Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Mulai memperhatikan


__ADS_3

Sarah semakin tertekan mendengar kabar jika permasalahannya telah tersebar luas, hingga kelingkungan rumahnya.


Ia seakan tak punya muka lagi untuk keluar rumah, dan bertemu dengan para tetangga.


"Aku harus gimana? Aku sama sekali nggak tau kalau dia udah nikah? Aku tau aku memang bodoh karena tak bertanya dulu dan mencari tau. Tapi, aku hanya ingin menjadi wanita yang pengertian saja. Aku nggak nyangka kalau begini jadinya. Sekarang harus gimana?" tutur Sarah yang meluapkan kegundahannya kepada ketiga wanita yang tengah mengelilinginya.


"Apa orang tuamu sudah tau?" tanya Murni.


Sarah hanya menggeleng pelan. Dalam hati, ada kekhawatiran jika berita itu sampai ke telinga keduanya.


Tangis tak bisa lagi dibendung oleh wanita hamil itu. Ia memeuk Tari yang sedari tadi memegangi pundaknya.


Murni, Tari dan Susan merasa iba dengan kondisi teman mereka. Tak ada yang menyangka, jika nasib Sarah yang dikenal banyak orang sebagai sosok yang lembut, penyayang dan baik hati, kini justru berbalik 360 derajat, dan bahkan mendapat stempel pelakor.


"Sar, semarah apapun kamu sama Miko, dia tetaplah suamimu. Kamu harus tetap melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri. Kalau tidak, kamu bisa dosa," ucap Tari yang memang selalu bisa berpikir lebih dewasa.


Lama mereka saling berbincang, dan mencoba untuk menghibur hati Sarah yang sedang gundah. Hingga menjelang sore hari, mereka bertiga pun pamit pulang.


Sepulangnya ketiga temannya, Sarah duduk di ruang tamu seorang diri. Dia teringat dengan omongan Tari.


Sarah pun berjalan menuju dapur, dan bersiap memasak makan malam untuk Miko. Meski hatinya sangat sakit, namun perkataan Tari sepenuhnya benar. Dia masihlah seorang istri, yang harus mau melayani suaminya.


Setelah memasak, Sarah makan sedikit untuk mengganjal laparnya. Sejak masuk rumah sakit, nafsu makannya berkurang, ditambah tekanan yang sedang dialaminya.


Selesai makan, ia pun kembali mengurung diri di kamar.


Saat sore hari, Miko pulang dan mencari wanita itu. Dia mendekati Sarah dan berharap sang istri bisa lebih menerima kondisi ini setelah bertemu dengan teman-temannya.


"Sar, aku pulang." Miko mengulurkan tangan hendak meminta Sarah untuk mencium punggung tangannya.


Sarah meraihnya tanpa menoleh, dan hanya menempelkannya di pipi saja. Lalu setelah itu, ia melepasnya begitu saja, hingga Miko hanya mampu menghela nafas panjang.


Rupanya, dia belum bisa menerimanya, Batin Miko.


"Sar, kamu udah makan?" tanya miko dengan lembut.


Namun, Sarah sama sekali tak menghiraukannya. Dia seakan muak dengan suaminya, karena kebohongan yang selama ini ia lakukan.


Wanita itu lalu berbaring dan menarik selimut hingga menutupi leher. Matanya terpejam seolah memberi tanda bahwa dia tak lagi ingin di ganggu.


Lagi-lagi, Miko hanya bisa menghela nafas berat. Dia pun beranjak dari sana dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Selesai mandi, dia berjalan ke dapur. Namun, sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah tudung saji berada di atas meja makan, yang sebelumnya selalu kosong tak ada apapun di atasnya.


Miko pun berjalan mendekat, dan membukanya. Ia terperangah melihat masakan yang sudah tersedia di atas meja.


Sudut bibirnya tertarik menciptakan sebuah lengkungan ke atas, dengan tatapan haru.


Rupanya kamu perlahan-lahan sudah mau menerimaku lagi, Sar, batin Miko.

__ADS_1


Dengan semangat, Miko pun mengambil makanan dan menyantapnya seorang diri. Ia tak peduli jika di tempat Sarah pun, dia diacuhkan seperti di rumah Lidia, karena dia tau jelas bahwa ini semua salahnya.


Keesokan harinya, Miko pamit untuk pulang ke rumah Lidia. Dia ingin menyelesaikan permasalahan di sana, dan juga sebagai perhatian seorang suami. Karena bagaimana pun juga, mulai sekarang, dia harus bisa adil membagi waktunya dengan dua istri.


"Aku hari ini nggak pulang, Sar. Aku akan ke tempat Lidia untuk mencoba bicara padanya. Aku janji, besoknya aku akan segera ke sini dan menemanimu," tutur Miko di sela waktu sarapan.


Sarah hanya diam. Dia masih sangat marah dengan pria itu.


Seperginya Miko, sarah tak mampu lagi bersikap tegar. Air mata kembali luruh.


"Ya Allah. Jadi sesakit ini rasanya berbagi suami. Aku tak pernah ingin mengalaminya. Tapi kenapa Engkau gariskan aku menjadi istri kedua?" ratap Sarah.


"Kenapa harus ada poligami, kalau hanya menyakiti hati perempuan. Jika sudah begini, lalu aku harus bagaimana? Aku perempuan, tetapi aku sudah merebut kebahagiaan perempuan lain. Aku bukan marah pada-Mu, aku hanya sedang meminta petunjuk agar bisa keluar dari semua ini," ucap Sarah dalam tangisnya.


"Tolong beri hambamu ini pertolongan, Ya Allah. Hamba tak ingin selalu dibayang-bayangi rasa bersalah terhadap wanita yang telah ku rebut kebahagaiaannya," lanjut sarah yang semakin terisak.


Tiba-tiba, dia merasakan perutnya kram.


"Ah ... perutku kenapa?" keluh Sarah yang memegangi perutnya, karena merasakan hal tak nyaman.


Dia pun mencoba tenang, dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif, agar kramnya bisa berkurang.


Dia segera pergi ke kamar, dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Ia memanggil sebuah taksi online untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


Beberapa waktu kemudian, sarah telah sampai di sana dan berjalan perlahan menuju ke ruang prakter Dokter Fadil.


Dokter Fadil meminta wanita hamil itu untuk berbaring di tempat yang sudah disediakan. Dia pun lalu memulai pekeriksaan dibantu oleh seorang perawat.


"Ehm ... tadi yang dirasa apa, Bu?" tanya Dokter Fadil di sela pemeriksaannya.


"Tadi sempet kram, Dok." Sarah terus memperhatikan layar monitor di atasnya.


"Bayinya sehat kok. Dia baik-baik aja. Sudah, silakan bisa bangun," ucap Dokter Fadil yang berlalu menuju mejanya.


Sarah pun turun dan duduk di depan dokter itu.


"Bu Sarah, saya sudah pernah bilangkan, kalau menjaga hati dan pikiran tetap tenang itu sangat penting."


"Meskipun bayi ibu kuat, tapi kalau terus-terusan ibu dalam kondisi tertekan, lama-lama dia juga bisa kena efeknya. Ibu nggak mau kan kalau dia sampai kenapa-kenapa?" Papar Dokter Fadil menasehati Sarah.


"Iya, Dok. Akan saya usahakan," ucap Sarah.


"Jangan diusahakan, bu. Tapi harus," sahut Dokter Fadil.


Sarah terlihat diam. Dia bingung dalam masalahnya ini apa dia masih bisa bersikap tenang. Wanita itu hanya mengusap-usap perutnya yang masing tampak rata.


Dokter Fadil diam-diam memperhatikan ekspresi pasiennya yang terlihat murung.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Sarah beranjak dari sana dan keluar.

__ADS_1


Sarah keluar begitu saja tanpa menerima resep dari dokter. Saat berada di lorong, seorang perawat mengejarnya.


"Bu Sarah. Tunggu, Bu." Perawat itu berlarian mengejar Sarah yang sudah berjalan cukup jauh.


Wanita itu pun menoleh.


"Iya, Sus. Ada apa?" tanya Sarah.


Perawat tersebut tak langsung menjawab. Dia terlihat terengah-engak dan mencoba mengatur nafas dengan baik.


"Ini resep obat Anda tertinggal, Bu." Perawat tadi pun menyerahkan selembar kertas berisikan tulisan tangan Dokter Fadil.


"Oh, maaf. Saya lupa, Sus." Sarah kemudian meraihnya.


Setelah menerima resep itu, sarah bermaksud berjalan menuju ke apotik. Namun, pikirannya yang tengah kacau membuatnya berjalan entah ke mana, hingga berakhir di sebuah taman yang biasa menjadi tempat membuang penat para pasien di rumah sakit.


Saat sampai di sana, Sarah tersadar jika sedari tadi dia berjalan sambil melamun.


"Hah ... kenapa malah ke sini?" Keluhnya.


Ingin putar arah, namun dia merasa lelah. Akhirnya, Sarah pun memilih duduk di bangku taman yang kosong, dan mengistirahatkan kakinya.


Ia menyandarkan punggungnya, seolah tengah menumpukan beban yang tengah ia pikul saat ini.


Terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari mulutnya, dan pandangannya seakan menerawang, kosong menatap ke depan.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Hari-hari berlalu dengan cepat, tak terasa kini kehamilan sarah telah memasuki bulan ke empat.


Selama itu, setiap kali Miko ijin pulang ke rumah Lidia, lagi-lagi Sarah mengalami kram di perutnya. Meskipun dia sadar jika dirinya hanya pengganggu, tetapi hatinya tetaplah sakit jika harus berbagi suami seperti ini.


Entah dalam sebulan, sudah berapa kali dia pulang pergi menemui Dokter Fadil untuk memeriksakan kandungannya, dengan alasan dan keluhan yang sama.


Dokter itu pun mulai menaruh perhatian terhadap permasalahan yang tengah di hadapi oleh pasiennya. Terlebih, Sarah yang gak pernah diantarkan oleh sang suami setiap kali periksa.


Sarah selalu mampir ke taman, tempat ia pernah tersesat kemarin dulu. Ia hanya menumpang duduk sambil melepas penat, dan juga melupakan sejenak masalah di hatinya.


Seseoramg yang kebetulan tengah berada di sana, melihat wanita itu tengah duduk seorang diri, dengan wajah yang begitu muram.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

__ADS_1


__ADS_2