
Di ruang rapat, Jeni sudah lebih dulu pergi dan meninggalkan Sarah dan Minati berdua di sana. Minati nampak mendekati Sarah dan merangkul pundak rekannya yang nampak masih membereskan buku agendanya.
"Sar, maaf yah. Aku tadi harus ikutan tegas ke kamu juga," ucap Minati.
"Sudah tugasmu kan," sahut Sarah tersenyum ke arah rekannya itu.
"Nggak juga sih. Aku cuma nggak mau mereka mikir kalau aku kasih teguran ke Jeni karena kedekatan kita dan gosip yang disebarkan dia tentang kamu. Aku cuma mau dia dapat hukuman yang tepat karena sudah mengganggu kinerja karyawan yang lain, tanpa mengaitkan permasalahan mu dengan dia," ungkap Minati.
"Oh … gitu toh. Ya udah nggak papa. Tapi galak mu kalau sama karyawan bener-bener mengerikan ya," ucap Sarah tertawa kecil.
"Ya mau gimana lagi. Sudah tugasku kan bersikap tegas pada semua karyawan," sahut Minati mengurai rangkulannya dan kembali duduk di kursinya.
"Makasih ya, Min. Kamu paling perhatian sama aku. Tapi, aku penasaran deh, kenapa kamu nggak kepo pas kabar soal masa laluku tersebar?" tanya Sarah.
Minati menoleh dan menyangga kepalanya dengan lengan yang tertekuk di atas meja.
"Jujur ya, Sar. Aku udah tau lebih dulu sebelum si biang kerok itu datang ke sini," tutur Minati.
"Masa?! Dari mana taunya?" tanya Sarah yang semakin penasaran.
Minati pun menceritakan saat mereka berdua tengah pulang dari work shop dan mampir ke sebuah mall. Dia melihat Sarah tengah berbincang dengan seorang wanita, dan tak sengaja mendengar pembicaraan wanita itu dengan pria yang datang bersama dengannya.
Sarah paham, kenapa sejak saat itu, Minati diam kepadanya. Rupanya karena dia sudah mengetahui semuanya dari awal.
"Kamu ilfeel ya sama aku, Min?" tanya Sarah.
"Bukan ilfeel. Mungkin ada sedikit ilfeel juga sih sama kamu. Tapi lebih tepatnya, aku bingung harus gimana," tutur Minati.
Sarah mengerutkan keningnya ketika mendengar penuturan Minati. Rekannya itu pun menegakkan duduknya dan meletakkan kedua tangannya di atas paha.
"Ya kamu kan tau sendiri, kalau aku tuh kepo dan suka banget ngomongin orang. Pas dapet berita besar kayak gini, aku malah harus nyimpen semua itu rapat-rapat demi nama baik kamu. Walaupun aku bigos, alias biang gosip, tapi kan aku masih punya hati. Nggak mungkin aku bilang-bilang aib temen sendiri ke orang lain. Eh … malah si biang kerok bikin ulah. Udah coba ku tutup malah dia bocorin," jelas Minati.
"Oh … jadi nyesel nih nggak dapet kesempatan nyebarin berita besar?" sindir Sarah.
"Iya gitu juga," gumam Minati.
Sarah tersenyum tipis melihat tingkah rekannya itu. Ada rasa bersyukur di hatinya, karena wanita di damsingnya itu yang selalu serba ingin tau ini, justru menjaga rahasia masa kelamnya dari semua orang.
__ADS_1
"Makasih ya, Min," ucap Sarah.
"Sama-sama. Tapi nyesel juga sih nggak jadi yang pertama nyebarin gosip kamu sama pak bos. hahahaha …," kelakar Minati.
"Dasar kamu, Min. Ratu kepo," ejek Sarah.
Keduanya pun tertawa bersama setelah semua kejadian itu.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Di sisi lain, setelah pemanggilan Jeni ke ruang rapat oleh Minati dan juga Sarah, kini semua karyawan kantor itu seolah menghindari dirinya. Jeni yang selalu saja mencoba mendekati setiap orang, kini justru dijauhi.
Tak ada lagi yang mau berbincang bahkan bergosip dengannya. Skandal tentang Sarah pun sudah tak begitu santer dibicarakan oleh para karyawan di sana.
Berita Sarah, seolah tersingkir dengan kabar Jeni yang diberi peringatan terakhir yang sangat tegas oleh menejer personalia, karena telah mengganggu kinerja rekan-rekannya.
Janda itu pun sudah kembali bisa bernafas lega, karena pandangan para karyawan kantor telah kembali seperti semula. Tak ada lagi tatapan sinis dan menghakimi ke arahnya.
Justru sebaliknya, semua pandangan dingin dan cibiran itu tertuju pada si karyawan pindahan baru tersebut.
Berita baik ini pun sampai di telinga Miko. Pria itu merasa lega karena jandanya tak lagi menjadi bahan gunjingan seisi kantor.
Rupanya, kamu memang bisa menyelesaikannya sendiri. Maafkan aku karena hampir membuat semuanya jadi kacau, Sar, batin Miko.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Waktu-waktu kembali berjalan. Suasana kantor sudah kembali tenang setelah sebelumnya sempat didera gosip miring seputar menejer humas dan pimpinan cabang yang baru.
Kini, semuanya sudah kondusif dan hubungan Sarah dengan semua karyawannya semakin baik. Pertemanannya dengan Minati pun semakin akrab hingga janda itu pun mulai mau membuka dirinya dan memilih Minati sebagai tempat curhat, meskipun tak jarang rekannya itu meledek Sarah dengan curhatan-curhatan yang pernah ia katakan.
"Gimana nih kabar kamu sama si bos? Oh iya, dokter itu apa kabar juga? Cepetan pilih salah satu. Kasihan tau gantungin anak orang kayak gitu," ucap Minati di sela jam istirahat kantor.
Seperti biasa, Sarah yang selalu membawa bekal sendiri, membuatnya tetap berada di balik meja kerjanya, meskipun pada saat jam makan siang.
Minati pun sekarang lebih senang memesan makanan via layanan pesan antar, dan menemani rekannya itu makan di kantornya.
"Makan dulu. Nanti kamu tersedak," seru Sarah.
__ADS_1
Minati pun hanya menghela napas kasar, karena rasa penasarannya belum bisa tertuntaskan.
Setelah selesai makan siang, Minati kembali memberondong Sarah dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.
"Nggak tau, Min. Jujur aku sudah nggak ada perasaan sama sekali dengan mantan suamiku itu. Aku menerimanya hanya karena anakku yang selalu saja meminta dia untuk datang dan mengajaknya bermain," tutur Sarah.
"Ehm … beneran udah nggak ada rasa lagi? Nggak sayang emang?" tanya Minati.
"Sayang gimana maksud kamu, Min?" tanya Sarah balik.
"Ya gimana yah, Pak bos itu kan ganteng. Semua karyawan juga setuju sama hal itu. Mapan pula, dan sepertinya dia masih berharap banget sama kamu. Apa kamu nggak bisa kasih dia kesempatan untuk memulai lagi?" tanya Minati.
"Terlalu sakit, Min. Aku takut julukan pelakor tersemat lagi padaku, jika aku kembali bersama dengannya. Jika aku berpikir tentang putraku, ada sih pikiran untuk rujuk. Tapi, masa lalu itu sungguh sakit sampai aku harus tega membohonginya hanya untuk bisa lepas mantan ku itu," jawab Sarah.
"Berbohong?" tanya Minati penasaran.
"Yah, aku bohong padanya soal Bagas. Aku dulu bilang ke dia kalau anaknya suudah meninggal saat dilahirkan. Aku lakukan itu supaya dia nggak ambil anakku, saat aku tetap pergi meninggalkannya," ungkap Sarah.
"Wah … ternyata hubungan kalian serumit itu. Mulai dari kamu dibohongi dan dinikahi pria beristri, dijuluki pelakor, dihina dan dicaci, sampai akhirnya semua berakhir dengan kebohonganmu yang bilang kalau anaknya sudah tak ada." Minati geleng-geleng tak percaya dengan kesimpulan yang ia dapat dari hubungan Sarah dengan bosnya.
"Lalu, bagaimana perasaanmu dengan dokter itu?" tanya Minati.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
sambil nunggu next eps, coba mampir ke novel temen ku yuk🤩
mampir yuk guys
__ADS_1