
Tiga bulan kemudian, Sarah yang sudah mulai bekerja dan pindah ke kontrakan kecilnya, kini mulai terbiasa hidup mandiri sambil mengasuh putranya seorang diri. Meski awalnya terasa susah dan sempat kebingungan, namun akhirnya ibu muda itu bisa bertahan dalam perjuangannya menjadi orang tua tunggal bagi putranya.
Setiap hati saat dirinya pergi bekerja, Bagas selalu dititipkan kepada tetangga, yang kebetulan menawarkan diri untuk mengurus putranya, sebagai pekerjaan sampingan selain menjadi ibu rumah tangga.
"Assalamualaikum," salam Sarah di suatu pagi.
"Waalaikumsalam! Eh, Bu Sarah. Sudah datang, Bu," sahut Bu Burul, ibu asuh Bagas.
"Iya, Bu. Maaf pagi-pagi sudah ke sini, soalnya saya ada rapat jam delapan. Jadi, mau nggam mau saya harus datang lebih awal," ucap Sarah.
"Iya, Bu. Nggak papa kok. Lagian, Bagas ini nurut bayi yang nurut kok. Oh iya, Bu … bedak sama krim yang kemarin saya minta sudah ada blum ya? Dia kan lagi aktif-aktifnya gerak, jadi saya sempet nemu ruam di beberapa lipatan tubuhnya," ujar Bu Nurul.
"Ada bu di dalam," Sarah menyerahkan tas berisi perlengkapan Bagas dan juga ASI perahnya.
"Alhamdulillah kalo sudah ada. Di rumah saya kebetulan nggak ada. Maklum, Bu, sudah lama nggak ada bayi. Mau beli juga apotik kan jauh," ucap Bu Nurul.
"iya, Bu. Nggak papa kok. Saya nitip Bagas yah," sahut Sarah sambil menyerahkan putra kecilnya pada ibu asuh.
"Iya, Bu," sahut Bu Nurul.
Sarah pun sedikit membungkuk dan menggenggam tangan kecil Bagas yang ada di gendongan ibu asuhnya.
"Ibu tinggal kerja dulu ya, Nak. Jangan rewel, jadi anak baik ya," seru Sarah.
"Dadah Ibu. Hati-hati di jalan ya," sahut Bu Nurul yang melambai-lambaikan tangan Bagas ke arah Sarah dan berbicara mewakili bayi kecil itu.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Waktu semakin cepat berlalu. Tak terasa, kini sudah masuk tahun ke empat Sarah hidup berdua dengan putranya di surabaya.
Dia sudah tidak mengontrak lagi, dan bisa membeli rumah minimalis dua lantai dengan uang hasil keringatnya selamam bekerja di perusahaan tersebut. Kini, putranya pun sudah mulai pergi ke play group, di mana Sarah bisa menitipkan Bagas seharian sampai dirinya pulang bekerja.
Suatu hari, saat dirinya pulang kerja lebih terlambat dari biasanya, dia melihat jika putranya sedang bermain ayunan dengan gadis kecil yang biasa bersama Bagas, seriap kali dia menjemput pangeran kecilnya itu.
"Assalamualaikum," Sapa Sarah.
"Waaliakumsalam, Ibu!" sahut keduanya bersamaaan.
Bagaa beranjak dari ayunannya dan berlari menyongsong kedatangan ibunya yang baru saja tiba.
Gadis kecil itu pun seperti biasa menghampiri Sarah dan mencium punggung tangan wanita itu.
"Lho, kok Bela masih di sini? Nenek belum jemput yah?" tanya Sarah pada gadis kecil yang sudah sangat akrab dengannya dan Bagas itu.
"Belum, Bu. Hari ini, kata nenek yang mau jemput itu Papah. Tapi, papah sampai sekarang belum dateng-dateng juga," keluh gadis kecil bernama Bela itu.
__ADS_1
Sarah sangat menyayangi Bela karena gadis kecil itu selalu menjadi teman Bagas saat putranya menunggu dirinya sendirian.
Bela begitu dekat dengan Bagas, karena merasa senasib dengan dirinya yang juga tak memiliki orang tua lengkap. Malah bisa dibilang, Bagas lebih beruntung karena ada ibu yang selalu memperhatikannya.
Hal itu pernah Bela ungkapkan kepada Bagas, dan pria kecil itu mengatakannya kepada ibunya. Dari sejak itulah, Sarah mengijinkan Bela memanggilnya dengan sebutan Ibu, setelah sebelumnya selalu memanggilnya Tante.
Sarah pun kenal dekat dengan nenek Bela, yang sering bertemu saat menjemput kedua anak kecil itu secara bersamaan.
"Mau ikut Ibu ke kedai es krim depan nggak? Sambil nungguin Papahnya bela dateng?" ajak Sarah.
"Mau, Bu!" sahut Bela dengan mata berbinar.
"Ya sudah. Bagas mau juga kan?" tanya Sarah pada putra kecilnya.
"Ehm …," sahut bagas dengan anggukan cepat.
Mereka bertiga pun berjalan saling bergandengan tangan, dengan sarah yang berada di tengah, menuntun kedua anak kecil itu yang terlihat kegirangan.
Sesampainya di kedai es krim yang berada di seberang jalan, Bela dan Bagas sibuk memilih rasa es krim yang mereka mau.
"Aku mau yang blueberry sama vanila," seru Bela.
"Aku coklat yang ada kacangnya," sahut Bagas.
"Aku mau toping stroberry," timpal Bela.
Sarah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anak kecil di depanya yang sangat atusias memilih kudapan dingin, lembut nan manis itu.
Setelah selesai memilih, ketiganya duduk di salah satu meja yang dekat dengan jendela. Sarah sengaja memilih tempat itu agar saat Papahnya Bela datang menjemput, gadis kecil itu bisa melihatnya dan Sarah akan memanggilkannya untuk Bela.
Sudah sekitar setengah jam menunggu, dan es krim kedua anak itu pun hampir habis. Sarah berkali-kali melihat ke arah gerbang playgroup namun, tak kunjung melihat seorang pun yang datang.
Lama sekali. Kasihan Bela kalau saja tadi aku langsung pulang, batin Sarah memandang ke arah kedua anak yang sedari tadi terus saja berceloteh.
Tiba-tiba, Bela memekik.
"Itu Papah! Itu mobil Papah!" ucapnya sambil menunjuk ke arah mobil yang baru saja datang dan berhenti tepat di belakang mobil Sarah.
Sarah pun menoleh dan melihat mobil itu berhenti di seberang jalan, namun pengemudinya belum terlihat keluar.
"Bela yakin itu mobil papahnya?" tanya Sarah memastikan.
"Ehm … itu memang mobilnya Papah," sahut Bela dengan anggukan mantap.
"Ya udah. Bela di sini dulu yah. Ibu akan ke sana buat manggilin Papahnya Bela. Janji nggak kemana-mana, oke!" seru Sarah.
__ADS_1
"Oke!" sahut keduanya bersamaan.
Sarah berjalan meninggalkan keduanya, dan menitip pesan ke arah kasir agar mengawasi kedua anak itu.
"Mbak, tolong yah titip dua anak itu sebentar. Jangan bolehin keluar-keluar" seru Sarah.
"Oh iya, Bu," sahut kasir perempuan itu.
Sarah pun berjalan keluar, dan menyeberang jalan dengan hati-hati. Nampak dari kejauahan, seorang pria masuk ke halaman playgroup sambil menoleh ke kanan dan kiri seolah sedang mencari sesuatu.
"Papahnya Bela yah?" tanya Sarah ke arah pria itu.
Yang di tanya pun menoleh, dan betapa terkejutnya Sarah saat melihat siapa yang ada di depannya.
"Mas Fadil?" gumam Sarah.
"Sarah?" panggil Fadil.
Pria itu pun sama terkejutnya melihat wanita yang beberapa tahun ini seolah menghilang dari jangkauannya.
"Jadi, Bela anak kamu, Mas?" tanya Sarah.
"Ya, dia putriku. Kamu ke mana saja selama ini, Sar?" tanya Fadil berjalan menghampiri wanita itu.
Ada rasa rindu yang teramat di hatinya saat melihat kembali sosok wanita yang sempat hadir di hidupnya beberapa tahun yang lalu.
"Aku … aku di Surabaya, Mas. Maaf aku lupa kasih kasih kabar ke kamu. Hehehehe … oh iya, Bela udah nunggu di sana lho. Yuk kita lanjut ngobrolnya di sana saja," ajak Sarah.
"Ehm …," sahut Fadil dengan anggukan.
Sarah pun berbalik dan berjalan mendahului dokter itu.
Aku tau selama ini kamu sengaja menghindariku, Sar. Tapi, melihatmu baik-baik saja, aku pun merasa bersyukur, batin Fadil.
Flash back off
.
.
.
.
Jadi begitu ceritanya. Perlu keluarin Miko lagi nggak sih menurut kalian? Coba dong mana komennya, kalo iya kenapa? kalo nggak kenapa?😁mau denger pendapat dari readerku tayang😘
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏