
Remuk redam itulah yang dirasakan oleh Stella di sekujur tubuhnya. Bahkan untuk bangun dari tempat tidur pun ia tak bisa. Beruntung Dave masih mau dan sudi menyiapkan sarapan pada istri yang selalu menghina kep3rrkasaannya itu.
"Ini, makanlah. Aku tidak mau memelihara mayat hidup. Jadi cepat makan sebelum aku berubah pikiran. Jangan coba-coba pergi dari apartemen ini. Atau menghubungi orang lain. Jika kamu melanggarnya, bersiaplah kamu dan keluargamu jadi gelandangan. Paham kamu, Ste!" pekik Dave yang dijawab anggukan kepala oleh Stella.
Untuk membuka suara dari bibirnya pun tak bisa ia lakukan karena mulutnya terasa kelu dan kebas. Bahkan membengkak serta di ujungnya ada bekas darah mengering karena tamparan Dave semalam.
Dave menyita ponsel Stella dan mematikan pesawat telepon apartemennya. Ia pun menyewa dua orang bodyguard berjaga di luar apartemen.
Dave yang sudah berpakaian rapi hendak ke kantor pun berhenti sejenak di pintu kamar mereka saat tangannya akan menarik gagang pintu. Lalu Dave pun menoleh pada Stella yang masih meringkuk di bawah selimut dalam kondisi polos.
"Bereskan seluruh ruangan apartemen kita. Pembantu aku pecat. Dan mulai detik ini jadilah istri yang berguna di rumah. Tak perlu masak karena aku tahu kamu paling benci untuk urusan dapur. Cukup bersihkan saja. Karena kamu tahu kan aku paling benci dengan hal-hal yang kurang rapi dan kurang bersih. Aku pergi dulu," ucap Dave seraya bergegas pergi bekerja.
"Eughh... Dave sialan! Awas saja nanti. Aku laporkan pada Papa," cicit Stella yang masih belum sadar akan kesalahannya.
Stella sudah menginjak harga diri Dave selama ini sebagai suami yang loyo performanya di atas ranjang. Dave selama ini berusaha bersabar dan tetap meladeni hassrrat Stella.
Walaupun masih belum maksimal versi Stella. Dan kini kesabaran Dave habis juga. Terlebih harga dirinya diinjak lebih dalam. Saat istrinya dibawa menikmati indahnya puncak asmara, justru Stella meneriakkan nama mantan kekasihnya yakni Arjuna.
Dan kini angin berbalik menyerang Stella. Dave berang dan ingin memberi pelajaran pada Stella yang hanya bisa hidup berfoya-foya menghabiskan uangnya saja tanpa mau menjadi seorang istri yang sepatutnya.
Di depan apartemen, Dave pun memberikan instruksi pada pengawalnya yang bertugas menjaga Stella.
"Awasi Nyonya baik-baik. Jika sampai kabur, kepala kalian akan lepas dari tempatnya. Paham!" perintah Dave dengan tegas.
"Siap, Bos." Kedua bodyguard tersebut menjawab serempak.
Sedangkan di dalam sana, Stella masih tak bisa berbuat apapun. Sebab Dave mematikan telepon, sambungan internet bahkan ponselnya juga disita. Entah disembunyikan suaminya di mana. Stella pun tak tahu.
"Sial! Bisa-bisa kulitku kusam dan kuku-kuku cantikku rusak semua kalau setiap hari kerjaanku beberes rumah jadi ba-bu. Brengsek!" maki Stella seraya sibuk membereskan kamarnya dengan Dave yang sudah seperti kapal pecah.
__ADS_1
Mendadak Stella teringat dengan pekerjaannya.
"Astaga! Hari ini bukankah ada pemotretan. Bagaimana ini? Wajahku babak bellurr begini. Enggak mungkin aku kerja hari ini. Padahal kontraknya lumayan. Huft, lima puluh juta melayang," keluh Stella.
"Bener-bener sial! Andai dahulu aku menikah sama Arjuna. Pasti hidupku enggak begini jadi ba-bu," batin Stella penuh penyesalan.
โ๏ธโ๏ธ
Sedangkan saat ini Doni tengah berada di Garut, kampung halamannya bersama istri dan juga kedua buah hatinya.
Ia sudah melihat isi flashdisk yang sengaja ia ambil dari kediaman Arjuna. Dirinya sudah sejak lama mengintai rumah dinas Arjuna yang dibantu rekan sesama anggota yang juga tinggal tak jauh dari rumah Arjuna tersebut dan beberapa orang preman yang ia sewa untuk melancarkan aksinya.
Setelah kurang lebih dua bulan pengintaian, akhirnya membuahkan hasil yang maksimal. Walaupun awalnya ia berusaha mencari kelemahan Arjuna dengan mencari berkas kasus penting yang sedang ditangani Arjuna agar suami Bening itu gagal naik jabatan, namun pucuk dicinta ulam pun tiba.
Ibarat kata pepatah, "Tak ada rotan maka akar pun jadi". Tak menemukan berkas kasus penting yang sedang ditangani Arjuna, justru ia menemukan flashdisk yang berisi kejadian di lorong hotel menuju kamar 779 di kota Bandung. Tempat Arjuna merudapaksa Bening Putri Prasetyo.
Ia pun membuka isi file dalam flashdisk tersebut di laptop pribadinya. Sungguh mencengangkan baginya melihat adegan Arjuna yang brruutal memaksa Bening.
Tiba-tiba istri Doni yang bernama Titin pun hendak masuk membawa secangkir kopi sesuai permintaan sang suami.
"Kang, ini kopinya. Mau ditaruh di mana?" tanya Titin dari luar kamar.
"Bawa masuk saja Tin, Akang haus."
Titin pun langsung membawa secangkir kopi hitam kesukaan sang suami dan ia letakkan di meja kecil sebelah ranjang mereka.
Doni pun lantas mematikan laptopnya. Dan beranjak duduk di ranjang mengambil cangkir kopi yang diberikan sang istri yang juga tengah duduk di sampingnya.
"Ini Kang, kopinya. Titin bikin hangat biar Akang bisa langsung minum," ucap Titin seraya memberikan kopi buatannya pada Doni.
__ADS_1
Doni pun langsung meminumnya satu hingga dua teguk. Lantas tatapannya mendadak berubah tersenyum pada sang istri yang hari ini tampak cantik dan membangkitkan sesuatu di bawah sana.
Titin yang hari ini hanya berpakaian daster rumahan berwarna merah jambu tanpa lengan, tanpa make up, dan secara kebetulan tanpa memakai penyangga dua buah kelapa yang bergelantungan di depannya. Membuat Doni ingin bermandi keringat bersama sang istri yang telah lama tak ia sentuh.
"Tin, kopinya kurang."
"Hah, kurang apa Kang? Kurang gula ya? Maafkan Titin ya Kang," cicit Titin merasa bersalah pada suaminya.
"Kurang suu suu," jawab Doni.
"Bukannya Akang enggak doyan suu suu? Kok tumben sekarang doyan," ucap Titin yang bingung.
"Suu suu spesial cap kamu punya," bisik Doni.
Blushh...
Pipi Titin langsung merah merona bak kepiting rebus. Lama tak jumpa sudah hampir delapan bulan lamanya. Tentunya sawahnya sudah lama gersang dan tak dipakai bercocok tanam dengan suaminya.
"Malu, Kang. Masih siang. Nanti kalau anak-anak pulang sekolah gimana? Satu jam lagi Aa sama si Dede pulang sekolah," cicit Titin.
"Satu jam juga cukup, Tin. Akang lagi pengin nih, Tin. Apa kamu enggak kasihan. Nih cangkul akang sudah bangun," bisik Doni seraya mengambil tangan sang istri dan ia letakkan di atas sarungnya yang sudah menggelembung.
Sontak Titin pun terkejut bahkan tanpa sengaja tangannya saat akan ia tarik justru merrem mas benda tumpul nan panjang tersebut yang sudah menjulang siap membajak sawahnya.
Titin tipikal istri yang penurut dan tak banyak menuntut. Wanita desa yang apa adanya. Alhasil siang hari itu pun keduanya melakukan penyatuan suami istri yang lama tak mereka lakukan.
Doni yang sudah piawai dan memiliki sertifikat level tinggi untuk urusan bajak membajak sawah pun akhirnya melepaskan bibit-bibitnya pada ra hiim sang istri.
Beruntung kedua anak mereka sedang bersekolah. Sehingga tidak mengganggu acara bercocok tanam kedua orang tuanya yang sedang membuatkan adonan adik untuk mereka.
__ADS_1
๐๐๐