
Bagas makan dengan lahap disuapi oleh sang nenek. Dia terus saja berceloteh, jika dirinya sangat senang ketika bersama dengan sang ayah.
"Kita main bola bareng lho, Nek. Ayah juga beliin Bagas es krim, terus ada mainan juga. Tapi, yang paling Bagas suka, bisa ketawa bareng sama Ayah," tutur Bagas.
"Oh ya. Emang Bagas ketemu Ayah di mana aja?" tanya Bu Riswan sambil terus menyuapi cucunya.
"Di playgroup. Ayah tiap hari datang terus ke sana. Kita juga sering makan bekal dari Ibu bareng-bareng. Kata Ayah, masakan Ibu emang yang paaaaaling enak," jawab Bagas.
Anak kecil itu sangat antusias ketika menceritakan kebersamaannya dengan sang ayah. Tanpa ia tahu, Sarah terlihat berkaca-kaca kala melihat betapa bahagianya sang anak saat bersama dengan Miko.
"Ehm … Bu, aku ke luar sebentar ya. Ada yang perlu ku bawa ke sini," ucap Sarah.
"Ibu mau ke mana?" tanya Bagas.
"Ibu mau ke luar sebentar ya, Nak. Ada yang mau Bagas beli?" tanya Sarah.
"Bagas mau sosis yang ada keju di tengahnya," sahut Bagas.
"Ya udah. Nanti Ibu belikan yah. Bagas nurut sama Nenek dan Kakek, oke," seru Sarah.
"Oke," sahut Bagas.
"Bu, Pak, aku titip Bagas," pamit Sarah.
Dia pun menyalami kedua orang tuu itu dan tak lupa sang kakak yang masih diam tak berkomentar.
Sarah tau kalau rasa sakit hati Tino kepada Miko sangat besar, karena secara tak langsung, pria itu telah menghina keluarganya, keluarga orang tuanya yang sedari dulu sangat ia jaga.
Tino tak pernah sekali pun melarang Sarah dekat dengan siapa pun. Namun, saat Miko ketahuan telah membohongi semua orang tentang statusnya, serta menikahi Sarah saat dirinya masih berstatus suami orang, Tino murka dan sangat membencinya.
Sarah pergi keluar. Dia nampak berjalan ke tepi jalan, dan menghadang sebuah taksi berlambang sayap burung berwarna kuning.
"Tolong ke Jalan Suropati IV, Pak," seru Sarah menyebutkan alamat tujuannya.
Di dalam taksi, dia terus mencoba menelepon sebuah nomor yang masih diingatnya sampai sekarang.
TUT! TUT! TUT!
Tak ada sahutan dari seberang. Hanya ada mesin penjawab otomatis dari provider saja yang terdengar, dan memberitahukan jika nomor itu sudah tidak aktif.
Setelah kurang lebih menempuh perjalanan selama tiga puluh menit dari rumah sakit, Sarah kini tengah berdiri di seberang gedung sebuah kantor berlantai tiga.
Dia hendak masuk ke dalam, tetapi rasanya enggan untuk melakukannya. Karena sudah pasti akan mengundang tanya semua orang.
Dia terus melihat dari seberang jalan, berharap yang dicari segera muncul.
Cukup lama Sarah menunggu, tiba-tiba sebuah mobil datang dan terlihat seorang pria keluar dari sana. Sarah pun segera bangkit dari duduknya dan berlari menyeberang jalan.
"Pak! Pak Fajar, tunggu!" panggil Sarah.
Fajar, sekretaris Miko itu pun menoleh dan melihat ada seorang wanita yang tengah berlari ke arahnya.
Sarah berhenti sambil memegangi lututnya yang terasa gemetar, dengan nafas yang terengah-engah.
Fajar menelisik penampilan wanita yang selalu terlihat rapi itu, kini sangat jauh berbeda dari biasanya. Sarah saat itu hanya hanya mengenakan pakaian rumahan, dan sepasang sandal jepit.
"Ada apa, Bu Sarah?" tanya Fajar.
Sarah mencoba menegakkan badannya, meski napasnya masih memburu tak beraturan.
__ADS_1
"Saya … mau minta nomor ponselnya Pak Miko. Ini … ini penting," ucapnya di sela napasnya yang tersengal-sengal.
"Maaf, kalau boleh tau untuk apa ya?" tanya Fajar.
"Ini masalah pribadi. Anaknya sakit. Dia ingin ketemu ayahnya," tutur Sarah.
Fajar yang memang sudah tahu siapa Sarah sebenarnya, segera memberikan sebuah kartu nama kepada wanita itu.
"Anda bisa hubungi Pak Miko di nomor itu," seru Fajar.
"Terimakasih, Pak," ucap Sarah.
"Sama-sama," sahut Fajar.
Pria itu pun kemudian berlalu meninggalkan Sarah. Begitu pun Sarah, wanita itu berbalik dan berjalan pergi dari depan kantornya.
Tanpa mereka tahu, seseorang telah mendengarkan semua percakapan antara Fajar dan juga Sarah. Dia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Gila! Ini sih berita yang sangat besar," gumamnya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Di tepi jalan, Sarah kembali menghentikan taksi yang lewat di depannya.
"Rumah sakit dr. Soewandhie, Pak," seru Sarah menunjukkan lokasi tujuan.
Di dalam taksi, wanita itu nampak menekan-nekan layar ponselnya sembari melibat kartu nama yang diberikan oleh Fajar.
Sarah berusaha menghubungi Miko, ayah dari anaknya, yang sangat dirindukan oleh pria kecil itu.
Tiga kali panggilan tersambung, namun tak diangkat oleh Miko.
"Ayo dong, angkat!" gumam Sarah kesal.
"Ayo angkat. Lagi ngapa …," gerutu Sarah.
"Halo,"
Tiba-tiba, terdengar sahutan dari seberang, yang membuat Sarah menghentikan perkataannya tadi.
"Mas? Mas Miko?" tanya Sarah.
"Siapa ini?" tanya orang di seberang yang terdengar sangat tak bersemangat.
"Ini aku, Sarah," sahut Sarah.
"Sarah? Ka … kamu, ada apa kamu menghubungiku, Sar?" tanya Miko.
Suranya tiba-tiba saja terdengar sangat antusias, saat Sarah menyebutkan namanya.
"Bagas sakit, dan dia mau ketemu sama kamu. Kamu bisa nggak temuin dia. Aku mohon, Mas," pinta Sarah.
"Ba … bagas sakit? Sakit apa dia? Kenapa bisa? O … oke, aku akan ke sana sekarang. Di mana dia? di rumah?" tanya Miko yang terdengar begitu khawatir.
"Dia sekarang di rawat di rumah sakit dr. Soewandhie, Mas," jawab Sarah.
"Oke, tunggu aku. Aku akan segera ke sana," sahut Miko.
"Terimakasih, Mas," ucap Sarah.
__ADS_1
Miko terdiam. Hening terasa dari seberang sana.
"Ehm … aku yang harusnya berterimakasih, Sar. Terimakasih, karena kamu mau melibatkan ku dalam urusan Bagas," ujar Miko.
"Aku tunggu kamu, Mas. Cepatlah datang," seru Sarah.
"Ehm …," sahut Miko dengan gumaman.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Di rumah sakit, tepatnya di depan bangsal anak, di mana Bagas di rawat, Sarah nampak duduk menunggu seseorang.
"Kenapa lama sekali. Dia bilang akan segera ke sini," gumam Sarah.
"SAR!" terdengar sebuah teriakan dari seberang.
Sarah pun menoleh, dan melihat siapa yang datang. Dia berdiri dan menghadap ke arah orang itu.
"Maaf, lama yah?" tanya Miko saat baru saja sampai.
"Rumahmu daerah mana sih? Lama banget!" keluh Sarah.
"Rumah ku di …," Miko menghentikan kata-katanya, karena Sarah sudah terlebih dulu berlalu dari sana meninggalkan Miko.
"Dia masih saja ketus padaku," gumam Miko.
Pria itu pun kemudian berjalan di belakang Sarah, yang sudah lebih dulu menghilang ditikungan. Miko pun berlari kecil untuk menyusul langkah Sarah.
Nampak dari kejauhan, Sarah berdiri di depan pintu sebuah ruang rawat. Dia terlihat memegangi gagang pintu dan menatap ke arah Miko.
Seolah tau jika Sarah sedang menunggunya, Miko pun semakin mempercepat langkah kakinya. Sesampainya di depan pintu, Sarah membuka pintu tersebut dan Miko pun bisa melihat ke dalam ruangan tersebut.
Tampak di sana, sang putra tengah terbaring sambil bermain ponsel milik seseorang. Saat mendengar pintu terbuka, Bagas pun menoleh dan matanya seketika membola, melihat orang yang sangat dirindukannya tengah berdiri di depan pintu.
"Ayah!" panggil Bagas dengan mata yang berbinar.
"Masuklah," seru Sarah.
Miko melihat ke arah Sarah, seolah meminta kepastian, jika dia benar-benar boleh masuk dan menghampiri anaknya.
Seolah mengerti arti tatapan dari pria itu, Sarah pun mengangguk pelan, seraya memberi ijin.
Miko pun melangkah masuk, dan segera menghampiri putranya. Anak yang selama lima tahun ini dikiranya telah mati, kini ada di hadapannya dalam keadaan hidup dan baik-baik saja.
"Anakku," ucap Miko seraya mengusap lembut pipi Bagas.
"Ayah," panggil Bagas dengan suara kecilnya.
Tanpa berkata-kata lagi, Miko segera membawa tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukannya. Miko mendekap Bagas dengan erat.
"Anakku … anakku … anakku … terimakasih … anakku …," racau Miko di sela tangis harunya.
.
.
.
.
__ADS_1
ya ampun, tisu mana tisu🤧🤧🤧othor ngetiknya sampe mewek gini yak😭
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏………