
Sarah kembali menatap tajam ke arah pria itu.
"Kalau kamu emang bersungguh-sungguh ingin rujuk dengan ku, aku mengajukan satu syarat untuk kau penuhi terlebih dulu," ucap Sarah.
"Apapun syaratmu, Sar. Sebanyak apapun yang kamu minta, akan ku berikan. Asalkan, kamu mau rujuk lagi denganku," sahut Miko.
"Dalam menjalin sebuah hubungan, bukan hanya sekedar melibatkan dua orang sajakan, Mas?" seru Sarah.
Miko mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Sarah.
"Jadi, syaratku adalah, yakinkan kedua orang tua ku dan Mas Tino, agar mereka mau menerima mu kembali sebagai suamiku. Apa kamu sanggup?" ungkap Sarah.
Miko tersentak kaget dengan syarat yang diajukan oleh Sarah. Nyalinya tiba-tiba menciut dan seolah hilang.
“Kenapa, Mas? Apa terlalu berat?” Tanya Sarah yang melihat raut wajah tak yakin di paras tampan Miko.
“Aku ... aku ...,” Ucap Miko.
“Baiklah. Sepertinya itu sangat sulit untuk kau lakukan. Kalau begitu, lupakan saja soal ajakan mu untuk...,” Seru Sarah.
“Aku sanggup. Aku akan buktikan kalau omongan ku bukan sekedar bualan semata. Aku akan menghadap kedua orang tuamu dan juga Mas Tino, untuk meminta restu dari mereka,” potong Miko.
“Mas, jangan memaksakan diri kalau memang terasa berat,” ujar Sarah.
Miko kembali meraih kedua tangan wanita pujaan hatinya. Dia menatap dalam manik mata hitam Sarah yang terlihat ragu itu.
“Percayalah padaku, Sar. Apapun akan ku lakukan, meski harus bertaruh nyawa sekalipun. Asalkan aku bisa mendapatkan mu lagi, aku rela,” ucap Miko yakin.
Namun, Sarah justru terkekeh mendengar perkataan Miko barusan, dan membuat pria itu bingung sendiri.
“Apa ada yang aneh dengan kata-kataku?” tanya Miko.
“Tidak. Tidak ada. Hanya saja kalau memang harus bertaruh nyawa, itu artinya percuma saja kamu berjuang karena ujungnya kamu juga nggak bisa sama-sama aku lagi, karena kamu akhirnya mati. Hahahaha... Jangan sok romantis kayak anak ABG aja deh, Mas,” ledek Sarah.
Miko hanya bisa tersenyum canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Pria itu pun merutuki kelakuannya yang terbilang berlebihan itu.
Saat itu lah, Bagas masuk dan mengganggu momen kedekatan sepasang insan yang baru saja berdamai itu.
“Ibu.... Ibu? Kok Ibu nangis? Ayah nakal ya?” terka Bagas sambil berkacak pinggang di depan ayahnya.
Sarah segera menyeka air mata yang tersisa dan mengelap hidungnya yang sudah sangat merah. Miko pun beralih menghadap ke arah buah hatinya yang kini hampir berusia enam tahun.
“Tadi, Ayah dan Ibu sedang bercanda. Kami tertawa sampai menangis. Iyakan, Sar?” Ucap Miko meyakinkan anaknya.
“Ehm... Iya, Nak. Ayah nggak nakal kok. Malah, kami baru saja baikan,” timpal Sarah.
“Benarkah?” tanya Bagas.
__ADS_1
“Benarkah?” tanya Dodi.
Keduanya bertanya bersamaan dan membuat Sarah dan Miko saling pandang dan tersenyum canggung.
“Yah, kami berencana rujuk. Tapi, aku harus menyelesaikan sesuatu dulu. Tolong bantu aku, Dod,” pinta Miko.
“Dengan senang hati, kawan. Selamat atas kembalinya hubungan kalian. Aku turut senang mendengarnya,” ucap Dodi.
“Ehm... Apa itu artinya rujuk? Apa Ayah dan Ibu akan tinggal bersama dengan Bagas dalam satu rumah?” tanya Bagas yang masih belum tau arti kata rujuk.
“Hampir, Sayang. Ayah ada misi penting yang harus diselesaikan. Bagas bantu doa yah, biar ayah cepat kembali dan bisa tinggal dengan kita,” seru Sarah sembari mengusap puncak kepala anaknya.
“Hore... Hore... Bagas bakalan tinggal barengan sama Ayah dan Ibu. Yeeeee... Yeeeee... Yeeee...,” sorak bahagia Bagas atas kabar tersebut.
Semoga keputusanku ini benar-benar tepat, Ya Allah. Semoga kami diberi kemudahan untuk mewujudkan hal baik ini, batin Sarah.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Seminggu berlalu semenjak acara pernikahan Fadil digelar. Sarah kini kembali ke rutinitasnya begitu pun Miko yang juga harus kembali ke Semarang untuk mengurus kantor cabangnya.
Semenjak kejadian lamaran Miko di ruang ganti pengantin waktu itu, kini Sarah sering terlihat senyum-senyum sendiri sambil memegangi kaling pemberian mantan suaminya itu.
Bukan tanpa alasan. Hati Sarah selalu saja tergelitik, setiap kali mengingat akan hal itu. Tanpa ia sadari, tingkahnya selalu menjadi perhatian Minati, rekan kerjanya yang selalu saja ingin tau semua hal tentang kehidupannya.
Meskipun mereka sempat saling diam, karena Sarah menilai omongan Minati terlalu lancang. Namun tidak sampai sehari, mereka kembali berteman seperti sebelumnya. Karena bagaiman pun, Sarah sadar jika memang sikapnya selama ini tidak tegas.
Dia cenderung plin plan dalam menentukan sikap, baik dengan Miko maupun Fadil. Hingga akhirnya, dia pun mencoba untuk membuka hatinya untuk dokter tampan itu, meski semua berujung dengan kegagalan.
Hari ini, seperti biasa sebagai rutinitas pagi sebelum mengawali harinya, Sarah selalu membuka buku agendanya dan melihat jadwal apa yang akan ia lakukan hari ini.
"Hari ini ada janji ketemu dengan Bu Wulan. Berarti bisa pulang cepet. Ajak Bagas jalan-jalan ah. Hihihi …," gumam Sarah.
Dia lalu kembali melihat kegiatan lainnya yang tercatat di buku tersebut, yang akan dia lakukan seharian ini.
Saat Sarah tengah serius melihat catatannya, tiba-tiba sebuah pesan, masuk ke ponselnya. Senyumnya mengembang dengan sempurna, saat melirik sekilas notifikasi yang muncul di bagian atas layar benda pipih tersebut.
Wanita itu lalu menutup buku agendanya, dan meraih gawai yang tergeletak di atas meja kerja.
[Pagi, Sar. Lagi ngapain?] Miko.
Sarah nampak tersenyum geli saat membaca pesan dari mantan suami yang mengajaknya rujuk itu.
"Dasar ABG tua. Jam segini ya kerja lah. Pake nanya segala lagi. Hihihi …," gumamnya sambil cekikikan.
[Ngantor, Mas. Ini kan masih hari kerja,] balas Sarah.
[Aku hari ini ada keperluan di sekitar situ. Bisa nggak kalau nanti sore kita jalan bareng?] ajak Miko.
__ADS_1
Bola mata hitam itu seketika membulat, saat membaca pesan yang baru saja sampai. Jantungnya bedegup tak karuan saat tau jika pria itu mengajaknya bertemu.
"Ehem …," dehem Sarah untuk mengurangi rasa gugupnya.
[Kebetulan, aku hari ini pulang lebih awal. Rencananya aku mau ajak Bagas buat jalan-jalan. Kalo mau, kamu bisa ikut juga,] Sarah.
[Oke. Kalau gitu, kita ketemu di playgroup aja ya. sampai nanti,] Miko.
[Sampai nanti,] Sarah.
Sejak tadi, Sarah terus saja tersenyum, sambil sebelah tangannya memijat keningnya, karena tak habis pikir dengan kelakuannya saat ini.
"Kok aku jadi ikutan lebay gini sih. Malu-maluin aja. Hihihi …,"
Dia tak sadar jika sedari tadi, Minati berdiri di depan meja kerja Lisa, tak jauh di tempatnya berada.
"Ehem! Yanga udah baikan, seneng amat sih," ledek Minati.
"Eh … Min. Kapan ke sini? Kok aku nggak lihat?" tanya Sarahyang terkejut dengan kehadiran rekannya yang tiba-tiba.
"Bukan nggak lihat, tapi nggak nyadar sangkin asyiknya chatingan sama ayang beb," sindir menejer personalia itu.
"Hihihi … tapi, aku nggak bakal kena SP dong Bu HRD," sahut Sarah.
Minati nampak berjalan mendekat ke meja kerja Sarah dan duduk di depannya.
"Aku nggak akan kasih kamu SP, tapi kamu bakal ku interogaski sampai tuntas," ncam Minati.
Tapi bukannya takut, Sarah malah terkekeh mendengar ancaman rekannya itu. Pasalnya, semua informasi tentang Sarah, sudah diketahui seluruhnya oleh wanita itu.
Hari ini kencan pertamaku setelah hampir enam tahun berpisah dengannya. Lucu sekali, tapi aku sangat menantikannya, batin Sarah.
Wanita itu terus tersenyum sambil memegangi kalung berbandul matahari, yang diberikan oleh Miko padanya.
.
.
.
.
Hari ini, segini dulu ya. besok lanjut lagi.
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
oh iya, sambil nunggu next eps, bisa dong mampir ke karya temen aku. ceritanya seru lho🤩
__ADS_1
Jangan lupa Favorit kan juga ya