Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Aku percaya kamu


__ADS_3

Setelah puas menangis di pundak Minati, Sarah pun mengurai peluakannya dan menyeka semua lelehan yang keluar dari organ di wajahnya.


Minati menuntunnya untuk duduk di atas sebuah pipa besar yang tergeletak di sana, dan sedikit berlumut di bagian bawahnya.


"Duduk dulu, Sar," seru Minati.


Sarah masih tak bisa berkata-kata. Dia memilih diam sembari menenangkan gejolak di dalam hatinya.


"Kenapa kamu cuma diem aja sih? Harusnya tadi kamu keluar dan labrak mereka biar pada tau rasa," ucap Minati yang terlihat kesal.


Dia tahu jika Sarah pasti terpukul dengan semua omongan nyinyir yang keluar dari mulut bawahannya tadi.


Minati merangkul pundak Sarah dan mengusapnya pelan. Dia sangat mengerti bagaimana kesedihan yang tengah melanda hati rekan sesama menejernya itu.


"Ku tau betul siapa kamu, Sar. Kamu nggak mungkin tega melakukan hal seperti itu," tutur Minati.


"Dari mana kamu tau, Min. Kamu kan baru kenal aku setelah kerja di sini," sindir Sarah.


"Sar, kalau kamu emang seperti itu, kamu nggak mungkin menjanda selama ini dan pantang menerima perhatian dari pria yang pernah coba deketin kamu," ungkap Minati.


Sarah tersenyum tipis dan menoleh ke arah rekannya itu.


"Makasih ya, Min. Ternyata perhatianmu yang cenderung kepo itu dan nyebelin itu, justru bisa buat kamu paham seperti apa sebenernya aku ini," ucap Sarah.


Minati kembali merangkul pundak Sarah dan memeluknya dari samping.


"Kalau kamu mau, aku akan urus karyawan baru itu. Beraninya dia berbuat seperti ini pada menejernya sendiri, apa lagi dia cuma karyawan baru," gerutu Minati kesal.


"Nggak usah, Min. Aku nggak mau memanfaatkan koneksi dan jabatan, hanya untuk urusan pribadiku saja. Kita baru bisa menegur seorang karyawan, di saat ada kesalahan atau tindakan dia yang merugikan perushaan saja," ucap Sarah.


"Sar, jadi orang mbok yao jangan terlalu baik. Bisa ditindas terus kamu nanti. Sekali-kali tegas dikit nggak masalah kok. Untuk urusan yang tadi, itu ranahku sebagai menejer personalia. Dia karyawan yang baru dua hari ini bekerja di kantor kita, jadi aku harus menegurnya atas apa yang sudah dilakukannya tadi di toilet. Ini bukan memanfaatkan koneksi lho ya," elak Minati.


Sarah nampak tersenyum ke arah Minati, lalu kemudain kembali menunduk.


"Makasih ya, Min. Aku nggak nyangka kalau justru kamu yang pasang badan saat aku diinjak seperti ini," ucap Sarah.


"Bukan cuma pasang badan. Aku juga orang yang akan mengulurkan tangan saat kamu jatuh dan butuh pegangan," sahut Minati tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Setelah kejadian di toilet, waktu itu. Minati selalu memperhatikan gerak gerik Jeni yang terlihat sering mengobrol bahkan di saat jam kerja masih sangat pagi. Dari pada bekerja, karyawan pindahan itu lebih sering terlihat berbincang dan bergosip dengan rekan-rekan sesama karyawannya.


Minati pernah menegurnya sekali, sehari setelah menemukan bahwan karyawan baru itu dan rekan-rekannya tengah menggosipkan Sarah di toilet.


Jeni segan dengan Minati dan menurut untuk sehari atau dua hari. Namun setelah itu, dia kembali kepada kebiasaan yang sebelumnya.

__ADS_1


Sarah pun mulai turut memperhatikan kinerja Jeni. Dia merasa jika wanita itu tidak mencoba untuk belajar bekerja di lingkungan yang baru, melainkan asik membuat komunitas gosip dan bebas berbincang setiap saat dia mau dan mengganggu rekan-rekannya.


Saat ini, Jeni terlihat tengah menghampiri salah satu tim humas yang sering menjadi kepercayaan Sarah, Lisa. Kebetulan tempat duduk Lisa berada paling dekat dengan meja Sarah, dan hanya terpisah oleh sekat papan. Namun saat ini, menejer humas itu nampaknya sedang tak berada di tempat.


"Mbak Lisa, sibuk apa sih?" tanya Jeni.


"Buat laporan observasi bulanan. Kamu nggak ada kerjaan?" tanya Lisa balik dengan ketus.


"Ehm … ada sih. Cuma dikit, jadi nanti saja. Hehehe …," sahut Jeni.


"Mending dikerjakan dulu tugasnya. Jadi kalau mau ngobrol, udah nggak ada tanggungan lagi. Takutnya keteter, nanti kamu bisa-bisa malah di tegur," seru Lisa yang selalu terlihat kalem.


"Menejernya sering marah-marah ya, Mbak? Sok tegas banget. Mbak Lisa udah denger belum kalau …," ucap Jeni yang mencoba memulai bergosip.


"Jeni! Sekarang bukan waktunya bergosip. Sebaiknya, kamu kembali ke meja kerja kamu, dan jangan ganggu karyawan lain dengan gosip lama mu itu," potong Lisa langsung.


Jeni pun diam seketika dan memilih untuk berbalik dan meninggalkan rekan seniornya dengan perasaan kesal.


Tanpa mereka sadari, Sarah sedari tadi tengah berdiri tak jauh dari tempat kedua bawahannya itu berada. Dia bersembunyi di balik dinding kaca penyekat antar divisi yang berkumpul di lantai dua.


Muncul keharuan di hatinya, melihat masih ada orang yang tidak terlalu mempedulikan kabar negatif yang sengaja disebar oleh Jeni akan masa lalunya.


Sarah menyeka bening di sudut matanya, dan mengatur nafas agar kembali tenang. Dia kemudian berjalan masuk menuju meja kerjanya dan melewati tempat Lisa.


Dalam hati, dia percaya jika semua berita miring tentangnya, sedikit demi sedikit pasti akan hilang.


Aku harus bisa bersikap tenang seperti biasa. Biarkan saja Jeni terus memprovokasi karyawan yang lain. Yang benar pasti akan tetap benar meski suara sumbang terus berdengung, batin Sarah.


...🥀🥀🥀🥀🥀...


Hari demi hari terus bergulir dengan kabar yang santer beredar di sekitaran kantor. Berita miring tentang Sarah, akhirnya sampai di telingan sekretaris Miko, Fajar.


"Selamat pagi, Pak," sapa Fajar.


"Pagi. Apa agenda ku hari ini, Jar?" tanya Miko.


"Hari ini, Anda memiliki rapat dengan tim marketing pukul sepuluh. Kemudian dilanjut pukul satu siang, ada pertemuan antar kepala cabang se Jawa Timur di hotel X Surabaya," tutur Fajar.


"Baiklah. Apa ada berkas yang perlu persetujuan ku?" tanya Miko lagi.


"Ada, Pak," sahut Fajar.


sekretaris itu pun kemudian maju dan menyerahkan beberapa map ke hadapan Miko untuk ditanda tangani.


Fajar nampak melihat beberapa kali ke arah ponsel yang ia genggam saat ini, dan hendak mengungkapkan apa yang baru dia ketahui.

__ADS_1


"Ehm … maaf, Pak. Saya rasa ada hal yang perlu Anda lihat," ucap Fajar.


Miko pun menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke arah sekretarisnya tersebut.


"Hal apa maksudmu?" tanya Miko penasaran.


Fajar pun nampak menggeser-geser layar ponselnya, dan meletakkanya di meja Miko. Kemudian, dia menekan tombol play yang ada di tengah benda pipih itu.


Sebuah vidio yang memperlihatkan sebuah adegan mempermalukan seseorang di depan umum, dialami oleh seorang wanita yang tengah hamil di sebuah pusat perbelanjaan dan disaksikan oleh banyak orang.


Awalnya Miko tak begitu paham maksud vidio itu, akan tetapi dia seperti tak asing dengan adegan yang ia lihat saat ini.


Setelah wajah wanita yang ada di dalam vidio itu terlihat dengan jelas, seketika bola matanya membulat. Tangannya mengepal dengan kuat.


Kenapa vidio ini bisa sampai muncul lagi di sini? batin Miko.


"Dari mana kamu dapat vidio ini?" tanya Miko dengan suara berat.


"Saya dengar, seorang karyawan pindahan di tim humas yang menyebar luaskannya di jejaring sosial pak," tutur Fajar.


"Apa semua karyawan sudah tahu?" tanya Miko lagi.


"Sepertinya sudah, karena ini sudah menjadi viral kurang lebih dua minggu dan menjadi perbincangan karyawan di kantor," ungkap Fajar.


Miko geram. Dia pun memerintahkan sang sekretaris untuk memanggil karyawan pindahan itu ke ruangannya.


.


.


.


.


Maaf🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


3 hari nggak nongol sama sekali😅


Adik ipar baru lamaran, jadi lumyaan repot di sini😁


maaf ya guys, hari ini ku usahain bayar 3 hari kemarin deh🙏✌maaf yah jangan lupa dukungannya😊


oh iya, sambil nunggu next eps, bisa nyambi mampir ke novel temen aku. ceritanya bagus lho.


__ADS_1


__ADS_2