dia akan nerima hukuman yang setimpal. Percaya sama Mas, hem..." bisik Arjuna penuh kelembutan berusaha mendekap sang istri yang kembali bersedih kala mengingat penyebab kematian sang papa yakni ternyata karena ulah Della Wijaya.
Sejauh apapun kaki melangkah. Sebanyak apapun harta yang kita miliki. Setinggi apapun jabatan dan tahta kita. Pada akhirnya kita akan kembali ke tanah. Berteman dengan amal dan dosa yang kita bawa selama di dunia.
__ADS_1
โ๏ธโ๏ธ
Betapa hatiku takkan pilu
Telah gugur pahlawanku
Betapa hatiku takkan sedih
Hamba ditinggal sendiri
Siapakah kini plipur lara
Nan setia dan perwira
Siapakah kini pahlawan hati
Pembela bangsa sejati
Reff :
Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh sribu
Tanah air jaya sakti
Gugur bungaku di taman hati
Di hari baan pertiwi
Harum semerbak menambahkan sari
Tanah air jaya sakti
๐๐๐
Note :
Mohon bantu rate โญ 5 untuk Bening, Sobat Safira semua yang setia membaca karya-karyaku๐. Mood othor lagi anjlok. Susah untuk menjabarkan satu per satu di sini.
Sedang sibuk mengurus sesuatu, tiba-tiba mendapat kiriman seperti ini jadi semakin nelangsa hatiku dan langsung hilang fokus. Saya juga heran kok ada orang-orang yang mendadak muncul hanya untuk menjatuhkan karya orang lain. Saya coba tanya baik-baik kenapa memberi penilaian seperti itu pada karya saya tetapi tidak dijawab. Maaf jika saya block pada akhirnya. Hapunten na...
__ADS_1