
Hari-hari berlalu, kondisi Bagas berangsur-angsur sudah semakin membaik. Demamnya sudah turun dan makannya pun sudah lahap kembali. Setiap hari, Miko selalu menjaga putra semata wayangnya itu. Bahkan, Bagas memintanya untuk menginap di rumah sakit, meski Miko merasa tidak enak dengan Sarah, karena wanita itu terus saja cemberut merasa terisih dari perhatian Bagas semenjak ada Miko.
Ditambah, status mereka yang sudah bukan suami istri, membuat keduanya harus menjaga jarak.
Hari ini adalah waktunya Bagas keluar dari rumah sakit. Sejak pagi, anak kecil itu merengek meminta agar ayahnya segera datang.
"Ayah mana sih, Bu? Lama banget," keluh Bagas.
"Sabar, Sayang. Nanti Ayah juga ke sini. Kan dia sudah janji sama Bagas kan?" seru Sarah kepada putranya.
"Ehm … tapi kenapa lama sekali?" keluh Bagas lagi.
"Hah …," terdengar helaan nafas panjang dari mulut wanita itu, mendengar semua keluah dan rengekan dari anaknya.
Kedua orang tua Sarah pamit untuk pulang, karena merasa kondisi sang cucu yang sudah semakin membaik sejak kehadiran Miko.
Ayah sarah pun harus mengurus kebunnya, sehingga tidak bisa berlama-lama meninggalkan rumah.
Sejak saat itu, Sarah mengurus Bagas berdua dengan Miko. Fadil pun sudah jarang muncul, karena tidak mau mengganggu ketiga orang itu.
Bela pernah menjenguk sekali, karena gadis kecil itu terus merengek minta bertemu dengan Bagas. Namun, saat melihat Miko yang berada di sana, Bela jadi takut dan meminta pulang. Sampai sekarang pun, gadis kecil itu masih belum mau menjenguk Bagas lagi.
Bela masih ingat dengan jelas, bagaimana Miko memukul ayahnya saat di playgroup waktu itu.
Miko sebenarnya pun merasa tidak enak, akan tetapi rasa kesalnya pada dokter itu yang telah membohonginya dengan jasad bayi lain, membuatnya enggan untuk meminta maaf lebih dulu.
"Assalamualaikum," sapa seseorang yang baru saja datang.
Bagas segera menoleh ketika mendengar sebuah suara yang sangat ia kenali.
"Ayah," pangil pria kecil itu dengan mata yang berbinar.
Miko berjalan menghampiri putranya, dan mengacak sedikit rambut bagian depan Bagas.
"Jawab dulu dong kalau ada orang salam," seru Miko.
"Eh … lupa. Waalaikumsalam. Ibu juga nggak jawab tadi," sahut Bagas.
"Sudah kok. Bagas aja yang nggak denger," tutur Sarah.
Wanita itu terlihat tengah membereskan semua barang-barang milik sang putra yang dibawa ke rumah sakit, agar Bagas tidak merasa jenuh selama masa perawatan. Belum lagi, mainan yang memang sengaja dibelikan oleh Miko untuk putra tercintanya.
"Sudah siap pulang?" tanya Miko.
"Ehm … Bagas nggak sabar mau makan es krim sama Ayah dan Ibu," ucap Bagas.
"Eh … nggak ada es krim es krim. Bagas baru sembuh, masa udah mau makan es krim sih. Pokoknya nggak boleh," seru Sarah.
"Yah … Ayah, boleh yah," rengek Bagas kepada ayahnya.
Miko tersenyum dan melempar tatapan ke arah Sarah.
__ADS_1
Namun, wanita itu justru balas melotot ke arah Bagas, yang membuat putranya meringsut dan memeluk sang ayah.
"Nurut kata Ibu ya. Bagas nggak mau kan buat Ibu khawatir lagi?" seru Miko.
"Dengerin tuh kata Ayah," sambung Sarah.
Bagas pun hanya bisa mendengus kesal, karena kedua orang tuanya sangat kompak melarangnya memakan es krim yang dia suka.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Beberapa hari kemudian, akhir pekan tiba. Miko yang sudah bertemu Bagas, dan diperbolehkan untuk menemui anaknya setiap minggu, kali ini dia meminta ijin kepada Sarah untuk mengajak putra mereka jalan-jalan.
"Ibu ikut juga yah," pinta Bagas.
"Nggak bisa, Nak. Bagas kan udah sama Ayah," tolak Sarah.
"Tapi, Bagas mau sama Ibu juga," rengek Bagas.
Pria kecil itu tengah dibantu berpakaian oleh sang bunda. Sarah memakaikan kemeja baru pemberian dari Miko dan juga celana selutut untuk dipakai jalan-jalan bersama sang ayah.
Sarah yang masih membungkuk di depan Bagas, kini berjongkok di hadapan anak semata wayangnya itu.
"Ehm … Bagas, Ibu sama Ayah kan sudah nggak tinggal serumah lagi. Jadi, ayah sama Ibu nggak boleh jalan bareng-bareng," tutur Sarah mencoba menjelaskan kepada putranya tentang status kedua orang tuanya.
"Ya udah, kalau gitu Ayah sama Ibu tinggal serumah lagi aja," ucap Bagas dengan polosnya.
"Nggak bisa gitu, Sayang. Bagas sekarang punya Ibu lain selain Ibu Sarah. Namanya Ibu Lidia. Dia istri Ayah, orang yang sekarang tinggal sama Ayah. Jadi, kalau Bagas mau jalan-jalan sama Ayah, berarti Ibu nggak ikutan karena nanti Ibu Lidia sedih, nggak diajakin main sendirian. Mungkin, nanti Ibu Lidia juga ikut jalan-jalan bareng Bagas," jelas Sarah.
"Bagas, nurut ya, Nak. Kalau bagas nurut, nanti Bagas boleh jalan-jalan sama Ayah. Kalau nggak nurut, mending nggak usah aja," ucap Sarah.
Bagas murung. Wajahnya ditengkuk dengan bibir yang maju ke depan.
Tak berselang lama, terdengar bunyi ketukan dari arah pintu depan.
"Nah, itu pasti Ayah. Ayo Bagas cepat pakai sepatu. Ibu mau bukain pintu dulu buat Ayah ya," seru Sarah.
Anak kecil itu mengangguk meski wajahnya masih terlihat ditekuk.
Sarah berjalan ke arah pintu depan, dan melihat dari balik jendela, jika Miko sudah berada di depan sana.
"Assalamualaikum," salam Miko.
Sarah pun membuka pintu dan tersenyum menyambut kedatangan mantan suaminya itu.
"Waalaikumsalam! Duduk dulu, Mas. Bagas lagi pakai sepatu dulu. Mau minum apa?" sahut Sarah.
Wanita itu mempersilakan Miko untuk duduk di kursi yang ada di teras. Meski dia adalah Ayah kandung Bagas, namun karena status mereka sekarang yang adalah orang asing, sehingga harus ada batasan antara keduanya.
"Nggak usah repot-repot, Sar. Aku nunggu Bagas aja, terus kita langsung pergi," ucap Miko.
Tak berselang lama, Bagas keluar dari dalam rumah dengan masih memasang wajah cemberutnya.
__ADS_1
"Lho, anak Ayah kenapa? Kok mau jalan-jalan cemberut gitu sih?" tanya Miko.
Sarah hanya melihatnya dengan rasa jengah.
Dasar, Bagas. Sejak kapan dia jadi manja begini sih, gerutu Sarah dalam hati.
"Bagas mau pergi bareng sama Ayah dan Ibu, tapi Ibu bilang nggak bisa, gara-gara ada Ibu Lidia," tutur Bagas.
"Ibu Lidia?" gumam Miko sembari melempar pandangan ke arah Sarah, dengan kening yang berkerut.
Oh iya, sejak berpisah, kami kan memang tidak saling tau tentang kabar masing-masing. Jadi wajar kalau Sarah nggak tau aku udah pisah sama Lidia, batin Miko
"Bukan gara-gara, Sayang. Tapi memang Ayah mau perginya sama Ibu Lidia. Iya kan, Mas?" tanya Sarah.
Sebenarnya bukan tidak tau, karena Minati pernah mengatakan, jika pimpinan baru mereka adalah seorang duda. Namun, Sarah yang tidak terlalu mempedulikan setiap ucapan Minati si biang gosip kantor itu, sehingga dirinya tak sadar akan satu hal itu.
"Ehm … Bagas, hari ini kita main berdua dulu yah. Besok-besok, kita ajak Ibu Bagas buat main bareng. Gimana?" bujuk Miko.
"Janji ya, Yah," rengek Bagas.
Pria kecil itu mengacungkan jari kelingkingnya, sebagai tanda sebuah janji yang harus ditepati oleh sang ayah.
Miko tersenyum, dan menautkan jari kelingkingnya pada milik sang putra.
"Ayah janji. Udah kan, ayo kita berangkat. Nanti keburu siang," seru Miko.
"Ehm …," angguk Bagas.
"Kita pergi dulu yah," pamit Miko.
"Hati-hati ya, Mas. Aku titip Bagas," sahut Sarah.
Wanita itu kemudian berjongkok dan membetulkan sedikit kemeja putranya, sambil membenahi sisiran rambutnya yang agak acak-acakan.
"Bagas, nanti jangan nakal ya sama Ayah. Bagas juga harus sopan sama Ibu Lidia," seru Sarah.
"Iya, Bu. Bagas akan nurut sama Ayah dan baik sama Ibu Lidia," sahut Bagas.
Sarah pun melepas kedua ayah dan anak itu pergi. Dia melambaikan tangan ke arah keduanya yang sudah berada di dalam mobil.
.
.
.
.
Maaf guys🙏hari ini baru bisa up date, mungkin beberapa hari berikutnya upnya nggak bisa seperti sebelumnya. cuma othor bakal usahain buat up tiap hari🙏😊
Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏
__ADS_1