Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor
Happy ending


__ADS_3

Hari-hari berlalu, dan kini tak terasa kandungan Sarah sudah semakin besar. Usianya hampir menginjak tiga puluh enam minggu. Itu artinya, persalin bisa terjadi kapan saja, karena itu sama dengan sembilan bulan masa kehamilan.


Miko sudah terlihat cemas, karena kram perut serta kontraksi palsu kerap kali terjadi. Miko yang baru pertama kali ini menjadi suami siaga pun, sering tak bisa fokus dengan pekerjaannya karena hampir setiap hari Sarah selalu menelponnya dan mengatakan jika perutnya sakit.


Padahal, Bu Riswan sudah memberitahukan kepada Miko untuk tenang, karena menghadapi persalinan, kuncinya adalah ketenangan, baik si ibu hamil maupun keluarganya.


Hari ini, Miko sedang berada di tengah rapat yang cukup penting, karena membahas tentang evaluasi kerja akhir tahun.


Saat Miko sedang menyampaikan tanggapan akhir dari masing-masing presentasi yang telah di sampaikan, tiba-tiba ponsel Miko yang dipegang Fajar bergetar.


Sang sekretaris pun melihat siapa yang melakukan panggilan. Dia kemudian berjalan keluar ruangan rapat, dan mengangkat telepon tersebut.


Selang beberapa menit, Fajar kembali masuk dan kembali menyimpan ponsel sang atasan.


Cukup lama Miko berbicara, hingga akhirnya rapat kembali diambil alih oleh moderator. Saat itu, barulah Fajar berani mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga atasannya.


Miko seketika berlari keluar ruangan rapat, tanpa memberikan penjelasan kepada karyawannya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Beberapa saat yang lalu, Sarah yang tengah menemani Bagas bermain di halaman belakang, tanpa sengaja berlari beberapa langkah, karena melihat sang putra hampir saja terjatuh ke kolam ikan.


Awalnya, Sarah tak merasakan apapun, namun beberapa menit kemudian dia mulai merasakan kram di perutnya. Dia berusaha tenang dan mengatur nafasnya agar mengurangi rasa sakitnya.


Rasa nyeri sempat menghilang, namun beberapa menit kemudian, rasa nyeri itu kembali terasa dengan durasi yang semakin lama.


Peluh mulai bercucuran dari pelipisnya, dan membuat Sarah meringis kesakitan.


Saat sakitnya kembali hilang, Sarah berjalan masuk ke dalam dan mencari sang bunda.


Bu Riswan yang melihat putrinya nampak meringis sambil memegangi perutnya pun, segera menghampiri Sarah.


“Kamu kenapa, Nduk?” tanya Bu Riswan.


“Kayaknya, aku mau melahirkan, Bu,” ucap Sarah yang tengah meringis menahan sakit.


Peluh jelas terlihat di keningnya.


Bu Riswan pun seketika meminta rewangnya untuk memanggil sang suami yang saat itu tengah berada di kebun.


Sedangkan dirinya, menuntun Sarah agar duduk dan kemudian wanita tua itu masuk ke kamar putrinya lalu mengambil dua buah tas besar berisi barang-barang yang sudah disiapkan untuk kondisi seperti ini.


Pengalaman Sarah yang sudah pernah melahirkan, ditambah dengan wejangan sang ibu, membuatnya kali ini lebih menyiapkan lagi semua kebutuhan persalinannya jauh-jauh hari.


Tak berapa lama, Pak Riswan masuk ke rumah dan melihat kedua wanita itu tengah duduk di ruang tamu, dengan Sarah yang terlihat semakin kesakitan.


“Mau lahiran?” tanya Pak Riswan.


“Sepertinya iya, Pak. Udah dari tadi dia kontraksi,” jawab Bu Riswan.


“Biar Bapak panggilkan taksi dulu. Bu, coba hubungi Miko pake hand phone-nya Sarah,” Seru Pak Riswan.


Bu Riswan pun melakukan yang diperintahkan, dan saat telepon tersambung, rupanya yang mengangkat bukanlah Miko, melainkan sang sekretaris.


Bu Riswan berkata jika istri atasannya akan melahirkan, dan berpesan agar Miko untuk segera pulang.


Namun, Fajar mengatakan jika Miko sedang dalam rapat. Bu Riswan pun akhirnya kembali berpesan untuk segera menyusul ke rumah sakit setelah rapatnya selesai.


Taksi datang, Sarah, Pak Riswan, dan Bu Riswan ikut serta ke rumah sakit, dan meminta Pak Mulyadi untuk menjemput Bagas agar sementara ikut bersamanya.

__ADS_1


Saat ini, Sarah telah berada di ruang bersalin rumah sakit. Dia ditemani ibunya yang dengan setia mengusap punggung Sarah untuk mengurangi nyeri.


Kontraksi semakin sering terjadi dan semakin lama. Sarah mengeratkan pegangannya pada sisi ranjang. Dia tengah bebaring dengan posisi miring ke kiri sesuai arahan dari bidan yang menangani.


Tak lama kemudian, Miko tiba setelah mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.


Dia segera menuju ke rumah sakit, setelah mendengar kabar dari sang sekretaris.


Di depan ruang bersalin, telihat Pak Riswan tengah duduk menunggu seorang diri. Miko pun menghampiri mertunya itu dengan tergesa-gesa.


“Di mana Sarah, Pak?” tanya Miko.


“Kamu sudah datang, Nak. Sarah sama ibu di dalam. Kamu masuklah. Temani istrimu,” seru Pak Riswan.


Miko pun seketika masuk dan melihat jika sang istri tengah meringis manahan sakit, sambil terus berpegangan pada pembatas ranjang.


Bu Riswan nampak mengusap-usap punggung dan perut sang istri yang sudah sangat besar itu.


“Mas,” panggil Sarah di tengah rintihannya.


Miko pun segera menghampiri Sarah dan mengusap keningnya yang berpeluh.


“Gimana kondisinya, Bu?” tanya Miko panik.


“Kata bidan, sudah bukaan tujuh, bentar lagi paling dia lahiran. Kamu mau di sini kan nungguin Sarah? Soalnya, yang boleh di sini cuma satu orang aja,” tutur Bu Riswan.


“Biar saya saja yang nemenin Sarah, Bu,” sahut Miko.


Bu Riswan pun keluar meninggalkan Miko bersama Sarah. Sejujurnya, Miko kebingungan akan apa yang harus dia perbuat.


Sarah semakin berteriak kesakitan, karena pembukaannya yang semakin lebar dan tekanan dari dalam perut yang semakin kuat.


“Aaaarrrgrggghh!!”


Sarah merem*s tangan Miko sekencang-kencangnya, hingga pria itu pun ikut berteriak mengikuti teriakan sang istri.


Saat itu, dua orang bidan datang dan memeriksa kembali pembukaan Sarah.


“Sudah penuh. Bu Sarah, tolong terlentang ya. Tekuk kakinya, kalau merasa ingin mengejan, dorong aja sekuat-kuatnya, tapi jangan mengeluarkan suara. Yang pertama kemarin mungkin caesar, tapi kali ini kita coba siapa tahu bisa normal yah,” seru salah satu bidan yang menangani Sarah.


“Genggam aja tangan suaminya, Bu. Kalau mau jambak, jambak aja. Bikinnya barengan, sakitnya juga biar barengan,” seru bidan satunya.


Miko melongo mendengarnya. Pria itu baru kali ini menemani istrinya melahirkan, karena saat Bagas lahir, terjadi insiden yang membuat Miko tak bisa berada di samping Sarah.


Sarah kembali merasakan reaksi di perutnya. Dia mulai menggenggam tangan sang suami, dan seketika mengejan. Sarah tak mengeluarkan suara, hanya menyalurkan tenaganya agar bisa mendorong sang bayi keluar dari dalam perutnya.


Sedangkan Miko, dia mewakili istrinya berteriak dengan sangat keras, karena kuku-kuku Sarah menancap semua di punggung tangannya.


Kontraksi hilang, dan Sarah kembali mengendurkan genggamannya. Miko perlahan mencoba lepas dari Sarah, dan berhasil.


Namun, Sarah kembali meraih apa yang ada di sampingnya, dan kembali menarik benda yang ternyata adalah dasi yang saat itu sedang dipakai oleh Miko.


Pria itu hampir kehabisan nafas karena tercekik. Kontraksi hilang, dan Miko menunduk hendak melepaskan dasinya dari genggaman Sarah.


Namun kali ini, belum sempat Miko menegakkan tubuhnya, Sarah sudah lebih dulu meraih rambutnya.


Dia menarik keras-keras rambut sang suami, hingga Miko menjerit kesakitan, seiring dengan tangisan bayi yang baru saja keluar dari perut sang bunda.


Sarah terlihat terengah-engah dengan peluh yang bercucuran di keningnya. Sedangkan Miko, pria itu terlihat kacau, acak-acakan dan membuat kedua bidan tadi menahan tawa mereka, saat melihat penampilan ayah dari bayi yang baru lahir itu.

__ADS_1


Gila. Gini banget nemenin orang lahiran, batin Miko, yang masih lingkung karena kelakuan Sarah yang di luar prediksinya.


Setelah Sarah dan bayinya sudah dibersihkan, keduanya pun dipindahkan ke ruangan masing-masing.


Sarah dipindah ke ruang pemulihan, sedangkan bayi mungil itu harus terlebih dulu di rawat di ruang khusus bayi.


Semua anggota keluarga telah diberi kabar perihal kelahiran anak kedua Sarah dan Miko yang berjenis kelamin perempuan itu.


Tak lama kemudian, Tino, Maya dan juga sang putri, Seva, datang untuk melihat kondisi Sarah, sekaligus mengucapkan selamat atas kelahiran anak kedua adik iparnya.


Bagas yang mendengar jika adik bayinya sudah lahir, terus meminta Pak Mulyadi untuk segera membawanya ke rumah sakit, tempat ibu dan adiknya berada.


Anak kecil itu begitu gemas saat melihat adik perempuannya yang masih merah, dan rapuh itu.


Sarah dan Miko adalah orang yang paling bahagia, karena mereka berdua bisa merasakan momen yang dulu pernah hilang.


Kini, lengkap sudah kebahagiaan pasangan yang sempat berpisah itu. Dan saling berjanji untuk selalu bersama, apapun masalah yang akan datang menghadang di depan mereka.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Dua tahun berlalu begitu cepat. Bagas sudah kelas dua sekolah dasar, dan sang adik sudah berusia dua tahun.


Miko dan Sarah kini telah menempati rumah baru, yang dirancang sendiri oleh kedua orang itu.


Sebuah rumah impian, di mana terdapat taman yang luas di bagian belakang dan banyak tanaman yang mengiasi halaman depannya.


Semua itu telah pikirkan, agar kedua anak mereka memiliki ruang bermain yang luas, dan aman karena dalam pantauan kedua orang tuanya.


Sarah memilih menjadi ibu rumah tangga dan mengabdikan dirinya untuk mengurus anak, suami serta rumah.


Miko pun kini telah memiliki usaha lain selain pekerjaannya sebagai kepala cabang yang sukses, untuk menunjang kebutuhan hidup keluarganya.


Kebahagiaan selalu mewarnai hari-hari keluarga kecil itu. Dan tawa canda putri putri meraka menjadi obat di kala lelah dan sedih melanda.


...Happy ending...


.


.


.


.


udah bener-bener selesai ya guya🤧🤧🤧🤧


Finally, novel ke tiga ku sudah tamat😭😭😭😭


Terimakasih untuk kalian yang udah mau ngikutin cerita recehan ini sampai selesai😘😘😘😘😘I love you all💖💖💖💖


Sampai jumpa di karya ku selanjutnya ya, dan jangan lupa mampir ke novelku yang lain.


...TERBARU...



...TAMAT...


__ADS_1


__ADS_2